Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.
Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.
Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.
Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Teman lama dan tetangga baru
“Nadine.”
Terdengar suara laki-laki dari belakang tubuh Nadine dan Andin yang sedang berjalan bersama ke pasar malam yang tidak jauh dari rumah mereka. Mereka secara bersamaan membalikkan tubuh mereka untuk menatap seseorang yang baru saja memanggil Nadine dengan suara akrab.
Nadine memicingkan matanya. “Geraldine?”
“Benar sekali. Aku Gerald.” Gerald melambaikan tangannya. “Bagaimana kabarmu, Nad? Oh, kamu sedang hamil. Selamat, ya.”
Nadine tertawa kecil. “Aku baik. Aku sedang hamil 3 bulan, nih. Bagaimana kabarmu, Gerald?”
“Aku juga baik, Nad.” Gerald menatap dan menganggukkan kepalanya dengan singkat ke Andin yang berdiri di samping Nadine. “Omong-omong sedang apa kalian di sini?”
Nadine menatap Andin sebentar. Dia sedikit terkejut melihat binar mata Andin yang terlihat seperti terpesona akan seseorang. “Aku sedang ingin pergi ke pasar malam di lapangan sana. Ohya, kenalkan ini Andin, sepupuku dan Andin, kenalkan ini Gerald, teman SMA-ku dulu.”
Andin mengangkat tangannya untuk bersalaman dengan Gerald. Gerald menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis sambil menerima salaman tangan dari Andin.
“Gerald.”
“Andin.”
Andin menatap Gerald dengan tatapan berbeda, begitu juga dengan tatapan yang Gerald balaskan ke Andin. Mereka melepaskan jabatan tangan mereka, tapi tatapan mereka masih sama.
Nadine pura-pura tidak mengetahui tentang ketertarikan antara sang teman dan sepupunya. “Sedang apa kamu di sini, Rald?”
Gerald tersadar. Dia berkedip pelan. “Aku sedang berlibur ke rumah nenekku. Rumahnya tidak jauh dari sini.”
Nadine menganggukkan kepalanya. Dia menyenggol tangan Andin yang berdiri di sebelahnya dengan diam. “Kamu masih ingin di sini atau masuk ke area lapangan, An?”
Andin menatap Nadine. “Aku ikut kamu.”
“Kalian ingin masuk ke sana? Bisa aku ikut bersama dengan kalian?” Gerald menggaruk rambutnya. “Aku masih sedikit asing di sini.”
Nadine menatap Andin, sedangkan Andin tertawa kecil. “Boleh.”
“Boleh banget malah.” Andin menyenggol tangan Nadine sambil memberi tawa ke arah Gerald.
“Terima kasih, Andin.”
“Ayo kita ke sana.” Nadine menggandeng tangan Andin.
Andin menolehkan kepalanya ke belakang untuk menatap Gerald yang melangkah di belakang tubuh mereka.
Gerald menganggukkan kepalanya. “Kalian jalan di depanku saja. Aku tidak apa-apa berjalan di belakang kalian. Kalian akan aman berjalan di depanku.”
Nadine tertawa kecil tanpa menolehkan kepalanya. “Aduh, kamu perhatian sekali, Gerald.”
Andin menatap Nadine dengan menahan senyum yang ingin merekah di bibirnya. “Teman kamu tampan sekali, Nad,” bisik Andin.
Nadine menganggukkan kepalanya. “Iya memang, tapi Adinata tetap yang tertampan bagiku, An.”
Andin mendengus. “Lupakan saja mantan suamimu itu, Nadine.”
“Aku rasa keponakanmu sedang rindu dengan ayahnya, An.”
“Kamu ingin bertemu dengannya, Nadine?”
“An.” Gerald memeluk tubuh Andin dari belakang untuk melindungi Andin yang akan melangkah ke lubang di depan langkah kaki Andin.
“Kamu tidak apa-apa, An?” tanya Nadine dengan khawatir.
Andin menggelengkan kepalanya ketika Gerald melepas pelukannya.
“Maaf, An. Aku tidak bermaksud.” Gerry menggelengkan kepalanya. “Maaf aku melakukannya. Kalau aku langsung membawa tubuhmu ke belakang, aku takut kamu lebih terkejut.”
“Ah iya, aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah menyelamatkanku, ya.”
Gerald menganggukkan kepalanya. “Hati-hati kalau sedang melangkah. Lubang di depanmu terlihat agak dalam.”
“Aku akan hati-hati,” ucap Andin. “Aku tidak apa-apa, Nad. Apa kamu terluka?”
Nadine menggelengkan kepalanya. “Aku tidak apa-apa, ‘kan kamu yang hampir terperosok. Kamu benar baik-baik saja?”
Andin menganggukkan kepalanya dengan antusias. “Aku baik-baik saja, Nadine. Kamu terkejut? Apa bayimu baik-baik saja?”
“Sedikit terkejut.”
“Oh, kamu hamil, Nad?” tanya Gerald dengan nada terkejut.
Nadine menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis. “Iya. Sudah hampir 4 bulan.”
“Dimana suamimu?”
Andin menatap Nadine.
Nadine tertawa kecil sambil mengusap perutnya yang tertutup dengan cardigan rajut yang dia pakai. “Aku sudah bercerai, Rald. Belum lama ini dan masih proses.”
Gerald menganggukkan kepalanya. Hatinya merasa bahagia yang membuat pikirannya memunculkan skenario palsu. Apakah sekarang ini kesempatannya setelah dia hanya menahan perasaannya kepada Nadine.
“Aku ikut bersedih mendengarnya.”
“Tidak apa-apa, Rald.” Nadine kembali menggandeng tangan Andin untuk masuk ke dalam area lapangan, sedangkan Gerald tetap berjalan di belakang tubuh mereka.
“Kamu sedang berlibur di sini atau akan menetap di sini, Rald?” tanya Nadine ketika Gerald berdiri bersebelahan dengan dirinya.
“Hanya berlibur, tapi mungkin aku akan lebih lama tinggal di sini.”
Nadine menganggukkan kepalanya.
“Wajahmu terlihat asing. Kamu sebelumnya tidak tinggal di sini ‘kan?” tanya Andin.
Gerald menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil. “Memang tidak. Aku tinggal di kota yang sama dengan Nadine.”
Andin menganggukkan kepalanya. “Oh. Pantas saja aku merasa asing.”
“Bagaimana kamu tahu kalau aku bukan berasal dari kota ini, An?”
Nadine tertawa kecil. Dia menatap Andin sebentar. “Dia punya banyak teman di sini. Aku pikir, tidak ada pemuda yang tidak mengenal Andin.”
Gerald mengerti. “Aku ingin berkeliling di sekitar kota ini. Apa aku bisa mengajakmu dan Nadine untuk menemaniku?”
Andin menganggukkan kepalanya dengan antusias. “Kalau aku akan selalu bisa, tapi Nadine, bagaimana denganmu?”
“Aku akan mengikutimu saja, An. Aku juga butuh udara segar untuk hiburan.”
“Baiklah. Aku akan mengikuti waktu kalian, ya,” ucap Gerald.
“Lebih baik kita pergi di hari libur saja. Akan semakin terasa kalau semakin ramai tempatnya. Bagaimana?” Andin menatap Nadine dan Gerald.
“Kita bisa mencobanya,” ucap Nadine.