"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."
....
Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.
Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.
Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.
...
apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Kabut di Gangnam
..........
...Cerita ini hanya Fiksi Belaka....
...Tidak untuk ditiru....
...Terimakasih....
...Happy Reading....
..........
Malam di Gangnam tidak pernah benar-benar sepi. Di balik gemerlap lampu neon yang memantul pada aspal basah sisa hujan sore tadi, ada denyut nadi lain yang bergerak dalam senyap. Suara musik berdentum samar dari kelab-kelab malam kelas atas, menyamarkan langkah kaki orang-orang yang hidup di bawah bayang-bayang distrik paling glamor di Seoul ini. Di kota sebesar ini, batasan antara hukum yang suci dan kriminalitas yang kotor sering kali sekabur kabut musim dingin yang mulai turun menyelimuti jalanan.
Herry mengetatkan kerah mantel hitamnya. Angin malam akhir tahun menusuk hingga ke pori-pori, namun fokusnya sama sekali tidak tergoyahkan. Sepasang matanya yang tajam, dingin, dan sewarna jelaga menatap lurus ke arah pintu keluar belakang sebuah kasino ilegal yang berkedok restoran mewah di ujung jalan. Sudah tiga bulan penuh dia memimpin unit elit reserse kriminal ini, mengorbankan waktu tidur, mengabaikan kesehatan, dan mengunci rapat ketenangan hidupnya hanya untuk satu target tunggal: meruntuhkan klan mafia terbesar yang kini dikendalikan oleh seorang wanita.
Bagi Herry, dunia ini hitam dan putih. Hukum adalah mutlak, dan kriminal adalah sampah yang harus dibersihkan. Sifatnya yang dingin, kaku, dan tanpa kompromi membuatnya disegani sekaligus ditakuti, baik oleh anak buahnya maupun oleh para bajingan di jalanan Seoul.
"Target terpantau bergerak, Kapten," suara desis dari earpiece memecah keheningan malam yang mencekam. "Dia keluar melalui jalur evakuasi barat. Sendirian. Kami menahan sisa pengawalnya di pintu utama."
Herry tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menyentuh tombol di telinganya sekali sebagai tanda mengerti. Tubuhnya bergerak efisien, menyusuri gang sempit yang remang-remang di samping restoran. Langkah kakinya seringan kucing, nyaris tak bersuara di atas permukaan jalan yang basah oleh sisa gerimis.
Di kepalanya, bayangan tentang target sudah tertanam kuat seperti sebuah obsesi. Marysa. Nama itu seperti kutukan di kalangan kepolisian metropolitan Seoul seorang wanita muda yang mengambil alih takhta berdarah klan mafia terbesar setelah kematian mendadak ayahnya setahun yang lalu. Dia memimpin dengan tangan besi yang tak kenal ampun, dingin, cerdas, dan selalu berada tiga langkah di depan hukum.
Di ujung gang yang gelap, sosok itu akhirnya muncul.
Marysa berjalan dengan langkah anggun namun penuh penekanan. Jaket kulit hitam membungkus tubuhnya yang ramping, memberikan kesan berbahaya yang langsung mengintimidasi siapa saja yang berani menatapnya. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai, bergerak acak ditiup angin malam yang dingin. Dia tidak terlihat seperti seorang buronan yang sedang dikepung oleh puluhan polisi bersenjata, dia berjalan seolah-olah seluruh distrik Gangnam ini adalah halaman belakang rumahnya sendiri.
Ketika Marysa berbelok ke area parkir bawah tanah yang sepi dan remang-remang, Herry mempercepat langkahnya. Jantungnya berdegup dalam ritme yang konstan, penuh kalkulasi. Senjata apinya sudah lolos dari sarung di balik mantel, digenggam dengan kemantapan seorang penembak jitu profesional yang tidak pernah meleset.
"Angkat tanganmu. Jangan bergerak satu senti pun," suara Herry terdengar berat, dingin, dan membawa otoritas yang mutlak. Suara seorang pria yang siap menembak jika perintahnya diabaikan.
Marysa menghentikan langkahnya seketika. Punggungnya menghadap Herry selama beberapa detik yang terasa sangat panjang dan menegangkan. Sunyi merayap di antara mereka, hanya diinterupsi oleh suara tetesan air dari pipa langit-langit parkiran yang jatuh ke lantai beton.
Alih-alih panik, berteriak, atau mencoba meraih senjata di balik jaket kulitnya, wanita itu perlahan membalikkan tubuh. Di bawah temaram lampu merkuri yang berkedip-kedip redup, wajahnya yang cantik dengan garis rahang yang tegas terlihat begitu tenang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang ditodong moncong pistol kaliber sembilan milimeter.
Sebuah senyuman tipis, hampir tak kentara namun terasa sangat berbahaya sekaligus getir, terukir di sudut bibirnya. Marysa mengangkat kedua tangannya perlahan, setinggi bahu. Tatapan matanya yang kelam, dalam, dan menyimpan ribuan rahasia bertemu langsung dengan manik mata Herry yang sedingin es. Tidak ada ketakutan di sana. Sama sekali tidak ada. Yang ada hanyalah kilat kepuasan yang aneh, bercampur dengan kerinduan yang teramat sangat yang coba dia tekan habis-habisan.
