Dua kali gagal menikah membuat Rellunae berhenti percaya pada cinta. Baginya, semua orang hanya datang untuk pergi, tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Sampai ia bertemu Orion. Seorang pasien dengan masa lalu kelam yang dipindahkan dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya karena tak seorang pun mampu menanganinya.
Awalnya Rellunae hanya ingin menyembuhkan. Namun ia tidak menyadari bahwa setiap senyuman, perhatian, dan kebaikan yang diberikannya perlahan membuat dirinya menjadi pusat dunia pasiennya. Bagi Orion, Rellunae bukan hanya sekedar psikiater, melainkan seseorang yang harus tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus adalah seseorang yang mencintainya terlalu dalam hingga berubah menjadi obsesi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22 | Ancaman Orion
Ingatan lima tahun lalu mendadak berputar di kepala Luna. Hari dimana dunia Luna runtuh saat mengetahui kenyataan pahit bahwa Julian ketahuan merusak kepercayaan dan menghamili wanita lain. Saat itu, meski hatinya hancur berkeping-keping, Luna memilih membatalkan pernikahan mereka secara sepihak dan dengan tegas memaksa Julian untuk bertanggung jawab menikahi wanita tersebut demi anak yang dikandungannya.
Dan kini... di tengah bisingnya pasar malam di pinggiran kota, mereka berdua kembali dipertemukan. Julian berdiri di sana bersama bocah balita yang merupakan buah dari kesalahan masa lalunya.
Julian bangkit berdiri perlahan. Matanya menatap Luna tanpa berkedip, dipenuhi rasa tak percaya, kerinduan yang tertahan selama lima tahun, dan rasa bersalah yang amat mendalam.
Aira, bocah berusia empat tahun itu, menarik-narik ujung celana papanya. Namun perhatian Julian sepenuhnya teralih pada wanita cantik berjaket kulit yang berdiri di depannya.
"Luna... ini beneran kamu?" bisik Julian, suaranya bergetar. Ia melangkah satu tapak mendekat. "Kamu... makin cantik."
Luna mengerutkan keningnya, memasang wajah dingin dan membentengi dirinya dalam detik itu juga. "Senang melihat anakmu aman, Julian. Saya permisi."
"Luna, tunggu!"
Julian refleks menyambar pergelangan tangan Luna. Sentuhan itu seketika membuat Luna memutar tubuhnya dan menghempaskan tangan Julian secara kasar.
"Jangan sentuh saya!" gertak Luna, matanya membelalak penuh kemarahan.
"Maaf... maafkan aku, Luna. Aku cuma..." Julian mengusap wajahnya yang tampak frustrasi dan lelah. "Lima tahun aku cari kamu, Luna. Kamu ganti nomor, kamu pindah rumah, kamu seperti ditelan bumi setelah membatalkan pernikahan kita!"
"Untuk apa kamu cari saya, Julian?!" cetus Luna, suaranya bergetar menahan emosi yang terangkat kembali dari masa lalu. "Kamu sudah punya keluarga! Kamu punya istri dan anak yang manis itu! Tugas kamu adalah mengurus mereka, bukan mencari saya!"
"Aku ngga bahagia, Lun!" teriak Julian setengah berbisik, mengabaikan beberapa pengunjung pasar malam yang mulai melirik ke arah mereka.
Julian melangkah maju lagi, menatap Luna dengan sorot mata nekat dan keputusasaan.
"Aku menikahinya cuma karena kamu yang paksa! Aku ngga pernah mencintai dia, Luna! Selama lima tahun ini, setiap hari, cuma nama kamu yang ada di kepalaku!"
"Gila kamu, ya?" Luna terkekeh kaku, tidak percaya dengan mantan tunangannya itu. "Kamu yang selingkuh, kamu yang bikin wanita itu hamil, dan sekarang kamu bilang kamu tidak bahagia?! Jangan bikin saya makin jijik sama kamu, Julian!"
"Aku siap ceraikan dia sekarang, Luna!" potong Julian cepat, matanya berkilat penuh tekad gila.
Ia nekat memegang kedua bahu Luna, menatapnya dengan sorot memohon. "Sumpah, aku rela tinggalin dia! Aku akan urus hak asuh Aira atau kuberikan pada ibunya, asal kamu mau kembali sama aku. Kita mulai dari awal lagi, Luna. Tolong... kita nikah seperti rencana kita dulu."
PLAKK!
Kepala Julian terlempar ke samping. Luna menamparnya begitu kuat hingga telapak tangannya sendiri terasa panas membara. Napas Luna memburu hebat, air mata amarah tergenang di pelupuk matanya.
"Kamu benar-benar bajingan paling tidak tau malu yang pernah saya kenal!" sentak Luna dengan nada rendah yang menusuk tajam.
