NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Alkemis Abadi

Perjalanan Sang Alkemis Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Timur
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: En zz

Shen yifan adalah seorang pemuda yang terobsesi dengan pembuatan pil, namun sayangnya, ia tidak bisa menjadi alkemis di dunia ini hanya karena menjadi manuisa cacat.

Banyak sekali kultivator. Namun orang-orang untuk menjadi seorang alkemis di dunia ini sudah sangat jarang di temukan, bahkan menjadi salah satu kemunduran mutlak.

Salah satunya, hampir di seluruh dunia ini hanya 000,1% para kultivator yang mempunyai element api.

Salah satunya adalah kakek Shen yifan.

Apakah Shen yifan bisa menggapai cita-citanya untuk menjadi alkemis? Atau dia akan mengubah takdir secara tidak langsung, untuk menjadi alkemis sejati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon En zz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 : Lembah Kabut Roh - Harta yang Sebenarnya

Nangong Bingxue mengalihkan pandangannya ke arah Shen Yifan sejenak, memastikan pemuda itu tidak mengalami luka yang mengancam jiwa. Setelah itu, tatapan dinginnya beralih kepada Tetua Luo.

"Mengapa kalian mengejarnya?" tanyanya datar.

"Bajingan it-" Ketika Luo Tian ingin menjelaskannya dengan kasar, ia tiba-tiba di bungkam oleh tetua nya sendiri. "Diam!!" bisik tetua itu.

Tetua Luo segera membungkukkan tubuh lebih dalam. "Melapor kepada Nona Nangong. Pemuda itu telah mengambil dua batang Anggrek Jiwa Langit yang lebih dulu kami temukan. Karena itulah kami mengejarnya untuk merebutnya kembali."

Jian Chen langsung mengangkat sebelah alis. "Dua batang?"

"Benar." Tetua Luo mengangguk. "Anggrek Jiwa Langit adalah tanaman spiritual yang sangat langka. Nilainya tidak terhitung. Namun bocah itu justru mengambil keduanya sekaligus. Bukankah itu terlalu serakah?"

Shen Yifan hanya mengusap sudut bibirnya yang masih berlumuran darah, tanpa berniat membela diri sedikit pun.

"Yi Fan, coba jelaskan dengan rinci, aku tidak percaya orang tua itu!" Nangong Bingxue menatap Shen Yifan.

"Memang aku mengambil dua tanaman ini!" jawab Shen Yifan mengeluarkan Anggrek Jiwa Langit dari tas rajutannya.

"Yaampun Yi Fan... Bukannya kamu terlalu serakah?" sahut Jian Chen tersenyum kecut.

"Tidak ada larangannya kan? Aku mengambil sekaligus dua?" Tatapan Shen Yifan, mengarah ke Luo Tian dan Tetuanya.

"Kamu!" Luo Tian marah menunjuk kearah Shen Yifan dengan wajah yang sangat kesal.

"Tuan muda, cukup!!" Tetua Luo menghentikannya.

"Namamu Yi Fan yah... Anak muda jangan terlalu serakah!" lanjut Tetua Luo Tian.

"Bukankah kalian yang pertama memonopoli Anggrek ini? Padahal yang menemukan Anggrek ini bukan kalian saja, ada puluhan kultivator lainnya yang menemukan ini juga... Bukannya kalian yang serakah?" jawab Shen Yifan tenang.

Tetua Luo mengernyit. "Omong kosong. Kami hanya mengambil apa yang menjadi hak kami."

Shen Yifan terkekeh pelan. "Hak?"

Ia mengangkat salah satu Anggrek Jiwa Langit di tangannya.

"Apa yang membuat kalian berpikir bahwa Anggrek ini adalah Hak kalian? Emang kalian menanam Anggrek ini? Memang kalian yang punya Lembah Kabut Roh? Sehingga kalian..."

Tatapan Shen Yifan berubah tajam. "...kalian mengusir mereka dengan ancaman!"

Wajah beberapa Tetua Luo sedikit berubah.

"Lalu sekarang kalian menyebutku serakah hanya karena aku berhasil mengambil dua batang Anggrek Jiwa Langit?" Shen Yifan tersenyum tipis. "Bukankah yang lebih dulu mencoba memonopoli semuanya justru Keluarga Luo?"

