NovelToon NovelToon
Korban Dua Cinta

Korban Dua Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Teen / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Sisi Ranjang

Malam itu, rumah besar itu terasa lebih sunyi dari biasanya.

Alya sudah selesai mandi dan berganti pakaian tidur—kaus oblong longgar berwarna putih dan celana pendek kain katun yang nyaman. Rambutnya yang masih sedikit basah ia biarkan tergerai bebas di bahu.

Biasanya ia segera memejamkan mata setelah lampu dimatikan, berusaha memaksakan tidur sebelum rasa takut datang menghampiri.

Tapi malam ini, ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk. Alya meraih ponsel dari meja samping tempat tidur, layar menyala menerangi wajahnya yang mulai mengantuk.

Reza: "Malam ini aku tidak pulang. Ada meeting dengan klien di luar kota. Jangan tunggu."

Alya membaca pesan itu dua kali. Matanya menatap kata-kata singkat itu dengan perasaan yang aneh. Tidak ada rasa kecewa.

Tidak ada rasa kesepian. Hanya ada kelegaan yang tiba-tiba muncul, diikuti dengan sesuatu yang lain—sesuatu yang lebih tajam.

Ia hampir membalas dengan kata "baik" atau "iya", Tapi jarinya berhenti di atas layar.

Meeting dengan klien? pikirnya. Di luar kota?

Ia memejamkan mata, mencoba mengingat-ingat. Seharian ini ia tidak mendengar Reza menyebutkan rencana perjalanan dinas. Tidak ada koper yang disiapkan. Tidak ada pakaian yang diambil dari lemari.

Alya membuka matanya. Sesuatu di dadanya bergerak. Bukan cemburu—ia tidak punya hak untuk cemburu pada pria yang tidak pernah mencintainya. Bukan sakit hati.

Tapi ada yang namanya naluri. Naluri seorang istri yang terikat secara sah, yang mengucapkan ijab kabul di depan penghulu dan saksi, yang statusnya di mata hukum dan agama adalah pendamping hidup pria itu.

Naluri itu berkata: Dia tidak sedang meeting. Dia sedang bersama Gita.

Alya menatap langit-langit kamar yang tinggi. Lampu kristal di atasnya mati, hanya sesekali berkilau terkena cahaya bulan yang masuk melalui celah tirai. Di rumah seluas ini, sendirian di kamar sebesar ini, Alya merasa sangat kecil.

Ia membayangkan Reza sekarang. Mungkin sedang mengemudi dengan tenang, dan sudah sampai di suatu tempat, suatu hotel, suatu ruangan yang hangat dengan cahaya temaram. Dan di ruangan itu, Gita sedang menunggu.

Kakaknya. Wanita yang menjodohkannya. Wanita yang mengatakan bahwa pernikahan ini adalah yang terbaik untuknya.

Apakah sekarang ini yang kakak maksud dengan yang terbaik? gumam Alya dalam hati. Kau menikahkan aku dengan pria yang mencintaimu, agar kau bisa bebas bersamanya tanpa status istri?

Alya membalikkan badan, menghadap dinding. Ia memeluk guling di sampingnya, menggenggam erat seperti anak kecil yang mencari kehangatan.

Ada bagian kecil di hatinya yang ingin marah. Ingin menelepon Gita, menelepon Reza, berteriak, membongkar semua kebohongan ini. Tapi ada bagian lain yang lebih besar yang berkata, Apa gunanya?

Apa gunanya marah pada orang yang sudah jelas-jelas tidak peduli padanya? Apa gunanya mengungkap kebohongan yang sudah terlanjur menjadi pondasi pernikahan ini?

Dan di luar itu semua, ada kelegaan yang jujur harus ia akui.

Dengan Reza tidak di rumah, ia bisa tidur nyenyak. Tidak perlu waswas mendengar suara mobil masuk ke garasi. Tidak perlu berpura-pura tidur sambil menahan napas. Tidak perlu takut tangan-tangan kasar itu akan menyentuhnya lagi.

Biar saja, pikir Alya akhirnya. Sekalian saja tidak usah pulang. Aku bisa bebas melakukan apa pun. Aku bisa tidur nyenyak. Aku bisa bangun pagi tanpa harus berpura-pura.

