NovelToon NovelToon
Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Fantasi
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Cermin di Puncak Bukit Berbisik

Setelah meninggalkan Hutan Cemara Wangi yang telah pulih kembali, perjalanan Cepot dan Dawala membawa mereka menuju rangkaian bukit yang menjulang tinggi. Semakin mendaki, udara terasa semakin sejuk dan bersih, namun di sepanjang jalan mereka sering mendengar suara samar seperti bisikan yang terbawa angin—kadang terdengar seperti suara orang berbicara, kadang seperti suara air yang mengalir, namun tidak pernah jelas dari mana asalnya.

“Kang, apakah kau juga mendengarnya? Suara-suara ini seolah mengikuti kita, tapi setiap kali kita berhenti untuk mencari sumbernya, ia justru menghilang,” kata Dawala sambil mengangkat kepala, mengamati puncak bukit yang masih tertutup awan tipis.

“Ya, aku mendengarnya juga,” jawab Cepot sambil terus melangkah hati-hati. “Tempat ini dikenal oleh pengembara lama sebagai Bukit Berbisik. Konon, di puncaknya terdapat benda peninggalan leluhur yang menyimpan segala suara dan peristiwa yang pernah terjadi di daerah ini selama ratusan tahun. Tapi katanya, benda itu juga bisa membingungkan siapa saja yang tidak memiliki keteguhan hati.”

Setelah mendaki selama hampir setengah hari, mereka akhirnya tiba di dataran paling tinggi, tempat angin berhembus lebih kencang namun membawa hawa yang sangat menyejukkan. Di tengah dataran yang rata dan bersih dari semak belukar, berdiri tegak sebuah lempengan batu besar yang halus dan mengkilap bagaikan cermin raksasa, memantulkan langit dan awan di atasnya.

Begitu mereka mendekat, suara bisikan yang samar itu tiba-tiba menjadi jelas dan bertambah banyak—terdengar percakapan orang tua dan anak, suara orang yang tertawa, suara tangisan, hingga suara pertengkaran yang terjadi di masa lampau. Semua itu tercampur menjadi satu, seolah membanjiri telinga dan pikiran mereka.

“Ini pasti Cermin Kenangan yang diceritakan,” gumam Cepot sambil menutup telinga sebentar untuk menenangkan diri. “Ia tidak berbahaya, tapi bisa membuat orang tenggelam dalam masa lalu dan lupa dengan kenyataan saat ini.”

Belum sempat mereka mengamati lebih lanjut, permukaan cermin itu bergetar perlahan. Dari dalamnya muncul sosok bayangan yang perlahan menjadi jelas—seorang lelaki tua berpakaian sederhana, dengan tatapan yang tenang namun penuh kebijaksanaan. Ia adalah penjaga cermin itu, yang telah menjaganya sejak turun-temurun.

“Selamat datang, pengembara yang membawa cahaya keseimbangan,” sapanya dengan suara yang terdengar jelas di tengah hembusan angin. “Sudah lama tidak ada orang yang mampu mendaki ke sini tanpa terpesona oleh suara-suara yang terperangkap di dalamnya.”

“Kami datang hanya untuk mengetahui keadaan tempat ini, Kakek Penjaga,” jawab Cepot dengan sopan. “Apakah ada gangguan yang membuat cermin ini mengeluarkan suara yang semakin keras dan membingungkan, sehingga terasa mengganggu ketenangan di seluruh bukit?”

Lelaki tua itu mengangguk pelan, lalu menjelaskan dengan nada sedih. “Memang benar. Beberapa bulan yang lalu, datanglah seorang lelaki bernama Ki Resi yang mengaku ingin mempelajari ilmu leluhur. Ia meminta izin untuk mendekati cermin ini, namun diam-diam ia menggunakan mantra terlarang untuk mencoba mengambil kekuatan ingatan yang tersimpan di dalamnya. Ia ingin mengetahui segala rahasia masa lalu agar bisa menguasai ilmu-ilmu yang sudah lama hilang.”

“Akibatnya, ikatan yang menjaga kestabilan cermin ini menjadi longgar,” lanjutnya. “Suara-suara yang seharusnya tersimpan rapi kini meluap keluar, mengganggu ketenangan alam sekitar. Jika dibiarkan, cermin ini bisa pecah dan seluruh ingatan yang tersimpan akan hilang selamanya, membuat sejarah dan pelajaran masa lalu ikut lenyap dari bumi ini.”

Mendengar penjelasan itu, Dawala mengerutkan dahi. “Jadi, orang itu ingin mengambil ilmu dengan cara yang salah, justru merusak tempat yang seharusnya dijaga dengan hormat?”