"Kau...!" Luo Tian menggertakkan gigi.

"Selain itu..." lanjut Shen Yifan dengan tenang, "dunia kultivasi selalu menghormati kemampuan. Siapa yang mampu mendapatkannya, dialah pemiliknya. Aku tidak merebutnya dari tangan kalian. Aku mengambilnya sebelum sempat kalian kuasai."

Suasana seketika menjadi hening.

Jian Chen mengangguk pelan sambil menyeringai.

"Kalau dipikir-pikir... ucapan Yi Fan memang tidak salah." Senyum di wajah Jian Chen perlahan menghilang.

Nangong Bingxue tidak segera berbicara. Tatapan beningnya perlahan beralih kepada Tetua Luo.

Seketika, suhu di sekitar seolah turun beberapa derajat.

Tatapan itu dingin... begitu dingin hingga membuat kulit kepala Tetua Luo meremang. Tubuhnya menegang tanpa sadar, seolah sedang ditatap oleh makhluk yang berada jauh di atas tingkat kultivasinya.

"Jadi..." suara Nangong Bingxue terdengar pelan, namun sarat tekanan. "Kalian mengusir para kultivator lain, lalu menyebut orang lain serakah?"

Tetua Luo buru-buru menangkupkan kedua tangan. "Nona Nangong, mohon jangan salah paham. Keluarga Luo hanya berusaha menjaga kepentingan keluarga. Anggrek Jiwa Langit terlalu berharga. Jika jatuh ke tangan sembarang orang, hanya akan memicu pertumpahan darah yang lebih besar."

Ia menarik napas dalam sebelum melanjutkan. "Selain itu... kami juga harus menjaga martabat Keluarga Luo. Bila seorang junior dapat membawa pergi harta di depan mata kami tanpa konsekuensi, nama keluarga kami akan menjadi bahan tertawaan di wilayah ini. Karena itulah kami mengejarnya."

Nangong Bingxue tetap menatapnya tanpa berkedip.

"Martabat..." gumamnya pelan. "Apakah martabat Keluarga Luo dibangun dengan mengintimidasi kultivator yang lebih lemah?"

Wajah Tetua Luo langsung memucat. Ia membuka mulut, tetapi tak satu pun kata mampu keluar.

Beberapa saat di dalam keheningan. Tetua Luo menarik napas panjang, lalu tatapannya kembali mengeras.

"Nona Nangong, kami telah menjelaskan semuanya. Namun Anggrek Jiwa Langit itu tetap milik Keluarga Luo. Demi menjaga hubungan baik antar keluarga, kami harap Nona tidak ikut campur dalam urusan ini."

Meski kata-katanya terdengar sopan, nada suaranya jelas mengandung ancaman halus. "Jika Nona tetap bersikeras melindunginya... kami khawatir persoalan ini akan berkembang menjadi perselisihan antara Keluarga Nangong dan Keluarga Luo."

Jian Chen langsung menyipitkan mata. (Berani juga keluarga kecil mengancam keluarga Nangong) batinnya.

Namun sebelum Jian Chen melangkah maju, Shen Yifan mengangkat tangannya, menghentikannya.

Ia menatap punggung Nangong Bingxue sejenak.

(Kalau pertarungan benar-benar pecah... masalah ini tidak akan berhenti pada kami. Kak Bingxue memang tidak akan kesulitan menghadapi mereka. Namun setelah hari ini berakhir, Keluarga Luo pasti akan memanfaatkan kejadian ini sebagai alasan untuk menyeret Keluarga Nangong ke dalam konflik. Aku tidak bisa membiarkan mereka terlibat hanya karena urusanku.)

Shen Yifan mengepalkan kedua tangannya perlahan. "Kak Bingxue..." panggilnya pelan sambil melangkah maju. "Biarkan aku menyelesaikan urusan ini." Ia menghela napas panjang. Sorot matanya perlahan meredup, seolah telah mengambil keputusan yang berat.

"Baik..." ucapnya pelan.

Semua orang menoleh ke arahnya. "Aku tidak ingin masalah ini berkembang menjadi konflik yang lebih besar." Shen Yifan mengangkat kedua Anggrek Jiwa Langit di tangannya. "Aku akan menyerahkan keduanya kepada Luo Tian."

