NovelToon NovelToon
Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Chicklit / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24: Nathan Wijaya

Karena selama Keira masih memberinya hukuman, berarti ia masih diizinkan tinggal di dalam badai yang sama.

Badai itu tenang selama tiga hari.

Rayhan tetap menjalani tugasnya di Villa Teluk. Ia memasak, mencuci, menyalin laporan rumah tangga, dan menempelkan satu salinan Perjanjian Pelayan di pantry seperti yang Keira perintahkan. Demamnya turun, tetapi tubuhnya belum kembali kuat. Setiap kali mengangkat galon atau menaiki tangga terlalu cepat, wajahnya masih kehilangan warna.

Keira melihat.

Ia selalu melihat.

Namun ia hanya memberi perintah lewat pelayan. Obat diletakkan di meja. Jadwal istirahat ditulis di papan tugas. Makanan Rayhan dibuat lebih lunak dengan alasan dokter rumah mengatur menu semua staf.

Rayhan menerima semuanya tanpa bertanya.

Pada sore keempat, sebuah mobil sport biru tua berhenti di depan Villa Teluk.

Pria yang turun dari mobil itu membuat pengawal Liem langsung menegakkan tubuh. Tinggi, berbahu lebar, wajahnya tampan dengan garis campuran Indonesia dan Belanda. Matanya biru, warna yang jarang terlihat di keluarga-keluarga Tionghoa Surabaya. Ia memakai kemeja putih tanpa dasi, tetapi aura di sekitarnya tidak santai.

Keira turun dari lantai dua begitu mendengar nama tamu.

"Koh Nathan."

Rayhan yang sedang menyusun gelas di pantry berhenti.

Koh.

Panggilan itu keluar dari mulut Keira dengan mudah. Tidak seperti saat ia memaksa Rayhan menjadi "Bu Keira" dan "saya". Ada masa lalu dalam dua suku kata itu.

Nathan Wijaya tersenyum saat melihat Keira. Senyumnya hangat, hampir lembut, tetapi matanya mengamati luka-luka kecil yang masih tersisa di wajah dan tangan Keira.

"Kei," katanya. "Kau makin sulit ditemui."

"Kau datang tanpa janji."

"Kalau pakai janji, Ko Kevin pasti menyuruhku antre tiga minggu."

Keira tersenyum tipis. "Mungkin karena dia tahu kau merepotkan."

Nathan tertawa pelan.

Rayhan keluar membawa nampan teh. Ia tidak diminta, tetapi tugas rumah tetap tugas rumah. Begitu Nathan melihat seragam layanan yang dipakai Rayhan, alisnya naik sedikit.

"Rayhan Sutanto," ucap Nathan. "Aku hampir tidak mengenalimu."

Rayhan meletakkan teh di meja. "Tamu Bu Keira."

Nathan menatap Keira. "Bu Keira?"

"Kontrak kerja," jawab Keira singkat.

"Menarik."

Nada Nathan ringan, tetapi Rayhan mendengar sesuatu di bawahnya. Penilaian. Mungkin juga kepuasan.

Mereka duduk di ruang tengah. Rayhan berdiri di sisi ruangan, tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk mendengar. Keira tidak menyuruhnya pergi.

Nathan membuka map tipis. "Aku dengar Anya hilang dari pengawasan polisi. Aku punya orang di beberapa jalur keluar Surabaya. Kalau dia bergerak, aku bisa tahu lebih cepat."

"Kenapa membantuku?"

Nathan menatapnya. "Karena aku selalu membantumu kalau bisa."

Rayhan menggenggam nampan lebih kuat.

Keira menutup map itu tanpa melihat lama. "Aku tidak ingin berutang terlalu banyak padamu."

"Kita pernah melewati masa di mana kau tidak menghitung utang denganku."

Keira diam sebentar.

Rayhan melihat diam itu. Ada sejarah di sana. Sesuatu yang tidak ia miliki.

Nathan bersandar, suaranya melembut. "Kei, pulanglah sementara ke rumah aman Wijaya. Villa ini terlalu mudah diawasi. Anya tahu pola hidupmu. Dan pria itu..."

Pandangan Nathan bergerak ke Rayhan.

"...tidak cukup kuat menjagamu dalam kondisinya sekarang."

Rayhan tidak bicara.

Keira menatap Nathan. "Aku tidak butuh dijaga dengan cara seperti itu."

"Semua orang butuh dijaga."

"Bukan berarti semua orang boleh mengurungku."

Senyum Nathan menipis.

Untuk sepersekian detik, kelembutan di matanya berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap. Cepat. Hampir tidak terlihat. Namun Rayhan melihatnya, karena ia mengenal jenis tatapan itu. Tatapan pria yang tidak ingin melindungi saja, tetapi memiliki.

Keira juga melihat.

"Koh Nathan," katanya pelan, "kalau kau datang sebagai teman, duduklah dan minum teh. Kalau kau datang untuk memindahkanku seperti aset berisiko, pintunya di sana."

Nathan menatapnya lama.

Lalu ia tertawa kecil dan mengangkat kedua tangan. "Baik. Aku lupa kau selalu galak."

"Aku tidak lupa kau selalu nekat."

