NovelToon NovelToon
Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Beberapa hari berselang, setiap pagi Alya terbangun dengan tubuh yang terasa semakin rapuh. Nafsu makannya menurun drastis, sementara perutnya seakan menolak setiap makanan yang masuk. Awalnya rasa mual hanya muncul saat fajar menyingsing, tetapi lama-kelamaan keluhan itu datang hingga menjelang sore hari.

Semula ia menganggap semua itu hanyalah akibat kelelahan atau masuk angin biasa. Namun, semakin hari kondisi tubuhnya justru menunjukkan gejala lain yang sulit diabaikan. Kepalanya sering terasa ringan hingga berkunang-kunang, napasnya sesak tanpa alasan yang jelas, dan tubuhnya mudah kehilangan tenaga. Belakangan, demam tinggi pun ikut menyerangnya, membuat Alya semakin khawatir dengan keadaan yang sedang ia alami.

Hari itu, kondisi Alya jauh lebih buruk dari biasanya. Untuk sekadar bangkit dari tikar pun ia tidak memiliki tenaga. Tubuhnya terasa lemah seakan seluruh kekuatan telah meninggalkannya. Napasnya memburu dan berat, sementara peluh terus mengalir membasahi kulitnya meski udara desa sedang sejuk.

Di bawah selimut tipis yang menutupi tubuhnya, ia terus menggigil tanpa henti. Rasa nyeri yang aneh menjalar ke seluruh badan, membuatnya meringis setiap kali bergerak. Alya tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya. Yang ia tahu, rasa sakit itu semakin kuat, seolah perlahan menguras sisa-sisa tenaganya.

*****

Di luar gubuk, Bu Ami yang sedang melintas mendadak merasa ada sesuatu yang tidak biasa. Biasanya, pada jam-jam seperti itu, Alya sudah terlihat beraktivitas atau setidaknya menyapanya dengan senyum kecil saat berpapasan. Namun pagi itu suasananya berbeda.

Pintu gubuk tampak tertutup rapat, dan halaman di depannya terlihat sepi tanpa tanda-tanda kehidupan. Tidak terdengar suara langkah kaki, batuk, maupun aktivitas apa pun dari dalam. Keheningan yang menyelimuti tempat itu membuat Bu Ami berhenti sejenak, dihantui firasat bahwa mungkin sesuatu telah terjadi pada gadis muda tersebut.

Dengan perasaan waswas, Bu Ami mendorong pintu gubuk itu perlahan. Daun pintu yang ternyata tidak terkunci terbuka sambil mengeluarkan bunyi berderit pelan. Ia mengintip ke dalam terlebih dahulu, seolah takut menemukan sesuatu yang tidak diharapkannya.

"Al?" panggil Bu Ami dengan suara lembut sambil melangkah mendekati pintu. Tidak ada sahutan. Ia kembali mencoba memanggil, kali ini sedikit lebih keras. "Alya, Nak... kamu ada di dalam?"

Begitu memasuki ruangan, Bu Ami langsung terpaku. Di sudut gubuk yang sederhana itu, Alya terlihat terbaring tak berdaya di atas tikar. Wajahnya tampak pucat pasi, sementara dadanya naik turun dengan napas yang terdengar berat.

Rasa khawatir segera menyelimuti hati Bu Ami. Ia bergegas menghampiri gadis itu lalu menyentuh dahinya dengan punggung tangan. Seketika wajahnya berubah panik. Kulit Alya terasa sangat panas, pertanda bahwa demam yang dideritanya bukanlah demam biasa.

"Astaga, Alya... badanmu panas sekali." ujar Bu Ami dengan nada cemas sambil menempelkan telapak tangannya ke dahi gadis itu.

Tanpa menunda lagi, Bu Ami segera keluar dari gubuk dan meminta pertolongan kepada warga sekitar. Kepanikannya membuat beberapa orang segera berdatangan untuk melihat keadaan Alya.

Tidak lama kemudian, sejumlah warga telah berkumpul di depan rumah kecil itu. Di antara mereka ada Pak Kades yang langsung mengambil keputusan setelah melihat kondisi Alya yang begitu lemah.

