NovelToon NovelToon
Setelah Menjadi Istri Pertama Yang Jahat, Aku Bertahan Hidup Lewat Mulut Tajam

Setelah Menjadi Istri Pertama Yang Jahat, Aku Bertahan Hidup Lewat Mulut Tajam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Permen

Shen Qingyue adalah istri pertama keluarga Marquis Yong'an yang dikenal kejam dan pencemburu. Ditinggalkan suami di malam pernikahan, ia mati setelah meminum semangkuk "sup penenang" yang diracun.

Tapi takdir berkata lain.

Ketika Lin Xiao, seorang direktur pemasaran modern yang mati kelelahan, terbangun di tubuh Shen Qingyue, ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah keluarga bangsawan yang penuh intrik. Suami yang dingin, selir yang licik, dan ibu mertua yang kejam—semua orang ingin melihatnya jatuh.

Namun Lin Xiao bukanlah Shen Qingyue yang lemah. Dengan kecerdasan verbal dan logika modernnya, ia bertekad untuk bertahan hidup dengan martabat. Satu per satu, jebakan dibongkar, musuh dipermalukan, dan rahasia gelap keluarga Marquis mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Permen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Puluh Satu

Udara di dalam ruangan seakan membeku.

Lin Xiao memandangnya, tetapi tidak segera menjawab.

Ia tidak menyangka Pei Yanzhi akan bertanya seterang-terangan ini.

Ketika Nyonya Tua mengajukan pertanyaan yang sama, wanita tua itu masih berputar-putar lebih dulu, mengundangnya minum teh sebelum mulai menyelidiki.

Namun Pei Yanzhi berbeda.

Begitu duduk, ia langsung bertanya.

"Apa maksud Marquis?"

"Apa adanya." Pei Yanzhi berkata pelan. "Kau bukan Shen Qingyue yang dulu."

"Shen Qingyue yang dulu tidak akan berani mengangkat kepala dan berbicara di depan Nyonya Tua. Ia tidak akan tersenyum sambil menyodorkan jeruk kepada Ruolan. Ia juga tidak akan bertanya kepadaku, 'Apakah Anda percaya padaku?'"

Ia berhenti sejenak.

"Memang, selama ini aku tidak pernah benar-benar memperhatikanmu. Tetapi setidaknya aku tahu bahwa seseorang tidak mungkin berubah total hanya dalam semalam."

Tatapannya mengunci Lin Xiao.

"Kecuali... dia memang bukan orang yang sama."

Lin Xiao mengangkat cangkir teh dan menyesapnya, memanfaatkan gerakan itu untuk memberinya beberapa detik berpikir.

Pei Yanzhi bukan Nyonya Tua.

Nyonya Tua sudah menerima jawabannya.

Tetapi Pei Yanzhi berbeda.

Dunianya hitam dan putih. Ia membutuhkan jawaban yang jelas.

"Menurut Marquis, siapa diriku?"

"Aku tidak tahu." Pei Yanzhi menjawab. "Karena itulah aku bertanya."

Lin Xiao meletakkan cangkirnya.

"Aku adalah Shen Qingyue."

"Lalu sekaligus bukan Shen Qingyue."

Kening Pei Yanzhi berkerut.

"Tubuh ini memang milik Shen Qingyue, itu benar. Tetapi orang di dalamnya sudah berganti."

"Shen Qingyue yang tinggal di Kediaman Marquis selama tiga tahun itu sudah tidak sanggup bertahan lagi."

"Karena itu, aku datang."

Ia mengatakannya dengan tenang, seolah sedang membicarakan orang lain.

Namun ekspresi Pei Yanzhi berubah beberapa kali selama mendengarnya.

"Berganti?" ulangnya perlahan. "Bagaimana bisa?"

"Aku tidak tahu." Lin Xiao menggeleng. "Saat aku sadar, aku sudah berada di sini."

Sunyi.

Pei Yanzhi memandanginya untuk waktu yang lama.

Tatapan itu bukan lagi tatapan curiga ataupun menyelidik.

Rasanya seperti ia sedang mengukur setiap kata Lin Xiao, sedikit demi sedikit, mencoba menimbang mana yang benar dan mana yang tidak.

"Lalu Shen Qingyue yang dulu?"

"Aku tidak tahu."

"Saat aku datang, dia sudah pergi."

Pei Yanzhi menundukkan kepala. Jemarinya yang bertumpu di meja tampak memutih karena terlalu kuat mengepal.

Melihat ekspresinya, Lin Xiao tiba-tiba menyadari sesuatu.

Dalam nada suara Pei Yanzhi, tersembunyi sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia sadari.

Rasa bersalah.

