Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 : HANTU DI SAYAP TIMUR
Di antara ketiga komandan baru, Ren—sang psikopat pucat dengan julukan 𝘛𝘩𝘦 𝘎𝘩𝘰𝘴𝘵—adalah sosok yang paling jarang terlihat di kediaman, namun jejak kematian yang ia buat adalah yang paling nyata.
Sebagai kepala faksi eksekutor internal yang baru menggantikan Adrian. Ia memilih tinggal di ruang bawah tanah sayap timur, sebuah area yang dulunya merupakan gudang penyimpanan arsip tua yang dingin dan lembap.
Kamarnya hanya berisi sebuah ranjang lipat, satu set meja kayu, dan sebuah lemari besi tempat ia menyimpan "alat kerjanya": jajaran jarum suntik, berbagai jenis racun sintetis tanpa bau, tali jemuran berbahan kevlar, dan pisau bedah medis yang selalu disterilkan dengan alkohol.
Kehidupan sehari-hari Ren dihabiskan dengan membedah rute aktivitas targetnya. Sebelum mengeksekusi seorang pengkhianat atau informan, Ren bisa duduk diam tanpa bergerak selama berjam-jam di sudut ruangan yang gelap, hanya menatap foto targetnya di bawah temaram lampu meja.
"Kematian terbaik adalah kematian yang tidak disadari sebagai sebuah pembunuhan," ucap Ren sekali.
Di bawah kendalinya, faksi eksekutor bergerak bagai hantu. Musuh-musuh faksi barat atau maritim yang mencoba berkhianat tidak lagi ditemukan tewas dengan peluru di kepala atau tubuh yang terpotong di dermaga.
Mereka mati karena "serangan jantung mendadak" saat mengemudi, "kecelakaan tragis" jatuh dari balkon lantai sepuluh, atau "gagal napas akibat komplikasi zat" di kamar hotel terkunci. Setiap operasi Ren selesai dengan begitu bersih hingga kepolisian bahkan tidak pernah membuka berkas penyelidikan kriminal.
Bagi Ren, Elara adalah cermin dari jiwanya sendiri.
Saat menyerahkan laporan eksekusi, Ren hanya akan berdiri di depan meja Elara dengan tatapan matanya yang kosong.
"Target ke-14 telah diselesaikan, Nona Elara. Serangan stroke saat rapat dewan direksi," lapor Ren, meletakkan selembar sertifikat kematian medis palsu di atas meja Elara.
Elara membaca dokumen itu, lalu mengangguk tipis. "Kau bekerja dengan baik, Ren. Pertahankan."
"Baik, Nona," jawab Ren pelan, membungkuk sedikit sebelum berbalik pergi.
Bagi Dante, Ren adalah jenis ancaman yang paling berbahaya. Setiap kali Ren melangkah masuk ke ruangan Elara tanpa suara, bulu kuduk Dante akan meremang. Insting monster Dante mendeteksi bahwa Ren adalah seorang psikopat murni yang tidak memiliki rasa takut, rasa sakit, atau penyesalan.
Pernah suatu malam, Dante menghadang Ren di koridor bawah tanah yang sepi. Tubuh besar Dante menutupi seluruh jalur jalan Ren.
Dante menunduk, menatap mata kosong Ren dari jarak dekat. "Aku tahu apa yang ada di dalam kepalamu, Sallow."
Ren berhenti, ia tidak menunjukkan keterkejutan. Wajah pucatnya tetap datar. Ia menatap Dante dengan mata kosongnya, seolah sedang melihat seonggok daging yang bisa ia bedah kapan saja.
"Kau terlalu banyak membuang energi untuk emosimu, Dante," ucap Ren. "Aku tidak tertarik pada Nonamu sebagai seorang wanita, seperti bajingan maritim itu atau si konsultan digital. Aku hanya menghormati apa yang ada di dalam dirinya."
Ren melangkah menyamping, melewati bahu Dante dengan tenang.
Di lantai atas, di depan jajaran monitor yang memancarkan cahaya biru, Julian Vance memperhatikan rekaman sensor suhu koridor tersebut. Detak jantung Dante yang melonjak kontras dengan suhu tubuh Ren yang tetap stabil.
Julian terkekeh gembira, tawa sinis menggema di ruang kerjanya."Menarik... sang anjing penjaga mulai menyalak pada hantu yang bahkan tidak memiliki bayangan. Permainan ini benar-benar semakin sempurna."
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..