Namun ketika beberapa warga bersiap memindahkan Alya ke tandu sederhana yang telah mereka siapkan, gadis itu perlahan membuka mata. Dalam kondisi lemah dan kesadarannya yang belum sepenuhnya pulih, ia menggeleng pelan.

Tangannya yang gemetar mencoba menahan lengan orang yang hendak membantunya. Meski suaranya nyaris tak terdengar, ia tetap berusaha menyampaikan penolakannya.

"Tak usah..." gumam Alya dengan suara serak yang hampir tak terdengar. "Aku nggak punya biaya untuk berobat." Ia menarik napas pendek sebelum melanjutkan ucapannya. "Tolong jangan susahkan kalian karena aku," katanya lirih sambil memejamkan mata. "Keadaanku masih bisa ditahan... nanti juga membaik sendiri."

Pak Kades berjongkok di samping Alya, lalu menatap gadis itu dengan penuh keprihatinan. Dengan gerakan lembut, ia mengusap puncak kepalanya, berusaha menenangkan sekaligus memberi semangat.

"Jangan khawatir, Nak," ujar Pak Kades dengan suara hangat. "Kamu tidak perlu memikirkan semuanya sendirian. Kami semua ada di sini untuk membantumu."

Setelah diyakinkan berulang kali oleh Pak Kades dan warga yang hadir, Alya akhirnya berhenti menolak. Dalam kondisi yang sangat lemah, ia hanya mampu mengangguk pelan, menyerahkan dirinya pada bantuan orang-orang yang begitu peduli kepadanya.

Tak lama kemudian, ambulans desa disiapkan untuk membawanya ke puskesmas terdekat. Dengan hati-hati, warga mengangkat Alya dan menempatkannya di dalam kendaraan itu. Bu Ami setia mendampingi di sisinya, sementara Pak Kades turut mengawal perjalanan tersebut. Beberapa warga lain juga ikut serta, wajah mereka dipenuhi kekhawatiran, berharap gadis muda itu segera mendapatkan pertolongan dan kembali pulih.

*****

Begitu tiba di puskesmas, Alya segera mendapatkan penanganan dari dokter yang sedang bertugas. Kondisinya diperiksa secara menyeluruh, mulai dari suhu tubuh, tekanan darah, hingga keluhan-keluhan yang selama ini ia rasakan.

Di luar ruang pemeriksaan, Bu Ami, Pak Kades, dan beberapa warga menunggu dengan perasaan cemas. Waktu terasa berjalan begitu lambat hingga akhirnya, beberapa menit kemudian, pintu ruangan terbuka.

Sang dokter melangkah keluar sambil membawa berkas pemeriksaan. Raut wajahnya tampak serius, membuat orang-orang yang menunggu langsung berdiri dan menahan napas, khawatir dengan kabar yang akan mereka dengar.

"Kondisinya sudah kami periksa secara menyeluruh," ujar sang dokter dengan nada tenang. "Dan dari hasil pemeriksaan yang kami lakukan, Alya sedang mengandung." Sejenak suasana menjadi hening. Dokter itu melanjutkan, "Perkiraan usia kehamilannya sekitar dua bulan, atau kurang lebih delapan minggu."

Dalam sekejap, suasana di ruangan itu berubah sunyi. Seakan waktu berhenti sesaat setelah ucapan dokter terdengar jelas di telinga semua orang.

Alya yang berada di atas ranjang pemeriksaan langsung terpaku. Tubuhnya menegang, sementara pandangannya kosong menatap ke depan. Matanya membesar karena terkejut, dan bibirnya sedikit terbuka, tetapi tak satu pun kata mampu keluar.

Dadanya berdebar hebat, semakin cepat dari detik ke detik. Berbagai pikiran bercampur menjadi satu, membuat kepalanya terasa berputar. Ia berusaha mencerna kenyataan yang baru saja didengarnya, namun pikirannya seolah menolak untuk mempercayainya.

