Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.
Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.
Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.
Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.
Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.
Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Azra Tumbang (Part 3)
Mobil Pak Kades sudah terparkir di lobi hotel, saat mereka bertiga keluar dari pintu hotel. Yanto bersegera membukakan pintu untuk Bu Kades dan Azra.
Saat Azra masuk mobil, dia mendapati Linda dan Sekar sudah duduk manis di jok belakang. Azra menoleh sejenak ke arah Bu Kades, dijawab dengan anggukan dan senyuman lembut dari wanita paruh baya itu.
"Duduk saja disitu, Zra. Aku lagi pengin nggosip sama Linda." Sekar berusaha mencairkan suasana.
Sekar sebenarnya sudah mendapatkan sedikit gambaran tentang situasi Azra dari Wita.
'Azra sedang tidak baik-baik saja. Tolong jagakan dia untukku.' Ucapan Wita saat menelepon kembali terngiang di telinga Sekar. Ketika ingin menanyakan detail keadaannya, sambungan telepon sudah dimatikan.
Azra menyandarkan tubuh dan kepalanya pada jok mobil, tangannya memijit pelipisnya kuat-kuat, mencoba menghilangkan pusing. Bu Kades masuk, duduk di samping dan menyodorkan air mineral kepadanya.
"Minum dulu, Nduk," tawarnya.
Azra membuka mata, tersenyum dan mengambil botol mineral dari tangan Bu Kades lantas meneguknya pelan. Namun, ketenangan itu mendadak terusik.
"Tunggu dulu, Mas. Beri aku kesempatan menjelaskan!"
Terdengar suara setengah berteriak di luar mobil. Semua mata memandang keluar, melihat darimana sumber suara itu berasal. Azra menoleh sepintas, lalu memalingkan muka menatap ke arah lain. Menyadari hal itu, Bu Kades segera menutup pintu mobil.
Pak Kades menatap orang yang berdiri di hadapannya dengan tatapan rumit.
"Mas, sungguh, aku tidak bermaksud seperti itu. Tolong dengarkan dulu penjelasanku. Aku ..." perkataan Hendra terhenti saat dilihatnya orang yang dia panggil 'Mas' mengangkat tangan menyuruhnya berhenti bicara.
Tatapan Raden Sastro menghujam ke dalam manik mata Hendra Baskoro.
"Jika tidak bisa membuatnya bahagia, jangan pernah mematahkan hatinya!" Suara Raden Sastro memberat dan tegas.
Kakinya melangkah memasuki mobil, tanpa menoleh lagi ke arah Hendra. Dibantingnya pintu mobil dengan kuat.
"Yanto, jalan!" Perintahnya singkat. Mobil bergerak meninggalkan Hotel Permana yang menyisakan kisah sedih di hati Azra.
Kalimat yang diucapkan Pak Kades terngiang di telinga Azra. Air matanya kembali menetes. Bibirnya mengatup rapat berusaha menyembunyikan isak tangisnya.
Namun usaha itu justru memunculkan suara isak yang tertahan. Bu Kades tak bisa menguasai diri, direngkuhnya kepala Azra, dan didekap erat di dadanya.
Tangis Azra pecah, tanpa suara. Tapi derasnya air mata yang bercucuran membasahi pakaian Bu Kades, membuka lebar sebuah fakta betapa sangat terluka hatinya. Tangan Bu Kades gemetar menepuk punggung Azra. Hatinya sendiri terluka melihat kesakitan Azra.
Semua yang di dalam mobil terdiam dalam hening. Larut dalam kesedihan yang dirasakan Azra malam itu. Sekar menyalakan ponsel dan mengirim pesan kepada seseorang.
Tak lama berselang, suara Bu Kades terdengar khawatir, saat ia tidak mendengar suara sesenggukan Azra.
"Azra ... Nduk?," tidak ada jawaban. "Azra ..." Tubuh Azra terkulai ke samping saat Bu Kades mencoba mengangkat kepala Azra dari dadanya.
