NovelToon NovelToon
Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.

"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."

Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.

Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.

Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.

Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.

Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.

Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 034

Bank Nusantara memilih ruang rapat dengan dinding kaca.

Dari lantai tiga puluh, Jakarta terlihat seperti peta yang terlalu tenang. Mobil bergerak kecil di bawah, gedung-gedung berdiri rapi, dan tidak ada satu pun tanda bahwa di dalam ruangan itu, satu kalimat bisa menahan aliran dana miliaran rupiah.

Meiran datang tanpa Lim Tjeng Hong.

Ia datang bersama Sari, direktur finance, dan satu folder mandat yang ditandatangani ayahnya pukul enam pagi. Tanda tangan itu sedikit lebih goyah daripada biasanya, tetapi sah.

Relationship manager Bank Nusantara menyambut dengan senyum profesional. Di sampingnya duduk direktur risiko dan seorang staf legal bank.

"Bu Lim," kata relationship manager itu. "Kami berharap Pak Lim bisa hadir."

Meiran meletakkan folder di meja. "Pak Lim sedang dalam observasi dokter. Saya hadir dengan mandat penuh."

Direktur risiko membuka folder itu. "Kami menghargai, tetapi fasilitas kredit ini sejak awal dibangun atas reputasi pribadi Pak Lim Tjeng Hong."

"Reputasi pribadi Papa tidak hilang karena tekanan darahnya naik."

Kalimat itu membuat ruangan diam sesaat.

Sari menunduk sedikit, menahan ekspresi.

Meiran melanjutkan, "Dan fasilitas kredit ini tidak dibangun hanya atas reputasi. Ada cash position, aset proyek, piutang berjalan, dan riwayat pembayaran. Mari bicara angka."

Ia membuka tablet.

Selama dua puluh menit berikutnya, Meiran tidak memberi ruang untuk belas kasihan atau gosip. Ia menunjukkan saldo kas harian, jadwal pembayaran masuk, proyek yang sudah memiliki berita acara, dan daftar vendor yang memakai template penundaan serupa.

"Tiga vendor ini tidak mewakili kondisi operasional," katanya. "Mereka menerima informasi yang sama, memakai frasa yang sama, dan bergerak dalam rentang waktu yang sama. Itu indikasi koordinasi eksternal, bukan kegagalan likuiditas."

Direktur risiko mengetuk pulpen. "Tetap saja, pasar melihat sinyal."

"Tugas bank adalah membaca sinyal dengan data, bukan ikut panik karena artikel dari domain berumur dua minggu."

Staf legal bank mengangkat mata.

Relationship manager mencoba melembutkan. "Kami tidak mengatakan Lim Group gagal bayar. Kami hanya membutuhkan tambahan kenyamanan."

"Definisikan kenyamanan."

"Komitmen tertulis dari pemegang saham utama, jaminan tambahan, atau standby facility dari pihak strategis."

Sari menulis cepat.

Meiran tidak langsung menjawab. Ia tahu bahasa itu. Mereka tidak sedang menutup fasilitas kredit hari ini. Mereka sedang membuka pintu agar Lim Group datang memohon.

"Berapa lama?"

"Empat puluh delapan jam."

"Terlalu pendek."

"Pasar bergerak cepat."

"Begitu juga Lim Group."

Meiran menutup tablet. "Kami akan memberikan klarifikasi tertulis hari ini, bukti cash position, dan surat resmi kepada tiga vendor. Untuk standby facility, kami akan menilai opsi. Tapi Bank Nusantara juga perlu mencatat satu hal."

Direktur risiko menatapnya.

"Jika review ini didasarkan pada rumor yang terbukti terkoordinasi, kami akan meminta catatan internal bank untuk memastikan tidak ada pihak luar yang menyalahgunakan proses risk review."

Senyum relationship manager menegang.

"Itu pernyataan serius, Bu Lim."

"Krisis ini juga serius."

Pertemuan selesai tanpa senyum hangat.

Di lift turun, direktur finance mengusap kening. "Empat puluh delapan jam untuk standby facility hampir tidak mungkin kalau bukan dari keluarga dekat atau konglomerat lain."

"Maka kita cari opsi yang membuat mereka menyesal meminta itu."

Sari memandang layar ponselnya. "Pak Lim meminta update."

"Kirim ringkasan. Jangan sebut kata tidak mungkin."

"Baik, Bu Lim."

Ponsel Meiran bergetar sebelum mereka mencapai lobi.

Pesan dari Hafeng masuk dengan tiga tangkapan layar.

