"Dilahirkan dengan Tulang Roh yang Layu, Lin Chen dianggap sebagai aib terbesar bagi Kekaisaran Shenghuang. Setelah dijebak oleh saudara-saudaranya dan dibuang oleh ayahnya sang Kaisar, ia diasingkan ke Sekte Pedang Taixuan—sebuah sekte kuno yang hampir punah—dan hanya diberi pekerjaan sebagai murid tukang sapu.
Dunia mengira hidupnya telah hancur. Namun, mereka tidak tahu bahwa di hari pertamanya memegang sapu, sebuah Sistem Absensi Jejak Kuno bangkit di dalam jiwanya!
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Gerbang Batas Taixuan. Hadiah: Tubuh Pedang Kekacauan Primitif!】
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Makam Pedang Leluhur. Hadiah: Mata Dewa Kekacauan!】
Aturannya ketat: Hanya bisa check-in satu bulan sekali! Namun, setiap tempat yang pernah disinggahi para dewa kuno akan memberinya hadiah tingkat mitologi.
Ketika sekte-sekte besar mencoba menghancurkan tempatnya menumpang, dan Kekaisaran Shenghuang datang untuk menindasnya lagi, pangeran yang dianggap sampah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Pagi harinya, kabut masih menyelimuti halaman Sekte Taixuan ketika seorang murid junior datang mencari Lin Chen di gudang. Wajahnya pucat, suaranya sedikit gemetar.
“Tuan Lin Chen… Utusan dari Kekaisaran memanggil Tuan ke paviliun tamu. Mereka bilang ingin berbincang sebelum Tuan berangkat.”
Lin Chen meletakkan sapu yang sedang dipegangnya. Wajahnya tetap tenang, seolah hanya menerima tugas biasa.
“Baik. Sampaikan saya akan segera ke sana.”
Ia membersihkan tangan, merapikan baju pelayan abu-abunya yang sederhana, lalu berjalan menuju paviliun tamu dengan langkah biasa. Di belakangnya, beberapa murid sekte melihat dengan pandangan campur aduk — iba, penasaran, dan sedikit khawatir.
Di dalam paviliun tamu yang megah, dua utusan kekaisaran sudah menunggu. Yang pertama adalah seorang pria paruh baya berjanggut tipis bernama Xue Feng, kultivasinya berada di puncak Nascent Soul. Wajahnya selalu tersenyum ramah, tapi matanya tajam seperti elang. Yang kedua adalah pria lebih muda, berpostur tegap dengan nama Lei Ming, juga berada di tingkat Nascent Soul Tingkat Akhir. Aura keduanya tertahan rapi, tapi tetap terasa menekan bagi siapa pun yang mendekat.
Lin Chen masuk dan membungkuk hormat.
“Pelayan Lin Chen menghadap kedua Utusan Kehormatan.”
Xue Feng tersenyum lebar. “Tidak perlu terlalu formal, Pangeran Kesembilan. Duduklah.”
Lin Chen duduk di kursi yang ditunjuk. Sikapnya rendah hati, punggung sedikit membungkuk, mata menunduk — persis seperti pangeran cacat yang selama ini dikenal orang.
Percakapan dimulai dengan basa-basi. Xue Feng bertanya tentang perjalanan di Jiuyang, prestasi Sekte Taixuan, dan kondisi Lin Chen selama tinggal di sekte. Lin Chen menjawab dengan sopan, singkat, dan tanpa menonjolkan diri.
Namun suasana berubah ketika Lei Ming tiba-tiba tertawa pelan.
“Sungguh mengharukan,” katanya sambil menatap Lin Chen dari atas ke bawah. “Pangeran Kesembilan yang dulu disebut-sebut memiliki Tulang Roh Layu, kini hidup sebagai pelayan di sekte pinggiran. Benarkah Tuan Pangeran tidak bisa berkultivasi sama sekali?”
Lin Chen tersenyum pahit, sesuai peran yang ia mainkan.
“Memang seperti itu, Tuan Utusan. Saya hanyalah beban bagi Kekaisaran.”
Lei Ming mengangguk-angguk, tapi matanya berkilat. Tiba-tiba ia mengangkat tangan kanannya. Tanpa aba-aba, gelombang Qi yang sangat kuat meledak keluar — kekuatan puncak Nascent Soul, cukup untuk menghancurkan seorang kultivator Fondasi sekalipun.
