NovelToon NovelToon
Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.

Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.

Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?

Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Setelah selesai mengucapkan selamat dan berbincang singkat dengan Denial, tatapan Damar perlahan beralih. Senyum ramahnya tetap terjaga dengan sempurna, namun kedua matanya yang tajam kini mulai menjelajah ke seluruh penjuru ruangan dengan cepat.

Dia mencari...

Mencari satu sosok yang sejak tadi menjadi pusat dunianya. Mencari gadis yang membuat hatinya berdebar kencang hanya dengan memikirkan namanya saja.

"Mana dia?" batin Damar bertanya-tanya. Matanya menyapu kerumunan orang satu per satu dengan cepat namun teliti, tidak mau melewatkan satu sudut pun. Dia harus memastikan gadis itu ada di sana, harus melihat senyumnya malam ini.

Dan benar saja...

Adera yang sejak tadi diam-diam memperhatikan dari kejauhan, langsung menyadari perubahan arah pandangan itu. Saat mata Damar mulai bergerak mencari dan akhirnya berhenti tepat ke arahnya, insting Adera langsung mengatakan satu hal: Kabur!

"Duh gawat Nin! Keknya dia nyariin gue deh!" bisik Adera panik setengah mati, wajahnya seketika memerah padam. Matanya sempat bertemu pandang sebentar dengan Damar, membuat jantungnya seakan copot dan meloncat keluar sesaat.

"Bagus dong," kata Nindy santai.

"Bagus apanya! Ayo ikut gue naik ke lantai atas!" seru Adera cepat tanpa menunggu jawaban, tangannya langsung menarik lengan sahabatnya.

Tanpa pikir panjang, Adera langsung menarik tangan Nindy yang masih terpana dan melongo melihat ketampanan Damar.

Dengan langkah cepat namun berusaha tetap terlihat wajar agar tidak terlalu mencolok, mereka berdua menyelinap pergi menjauhi area utama pesta yang ramai itu.

"Woi Adera! Kenapa lari sih?! Kan dia nyariin lo tuh! Malah kabur gini!" protes Nindy sambil tertawa kecil, tapi kakinya tetap mengikuti langkah cepat Adera.

"Udah ikut aja! Gue gak mau ketemu dia saat ini!" jawab Adera terbata-bata sambil terus menarik Nindy menuju tangga utama.

Dengan sigap dan sedikit berlari kecil, mereka berhasil naik ke lantai dua, meninggalkan keramaian dan suara musik di bawah sana.

Sesampainya di depan pintu kamarnya, Adera dengan cepat memutar gagang pintu, menarik Nindy masuk, lalu menutup pintu itu kembali dengan pelan namun cepat.

Klep!

Suara kunci yang terkunci terdengar jelas.

Akhirnya mereka aman.

Adera langsung bersandar lemas di balik pintu kamarnya, napasnya terengah-engah dan jantungnya berdegup kencang bukan main, seolah baru saja lari maraton sejauh sepuluh kilometer. Dadanya naik turun menahan napas, wajahnya memerah karena campuran antara rasa lelah, panik, dan juga malu yang luar biasa.

"Fuh... akhirnya bisa lepas juga," gumam Adera lega, matanya terpejam sebentar sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang.

 

Tiba-tiba ponsel Adera berdering. Denial menelponnya, meminta agar Adera datang menemuinya sekarang juga.

Terpaksa, Adera harus keluar lagi dan turun ke lantai bawah.

"Mau kemana lagi?" tanya Nindy.

"Ikut gue lagi, Kak Denial nyuruh gue turun," jawab Adera pasrah.

"Nah kan pada akhirnya ketemu juga, kenapa sih harus menghindar?" celetuk Nindy.

Adera dan Nindy pun langsung turun ke lantai bawah menemui Denial.

Melihat wajah Adera yang memelas dan kaget setengah mati, Denial justru tersenyum lebar. Dia tahu betul adiknya pasti panik, tapi ini justru kesempatan emas buat adiknya dan Damar bertemu.