"Kamu menang," ucap Marysa. Suaranya rendah, lembut, namun memiliki daya pikat yang mematikan, seperti beludru yang menyembunyikan belati. Dia melangkah maju satu tapak, mengabaikan fakta bahwa moncong pistol Herry kini hanya berjarak kurang dari tiga meter dari dadanya. "Tapi kamu tahu, Herry... aku hanya kalah padamu."
Deg.
Jantung Herry seperti dihantam godam tak kasat mata. Ada gelombang aneh yang mendadak menghantam dadanya begitu nama depannya diucapkan oleh bibir wanita itu. Genggamannya pada gagang pistol bergetar sedikit sebuah anomali besar, sebuah cacat fatal bagi seorang detektif terbaik di divisinya yang terkenal memiliki tangan sekeras batu. Getaran itu sangat tipis, hampir mustahil dilihat orang awam, tapi dari kilat mata Marysa, Herry tahu wanita itu menyadarinya.
Kata-kata wanita itu bukan sekadar provokasi murahan seorang kriminal yang terdesak. Ada nada familiar yang terselip di dalamnya, sebuah frekuensi tersembunyi yang entah bagaimana terasa mengetuk-ngetuk sesuatu yang kosong di dalam kepala Herry. Namun, kosong tetaplah kosong. Herry tidak menemukan apa pun di dalam ingatannya.
"Diam," desis Herry, suaranya naik satu oktav, mencoba mengendalikan emosinya yang tiba-tiba bergejolak tanpa alasan yang jelas. "Jangan menyebut namaku seolah-olah kita saling kenal. Sebutkan identitasmu, atau aku akan melepaskan tembakan di kaki namamu."
Marysa terkekeh pelan. Suara kekehan itu terdengar begitu sinis, namun entah mengapa, ada nada menyakitkan yang tertangkap oleh indra pendengaran Herry. Wanita itu menatap Herry, memindai setiap senti wajah tegas sang detektif. Marysa mencari kilasan pengenalan di mata itu, mencari kehangatan yang dulu pernah ada di sana. Namun nihil. Yang dia temukan hanyalah dinding es yang tebal, tatapan asing yang benar-benar kosong, dan kebencian murni terhadap seorang penjahat.
Dia benar-benar lupa, batin Marysa, dan demi Tuhan, rasa sakitnya jauh lebih menyiksa daripada peluru mana pun yang pernah menembus kulitnya. Dia melihatku, tapi dia tidak melihatku.
"Kita memang kenal, Kapten Herry," kata Marysa, suaranya kini bergetar kecil, menahan badai emosi yang bergemuruh di dadanya. "Atau haruskah aku mengingatkanmu tentang malam di mana seseorang menyelamatkan nyawamu saat kamu hampir mati kehabisan darah di Pelabuhan Incheon? Lima tahun yang lalu. Malam di mana hujan turun sama derasnya dengan darah yang keluar dari perutmu. Saat kamu bahkan belum memakai lencana sialan itu di dadamu."
Mata Herry menyipit tajam. Rahangnya mengeras. Kilasan ingatan masa lalu mendadak berputar hebat di kepalanya, memicu rasa sakit berdenyut yang tiba-tiba menyerang pelipisnya.
Lima tahun lalu. Itu adalah tahun di mana terjadi sebuah lubang hitam besar dalam hidup Herry. Dia ingat dirinya terbangun di rumah sakit dengan luka tembak parah di perutnya yang menyisakan keloid panjang hingga hari ini. Dokter mengatakan dia beruntung karena seseorang melakukan pertolongan pertama yang sempurna dan membawanya ke rumah sakit tepat waktu sebelum dia mati membeku karena hipotermia dan syok hemoragik di dermaga tua. Namun, bagian terbaiknya? Herry tidak pernah bisa mengingat bagaimana dia bisa tertembak, apa yang dia lakukan di Pelabuhan Incheon malam itu, dan siapa yang menyelamatkannya. Cedera kepala akibat benturan keras malam itu membuat memorinya selama beberapa bulan di tahun itu terhapus permanen. Amnesia pascatrauma, begitu kata dokter itu dulu.
Herry selalu mencari tahu. Selama bertahun-tahun, di sela-sela tugasnya, dia menyelidiki berkas kasusnya sendiri, mencari sosok penolong misterius itu. Namun semua petunjuk selalu berakhir di jalan buntu, seolah-olah ada tangan besar yang sengaja menghapus semua jejak malam itu dari muka bumi.
Dan sekarang, mendengar kenyataan bahwa orang yang selama ini dia cari, orang yang memegang potongan masa lalunya, adalah wanita mafia yang paling dicari di seluruh Korea Selatan... seluruh dunia Herry rasanya seperti dijungkirbalikkan dalam satu detik.