"Hamil...?" gumam Alya pelan, suaranya begitu lirih hingga hampir tenggelam dalam keheningan ruangan.

Bu Ami menggeleng pelan dengan wajah yang masih dipenuhi keterkejutan. Ia menatap dokter itu seakan berharap ada kesalahan dalam hasil pemeriksaan yang baru saja disampaikan.

"Dokter yakin dengan hasilnya?" tanyanya hati-hati. "Alya itu masih muda, belum bersuami, dan selama ini hidupnya sendiri. Apa mungkin ada kekeliruan dalam pemeriksaannya?"

Dokter itu menganggukkan kepala dengan tenang, memahami keterkejutan yang dirasakan semua orang di ruangan tersebut.

"Saya mengerti kenapa Ibu merasa kaget," ujarnya lembut. "Karena itu kami tidak menyampaikan kesimpulan ini secara sembarangan."

Ia membuka berkas pemeriksaan di tangannya sebelum melanjutkan, "Kami sudah melakukan pemeriksaan menggunakan peralatan yang tersedia, dan hasilnya menunjukkan indikasi yang cukup jelas. Tentu saja kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan semuanya, tetapi sejauh ini temuan yang kami dapatkan saling mendukung." Dokter itu lalu menatap Bu Ami dan Pak Kades dengan serius.

"Gejala yang dialami Alya, kondisi fisiknya, serta hasil pemeriksaan awal mengarah pada kesimpulan yang sama. Karena itu, untuk sementara kami perlu menangani pasien dengan asumsi bahwa kehamilan tersebut memang sedang berlangsung."

Alya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Pandangannya kabur, dan tanpa sempat dicegah, butiran air mata mulai mengalir membasahi pipinya. Ia menggigit bibir, berusaha menahan gejolak emosi yang memenuhi dadanya, tetapi pertahanannya perlahan runtuh.

Bahu gadis itu bergetar pelan. Bukan lagi karena tubuhnya yang lemah atau demam yang masih menyiksanya, melainkan karena kenyataan yang baru saja terungkap. Kabar itu datang begitu tiba-tiba, menghancurkan ketenangan yang selama ini berusaha ia pertahankan.

Kini tidak ada lagi ruang untuk menyangkal atau menghindar. Kenyataan itu berdiri jelas di hadapannya, tak bisa disembunyikan maupun dilupakan.

Alya memejamkan mata rapat, sementara air mata terus mengalir tanpa henti. Jauh di dalam hatinya, ia mengetahui dengan pasti kapan semua ini bermula. Ingatannya kembali pada malam yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam, malam yang tak pernah benar-benar hilang dari benaknya.

*****

Setelah dokter keluar dari ruangan, keheningan kembali menyelimuti tempat itu. Alya tetap berada di atas ranjang pemeriksaan, tak bergerak sedikit pun. Kepalanya tertunduk, sementara jemarinya mencengkeram kain selimut hingga buku-buku jarinya memucat.

Air mata terus membasahi pipinya tanpa henti. Ia bahkan tidak berusaha menyekanya. Tatapannya kosong, seolah pikirannya tersesat di antara kenyataan dan ketakutan yang baru saja menghampirinya.

Tak ada tangisan keras atau jeritan yang keluar dari bibirnya. Kesedihan yang ia rasakan terlalu dalam untuk diluapkan dengan suara. Hancurnya hati Alya justru membuatnya tenggelam dalam diam, membiarkan air mata berbicara menggantikan semua perasaan yang tak sanggup ia ungkapkan.

Bu Ami mendekat lalu duduk di samping ranjang. Dengan penuh kelembutan, ia menepuk bahu Alya perlahan, berusaha memberikan ketenangan kepada gadis yang sedang dilanda kesedihan itu.

"Alya," ucapnya lirih, "kalau ada sesuatu yang membebani hatimu, jangan dipikul sendirian."

Ia menunggu sejenak sebelum melanjutkan dengan suara yang hangat.

"Kamu tidak harus menghadapi semuanya dalam diam. Kalau ingin bercerita, ceritakan saja pada Ibu. Siapa tahu hatimu bisa terasa sedikit lebih ringan."