"Der, sini dulu," pinta Denial lembut namun tegas. "Dengarin Kakak ya... Malam ini Dokter Damar adalah tamu kehormatan Kakak. Dia sudah baik banget menyempatkan waktunya untuk datang padahal sangat sibuk. Jadi tolong temani dia mengobrol sebentar, jangan biarkan dia bosan."

Adera melongo mendengar permintaan kakaknya. Dia melirik ke arah Damar yang masih berdiri santai dengan senyum penuh kemenangan di wajahnya.

"Tapi Kak... aku..." cicit Adera ingin menolak, tapi kata-katanya tercekat di tenggorokan.

"Gak ada 'tapi-tapi'!" potong Denial tegas.

Melihat tatapan memohon sekaligus memaksa dari kakaknya, dan melihat Damar yang sudah menatapnya penuh harap, Adera akhirnya menghela napas panjang menyerah.

"Hhh... iya deh... aku temenin," jawab Adera pelan dengan wajah masam.

Denial tersenyum puas melihat adiknya akhirnya mau menuruti permintaannya.

"Nah gitu dong pinter..." puji Denial. "Kalian ngobrolnya di ruang tengah atas saja. Di bawah terlalu ramai dan berisik, di atas kan lebih tenang, sejuk, dan privasi. Enak buat ngobrol santai."

 

Adera pun memberanikan diri untuk mengajak Damar ke lantai atas.

Saat menaiki anak tangga, suasana terasa hening. Adera tidak berbicara apapun.

"Kamu... sengaja menghindar dari aku kan?" tanya Damar pelan, suaranya terdengar lembut namun tajam, matanya menyipit sedikit seolah sedang menuduh dengan manja.

Adera langsung menggeleng cepat, wajahnya memerah padam.

"Enggak kok! Untuk apa menghindar?" bantahnya cepat, berusaha mencari alasan yang masuk akal.

Damar mendengarkan penjelasan itu dengan seksama. Meski dia tahu gadis itu mungkin saja berbohong sedikit karena malu, tapi dia tidak mau mempermasalahkannya. Yang penting sekarang mereka sudah bertemu.

Damar tersenyum tipis, senyum yang sangat teduh dan menenangkan.

Keduanya sampai di lantai atas, Adera mempersilahkan Damar untuk duduk santai.

"Aku cuma ingin melihatmu malam ini, memastikan kamu baik-baik saja dan terlihat cantik seperti ini. Itu sudah cukup buat aku," kata Damar lembut.

Setelah mengucapkan kalimat manis itu, Damar pun perlahan bersiap untuk berpamitan.

"Aku harus kembali, terima kasih sudah menemaniku meski sebentar," kata Damar sambil sedikit membungkuk hormat, lalu berbalik badan hendak melangkah pergi.

"Kenapa harus buru-buru?" celetuk Adera tanpa sadar.

Tanpa sadar dan tanpa pikir panjang, tangan Adera bergerak lebih cepat dari pikirannya.

Dia langsung menarik lengan tangan Damar dengan kuat secara spontan, mencegah pria itu pergi meninggalkannya.

Aksi itu membuat mereka berdua terhenti seketika.

Damar menoleh perlahan ke belakang, menatap tangan kecil mereka yang kini saling bersentuhan, lalu menatap wajah Adera yang terlihat kaget sendiri dengan perbuatannya.

Dan di saat itulah...

Senyum lebar, manis, dan penuh kemenangan terukir sempurna di wajah Damar. Matanya berbinar-binar bahagia melihat gadis itu ternyata tidak rela melepaskannya pergi.

1
Perempuan
Alurnya bagus, gak menoton. Ada lucu²nya. Semangat update ya Thor biar pembaca tetap ingat alur ceritanya
Perempuan
lanjut Thor 👍👍
Alvi
bagus . semangat terus 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!