Aira yang melihat papanya ditampar langsung terisak makin kencang, menangis ketakutan di samping mereka.
"Lihat anakmu, Julian!" tunjuk Luna dengan jari gemetar ke arah Aira. "Anak sekecil ini... dan kamu dengan gampangnya bilang mau membuang ibunya demi wanita yang sudah kamu khianati lima tahun lalu?! Kamu bukan cuma mantan tunangan yang busuk, tapi kamu juga ayah yang gagal!"
Julian meringis memegang pipinya yang memerah. Rasa bersalah dan rasa malu menghantam dadanya, namun obsesi masa lalunya membuat otaknya tumpul. "Tapi aku cuma cinta sama kamu, Luna! Aku tersiksa selama lima tahun ini!"
"Itu hukuman atas kelakuan bejatmu sendiri!" teriak Luna murka, maju satu langkah membusungkan dadanya menantang Julian. "Jangan pernah berani usik hidup saya lagi! Kalau kamu berani mendekat satu senti saja, saya tidak akan segan-segan bikin hidupmu hancur!"
"Luna, tolong dengerin aku dulu–"
"Pergi dari depan muka saya sekarang!" dorong Luna pada dada Julian dengan sekuat tenaga hingga pria itu terhuyung mundur.
Luna berbalik cepat, melangkah lebar menyusuri jalanan pasar malam tanpa mempedulikan panggilan Julian yang terus meneriakkan namanya di balik tangisan Aira.
Napas Luna tersengal-sengal saat ia melompati pagar pembatas parkiran dan menghampiri Ninja kesayangannya. Tangannya gemetar hebat saat memasukkan kunci kontak. Kemarahan, rasa jijik, dan kekecewaan meluap seketika.
Ego Julian yang manipulatif, Xabiru yang posesif di balik seragamnya, dan Orion yang liar di dalam bangsal VIP... Luna mendadak merasa seolah seluruh pria dalam hidupnya adalah monster yang siap mencabik-cabiknya.
☆☆☆
Keesokan harinya, suasana di Rumah Sakit Umum Silver Oak terasa sangat sibuk. Hari ini adalah jadwal praktik Luna sebagai dokter umum di poli rawat jalan. Setelah rentetan kejadian gila seperti diintimidasi Xabiru yang posesif di dalam mobil hingga drama tamparan dengan Julian si mantan tunangan di pasar malam, Luna benar-benar berada di titik jenuh. Kepalanya serasa mau pecah.
Ia butuh waktu untuk bernapas. Saat jam istirahat siang, Luna menolak ajakan makan siang dari rekan-rekan dokternya. Ia memilih menyelinap ke taman rooftop lantai 5 RS Umum Silver Oak, area khusus staf yang biasanya sepi dan jauh dari keramaian lobi.
Luna menyandarkan tubuhnya di pagar pembatas kaca rooftop. Angin siang berembus agak kencang, menampar pelan wajah cantiknya yang tampak lesu. Pikirannya melayang, merasa sangat lelah karena seolah dikepung oleh pria-pria yang ingin mengendalikan hidupnya.
Luna memejamkan mata erat-erat, membiarkan jubah putih dokternya berkibar tertiup angin, menikmati keheningan sejenak.
"Wajahmu kelihatan mengenaskan sekali hari ini, Nanae."
Deg.
Mata Luna seketika membelalak sempurna. Jantungnya serasa melompat keluar dari dada. Suara berat, rendah, dan sangat familier itu berbisik sangat dekat dari arah belakangnya.Luna memutar tubuhnya secepat kilat. Disana, berdiri Orion yang tengah menyandarkan tubuh tingginya pada pintu kaca akses rooftop.
Pria itu tidak memakai kaus hitam RSJ seperti biasa. Ia mengenakan celana kain hitam dan kemeja putih kasual bergaris tipis yang kancing atasnya terbuka, membuat tampilan aristokratnya makin terpancar. Orion kabur sejenak dari pengawasan ketat RSJ Silver Oak hanya dengan satu alasan konyol: ia rindu dan ingin menemui pujaan hatinya.
"O-Orion?!" Luna membelalak tak percaya, melangkah mundur hingga punggungnya menempel rapat pada pagar kaca rooftop. "K-kamu... kenapa bisa di sini?! Ini RS Umum! Bagaimana bisa kamu lepas dari bangsal VIP RSJ?!"
Orion menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi. Ia melangkah maju dengan santai, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Ngga ada dinding yang cukup tinggi untuk menahanku kalau aku sedang ingin melihatmu, Nanae," ujar Orion santai, suaranya terdengar begitu tenang tanpa rasa dosa sedikitpun.
"Kamu gila, ya?!" cetus Luna panik, matanya bergerak liar menatap pintu kaca, takut ada staf RS Umum yang melihat mereka. "Kalau petugas keamanan RSJ tau kamu kabur ke bangunan sebelah, bisa gempar seluruh rumah sakit! Kembali ke ruang perawatanmu sekarang!"
