"Dilahirkan dengan Tulang Roh yang Layu, Lin Chen dianggap sebagai aib terbesar bagi Kekaisaran Shenghuang. Setelah dijebak oleh saudara-saudaranya dan dibuang oleh ayahnya sang Kaisar, ia diasingkan ke Sekte Pedang Taixuan—sebuah sekte kuno yang hampir punah—dan hanya diberi pekerjaan sebagai murid tukang sapu.
Dunia mengira hidupnya telah hancur. Namun, mereka tidak tahu bahwa di hari pertamanya memegang sapu, sebuah Sistem Absensi Jejak Kuno bangkit di dalam jiwanya!
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Gerbang Batas Taixuan. Hadiah: Tubuh Pedang Kekacauan Primitif!】
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Makam Pedang Leluhur. Hadiah: Mata Dewa Kekacauan!】
Aturannya ketat: Hanya bisa check-in satu bulan sekali! Namun, setiap tempat yang pernah disinggahi para dewa kuno akan memberinya hadiah tingkat mitologi.
Ketika sekte-sekte besar mencoba menghancurkan tempatnya menumpang, dan Kekaisaran Shenghuang datang untuk menindasnya lagi, pangeran yang dianggap sampah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Hari sebelum keberangkatan ke Istana Kekaisaran, angin gunung bertiup cukup kencang dari puncak tertinggi Taixuan. Hawa dingin yang menusuk perlahan turun, membuat daun-daun kering di halaman sekte berdesir pelan, berputar-putar di atas tanah seolah ikut merasakan suasana yang mulai berubah. Lin Chen menghabiskan hampir seluruh malamnya di gudang belakang, sebuah tempat pengap penuh tumpukan karung dan peralatan kayu yang sudah ia anggap seperti rumah kedua yang memberinya kedamaian selama ini.
Ia bekerja di bawah temaram rembulan dengan gerakan lambat dan teliti. Dengan selembar kain usang, ia membersihkan sapu tua yang sudah usang dan gagangnya menghitam karena gesekan bertahun-tahun—benda mati yang menjadi saksi bisu penyamarannya. Setelah itu, ia melipat baju ganti yang sederhana, menyiapkan beberapa bungkus makanan kering sebagai ransum, dan memeriksa obat-obatan biasa yang biasa ia bawa saat perjalanan jauh. Tidak ada yang mewah. Semua terlihat sangat biasa, benar-benar mencerminkan persiapan seorang pelayan rendah yang akan ikut dalam rombongan panjang kekaisaran.
Di dalam hati, Lin Chen tahu bahwa besok pagi segalanya akan berbeda secara masif. Ia akan meninggalkan tempat yang sudah menjadi perlindungannya dan tempatnya bersembunyi dari carut-marut dunia selama hampir setahun ini. Tapi wajahnya tetap tenang, seolah badai besar yang menantinya di ibu kota tidak lebih dari sekadar embusan angin lalu. Tidak ada kegelisahan yang terlihat di matanya. Hanya ketenangan absolut yang sudah lama ia latih dengan sempurna di bawah tempaan mentalnya.
Sementara itu, di paviliun tamu yang terletak tidak jauh dari Aula Utama, suasana tampak jauh lebih hangat namun penuh kepalsuan. Xue Feng dan Lei Ming duduk santai sambil menikmati teh hangat yang disajikan oleh murid sekte dengan sikap membungkuk khidmat. Cahaya lentera menerangi wajah mereka dengan cahaya kuning redup yang bergoyang pelan di dinding kayu.
“Pangeran Kesembilan ini benar-benar menyedihkan,” kata Lei Ming sambil tertawa kecil penuh cemoohan sambil menggoyang-goyangkan cangkir tehnya, menikmati kepulan uap herbalnya. “Sudah hampir setahun dibuang ke sekte kecil seperti ini, tapi kultivasinya masih nol besar. Sungguh membuang-buang darah kekaisaran yang mulia dan agung.”
Xue Feng mengangguk pelan, senyum ramah yang menjadi topeng diplomatiknya masih tersisa di wajahnya. “Memang begitulah kenyataannya. Bagaimanapun, Kaisar memanggilnya pulang pasti ada alasan politik tersendiri, entah sebagai penyeimbang faksi atau bidak kepentingan lain. Jelas bukan karena kemampuannya. Kita hanya perlu mengantarnya dengan selamat sampai istana. Tidak lebih dari itu.”
Keduanya tidak curiga apa pun terhadap Lin Chen. Bagi mereka, pemuda pelayan itu hanyalah seorang pangeran cacat yang kebetulan masih berguna sebagai simbol darah kekaisaran dalam papan catur politik ibu kota. Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang perlu diwaspadai dari seorang sampah tak berbakat.