"Linda, piye iki?" Bu Kades panik mendapati Azra pingsan. Pak Kades langsung menghadap ke belakang untuk memastikan situasi.
"Sebentar, Bu," Linda berdiri dari joknya, mencoba memegang dahi Azra dari tempat dia duduk. Panas.
"Demamnya tinggi sekali. Mas Yanto, ini tidak sempat kalau kita kembali ke desa. Harus segera dibawa ke rumah sakit terdekat," ujar Linda.
"Langsung ke rumah sakit saja!" perintah Pak Kades sigap.
Yanto mengemudi dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Sekar memandu arah jalan dari belakang. Karena Sekar pernah berkunjung ke kota ini. Lampu hazard dinyalakan, kendaraan di depannya menepi memberi jalan.
Bu Kades berusaha meletakkan tubuh Azra di atas pangkuannya, dibantu Linda dan Sekar dari jok belakang. Didekapnya kepala Azra erat, diciumnya wajah gadis yang pingsan itu berkali-kali. Air matanya mulai menetes membasahi pipi tirusnya.
Setibanya di rumah sakit, tubuh Azra segera dilarikan ke IGD. Dokter jaga segera melakukan tindakan. Mulai dari pemeriksaan organ vital, tensi darah, denyut nadi, dan serangkaian pemeriksaan lainnya.
Sementara itu, rombongan Raden Sastro menunggu dengan tegang di luar IGD.
"Wis toh Padma. Jangan mondar mandir lagi. Yang lihat jadi ikut pusing," tegur Raden Sastro pada istrinya.
"Gimana kondisi Azra di dalam ya, Kangmas. Dokternya kok nggak keluar-keluar." Bu Kades yang bernama Padma itu memegang erat lengan suaminya.
Pak Kades meraih tangan istrinya, digenggamnya lembut, mencoba menyalurkan ketenangan. "Sabar, ditunggu sambil berdoa." Berhasil, bu Padma sedikit lebih tenang.
"Keluarga pasien Azra?" panggil perawat yang keluar dari IGD.
Pak Kades menoleh, lalu berjalan menghampiri perawat. Berbicang sebentar kemudian mengikuti perawat menuju ruang dokter.
"Silakan duduk, Pak. Ada hal yang perlu kami sampaikan kepada Bapak.
Jadi begini, untuk sementara tidak ada kondisi yang mengancam nyawa. Namun pasien mengalami kelelahan fisik dan emosional yang berat."
Perkataan Dokter terhenti sejenak, menunggu reaksi Pak Kades.
"Saran saya, sebaiknya istirahat dulu di sini semalam, sambil kita lakukan observasi," lanjutnya.
"Diatur saja, Dok. Lakukan yang terbaik untuknya." Ucap Pak Kades menanggapi saran dari dokter yang merawat Azra
Setelah Raden Sastro dan Sekar menyelesaikan administrasi, mereka masuk ke kamar VIP, tempat Azra dirawat malam itu.
Pak Kades sudah menyuruh Linda dan Yanto pulang, tapi mereka berdua bersikukuh untuk tinggal. Besok hari Minggu, pelayanan di Pustu tidak buka, itu alasan mereka.
Jadilah ketiga wanita itu menemani Azra di dalam kamar. Sementara Pak Kades dan Yanto keluar ruangan, mencari tempat istirahat yang lain.
Bu Padma dan Sekar berbaring di sofa bed yang tersedia di ruang VIP. Berusaha melepas kepenatan, tapi mata mereka tak kunjung terpejam.
Sementara Linda duduk terpekur disisi ranjang Azra. Tangannya menggenggam jemari Azra erat. Dia merasa bersalah, karena kecerobohannya, dan demi membela dirinya, membuat Azra dimarahi banyak orang.
Berkali-kali dia mengusap air mata yang menetes di pipinya. Lelahnya tubuh dan mata, lama kelamaan rasa kantuk menyerang, Linda tertidur di sisi ranjang Azra.