Tatapan Bu Ami dipenuhi kepedulian. "Apa pun yang terjadi, Ibu akan mendengarkanmu."

Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Alya hanya menunduk, berusaha mengendalikan napasnya yang tidak beraturan. Air mata masih sesekali jatuh, sementara jemarinya saling menggenggam erat seolah mencari kekuatan yang tersisa.

Akhirnya, ia memberanikan diri untuk berbicara. Suaranya begitu pelan dan bergetar, nyaris tak terdengar. Setiap kata yang keluar terasa berat, seakan memaksanya membuka kembali bagian hidup yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.

Alya menundukkan kepala semakin dalam. Bahunya bergetar hebat saat ia berusaha menyusun kata-kata yang terasa begitu sulit untuk diucapkan.

"Bu..." suaranya pecah, nyaris tenggelam oleh tangis yang ditahannya. "Semua ini bukan karena keinginan saya." Ia menarik napas gemetar, lalu memejamkan mata rapat. "Saya tidak pernah menginginkan itu terjadi," lanjutnya lirih. "Malam itu... seseorang memaksa saya."

Air matanya jatuh semakin deras. Dengan suara yang penuh luka, ia akhirnya mengungkapkan kebenaran yang selama ini dipendam sendirian.

"Saya menjadi korban kekerasan, Bu," bisiknya. "Saya diperkosa."

Mendengar pengakuan itu, Bu Ami terdiam seketika. Wajahnya yang semula dipenuhi kekhawatiran kini berubah menjadi duka yang mendalam. Matanya mulai berkilau, dan tak lama kemudian genangan air mata memenuhi pelupuknya.

Di dekat pintu ruangan, Pak Kades terdiam tanpa sepatah kata pun. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya jatuh ke lantai. Ia menundukkan kepala perlahan, berusaha mengendalikan gejolak emosi yang mendadak memenuhi dadanya.

Alya menatap kosong ke depan. Suaranya terdengar lemah, seolah setiap kalimat yang keluar memaksanya kembali mengingat peristiwa yang ingin ia lupakan.

"Semuanya terjadi sebelum saya datang ke desa ini," ucapnya lirih. "Waktu itu saya baru pulang dari sebuah toko kecil dan berjalan sendirian." Ia berhenti sejenak, menelan rasa sesak di tenggorokannya. "Jalannya sepi. Ada kendaraan berhenti di dekat saya." Jemarinya mulai gemetar. "Orang itu keluar, lalu memaksa saya masuk dan menye*ubuhi saya. Saya tidak sempat melawan." Air mata kembali mengalir di pipinya. "Dia sedang mabuk," lanjut Alya dengan suara yang nyaris putus. "Saya ketakutan... tapi tidak ada siapa-siapa yang bisa menolong."

Alya tidak menyebutkan siapa pelakunya. Bukan karena ingin melindunginya, melainkan karena ia memang tidak mengenal orang itu. Wajahnya hanya tersimpan samar dalam ingatan yang kacau, tertutup oleh ketakutan dan kepanikan yang ia rasakan malam itu.

Alya menunduk dalam-dalam. Suaranya terdengar rapuh, dipenuhi keputusasaan yang selama ini ia pendam sendirian.

"Saya takut untuk mencari bantuan," katanya lirih. "Saya bukan siapa-siapa. Hidup saya saja sudah susah, jadi saya pikir tidak akan ada orang yang mau mendengarkan." Ia mengusap air mata yang terus mengalir di pipinya. "Kalaupun saya bicara, siapa yang akan percaya pada cerita saya?" lanjutnya dengan senyum pahit. "Saya khawatir malah dianggap berbohong atau mencari masalah." Napasnya bergetar sebelum ia melanjutkan. "Karena itu saya memilih diam. Saya pikir memendam semuanya akan lebih mudah daripada menghadapi penolakan dan penghakiman dari orang lain."

Bu Ami merangkul Alya dengan lembut, membiarkannya bersandar sejenak di bahunya. Matanya berkaca-kaca, namun ia berusaha tetap tegar demi gadis yang sedang terluka itu.