Luo Tian langsung menyeringai lebar. "Hmph, dari awal begini saja."

Shen Yifan melanjutkan, "Sebagai gantinya... aku hanya meminta seribu Batu Spiritual Tingkat Tinggi."

Tetua Luo sempat terdiam sesaat, lalu wajahnya berubah menjadi senyum puas. "Hanya seribu Batu Spiritual Tingkat Tinggi?" Ia mengangguk tanpa ragu. "Tidak masalah."

Dengan lambaian tangan, sebuah kantung penyimpanan muncul di telapak tangannya. Kantung itu dilemparkannya ke arah Shen Yifan.

"Di dalamnya tepat seribu Batu Spiritual Tingkat Tinggi. Silakan periksa."

Shen Yifan menangkap kantung itu. Setelah memastikan isinya, ia menyerahkan kedua Anggrek Jiwa Langit kepada Tetua Luo.

Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot matanya menyimpan sedikit kepahitan.

(Ah... seharusnya aku meminta lebih banyak.) Sudut bibir Shen Yifan berkedut tipis. (Mereka menyetujuinya terlalu cepat... Seribu ternyata terlalu murah untuk dua Anggrek Jiwa Langit.)

Ia hanya bisa tertawa getir dalam hati. (Lupakan saja... Setidaknya urusan ini selesai tanpa menyeret Kak Bingxue dan Keluarga Nangong ke dalam masalah.)

"Satu lagi Nona!" Tetua Luo itu menunduk.

"Apa lagi? Belum puas?" sahut Nangong Bingxue.

"Bukan itu... Tapi rekan-rekan saya!" Tetua Luo itu menunjuk kearah ketiga rekannya yang di kristalkan.

"Ouhh..." Nangong Yue menggerakan tongkat birunya dan kristal yang menyelimuti tiga tetua Luo itu langsung mencair.

"Terima kasih, nona... Kami akan duluan!" Keempat Tetua Luo dan Luo tian menunduk dan langsung terbang buru-buru.

Beberapa saat kemudian, Nangong Bingxue melihat Shen Yifan sangat sedih, Shen Yifan menunduk.

Padahal Shen Yifan lagi menghitung Batu Spiritual.

Nangong Bingxue merasa bersalah karena gara-gara nama keluarga nangong, ia berpikir mungkin Shen Yifan mencegah agar tidak ada pertarungan diantara masalah keluarga.

"Yi Fan!" Nangong Bingxue berjalan kearahnya.

"Hmmm... Ada apa Kak Bing?" Shen Yifan mendongak kearahnya.

"Kenapa kamu memberikan anggrek itu?" tanya Nangong Bingxue untuk memastikan.

"Iya tuh, kenapa? Bukannya Anggrek Jiwa Langit itu salah satu bahan paling berguna untuk membuat Pil Foundation Establishment? Kenapa kamu memberikannya? Bukannya kamu mau menerobos ranah?" sahut Jian Chen juga bingung, kenapa Shen Yifan begitu saja memberikan Dua Anggrek Jiwa Langit itu hanya dengan seribu Batu Kristal tingkat tinggi.

Shen Yifan tiba-tiba tertawa kecil. "Hahaha..."

Jian Chen semakin bingung. "Oi... jangan bilang tekanan tadi membuatmu jadi gila?" Bagaimana bisa seorang Yi Fan melepaskan bahan untuk membuat Pil begitu saja.

Shen Yifan menggeleng pelan. "Bukan."

Ia merogoh tas rajutnya perlahan. "Kalian terlalu fokus pada Anggrek Jiwa Langit..."

"....padahal sejak awal targetku bukan tanaman itu."

Shen Yifan merogoh tas nya. "Jadi gini... Kedua Anggrek Jiwa Langit itu tidak berguna sama sekali... Aku hanya mengincar ini." Ia mengeluarkan bunga kecil berwarna biru yang sudah mekar.

"Ehhh!!"

1
obeng min
josss👍👍👍👍👍
Andi Akhasay: Liat ceritaku kak
total 1 replies
obeng min
lanjut👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!