“Benar sekali,” jawab penjaga itu. “Ia tidak mengerti bahwa cermin ini bukan tempat untuk mencuri kekuasaan, melainkan tempat untuk belajar dan mengambil pelajaran dari apa yang sudah terjadi. Ia hanya melihat manfaatnya, tanpa memahami tanggung jawabnya.”

Tiba-tiba, angin berhembus lebih kencang, dan dari balik semak di dekat cermin itu muncul sosok Ki Resi dengan wajah yang tampak lelah namun masih penuh keserakahan. Tangannya terlihat memegang sebuah benda kecil yang memancarkan cahaya merah samar, yang menjadi penyebab ketidakstabilan cermin itu.

“Siapa kalian yang berani mencampuri urusanku?” bentaknya dengan suara parau. “Aku sudah hampir menguasai seluruh rahasia yang ada di sini! Dengan ini, aku akan menjadi orang yang paling berkuasa di seluruh negeri!”

Cepot melangkah maju dengan tenang, tidak terganggu oleh sikap lelaki itu. “Kekuasaan yang didapat dengan cara merusak dan mengambil hak orang lain atau warisan alam tidak akan bertahan lama, Ki Resi. Segala ilmu dan ingatan ini disimpan agar bisa menjadi pelajaran, bukan untuk dikuasai demi keuntungan diri sendiri.”

Ki Resi tertawa mengejek, lalu segera mengarahkan cahaya merah dari benda yang dipegangnya ke arah cermin batu. “Kalian tidak tahu apa-apa! Lihat saja, aku akan membuka seluruh isi cermin ini dan mengambil segalanya!”

Namun, begitu cahaya merah itu menyentuh permukaan cermin, ia justru memantul kembali dan mengenai tubuh Ki Resi sendiri. Ia terhuyung mundur, merasakan sakit yang luar biasa, karena kekuatan yang ia gunakan justru menyerang dirinya sendiri. Ia berteriak kesakitan, menyadari bahwa ilmu yang ia gunakan tidak cocok dengan sifat cermin yang suci itu.

Saat itu juga, Cepot mengangkat Golek Pancasona. Cahaya putih keemasan memancar lembut, menyentuh permukaan cermin batu. Seketika itu, suara-suara yang meluap itu perlahan mereda dan kembali masuk dengan tertib ke dalam cermin, tidak lagi membingungkan siapa pun. Ikatan yang longgar itu kembali terpasang rapi, dan cermin itu kembali tenang, hanya memantulkan langit dan awan dengan indah.

“Kembalikanlah apa yang telah kau ambil, dan tinggalkanlah jalan yang salah ini,” kata Cepot kepada Ki Resi yang terjatuh lemas di tanah. “Ingatan dan ilmu masa lalu adalah warisan untuk semua makhluk, bukan milik satu orang saja. Jika kau ingin belajar, pelajarilah dengan hati yang rendah dan niat yang baik, bukan dengan paksaan.”

Ki Resi menunduk dalam rasa malu dan menyesal. Ia menyadari kesalahannya, lalu menyerahkan benda yang ia gunakan untuk merusak kestabilan cermin itu. “Maafkan aku… aku terlalu tergoda oleh keinginan untuk menjadi hebat, hingga lupa bahwa setiap kekuatan memiliki aturan dan batasnya.”

Setelah keadaan benar-benar pulih, penjaga cermin itu mengucapkan rasa terima kasih yang tulus. “Terima kasih, kalian telah menjaga warisan leluhur ini agar tidak hilang. Sebagai tanda penghargaan, cermin ini akan menunjukkan satu pelajaran yang mungkin berguna bagi perjalanan kalian selanjutnya.”

Permukaan cermin itu kemudian memantulkan pemandangan yang baru: sebuah lembah yang jauh, di mana terlihat sebuah pohon raksasa yang menjadi pusat kehidupan, namun tampak mulai layu karena ada kekuatan asing yang perlahan menyedot energinya.

“Ini adalah tempat yang akan kalian temui selanjutnya,” kata penjaga itu. “Pohon Kehidupan di Lembah Damai. Ia menjadi sumber kekuatan bagi seluruh wilayah di sekitarnya. Jika ia layu, maka seluruh tempat itu akan mengalami kesulitan. Semoga kebijaksanaan yang kalian miliki dapat membantunya tetap hidup.”

Cepot dan Dawala mengangguk paham, menerima pesan itu dengan hati terbuka. Setelah berpamitan dan memastikan cermin itu kembali aman, mereka pun melanjutkan perjalanan turun dari puncak bukit, membawa serta pelajaran baru: bahwa ilmu dan pengetahuan harus digunakan dengan rasa hormat dan tanggung jawab, bukan untuk memuaskan keserakahan semata.

1
Kardi Kardi
BISMILLAHHH. MELU WACA WAAAA
Kardi Kardi: BISMILLAHHHH
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!