NovelToon NovelToon
Menyamar Demi Kamu

Menyamar Demi Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Idola sekolah
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Umi Nurhuda

Rui Naru sebenarnya capek jadi pewaris yang hidupnya diatur-atur kakeknya. Baru bahagia sebentar saja bisa pulang ke Indonesia untuk memeluk sang bunda, kakek masih saja menjadi bayang-bayang yang terus mengekangnya.

Satu-satunya hiburan buat dia cuma Nuha, cewek polos berkuncir air mancur yang diam-diam dia taksir. Setiap kali bertemu, ada saja kesan yang membuatnya kian ingin mendekat.

Makanya, waktu tahu Nuha lagi diincar dan mau dimanfaatin sama cowok narsistik paling populer di sekolah, Naru enggak bisa tinggal diam lagi. Ini saatnya dia bertindak.

​Naru nekat lepas total atribut mewahnya dan menyamar masuk ke sekolah Nuha lewat jalur yayasan ibunya. Dia rela jadi cowok "biasa" demi bisa jagain Nuha dari dekat sekaligus jadi pembatas dari gangguan Dilan.

Bisa tidak Naru sukses melakukan penyamarannya tersebut sampai akhir? Apa sih yang dia cari sebenarnya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Takdir & Cermin Masa

​Begitu tiba di lantai foodcourt,

sorot mata Naru langsung menyapu setiap sudut ruangan. Tak butuh waktu lama hingga ia menemukan sosok yang dicarinya. Di antara deretan meja, Bunda melambai ke arahnya. Naru segera membalas dengan gestur, meminta wanita itu menunggu sebentar sebelum mendekat.

​Ia berbalik menghadap Nuha, hingga tinggi pandangan mereka sejajar. Napas gadis itu masih memburu setelah berlari sepanjang jalan.

​"Dengar, Nuha. Ada yang ingin ketemu sama kamu. Kamu kenal kok sama dia, jadi jangan takut, ya," bisiknya, lembut.

Tentu saja itu bohong.

Ide nekat itu muncul begitu saja ketika Naru menerima telepon bahwa keluarganya sedang berada di Malioboro. Kesempatan seperti ini terlalu langka untuk dilewatkan, ia ingin memperkenalkan Nuha kepada keluarganya.

​Glek!

​Nuha kesulitan menelan ludah.

Dadanya berdebar kencang.

​"Ini, aku kasih hadiah," ujar Naru seraya meletakkan sebuah bola pantul LED ke atas telapak tangan Nuha. "Aku ... pergi dulu."

​"Tunggu--!"

​Naru memang melangkah pergi, hanya beberapa meter sebelum akhirnya bersembunyi di balik sudut bangunan. Dari sana, ia masih bisa melihat Nuha dengan jelas. Namun, bagi Nuha, ditinggalkan sendirian di tengah riuhnya foodcourt mall mewah bertabur lampu terang benderang ini terasa seperti mimpi buruk.

​Rasa cemas dan introvert hangover-nya meledak seketika. Nuha meremas erat bola mainan itu di depan dadanya, seolah benda kecil itu mampu mengokohkan kakinya untuk tetap berdiri tegak.

​"Aku ... takut," cicitnya gemetar. Cahaya di sekelilingnya mendadak terasa terlalu menyilaukan. "Mereka ... terlalu terang. Aku siapa di sini?"

​Nuha memutar tubuhnya pelan, namun ruangan megah itu justru terasa ikut berputar hebat, menyergap kesadarannya. "Aku nggak bisa ... ngendaliin diri ..."

​Di balik tempat persembunyiannya, senyum Naru perlahan surut. Melihat tubuh Nuha yang membeku dan hampir kehilangan keseimbangan, penyesalan menyengat dada. "Apa aku ... terlalu kelewatan sama dia?" batinnya cemas.

Sebelum tubuh Nuha benar-benar roboh, sesosok perempuan lebih dulu meraih bahunya. ​"Astaga! Kamu nggak papa, Sayang?" serunya panik.

Meski sempat syok berat melihat wajah muridnya yang biasa polos kini terpoles makeup gelap ala emo, Bunda dengan sigap merangkul dan membantunya berdiri.

​Nuha mendongak pelan dengan pandangan kabur. "Bu--Ibu Kepala Sekolah?"