Serangan itu meluncur cepat ke arah dada Lin Chen.
Di detik yang sama, Xue Feng bergerak. Tangannya menyambar pergelangan Lei Ming dengan cepat.
“Apa yang kau lakukan?!” bentak Xue Feng dengan suara rendah tapi tegas. “Dia masih anak Kaisar!”
Lei Ming tertawa lepas, seolah baru saja melakukan lelucon. Ia menarik kembali tangannya, gelombang Qi yang tadi dilepaskan lenyap begitu saja seperti tidak pernah ada.
“Aku hanya ingin mencobanya,” katanya santai sambil tersenyum lebar. “Siapa tahu selama bertahun-tahun di sekte pinggiran ini, Pangeran Kesembilan mendapat keberuntungan dan sembuh dari cacatnya. Ternyata… masih sama saja.”
Lin Chen terduduk di kursinya dengan wajah pucat, napasnya sedikit tersengal. Tubuhnya gemetar kecil — akting yang sempurna. Padahal di dalam, ia sudah menganalisis serangan itu dalam hitungan detik.
‘Puncak Nascent Soul… serius tapi tidak mematikan. Mereka memang hanya menguji.’
Xue Feng melirik Lin Chen dengan tatapan yang sulit dibaca, lalu menoleh ke Lei Ming dengan ekspresi dingin.
“Jangan main-main lagi. Kaisar tidak akan senang jika ada yang terjadi pada Pangeran Kesembilan.”
Lei Ming hanya mengangkat bahu sambil tertawa. “Baiklah, baiklah. Aku hanya penasaran. Lagipula, jika dia benar-benar tidak berguna, maka perjalanan pulang ini akan sangat… membosankan.”
Lin Chen menunduk lebih dalam, suaranya terdengar lemah.
“Terima kasih atas perhatian Tuan Utusan. Saya memang… tidak berguna.”
Suasana di paviliun menjadi hening sejenak. Xue Feng akhirnya tersenyum kembali dan mengubah topik pembicaraan ke hal-hal ringan, seolah serangan tadi tidak pernah terjadi. Tapi Lin Chen tahu — kedua utusan ini sedang mengawasinya dengan sangat ketat.
Setelah pertemuan selesai, Lin Chen keluar dari paviliun dengan langkah gontai, seolah baru saja mengalami trauma. Begitu berada di balik gudang, wajahnya langsung kembali tenang. Senyum tipis yang sangat dingin muncul di sudut bibirnya.
‘Mereka menguji. Artinya Lin Hao memang sudah melaporkan kecurigaannya. Baiklah… biarkan mereka terus berpikir saya tidak berguna.’
Sore harinya, Su Qingxue diam-diam mendekati gudang tempat Lin Chen sedang membereskan barang untuk perjalanan. Ia berdiri di pintu masuk, memandang punggung pemuda itu yang sedang mengikat karung.
“Lin Chen.”
Lin Chen berbalik, ekspresinya kembali menjadi pelayan biasa.
“Ada yang bisa saya bantu, Kakak Senior?”
Su Qingxue menatapnya lama sebelum bertanya pelan, “Tadi… apa yang terjadi di paviliun tamu?”
Lin Chen tersenyum pahit. “Tidak ada yang istimewa. Hanya basa-basi dari utusan istana.”
Su Qingxue tidak percaya sepenuhnya, tapi ia tidak mendesak. Sebelum pergi, ia hanya berkata pelan:
“Hati-hati di istana.”
Lin Chen mengangguk. “Terima kasih, Kakak Senior.”
Malam harinya, di pondok kayu Makam Pedang Leluhur sesepuh mo berjalan di luar ia menatap langit yang berbintang "Kakak senior apa kau baik-baik saja di sana" sesepuh mo meratap seolah-olah dirinya tidak bisa apa-apa padahal kekuatannya, yang sangat kuat.
Sementara itu, di gudang belakang, Lin Chen duduk bersila dalam kegelapan. Ia mengaktifkan Mata Dewa Kekacauan sepenuhnya, memindai seluruh sekte sekaligus memikirkan langkah selanjutnya.
‘Dua utusan Nascent Soul… dan masih ada waktu. Aku harus menyelesaikan beberapa hal sebelum berangkat.’
Matanya tertuju ke arah Makam Pedang Leluhur di kejauhan.
‘Termasuk pedang hitam itu.