`Metadata PDF vendor sama. Dibuat dari akun komputer yang identik. Waktu pembuatan berbeda tujuh menit.`

Meiran membuka gambar itu. Di pojok properti dokumen, nama perangkat dan format ekspor memang sama. Tiga vendor berbeda seharusnya tidak membuat surat dari komputer yang sama, kecuali ada seseorang yang menyusun draft untuk mereka.

Hafeng mengirim pesan berikutnya.

`Jangan pakai ini dulu di depan bank. Pakai untuk menekan vendor. Kalau mereka tahu kita punya metadata, sumbernya akan kabur.`

Meiran membaca pesan itu dua kali.

Lalu ia membalas:

`Kamu mulai terdengar seperti legal. Menakutkan.`

Balasan Hafeng datang cepat.

`Aku terdengar seperti orang yang marah dengan rapi.`

Untuk pertama kalinya sejak pagi, Meiran hampir tertawa.

Sari melihat perubahan kecil di wajahnya. "Pak Hafeng?"

"Dia menemukan benang."

"Benang yang bisa ditarik?"

"Kalau ditarik terlalu cepat, putus. Simpan dulu untuk procurement."

Sari mengangguk dan langsung meneruskan instruksi ke tim.

Saat mereka keluar ke lobi Bank Nusantara, seseorang berdiri dari sofa tamu.

Kho Yanting.

Ia tidak terlihat terkejut melihat Meiran. Itu berarti ia memang menunggu.

Direktur finance dan Sari saling pandang, lalu mundur cukup sopan untuk memberi ruang.

"Kamu tahu dari mana?" tanya Meiran.

"Bankir suka bicara dengan orang yang mereka anggap aman." Yanting berjalan mendekat. "Saya dengar mereka meminta standby facility."

"Kamu datang untuk menawarkan Kho Group?"

"Saya datang untuk menawarkan opsi."

"Bedanya?"

"Opsi punya term sheet. Bantuan punya rasa kasihan. Saya tahu kamu tidak menyukai yang kedua."

Meiran menatapnya.

Yanting mengeluarkan amplop tipis dari tas dokumen. "Bridging facility jangka pendek. Bukan hibah, bukan jebakan kepemilikan. Bunga wajar, tenor enam bulan, tanpa hak suara. Kho Group mendapat prioritas sebagai pemasok material untuk dua proyek komersial, tapi bukan eksklusif."

"Kamu menyiapkannya sejak kapan?"

"Sejak kemarin malam."

"Sebelum aku meminta."

"Karena kamu tidak akan meminta."

Kalimat itu terlalu mengenalnya.

Dan setelah ciuman di auditorium, pengenalan seperti itu tidak lagi terasa sederhana.

Meiran tidak mengambil amplop itu.

"Aku akan membaca. Tidak berarti menerima."

Yanting tersenyum. "Itu sudah lebih dari yang saya harapkan."

"Batas waktunya?"

"Saya bisa menahan tim legal sampai besok siang. Setelah itu, kalau Kho Group masuk, semua orang akan mencium darah."

"Kamu membuat bantuan terdengar seperti serangan."

"Dalam bisnis, sering kali bedanya hanya siapa yang menandatangani lebih dulu."

Pada saat itu, ponsel Yanting bergetar.

Matanya turun ke layar.

Meiran melihat perubahan kecil di wajahnya. Hampir tidak ada, tetapi cukup.

"Masalah?" tanyanya.

"Pesan tidak penting."

"Kalau tidak penting, wajahmu tidak akan berubah."

Yanting memasukkan ponsel ke saku. "Meiran, dalam krisis seperti ini, tidak semua orang yang menawarkan tangan datang dari tempat bersih. Termasuk saya. Termasuk orang lain."

"Aku tahu."

"Kalau begitu baca term sheet saya seperti kamu membaca surat musuh."

"Selalu."

Yanting tertawa pelan. "Bagus."

Meiran akhirnya mengambil amplop itu.

Ketika ia berjalan menuju mobil, ponsel Yanting bergetar lagi. Kali ini, layar menyala cukup lama.

Pesan dari Soe Wanyu.

`Aku tahu cara membuat Meiran menerima bantuanmu. Kalau kamu masih ingin tetap punya tempat di sampingnya, kita perlu bicara.`

Yanting menatap pesan itu lama.

Di luar lobi, mobil Meiran sudah bergerak menjauh.

Yanting belum membalas.

Tetapi ia juga belum menghapus pesan itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!