​"Kamu lapar, Nak? Kita makan sama-sama, yuk. Dinner bareng Bunda," bujuk Bunda dengan nada keibuan yang sangat menenangkan.

​"Tapi--tapi cowok yang tadi ..." kata Nuha terbata-bata, menunjuk arah lari Naru.

​"Cowok mana?" tanya Bunda sambil celingak-celinguk yang tentu saja hanya pura-pura. Dari sudut matanya, Bunda sempat menangkap sosok Naru yang memberinya acungan jempol.

​Bunda menghela napas panjang. "Astaga, ulahmu bener-bener keterlaluan, Naru-kun. Ini anak orang sampai gemeteran begini. Tangannya dingin banget iniii ..." batin Bunda prihatin sambil memapah tubuh mungil Nuha menuju meja makan.

​Di meja sisi dinding dengan deretan kursi sofa kayu yang saling berhadapan, Nuha dipertemukan dengan seorang pria paruh baya yang tampak sangat berwibawa. Di saat yang sama, Nuha baru benar-benar menyadari betapa anggun, cantik, dan berkelasnya penampilan sang Ibu Kepala Sekolah di luar jam sekolah.

​Tepat di hadapan pria itu, duduk seorang gadis remaja kelas dua SMP yang amat cantik. Rambutnya hitam panjang lurus dihiasi bando putih, dipadu dengan gaun putih yang begitu elegan.

Aroma parfum mewah yang menyerbak kuat dari mereka makin membuat nyali Nuha menciut hingga ke dasar. "​Aku ... aku mau diapain di sini? Kenapa aku dibawa ke sini?" batinnya, ketakutan setengah mati.

​"Nuha, duduklah," panggil Bunda lembut.

​Rui Dina segera menggeser posisi duduknya. Ia menyunggingkan senyum ramah yang manis, memberi isyarat mempersilakan Nuha duduk di sampingnya.

​"Ma--maaf ..." cicit Nuha gemetar, pelan-pelan mendaratkan tubuhnya yang kaku di sisi gadis jelita itu.

​"Kamu Kak Nuha, ya?"

​"Kok ... tahu?"

​"Tahu donk. Tapi kok beda, ya? Aku lihat dari foto, kakak itu manis banget. Ini kok kelihatan agak serem," ujar Dina polos. "Apa Kakak salah dandan?" Dina mendadak memajukan wajahnya sedikit, lalu indra penciumannya menangkap aroma asam manis keringat yang samar dari tubuh Nuha akibat berlari-lari di Malioboro tadi.

​Gerakan mengendus yang spontan itu seketika membuat Nuha paham bahwa dirinya tengah dinilai secara fisik. Rasa malu, canggung, dan minder yang luar biasa langsung menghantam dadanya. Wajahnya memerah pucat, ingin rasanya ia menghilang ditelan bumi saat itu juga.

​"Nuha, jangan khawatir," sela Bunda menenangkan, menyadari perubahan raut wajah muridnya. "Kamu kenal, kan, sama Saya?"

​Nuha mengangguk pelan.

"Ibu Kepala Sekolah."

​Bunda tersenyum hangat. "Iya, pinter. Tapi, kalau di luar jam sekolah begini jangan panggil Ibu Kepala Sekolah, ya. Panggil Bunda saja."

​"Bu--Bunda?" ulang Nuha ragu.

​"He-eh, Nuha. Kenalin, ini suami Bunda, kamu bisa panggil dia Ayah Rudi. Dan di sebelah kamu ini putri Bunda, panggil saja Dina. Nah, kalau cowok yang bawa kamu ke sini tadi--"

​Ring! Ring!

​Ucapan Bunda terputus seketika oleh dering nyaring dari ponselnya. ​Kedua alis Bunda menyatu, memancarkan iritasi kecil karena telepon itu masuk di waktu yang amat tidak tepat. "Anak ini ... pas banget kalo mau menyela," desis Bunda geleng-geleng kepala.

​Bunda lalu menatap Nuha kembali dengan senyum maklum. "Bunda angkat telepon sebentar, ya."

​Kini tinggal Nuha yang harus berjuang keras menyesuaikan diri. Ia memang seorang yang socially awkward. Kaku, pemalu, dan sangat tidak pandai mencairkan suasana atau memulai sapaan. Beruntung, Dina yang peka meloloskan sepotek chocolate bar ke arahnya.

​"Kak Nuha suka cokelat, kan?"

​"A-ah ... Iya."

