Mengisahkan tentang dua orang anak kembar yang memilki dunia yang sama. Karena sejak kecil mereka memang tidak pernah terpisahkan.
Rean Arya Partama, kakak dari Sean Kingston yang terkenal sebagai dokter playboy, padahal dirinya bahkan tidak pernah berpacaran sebelumnya. Sosok hangat yang selalu menjadi partner terbaik dalam hidup adik kembarnya, Sean.
Sean Aryo Pratama, seorang dokter muda yang memiliki kesabaran seluar lautan, namun berubah menjadi dingin saat sebuah kecelakaan merenggut seluruh masa depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 22
Hari ini sebenarnya Sean malas kemana-mana, karena besok dia mulai bekerja. Tapi ibunya mengajak dia untuk berbelanja.
Entah apa maksudnya, karena dia sangat malas.
"Bu, ibu belanja saja. Sean pergi ke cafe sana saja. Disini banyak orang, dan Sean pusing." ucapnya pada sang ibu yang melihatnya dengan kasihan.
Sebagai seorang ibu, dia tidak tega dengan Sean. Jadi membiarkan anaknya itu pergi ke cafe seperti yang dia katakan.
"Yaudah, nanti ibu telepon kalau sudah selesai." Sean menganggukkan kepalanya, dan pergi meninggalkan sang ibu disana.
Berjalan santai menuju cafe, tiba-tiba saja Sean bertemu dengan Embun yang terlihat begitu bahagia bersama teman-temannya.
Sejenak Sean tertegun melihat tawa riang itu, senyuman indahnya. Tapi mengingat Embun yang tidak menjenguknya, setelah tau keadannya pasca kecelakaan pun tidak ada kata maaf yang terucap.
Ironis memang, tapi itulah kenyataannya. Sadar akan ada yang memperhatikannya, membuat Embun melihat ke sekelilingnya dan dia menemukan sosok yang dia temui tadi malam.
Deg!
Kedua bola matanya membulat sempurna saat pangan mereka bertemu.
Melihat tatapan itu membuat Embun merasa takut dan langsung menundukkan kepalanya saat itu juga.
Sean hanya tersenyum miris saat gadis itu memang tidak mengingatnya sama sekali. Bahkan terlihat takut melihatnya.
"Itu tadi, siapa Embun?" tanya temannya saat ada laki-laki yang menatap Embun tanpa berkedip sama sekali.
Embun sendiri menggelengkan kepalanya. Dia juga tidak tau siapa laki-laki itu.
"Aku gak kenal, tapi tadi malam pas aku pindahin file ke laptop dia datang dan berdiri di depan aku di ruangan kita." jelasnya pada mereka.
"Hah? Masak iya sih? Kok bisa?" tanya Tasya tidak percaya.
"Masak secepat itu sih?" gumam Fika, teman satunya lagi.
"Apanya yang cekat Fik?" tanya Tasya penasaran.
"Gue denger bakalan ada manager keuangan yang baru. Katanya lulusan luar negeri, tapi bukan bidang keuangan, tapi malah bidang kedokteran." ujar Fika menjelaskan.
"Loh, kok bisa? jurusan kedokteran masuk di keuangan?" tanya Tasya tidak percaya.
"Bisa ajalah, kalau ada uang dan koneksi." jawab Embun dengan begitu santainya, tanpa mereka ketahui jika Sean mendengarnya.
Dia merasa marah dan kesal saat Embun mencibirnya begitu. Walau memang benar itu hasil kakeknya. Tapi dia juga mampu dan bisa menguasai bidang tersebut.
Karena sudah terlalu kesal dan marah, Sean membayar makanan meja 7 tempat mereka duduk.
Lalu meletakan struk pembayaran tersebut di meja. "Anggap saja untuk membayar mulut kalian yang suka bergosip!" ucap Sean sebelum pergi meninggalkan meja tersebut dengan perasaan kesal.
"Mampus, doi denger!" ratap Tasya yang mulai ketakutan.
"Ih, kayaknya fix itu manager baru kita. Gimana ini?" gumam Fika yang merasa jika Kariernya berasa di ujung tanduk saat ini, karena telah menyinggung atasan mereka.
"Tenang, jangan panik dulu. Mungkin aja dia bukan manager baru itu." ucap Embun mencoba menenangkan.
"Apanya yang bukan? Kalau emang bukan ngapain mesti marah saat kita cerita?" sahut Fika merasa bersalah.
Saat mereka bicara, tiba-tiba saja ponselnya berdering dan itu panggilan masuk dari mamanya. "Bentar, nyokap gue!" kata Embun keluar dari cafe untuk bicara dengan mamanya.
Saat Embut keluar dari cafe, dia menabrak seseorang dan itu Sean lagi.
Brugh ...
"Aduh..." ringisnya merasa sakit karna keningnya yang menabrak dada bidang yang keras itu.
Sean sendiri tidak bereaksi. Dia hanya menatap datar pada gadis kecil yang ada di depannya saat ini.
"Ma-maaf." ucapnya gugup menyadari tatapan dingin laki-laki ini lagi.
Sean tidak menjawabnya, dia hanya ingin gadis ini menyadari kehadirannya, dan siapa dirinya.
Tapi sampai hampir atau menit mereka saling menatap, tidak ada kata lain dari Embun membuat Sean langsung pergi meninggalkannya begitu saja.
"Lah, pergi." gumam Embun melihat punggung lebar laki-laki tinggi itu yang perlahan meninggalkannya.
Brak!
Sean membanting pintu mobilnya saat Valet sudah membawa mobilnya ke Lobby pusat perbelanjaan milik keluarganya itu.
"Pantesan sombong, orang kaya rupanya!" gumam Embun mencibir Sean yang masuk ke mobil mahal miliknya disana.
***
jevan lho up sn... kok trs di tgl kn
eee jevan noh