Selama ini, Pei Yanzhi mengira ia hanya mengabaikan Shen Qingyue karena tidak menyukainya.

Namun jika kenyataannya bukan sekadar "tidak disukai", melainkan "tidak sanggup bertahan lagi", maka arti dari semua itu menjadi berbeda.

"Marquis," katanya pelan, "apakah Anda menyesal?"

Pei Yanzhi mengangkat kepala.

"Aku tidak membutuhkan penyesalan Anda."

"Masa lalu itu tidak ada hubungannya denganku."

"Aku hanya menerima bagian sekarang dan masa depan."

Pei Yanzhi tidak menjawab.

Ia duduk diam di sana, sementara cahaya matahari yang masuk melalui jendela menciptakan bayangan tipis di bulu matanya.

Setelah lama terdiam, akhirnya ia berbicara.

"Kalau kau bukan dia, lalu kenapa kau tetap tinggal di sini menggantikannya?"

"Karena aku tidak punya tempat lain untuk pergi."

Lin Xiao berhenti sejenak.

"Dan lagi..."

"Dia meninggalkan kekacauan selama tiga tahun. Aku ingin membantunya membereskannya."

Tatapan Pei Yanzhi kembali berubah.

Kebingungan, kecurigaan, dan rasa bersalah perlahan memudar, digantikan oleh sesuatu yang sulit dijelaskan.

Seperti kepercayaan kecil yang baru mulai tumbuh, rapuh dan penuh kehati-hatian.

Ia berdiri dan berjalan menuju pintu.

Beberapa saat, ia hanya berdiri membelakanginya.

"Apa yang kau katakan hari ini..." katanya akhirnya, "aku tidak akan memberitahukannya kepada siapa pun."

"Aku tahu."

Pei Yanzhi tidak menoleh.

"Tapi mulai sekarang..."

Ia berhenti sejenak.

"Kau tidak perlu lagi berpura-pura menjadi dirinya."

"Jadilah dirimu sendiri."

Setelah mengatakan itu, ia mengangkat tirai dan pergi.

Lin Xiao duduk di depan meja, menatap tirai yang masih bergoyang tertiup angin. Baru beberapa saat kemudian, ia mengembuskan napas panjang.

Barusan, ia baru saja mempertaruhkan segalanya.

Ia bertaruh bahwa Pei Yanzhi tidak akan menganggapnya sebagai iblis.

Ia bertaruh bahwa yang diinginkan pria itu hanyalah jawaban, bukan kelemahan yang bisa dipakainya untuk menghancurkannya.

Dan sekarang, tampaknya ia menang.

Pei Yanzhi adalah orang yang cerdas.

Orang cerdas tidak akan membongkar sebuah rahasia aneh yang tidak mengancam dirinya.

Ia memilih menerima Lin Xiao karena dirinya jauh lebih berguna dibanding Shen Qingyue yang dulu.

Jauh lebih berguna.

Namun Lin Xiao juga memahami satu hal.

Penerimaan Pei Yanzhi memiliki syarat.

Hari ini, pria itu berkata, "Jadilah dirimu sendiri."

Tetapi jika suatu hari "dirinya yang sebenarnya" mengancam kepentingan Kediaman Marquis, Pei Yanzhi pasti akan berbalik tanpa ragu.

Begitulah hakikat kekuasaan.

Lin Xiao berdiri dan berjalan ke jendela.

Bunga-bunga begonia di halaman telah mekar semakin banyak dibanding kemarin. Kelopak merah muda pucat itu bergoyang pelan tertiup angin.

Ia mendengar Qingxing mengobrol dengan Xiao He di halaman.

Suara mereka terdengar ringan, bahkan diselingi tawa.

Halaman Timur sudah sangat berbeda dibanding sebulan yang lalu.

Tempat itu mulai dipenuhi suara kehidupan.

Lin Xiao bersandar di dekat jendela, memandangi bunga-bunga itu, lalu tiba-tiba merasa...

Musim semi ini tampaknya benar-benar telah tiba.

*

Lin Xiao akhirnya menikmati tidur yang benar-benar nyenyak.

Tak ada mimpi buruk, tak ada yang membangunkannya di tengah malam, dan tak ada pula orang yang mengetuk pintu sambil berkata, "Nyonya Tua memanggil Anda."

Ia tidur hingga matahari sudah tinggi. Saat membuka mata, cahaya pagi telah memenuhi ruangan, sementara burung-burung di halaman berkicau riang.

Ia membalikkan badan, menyipitkan mata menatap sinar matahari yang menembus kertas jendela, lalu merasa seluruh tubuhnya dipenuhi rasa malas yang nyaman.