"Nih."

"Terima kasih."

Nuha menerimanya dengan sungkan.

​Di saat obrolan kecil antar dua gadis itu mulai mengalir pelan, Hartono Rudi yang duduk di hadapan mereka hanya memperhatikan dalam diam. Pria paruh baya itu tahu betul siapa Nuha. Gadis di depannya ini adalah adik kandung dari Naraya Muha, pemuda pekerja keras yang sangat berdedikasi dan berprestasi di perusahaannya. Rudi sangat menghargai integritas Muha.

​Namun, saat menatap raut canggung Nuha, Rudi seakan sedang melihat cerminan dirinya sendiri di masa lalu.

​Dulu, ia juga berada di posisi Nuha. Bukan siapa-siapa, polos, dan tanpa latar belakang keluarga terpandang. Bahkan di usianya yang masih mahasiswa pemegang beasiswa di Jepang pada semester akhir, Rudi hanyalah seorang pemuda lugu.

Ia bertindak nekat dengan berani mempersunting Rui Maya. ​Kala itu, Rudi dihina dan direndahkan setinggi langit. Namun, karena Maya sangat mencintainya, Hiyashi akhirnya memberi restu. Tentu saja dengan syarat-syarat yang sangat berat. Sebagai seorang pria sejati, Rudi berhasil membuktikan dirinya hingga sukses mendirikan imperium bisnis sendiri.

​Sayangnya, sesukses apa pun dirinya saat ini, Hiyashi tetap tidak sudi menerima darah keturunan dari seorang 'orang biasa.' Sampai-sampai, Naru harus dijadikan jaminan dan dipaksa tinggal di Jepang sejak kecil. Bahkan, kelahiran putri bungsu mereka, Dina, sengaja disembunyikan rapat-rapat darinya. Sang Kakek sama sekali tidak tahu bahwa Naru memiliki seorang adik perempuan di Indonesia.

​Mata Ayah Rudi menatap lembut ke arah Nuha yang sedang mengunyah cokelatnya dengan canggung. "Gadis polos ini ... apakah dia sanggup membuktikan dirinya di masa depan?" batin Rudi prihatin. "Aku sendiri tidak akan menuntut apa pun darinya. Selama Naru yang memilih, aku sebagai ayah pasti akan menerima dengan tangan terbuka. Tapi ... bagaimana dengan Kakeknya nanti? Aku benar-benar kasihan jika mereka harus berhadapan dengan takdir rumit keluarga Rui."

​Ponselnya mendadak berdering nyaring. Mengetahui nama Naraya Muha yang tertera di layar, Ayah Rudi mengulas senyum hangat dan memperlihatkannya kepada Nuha untuk mencairkan suasana.

​"Kakakmu menelepon, nih,"

​"Kak Muha?"

​"Ayah angkat telepon sebentar, ya?"

​Mendengar pria berwibawa di hadapannya menyebut dirinya 'Ayah', dada Nuha mendadak menghangat sekaligus berdesir pedih. Rasa rindu yang mendalam pada mendiang ayahnya kembali terungkat tanpa permisi. Namun, Nuha hanya bisa mengangguk pelan.

​Di tengah percakapan telepon, raut tenang Ayah Rudi berubah drastis. "Apa?!" serunya terkejut. Pria itu terdiam sejenak mendengarkan laporan dari seberang telepon sebelum akhirnya menjawab tegas, "Baiklah, saya akan langsung ke akademi sekarang."

​Melihat perubahan situasi yang mendadak, Nuha memberanikan diri bertanya, "A-- ada apa?"

​"Sebaiknya kamu juga ikut kembali ke bus sekarang, Nuha," kata Ayah Rudi seraya beranjak dari kursinya. "Guru-guru sudah bersiap memulangkan kalian lebih cepat dari jadwal."

​Meski benak Nuha dipenuhi sejuta pertanyaan, ia memilih menahannya. Tak ingin terlihat terlalu campur tangan.

"E-em, iya. Baik."

​"Kak Nuha mau pulang, ya?" celetuk Dina dengan wajah cemberut. Gadis kecil itu menahan telapak tangan Nuha, seolah tak rela berpisah begitu cepat.

​Nuha tersenyum tipis, merasa tersentuh. "Ma-- maaf ya, Dina. Saya harus kembali ke rombongan. Terima kasih cokelatnya, saya senang banget bisa ketemu kamu."