"Nak," bisiknya pelan, "kamu sudah memikul beban yang begitu berat seorang diri. Tidak mudah bertahan setelah semua yang kamu alami." Ia mengusap punggung Alya perlahan, berusaha menenangkan isak yang tertahan. "Tapi sekarang keadaannya berbeda. Kamu tidak perlu menghadapi semuanya sendirian lagi." Suaranya bergetar menahan haru. "Ada orang-orang yang peduli dan ingin membantumu. Jadi jangan memendam semua rasa sakit itu sendiri, ya." Bu Ami tersenyum lembut meski air mata masih menggenang di matanya. "Kamu sudah sangat kuat sampai bisa bertahan sejauh ini. Mulai hari ini, biarkan kami berjalan di sampingmu."

*****

Beberapa jam kemudian, setelah mendapatkan perawatan dan obat-obatan yang diperlukan, kondisi Alya berangsur membaik. Demamnya mulai mereda, dan napasnya tidak lagi seberat sebelumnya. Meski tubuhnya masih terasa lemah, dokter menilai ia sudah cukup stabil untuk beristirahat di rumah dengan pengawasan yang baik.

Saat meninggalkan puskesmas, langkah Alya masih goyah. Wajahnya tampak pucat, dan tenaganya belum sepenuhnya pulih. Karena itu, Bu Ami setia mendampinginya di sisi kanan, membantu menopang tubuhnya agar tidak kehilangan keseimbangan.

Beberapa warga perempuan juga ikut mengantar pulang. Mereka berjalan bersama menuju gubuk kecil tempat Alya tinggal, memastikan gadis itu tidak merasa sendirian. Sepanjang perjalanan, tak sedikit dari mereka yang menawarkan bantuan dan kata-kata penyemangat.

Namun suasana yang menyambut kepulangan Alya kali ini terasa berbeda. Jika biasanya jalan-jalan kecil di desa itu tampak tenang dan acuh, kini beberapa warga terlihat berdiri di depan rumah atau di tepi gang, memperhatikan rombongan yang berjalan bersama Alya.

Tatapan mereka beragam. Sebagian menunjukkan rasa simpati dan kepedulian, sementara yang lain memandang dengan rasa ingin tahu yang sulit disembunyikan. Beberapa wajah tampak benar-benar prihatin melihat kondisi Alya yang masih lemah.

Di balik perhatian itu, terdengar pula gumaman-gumaman pelan yang berembus dari sudut-sudut jalan. Bisik-bisik lirih berpindah dari satu orang ke orang lain, lahir dari rasa penasaran terhadap kabar yang mulai menyebar di desa. Meski tidak diucapkan terang-terangan, Alya dapat merasakan bahwa dirinya kini menjadi pusat perhatian banyak orang.

"Itu gadis yang sering memulung itu, kan?" bisik seseorang pelan. "Masih muda sekali, tapi sudah menghadapi masalah sebesar ini."

"Benarkah kabar itu?" bisik seorang warga kepada temannya. "Aku baru dengar hari ini."

"Aku dengar, gadis itu katanya mengalami kejadian yang sangat buruk." bisik seorang warga dengan wajah prihatin.

Sebelum desas-desus itu menyebar semakin luas, Pak Kades menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap warga yang mulai berkerumun. Raut wajahnya tetap terkendali, namun sorot matanya menunjukkan keseriusan yang tidak bisa diabaikan.

"Saya harap tidak ada lagi yang menjadikan Alya bahan pembicaraan," ujar Pak Kades dengan suara mantap. "Kalau ada yang ingin bertanya atau menyampaikan sesuatu, sampaikan langsung kepada saya, jangan berbisik di belakang."

Ia menoleh ke arah Alya yang masih tampak lemah, lalu kembali memandang warga di sekelilingnya.

"Anak ini sedang menghadapi masa yang berat. Yang dia butuhkan sekarang adalah dukungan, bukan penilaian atau prasangka."