Di saat yang sama, jauh di dalam gudang yang gelap dan sepi, Lin Chen duduk bersila di atas tumpukan karung gandum yang berdebu. Indra pendengarannya yang tajam menangkap setiap kata cemoohan dari paviliun tamu tanpa melewatkan satu suku kata pun. Namun, alih-alih terpancing emosi oleh bualan kedua utusan kekaisaran tersebut, wajah Lin Chen tetap datar, memancarkan ketenangan absolut seorang penguasa dari balik bayangan.
Malam sudah sangat larut, seluruh kompleks sekte telah tenggelam dalam keheningan total; hanya ada suara siulan angin gunung yang dingin dan sesekali nyanyian serangga malam yang memecah kesunyian. Lin Chen perlahan bangkit berdiri. Dengan gerakan yang sangat pelan dan penuh kehati-hatian, ia melangkah keluar dari gudang belakang. Ia berjalan menyusuri jalan setapak batu, menyelinap di antara bayang-bayang bangunan tanpa menimbulkan suara langkah atau gesekan udara sedikit pun, melebur sempurna bersama kegelapan malam.
Lin Chen berdiri tegak dalam keheningan, menatap hamparan wilayah Sekte Taixuan yang luas di bawah benderangnya cahaya bulan. Selama proses itu, ia sama sekali tidak meninggalkan jejak fluktuasi Qi yang mencolok, tidak ada sisa aura yang bocor, dan tidak ada tanda energi biasa yang bisa memicu alarm formasi pelindung sekte.
Namun, sebelum berbalik pergi meninggalkan tempat ini untuk selamanya, Lin Chen memejamkan mata hitamnya dengan perlahan. Dari dalam lubuk jiwanya, ia melepaskan seutas untaian energi tak kasat mata berupa kesadaran spiritual (divine sense) yang sangat kuat, sebuah kekuatan masif yang tingkat kerapatan dan tekanannya bahkan setara dengan seorang kultivator ranah Nascent Soul puncak.
Kesadaran spiritual yang begitu dahsyat itu ia kompres dan ia sebar secara halus hingga menyelimuti seluruh area sekte dari balik bayangan. Kekuatan ini ditanam sedemikian rupa agar bertindak sebagai proteksi pasif tersembunyi. Jika suatu hari nanti ada musuh besar, penyusup kuat, atau bencana luar biasa yang datang menyerang dan mengancam keselamatan Sekte Taixuan, kesadaran spiritual sekelas Nascent Soul puncak ini akan langsung terpicu secara otomatis dari tempat persembunyiannya. Energi itu akan meledak menjadi perisai pertahanan absolut atau serangan kejutan mematikan yang sanggup meratakan lawan dalam sekejap mata. Ini adalah benteng pertahanan terakhir, sebuah “secercah kekuatan” sejati yang sengaja ia dedikasikan untuk melindungi sekte yang telah menjadi rumahnya yang damai selama ini.
Setelah semuanya selesai dan terpasang dengan sempurna tanpa celah, bayangan Lin Chen kembali melebur dengan kegelapan malam. Ia berjalan kembali ke arah gudang belakang dengan senyap, tanpa ada seorang pun—termasuk dua utusan angkuh di paviliun tamu—yang menyadari bahwa sebuah kekuatan tingkat tinggi yang menakutkan baru saja mengunci seluruh area sekte. Ia duduk kembali di atas tumpukan karung gandum, lalu menghela napas pendek yang sarat akan makna.
Di kamarnya, Su Qingxue duduk bersila di atas kasur dengan mata tertutup rapat. Di pangkuannya terbuka kotak kayu cendana hadiah peringkat kedua dari Turnamen Jiuyang. Tiga butir Pil Pemurnian Inti masih tersisa di dalamnya, berkilau redup di bawah temaram lampu minyak kamar. Malam ini ia memutuskan untuk mulai menyerap satu butir demi menenangkan gejolak pikirannya.
Energi hangat dari pil langsung meledak dan menyebar ke seluruh meridian tubuhnya. Ia mengendalikan aliran Qi dengan sangat teliti, membersihkan kotoran yang tersisa dan memperkuat fondasi Inti Emas (Golden Core) miliknya. Wajahnya yang cantik tetap dingin dan fokus mendalam. Keringat tipis mulai muncul di dahinya akibat tekanan energi, tapi ia tidak berniat berhenti. Ia ingin menjadi lebih kuat secepat mungkin agar bisa mendobrak ke ranah Jiwa Lahir (Nascent Soul) dan tidak mau hanya terus bergantung pada perlindungan orang lain.
Ia sama sekali tidak tahu, bahwa di luar sana, seluruh area sekte baru saja diselimuti oleh proteksi tak kasat mata dari sebuah kekuatan yang jauh lebih masif dari apa yang bisa ia bayangkan.
Kembali di kesunyian gudang, Lin Chen memejamkan mata dan mengaktifkan Mata Dewa Kekacauan secara pelan untuk memindai seluruh area sekte satu kali terakhir. Semua terlihat normal. Murid-murid sudah tidur, para sesepuh sedang bermeditasi di kediaman mereka, dan tidak ada ancaman mendadak yang terdeteksi di radar spiritualnya.