​Sesampainya di pelataran Akademi,

situasi terasa tidak biasa. Seluruh siswa sudah diinstruksikan masuk ke dalam bus masing-masing. Informasi mengenai insiden sebenarnya masih dirahasiakan agar tidak memicu keributan.

​Namun, dari balik kaca bus yang gelap, seluruh pasang mata siswa termasuk kuartet Multimedia dapat melihat Dilan dan kedua pengikutnya sedang ditahan di area koridor oleh Muha, satpam kampus, dan pihak berwajib.

​Dari balik jendela bus, Nuha menatap lekat raut wajah kakaknya yang berdiri tegap di luar sana. Wajah Muha tampak begitu dingin, serius, dan tak tersentuh. Nuha menerka-nerka dalam hati, kejahatan apa lagi yang baru saja dilakukan Dilan hingga membuat kakaknya semarah itu.

.

.

. NEXT》Bab 23. Next time 👋

1
Filan
gimana mau cerita kalau dia tidur?
Filan
Harusnya Naru ngambil hati Muha bukan mengobarkan perang. Dasar bocah!
Surya Alfian
WKWKWK "BAMBANG" gue ngakak.
🤣🤣 Udah dibangun tegang, romantis, deg-degan, eh ditutup dengan panggilan Bambang.
Surya Alfian
gue kira mau dicipok ini ciwi, deg-degan woy!! 😳❤️ Kelihatan kalau dia udah mulai jatuh hati tanpa sadar.
Surya Alfian
Gue jadi pengen tahu pas Kakeknya nanti turun tangan bakal segila apa. 🍿😏
Surya Alfian
Ending-nya manis banget, asli bikin senyum. 😆💕 Waduh, fix ini mah udah masuk fase salah tingkah. 😂🌸
Surya Alfian
Scene Muha sama Nuha di meja makan tuh adem banget. 🥹☕ Kakaknya galak tapi kelihatan banget sayangnya tulus, sementara Nuha polos banget sampai bikin gue senyum-senyum sendiri. Chemistry kakak-adiknya enak dibaca.
Surya Alfian
Wkwkwk Naru ini licik level dewa.
🤣 malah ngajak tinggal bareng di kos biar bisa nyiksa mentalnya pelan-pelan. Musuh paling bahaya emang yang senyumnya paling kalem. 😭👌
Surya Alfian
😭📖 Doa Naru ke kakeknya kerasa tulus banget. Gue fix lanjut baca cuma buat tahu kenapa dia sampai harus minta "kebebasan". 🚀
Surya Alfian
🤔❤️ Dia perhatian banget sampai hafal detail-detail kecil tentang Nuha, tapi kalimat "cuma gue yang boleh memahami dia" itu vibes-nya agak posesif. Gue jadi penasaran dia bakal jadi green flag atau malah red flag nantinya. 👀
Surya Alfian
Dilan akhirnya kena mental. 😮‍💨👏
Selama ini dia kebanyakan gaya dan ngerasa semua bisa diselesain pake duit, eh giliran nama bokapnya dibawa langsung ciut. Karma emang nggak pernah salah alamat. 😂🔥
Muft Smoker
mereka lucuu kan ,, 😂😂😂😂 ,,



kak nama2 tokoh mu unik2 yx ,,
lanjut kak
Mega Siregar
padahal sebagai seorang dokter jiwa seharusnya tahu bahwa memanjakan anak tanpa ada kasih sayang dan perhatian dan pengajaran tentang hidup dari orang tua, hanya membuat seorang anak menjadi rusak
ginevra
ketikannya.... sumpah alay banget ini dilan....
ginevra
kakeknya keterlaluan sih... nggak heran baru jadi nggak betah. kasih kelonggaran dikit lah ...
Xlyzy
sumpah keterlaluan banget, pengen tak ketuk pala nya pakek martil
Xlyzy
Jahat ih kalian jangan gitu lah aku ketuk nih kening nya kalau nakal
Filan
gimana kalau diajak pacaran sama Naru? apa dia ga mikir ke sana?
Kan dia suka sama Naru.
Miu.Nuha: iya nanti dilemanya disitu...
Nuha blm sadar kalo dia suka, dia cuma lagi seneng2nya jatuh cinta #eh
total 1 replies
Filan
btw, Muha ini emang gampang marah juga ya.
Filan
ya ampun, tidur dua hari?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!