Ketika Qingxing masuk membawa baskom berisi air, gadis itu terkejut melihat Lin Xiao masih berbaring.

"Nyonya, Anda sudah bangun, kenapa belum juga turun dari ranjang?"

"Turun untuk apa?" jawab Lin Xiao. "Hari ini tidak perlu memberi salam pagi. Tidak ada pekerjaan."

Qingxing berpikir sejenak dan merasa ucapan itu memang benar. Ia meletakkan baskom di atas meja, lalu membawa semangkuk bubur.

"Kalau begitu, makanlah sedikit untuk mengganjal perut. Nanti siang dapur kecil akan memasakkan hidangan yang lebih enak."

Lin Xiao duduk dan menyuap beberapa sendok bubur. Seluruh tubuhnya terasa begitu nyaman hingga hampir saja ia menghela napas panjang.

Sudah hampir sepuluh hari sejak ia datang ke dunia ini. Selama itu, ia selalu hidup di ujung pisau. Baru hari ini ia bisa benar-benar bernapas lega.

Ia bersandar di kepala ranjang sambil memandangi pohon begonia di luar jendela.

Beberapa hari lalu, ranting-rantingnya masih dipenuhi kuncup. Kini beberapa bunga merah muda keputihan telah bermekaran, berdiri anggun di bawah hangatnya musim semi.

"Qingxing."

"Hamba di sini."

"Tadi malam saat Marquis datang, apakah ada yang melihatnya?"

Qingxing berpikir sejenak.

"Sepertinya tidak ada. Hamba tidur sangat lelap semalam dan tidak mendengar suara apa pun. Marquis juga datang tanpa membawa pengawal. Kemungkinan beliau masuk melalui pintu samping Halaman Timur."

"Itu bagus."

Lin Xiao menyerahkan mangkuk kosong kepadanya.

"Nanti siang, suruh dapur kecil membuat tumis caisim dan sup telur. Tidak usah memasak yang lain."

"Baik."

Qingxing membawa mangkuk itu keluar.

Lin Xiao kembali bersandar sendirian, menatap keluar jendela sambil tenggelam dalam pikirannya.

Semalam Pei Yanzhi datang, mengatakan beberapa hal, lalu pergi.

Sejak bangun pagi tadi, ia terus memikirkan percakapan mereka.

Sikap Pei Yanzhi ternyata jauh lebih lembut daripada yang ia bayangkan.

Dulu, pria itu bahkan enggan meliriknya.

Sekarang, ia justru datang sendirian ke Halaman Timur di tengah malam dan berkata, "Aku akan menyelidikinya."

Kalau seseorang berubah begitu drastis, pasti ada alasannya.

Pei Yanzhi jelas tidak tiba-tiba jatuh cinta kepadanya. Lin Xiao tidak sebegitu percaya diri.

Perubahan itu pasti disebabkan oleh hal lain.

Mungkin Nyonya Tua mengatakan sesuatu kepadanya.

Mungkin Pei Yanzhi sendiri menemukan sesuatu.

Atau mungkin... ada hal lain yang belum ia ketahui.

Ia menepis semua pikiran itu, lalu kembali mengeluarkan surat dari bawah bantal.

"Obat Nyonya Tua bermasalah. Orang yang mengganti obat bukan berasal dari ruang obat."

Setelah membacanya berkali-kali, ia semakin yakin tulisan tangan itu bukan milik siapa pun di Kediaman Marquis, setidaknya bukan orang yang pernah ia temui.

Pengirim surat itu sengaja menulis dengan huruf yang biasa dan rapi, seolah takut dikenali.

Baru saja ia hendak menyimpan surat itu kembali ke lengan bajunya, terdengar suara langkah kaki dari halaman.

Bukan langkah ringan seorang pelayan perempuan.

Melainkan langkah kaki seorang pria, berat dan mantap, suara sepatu bot menghantam lantai batu.

Sebelum Lin Xiao sempat duduk tegak, tirai sudah tersibak dari luar.

Pei Yanzhi berdiri di ambang pintu.

Ia mengenakan pakaian siang hari, jubah putih pucat dengan ikat pinggang giok. Rambutnya tersisir rapi. Cahaya matahari menyinari tubuhnya dari belakang hingga sosoknya tampak terang benderang.

"Sudah bangun?" tanyanya.

"Sudah." Lin Xiao menatapnya. "Mengapa Marquis datang?"

Pei Yanzhi masuk dan duduk di samping meja.

Ekspresinya berbeda dari semalam.

Semalam ia dipenuhi keraguan dan rasa penasaran.

Hari ini, tatapannya jauh lebih tegas.

Seolah-olah ia telah mengambil keputusan.

1
Trie Broto
critanya penuh teka-teki...lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!