Ia membuka mata dan menatap langit-langit gudang yang gelap dan berdebu. Besok ia akan berangkat ke Istana Kekaisaran. Tempat di mana ayahnya sang Kaisar dan saudara-saudaranya yang haus kekuasaan menunggu. Tempat di mana intrik politik dan pengkhianatan berdarah akan jauh lebih rumit, luas, dan berbahaya.
Tapi ia tetap tenang tanpa ada setitik pun rasa gentar. Karena selama ini, di mana pun kakinya berpijak, ia selalu mempersiapkan segalanya dari balik bayangan—tetap rendah hati di permukaan, menyembunyikan taringnya, dan tanpa menarik perhatian dunia hingga waktu yang tepat tiba.
Keesokan paginya, sinar fajar yang menembus kabut tebal menandai bahwa halaman utama Sekte Taixuan sudah ramai. Murid-murid dari berbagai tingkatan berkumpul berbaris rapi untuk melepas keberangkatan Lin Chen. Kereta kekaisaran yang sangat mewah dengan ukiran lambang naga emas sudah menunggu di depan gerbang utama, ditarik oleh dua kuda putih spiritual yang gagah. Xue Feng dan Lei Ming berdiri di samping kereta dengan zirah besi mereka, menampilkan sikap resmi, tenang, dan berwibawa.
Master Gu Changfeng melangkah maju dan memberikan kata-kata perpisahan yang singkat, kaku, dan formal. Tidak ada drama atau tangisan yang berlebihan. Bagi kebanyakan orang yang hadir di lapangan itu, Lin Chen hanyalah pelayan biasa yang kebetulan adalah pangeran yang tidak berguna; kepergiannya tidak akan merubah roda harian di sekte ini.
Su Qingxue berdiri di barisan paling depan di antara para murid inti, wajahnya dingin seperti biasa tanpa ekspresi yang bisa dibaca. Chen Hao dan Wei Peng juga hadir di antara kerumunan murid, tapi mereka memilih menutup mulut rapat-rapat tanpa berniat mengejek lagi—kejadian di masa lalu telah memberi mereka pelajaran. Hanya sepasang mata mereka yang sesekali melirik ke arah Lin Chen dengan tatapan rumit.
Lin Chen maju satu langkah, lalu membungkukkan tubuhnya dengan sudut yang sempurna penuh tata krama kepada semua orang yang hadir.
“Terima kasih atas segalanya selama saya berada di Sekte Taixuan. Saya akan berangkat sekarang, semoga sekte ini selalu jaya.”
Su Qingxue hanya mengangguk kecil sebagai respons formalitas. Tidak ada kata perpisahan yang panjang, emosional, atau jabat tangan yang hangat. Bagi semua orang, ini hanyalah keberangkatan biasa seorang pelayan rendahan yang kebetulan punya setetes darah kekaisaran.
Lin Chen naik ke dalam kereta dengan langkah tenang. Saat roda kereta mulai bergerak perlahan meninggalkan gerbang batu sekte, ia menggeser sedikit tirai jendela kecil di samping posisinya. Matanya menatap pemandangan luar yang bergerak mundur — gerbang Taixuan yang sudah ia lewati ribuan kali, halaman luas yang sudah ia sapu bersih setiap pagi, dan orang-orang yang pernah menjadi bagian dari hari-harinya yang tenang dalam penyamaran ini.
Di dalam hatinya, ia berbicara pelan sekali:
‘Taixuan… perjalanan penyamaranku selesai di sini. Jaga diri kalian baik-baik. Semoga perlindungan yang kutinggalkan itu tidak pernah perlu kalian gunakan.’
Kereta kekaisaran semakin menjauh di jalan setapak, meninggalkan kepulan debu tipis menuju keluar dari wilayah sekte. Xue Feng dan Lei Ming menunggang kuda di samping kereta, sesekali mengobrol ringan tentang cuaca dan jalur perjalanan panjang yang akan mereka lalui. Mereka tidak curiga apa pun terhadap Lin Chen yang duduk diam di dalam ruang kereta, benar-benar menganggap tugas ini hanyalah rutinitas yang membosankan untuk menjemput seorang sandera politik.
Di dalam ruang kereta yang luas, Lin Chen menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sutra, lalu perlahan menutup kedua matanya. Wajahnya kembali tenang sepenuhnya, memancarkan aura misterius seorang penguasa sejati yang tak tersentuh. Napasnya mengalir teratur, dan pikirannya sudah mulai mempersiapkan dan menyusun langkah-langkah blueprint taktis selanjutnya di istana.
Perjalanan panjang menuju pusat Kekaisaran Shenghuang baru saja dimulai.
Dan ia akan menghadapinya dengan cara yang sama seperti selama ini — rendah hati di permukaan, bergerak senyap dari balik bayangan, dan selalu siap menghadapi apa pun yang menanti di depan.