"Bagaimana kamu bisa tahu tentang kejadian itu?" tanya Herry, suaranya bergetar menahan amarah, kebingungan, dan rasa frustrasi yang bercampur aduk menjadi satu. Moncong pistolnya tetap lurus mengarah ke dada Marysa, meski tangannya kini terasa luar biasa berat. "Siapa kamu sebenarnya? Jangan mencoba memanipulasi pikiranku dengan informasi selundupan dari informanmu!"
Marysa melangkah satu kali lagi. Kali ini, jarak mereka sangat dekat. Begitu dekat hingga ujung laras pistol Herry yang dingin kini benar-benar menyentuh permukaan jaket kulit hitam milik Marysa, tepat di atas jantung wanita itu yang berdetak dengan ritme yang tenang namun kuat.
Aroma parfum Marysa perpaduan antara aroma mawar hitam yang elegan, wangi tembakau tipis, dan bau mesiu samar menguar di udara, menyerang indra penciuman Herry. Aroma yang anehnya membuat dada Herry terasa sesak, seolah jiwanya mengenali bau ini, meski otaknya menolak keras.
"Aku tidak butuh informan untuk mengetahui bagaimana caramu merintih menahan sakit malam itu, Herry," bisik Marysa, menatap lurus ke dalam manik mata pria itu. Jarak yang sedekat ini membuat Marysa bisa melihat dengan jelas setiap detail wajah pria yang selama lima tahun ini selalu menghantui mimpi-mimpinya. Pria yang dia selamatkan dengan mengorbankan posisinya sendiri di dalam klan, pria yang dia rawat di tengah kegelapan malam sebelum menyerahkannya ke tangan dokter.
Marysa tahu risiko malam itu. Dia tahu bahwa menyelamatkan seorang polisi magang seperti Herry lima tahun lalu adalah bentuk pengkhianatan terbesar terhadap klannya sendiri. Ayahnya hampir membunuhnya karena hal itu. Dan demi melindungi Herry dari kejaran klannya, Marysa sendiri yang menggunakan koneksi bawah tanah untuk menghapus seluruh catatan medis, rekaman CCTV, dan ingatan orang-orang tentang kejadian di pelabuhan. Marysa mengira Herry menghilang dan menjauh demi keselamatan mereka berdua. Dia tidak pernah menyangka, bahwa hilangnya Herry dari hidupnya adalah karena pria itu benar-benar melupakan eksistensinya. Lupa secara total.
"Itu tidak mengubah apa pun," kata Herry akhirnya, memutus kontak mata yang terlalu intens itu. Suaranya kembali memadat, mengeras seperti es yang membeku di musim dingin. Kebencian dan komitmennya pada hukum kembali mengambil alih kesadarannya yang sempat goyah. "Kamu adalah kriminal. Di tanganmu ada darah puluhan orang dari perang perebutan wilayah klanmu. Tugas saya adalah menjaga keamanan kota ini, dan itu berarti menyeretmu ke pengadilan. Utang nyawa atau apa pun yang kamu katakan... akan kita selesaikan di balik jeruji besi."
Marysa tidak terlihat kecewa atau terkejut dengan jawaban dingin itu. Dia justru tersenyum lebih lebar, sebuah senyuman yang penuh dengan kesedihan yang teramat dalam, yang disembunyikan rapat-rapat di balik topeng kekuasaan seorang pemimpin mafia.
"Kalau begitu, lakukan," tantang Marysa, tidak mundur selangkah pun dari ujung pistol Herry. "Tembak aku di sini jika itu membuat lencanamu terlihat lebih bersinar, atau pasang borgol itu sekarang di tanganku. Aku tidak akan melawan. Aku sudah katakan padamu... malam ini, aku hanya memilih untuk kalah padamu."
Herry menatap dalam ke dalam sepasang mata kelam itu. Di balik ketangguhan, kesan berbahaya, dan reputasi kejam yang melekat pada nama Marysa, untuk pertama kalinya, Herry menangkap sesuatu yang lain. Dia menangkap secercah luka yang mendalam, sebuah kerapuhan yang begitu nyata yang sengaja ditutupi oleh pakaian mahal dan senjata api.
Tangan Herry masih bergetar tipis di dalam mantelnya. Di bawah langit malam Seoul yang dingin dan berkabut, dikelilingi oleh beton-beton mati area parkir bawah tanah, Herry tahu bahwa malam ini dia tidak sekadar menangkap seorang penjahat. Dia baru saja melangkah masuk ke dalam sebuah labirin panjang yang rumit, gelap, dan berbahaya. Labirin yang mungkin akan menghancurkan prinsip hidupnya, atau justru menuntut tebusan berupa hatinya sendiri.
Herry meraih borgol besi yang tergantung di pinggangnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya tetap mengunci pergerakan Marysa. Logam dingin borgol itu berdenting, siap mengikat kedua pergelangan tangan wanita yang menatapnya dengan tatapan yang seolah siap mati di tangannya.
...