"Itu sebabnya kita cocok."

Rayhan meletakkan gelas terlalu keras di meja.

Suara kecil itu cukup membuat Nathan menoleh.

"Maaf," kata Rayhan datar. "Tangan saya lemah."

Nathan tersenyum. "Tentu."

Keira menatap keduanya, lalu berkata kepada Nathan, "Jangan mulai."

"Aku tidak mulai apa-apa."

"Koh Nathan."

Panggilan itu membuat Nathan diam sesaat. Ada sesuatu yang lama di wajahnya, sesuatu dari masa ketika Keira masih remaja dan pernah menunggu bantuan yang tidak datang.

Rayhan merasakan perubahan itu, meski tidak memahami isinya.

Nathan menurunkan suara. "Aku sudah membayar kesalahan itu bertahun-tahun, Kei."

"Tidak semua utang bisa dibayar dengan hadir setelah semuanya selesai."

Kalimat itu membuat ruangan hening.

Untuk pertama kalinya, Rayhan menyadari Nathan bukan sekadar pria yang datang terlambat ke hidup Keira. Ia juga seseorang yang pernah gagal pada saat yang salah.

Keira berdiri. "Koh Nathan, terima kasih untuk informasinya. Kirim semua lewat Pak Lim atau Ko Kevin. Jangan datang tanpa kabar lagi."

Nathan ikut berdiri. "Kau mengusirku?"

"Aku menetapkan batas."

"Karena dia?"

"Karena aku."

Jawaban itu menghentikan Nathan.

Keira melanjutkan, "Aku tahu kau peduli. Tapi kalau kepedulianmu membuatku kehilangan pilihan, itu bukan perlindungan. Itu hanya sangkar yang dicat lebih mahal."

Nathan menatapnya, lalu mengangguk pelan.

"Baik, Kei. Aku mundur hari ini."

Hari ini.

Rayhan menangkap dua kata itu.

Nathan berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia berhenti di samping Rayhan.

"Jaga dia baik-baik," katanya pelan. "Atau kali ini, aku tidak akan mundur."

Rayhan menatapnya. "Kau pernah mundur?"

Senyum Nathan tidak mencapai matanya.

"Saat dia paling membutuhkanku."

Keira menoleh, tetapi Nathan sudah berjalan keluar.

Mobil sport biru itu meninggalkan Villa Teluk beberapa menit kemudian. Dari kaca jendela, Keira melihatnya pergi dengan wajah yang tidak bisa dibaca.

Rayhan berdiri di belakangnya, masih dalam seragam pelayan.

"Kau percaya padanya?" tanya Rayhan.

"Aku percaya dia punya alasan sendiri."

"Itu bukan jawaban."

Keira menoleh. "Kau bukan orang yang berhak meminta jawaban tentang pria lain."

Rayhan menunduk. "Baik, Bu Keira."

Ia kembali ke pantry membawa nampan. Gelas yang tadi ia letakkan terlalu keras kini menyisakan retak kecil di bibirnya. Rayhan menggantinya dengan gelas baru, lalu mencatat di buku tugas.

Satu gelas rusak. Potong dari gaji layanan.

Keira melihat catatan itu dari jauh.

"Kau tidak punya gaji," katanya.

Rayhan berhenti menulis. "Kalau begitu potong dari kesempatan saya tinggal."

Keira tidak menjawab.

Kalimat itu lebih tajam daripada seharusnya.

Di jalan keluar Villa Teluk, Nathan menghentikan mobilnya sebentar. Senyum hangatnya sudah hilang. Ia menatap pantulan gerbang di kaca spion.

"Rayhan Sutanto," gumamnya, "kau sudah mendapat terlalu banyak kesempatan."

Matanya yang biru tampak dingin.

Lalu mobil itu melaju pergi.

1
Diah Susanti
ini salah satu keahlian orang Indonesia, bisa mengetahui kehadiran seseorang yang dikenal dari suara kendaraannya. bahkan dari langkah kaki juga batuk/dehemannya😄😄😄
Tri Septi
pembalasan ya.....maaf aku kurang sreg😔🙏
Tri Septi
ayo nyalakan apinya 🔥🔥🔥🔥🔥 semangat 💪💪💪
Tri Septi
satu per satu kesalahan harus dipertanggung jawabkan 😇
Tri Septi
semoga keira selamat😯
Tri Septi
sudah terlambat ray🔥🔥🔥
Tri Septi
wah, keira 👍 lanjutkan Thor, makasih 🙏🙏
Tri Septi
taktik Rayhan setelah tahu keira siapa .... telat bro! 🔥
Tri Septi
ini baru permulaan 😆😆😆
Tri Septi
ternyata jago beladiri😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....orang kaya mah bebas ya, lanjut thor👍
Tri Septi
en in en......gimana kelanjutannya, tunggu episode berikut....😁🤣🤣🤣
Tri Septi
ayo mulai babak baru 👍😍
Tri Septi
lanjut Thor 👍 suka' 😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....teh hijau sudah muncul🤔
Tri Septi
selamat datang kembali menuju kehidupan baru keira 😍😍😍
Tri Septi
aku mampir thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!