Tak seorang pun menyahut ucapan itu. Warga yang semula berbisik-bisik perlahan terdiam, menundukkan pandangan atau memilih berpaling dengan wajah yang sulit ditebak.

*****

Malam itu, Alya sudah kembali beristirahat di gubuk kecilnya. Meski tubuhnya masih lemah, suasana di dalam ruangan terasa sedikit berbeda dari biasanya. Ada sentuhan kepedulian yang membuat tempat sederhana itu tampak lebih hangat.

Di lantai, terbentang tikar baru yang sengaja disiapkan agar ia bisa berbaring dengan lebih nyaman. Di dekatnya tersedia termos berisi air hangat, beberapa obat dari puskesmas yang harus diminumnya secara teratur, serta perlengkapan lain yang dibutuhkan selama masa pemulihan.

Di sudut dekat tempat tidurnya, terdapat semangkuk sup hangat buatan Bu Ami. Aroma kuahnya yang lembut memenuhi ruangan, menghadirkan rasa tenang yang jarang Alya rasakan selama ini. Untuk pertama kalinya sejak datang ke desa itu, ia merasakan bahwa ada orang-orang yang benar-benar peduli terhadap keadaannya.

Sebelum pulang, Bu Ami merapikan selimut Alya terlebih dahulu. Ia lalu menatap gadis itu dengan senyum hangat yang menenangkan.

"Besok pagi Ibu akan datang lagi untuk melihat keadaanmu," ujarnya lembut. "Jadi jangan sampai melewatkan makan atau obatmu, ya." Ia mengusap punggung tangan Alya pelan sebelum melanjutkan. "Kamu tidak perlu terus-menerus merasa cemas. Istirahatlah yang cukup dan fokus memulihkan diri. Di sini ada banyak orang yang peduli padamu." Bu Ami berdiri dan bersiap melangkah ke pintu, lalu menoleh sekali lagi. "Kalau ada apa-apa, jangan ragu meminta bantuan. Sekarang yang penting kamu menjaga kesehatan dan merasa tenang."

Alya hanya membalas dengan anggukan kecil. Matanya masih menyimpan kesedihan yang dalam, dan pikirannya belum sepenuhnya lepas dari berbagai ketakutan yang menghantuinya. Namun, ada sesuatu yang berbeda malam itu.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, beban di dadanya terasa sedikit berkurang. Luka yang ia simpan memang belum hilang, dan kenyataan yang harus dihadapinya tetap terasa berat. Tetapi kehangatan serta kepedulian yang ia terima hari itu membuatnya merasa tidak lagi sepenuhnya sendirian.

*****

Sehari setelah kepulangannya dari puskesmas, gubuk kecil itu kembali tenggelam dalam kesunyian. Tidak ada suara selain desir angin yang sesekali menyelinap melalui celah-celah dinding kayu yang mulai rapuh dimakan usia.

Alya duduk sendirian di sudut ruangan dengan lutut terlipat di depan dada. Pandangannya kosong, terpaku pada papan-papan kayu yang tampak lembap dan kusam. Namun sebenarnya, pikirannya jauh melayang, dipenuhi berbagai pertanyaan dan ketakutan yang tak kunjung menemukan jawaban.

Di tangannya tergenggam selembar kertas dari puskesmas yang sudah beberapa kali ia baca. Tulisan di atasnya tampak sederhana, tetapi terasa begitu berat. Keterangan hasil pemeriksaan itu seolah terus mengingatkannya pada kenyataan yang belum sanggup ia terima sepenuhnya.

Alya memejamkan matanya rapat-rapat, berusaha menenangkan gejolak yang terus berputar di dalam dada. Ia menarik napas panjang, berharap bisa meredakan beban yang menghimpit pikirannya.

Namun harapan itu sia-sia. Napas yang semula berusaha ia atur justru berakhir dengan getaran kecil di tenggorokannya. Ia menggigit bibir, berusaha menahan tangis yang kembali datang tanpa diundang.

Sudah berhari-hari air matanya seolah tidak pernah benar-benar kering. Setiap kali ia merasa sedikit lebih kuat, rasa sakit itu kembali menyergap, membuat dadanya sesak dan hatinya terasa semakin berat.