Orion mengabaikan perintah itu sepenuhnya. Ia terus melangkah mendekat hingga memangkas jarak di antara mereka, mengurung tubuh kecil Luna di antara pagar kaca dan postur tubuh tingginya.
Binar jahil di mata Orion perlahan menguap, digantikan oleh pendar dingin yang berbahaya saat ia menangkap lingkaran hitam di bawah mata Luna dan raut kelelahan yang luar biasa di wajah wanita itu.
"Ada yang mengganggu tidurmu semalam?" tanya Orion, suaranya mendadak merendah tajam.
Tangan Orion terangkat, ibu jarinya mengelus lembut pipi Luna yang agak pucat. Luna sempat menyentak kepalanya ingin menghindar, tapi Orion memegang dagu wanita itu dengan lembut namun tak terbantahkan.
"Seseorang membuat bintangku redup hari ini," bisik Orion, matanya menyipit kelam, menatap intens bibir Luna yang polos tanpa polesan warna ceri seperti kemarin. "Katakan padaku, Nanae... siapa yang membuatmu sekacau ini? Kakak polisimu itu? Atau..."
Orion merundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke telinga Luna hingga napas hangatnya menyapu leher wanita itu yang masih tertutup plester medis. "...pria lain yang tidak kuketahui?"
"Bukan siapa-siapa, Orion! Tolong... hentikan," bisik Luna setengah memohon, matanya menatap pasrah ke dalam iris abu-abu pria di hadapannya. Tangannya mengepal di balik saku jubah putih dokternya, menahan tremor yang makin menjadi-jadi.
"Jangan bohong padaku, Rellunae," pangkas Orion dingin. Cengkeraman jemarinya di dagu Luna bergerak naik perlahan, mengelus rahang wanita itu dengan ibu jarinya, sementara matanya yang tajam menatap lurus menembus manik mata Luna. "Aku tau betul bagaimana raut wajahmu saat kamu cuma kelelahan... dan saat kamu sedang ketakutan."
Orion mencondongkan tubuhnya lebih maju, mengunci Luna hingga tak ada celah sedikit pun untuk melarikan diri. "Pria mana yang menemuimu semalam, hm? Kakak polisimu itu memukulmu? Atau ada pria brengsek lain yang berani menyentuh milikku?"
"Ini bukan urusanmu!" bentak Luna pelan namun penuh penekanan. Ia berusaha mendorong dada bidang Orion, namun tubuh tegap pria itu seperti dinding kokoh yang tak bergeming sedikit pun. "Kamu cuma pasienku di RSJ, Orion! Kamu tidak berhak mencampuri kehidupan pribadiku di luar rumah sakit!"
Mendengar kata 'pasien' keluar lagi dari bibir Luna, senyum miring Orion seketika pudar. Pendar gila di mata abu-abunya menyala redup, menyiratkan pemicu berbahaya yang baru saja ditekan. "Pasien?" ulang Orion rendah, suaranya berubah menjadi geraman yang teramat dalam dan dingin.
Orion memotong jarak hingga dahinya menyentuh dahi Luna. Tangan kirinya merayap cepat ke belakang pinggang Luna, menarik tubuh wanita itu dengan hempasan kuat hingga pinggul mereka menempel rapat. Luna tersentak kaku, napasnya tercekat di tenggorokan.
"Kamu masih berani menyebutku 'pasien' setelah apa yang terjadi diantara kita, Nanae?" bisik Orion tepat di depan bibir Luna. Napas hangatnya yang memburu beradu dengan napas panik Luna.
"Lepasin, Orion..." cicit Luna ketakutan.
"Katakan padaku siapa pria itu," ancam Orion tak terbantahkan, matanya berkilat penuh dominasi yang pekat. "Katakan namanya sekarang, atau akan kupastikan aku akan membuat keributan disini detik ini juga."
Luna membelalak sempurna. "Kamu... kamu jangan gila!"
"Kamu tau betul aku gila, Nanae," kekeh Orion tanpa humor. "Aku bisa berjalan turun ke lobi bawah sekarang, berteriak pada semua orang bahwa Rellunae Keller sudah tidur dengan pasiennya. Atau aku bisa menyuruh orang-orangku mencari tau sendiri siapa pria yang menemuimu semalam dalam waktu sepuluh menit."
Orion merunduk sedikit, jemarinya mengusap lembut sudut rahang Luna hingga bergeser mendekati lehernya yang tertutup plester.
"Dan kalau orang-orangku yang menemukannya duluan..." bisik Orion sangat pelan namun sarat akan ancaman membunuh yang nyata, "...aku tidak bisa menjamin pria itu bisa berjalan dengan dua kaki besok pagi."