Alya menatap lantai dengan pandangan kosong. Tangannya tanpa sadar bergerak menutupi perutnya, sementara berbagai pikiran berputar di benaknya.

"Kalau bayi ini benar-benar lahir nanti..." bisiknya pelan kepada dirinya sendiri. "Apa aku sanggup menjaganya dengan baik?"

Pikiran Alya semakin dipenuhi kegelisahan. Selama ini, ia tidak pernah memiliki sumber penghasilan yang pasti. Hari-harinya bergantung pada apa yang berhasil ia kumpulkan dan jual, dan sering kali hasilnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan paling dasar.

Tempat tinggal yang ia tempati pun hanyalah gubuk sederhana yang berdiri dengan segala keterbatasannya. Banyak hal dalam hidupnya bergantung pada kebaikan dan bantuan orang-orang di sekitarnya. Ia terbiasa hidup dengan serba kekurangan, berusaha bertahan dari hari ke hari tanpa banyak harapan.

Namun keadaan itu terasa berbeda sekarang. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Ada kehidupan lain yang sedang bertumbuh dan bergantung padanya sepenuhnya. Kesadaran itu membuat dadanya semakin sesak, karena ia tahu bahwa tanggung jawab yang menantinya jauh lebih besar daripada apa pun yang pernah ia hadapi sebelumnya.

"Aku sudah lelah..." bisik Alya dengan suara bergetar. "Bagaimana kalau aku berhenti berjuang? Bagaimana kalau aku memang tidak sekuat yang orang-orang kira?"

"Apa yang harus kulakukan...?" bisik Alya dengan suara parau.

Ia menatap kosong ke depan, sementara jemarinya saling menggenggam erat.

"Kadang terlintas pikiran yang membuatku takut pada diriku sendiri," lanjutnya pelan. "Bagaimana jika aku memilih untuk tidak melanjutkan kehamilan ini?"

Namun saat pikiran itu melintas lebih jauh, tangan Alya secara refleks bergerak menempel di perutnya yang masih tampak biasa saja. Gerakan itu terjadi begitu saja, tanpa ia rencanakan.

Untuk sesaat ia terdiam, menatap tangannya sendiri yang seolah menolak apa yang baru saja terlintas di benaknya. Di dalam dadanya muncul perasaan yang sulit ia jelaskan—campuran antara takut dan gelisah.

Seolah ada sesuatu yang menahan langkah pikirannya, membuatnya ragu dengan apa yang sempat ia bayangkan. Rasa bersalah itu perlahan tumbuh, seperti ikatan halus yang mulai membuatnya tidak sanggup benar-benar melanjutkan pikiran tersebut.

Alya menunduk, tangannya masih bertahan di atas perutnya. Suaranya keluar sangat pelan, hampir seperti bisikan yang ditujukan untuk dirinya sendiri.

"Ini bukan salah kamu," gumamnya lirih. Matanya mulai berkaca-kaca. "Kamu nggak melakukan kesalahan apa pun."

Air mata Alya kembali jatuh tanpa bisa ia tahan. Di dalam dadanya, rasa trauma yang selama ini ia coba kubur muncul lagi, bercampur dengan rasa malu, takut, dan kebingungan yang sulit ia uraikan satu per satu.

Ia menarik napas tersengal, merasa seolah dirinya kehilangan pegangan. Ada perasaan bersalah yang tidak logis, membuatnya merasa terasing dari dirinya sendiri, seakan ia bukan lagi orang yang sama seperti dulu.

Namun di tengah kekacauan itu, ia terdiam lama. Perlahan tangannya kembali menyentuh perutnya, mengingatkan bahwa ada kehidupan kecil yang tidak tahu apa pun tentang luka dan gelapnya pengalaman yang ia lalui. Kesadaran itu membuatnya semakin bingung, terhimpit antara keputusasaan dan tanggung jawab yang baru saja hadir dalam hidupnya.

1
Ratu Anjani
lah kelanjutan ny mana min
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!