Ia memejamkan mata. Pikirannya yang tadi kacau perlahan mulai tenang. Napasnya mulai teratur. Dan perlahan, diiringi hembusan angin malam yang masuk melalui jendela, Alya terlelap.

---

Di sebuah hotel berbintang di kota yang sama—hanya tiga puluh menit berkendara dari rumah megah itu—suasana berbeda.

Lampu-lampu kota terlihat dari jendela kaca ruangan di lantai 12. Cahaya gemerlap itu membias di seluruh permukaan kaca, menciptakan ilusi bahwa mereka berada di atas lautan bintang.

Kamar hotel ini adalah yang terbaik di lantai itu—suite dengan ruang tamu terpisah, kamar tidur dengan ranjang berukuran king, kamar mandi marmer dengan bathtub menghadap pemandangan kota.

Di ranjang besar itu, selimut sutra berwarna krem menutupi dua tubuh yang terbaring berdua.

Gita berbaring dengan kepala di dada Reza, rambut panjangnya yang tergerai membentuk riak-riak hitam di atas kulit pria itu. Ia mengenakan chemise sutra warna merah marun—pakaian tidur yang sengaja ia pilih untuk malam ini. Reza memeluknya dengan satu tangan, tangan lainnya menggenggam jemari Gita yang lentik.

Mereka baru saja selesai bercinta. Udara di ruangan masih hangat, aroma parfum Gita yang mahal bercampur dengan keringat mereka berdua. Lampu di samping ranjang menyala redup, menciptakan suasana intim yang sengaja dibangun.

Gita tersenyum. Jari-jarinya menggambar lingkaran-lingkaran kecil di dada Reza, gerakan yang ia tahu akan membuat pria itu semakin lengket.

"Kamu capek?" tanyanya manja, suara sengaja dibuat lembut.

Reza menggeleng pelan. "Biasa saja."

"Proyeknya bagaimana tadi? Aku dengar kamu dapat klien besar."

"Lumayan. Masih proses negosiasi." Suara Reza datar, tidak antusias.

Gita mengangkat kepalanya, menatap wajah Reza yang setengah teduh. "Kamu kenapa? Kok kelihatan lelah banget?"

Reza tidak menjawab segera. Matanya menatap langit-langit kamar, pikirannya entah di mana. Gita sedikit kesal.

Biasanya setelah bercinta, Reza akan memanjakannya, berbicara lembut, memujinya. Tapi malam ini ada jarak yang tidak biasa.

"Reza," panggil Gita, sedikit menekan namanya.

Reza menoleh, tersenyum tipis. "Maaf. Aku hanya banyak pikiran."

"Pikiran apa? Cerita dong." Gita menyandarkan dagunya di dada Reza, matanya menatap pria itu dengan ekspresi ingin tahu.

Reza menghela napas. Ia mengusap rambut Gita pelan, gerakan yang dulu selalu ia lakukan untuk menenangkan diri. "Kamu sudah main ke rumah Alya?"

Gita sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. Ia mengernyit. "Iya, tadi sore. Aku bawain dia baju dan skincare. Kenapa?"

"Gimana dia?"

"Baik-baik saja. Sehat. Cantik." Gita menjawab cepat, terlalu cepat. "Kenapa kamu tanya?"

Reza hanya diam Ada sesuatu di matanya yang tidak bisa Gita baca.

Reza menatap Gita. Wanita yang ia cintai ini berbicara tentang adiknya seperti berbicara tentang barang yang sudah diberi label harga.

"Git," panggilnya pelan.

"Hm?"

"Apa kamu pernah merasa... bersalah? Pada Alya?"

Gita terdiam. Wajahnya yang tadinya santai berubah sedikit, ada kilatan tidak nyaman di matanya. Tapi itu hanya sesaat. Ia tersenyum lagi, senyum yang sudah ia latih untuk menutupi segalanya.

"Bersalah? Kenapa harus bersalah? Aku yang membiayai hidupnya selama ini. Aku yang memberinya suami kaya, rumah mewah, hidup enak. Bukannya dia yang harus berterima kasih?"

"Tapi dia tidak memilih ini, Git."

"Dan apa yang dia mau pilih? Kuliah? Kerja? Jadi karyawan rendahan dengan gaji UMR?" Gita tertawa, tawa yang terasa hampa di telinga Reza.

"Aku memberinya jalan pintas menuju hidup yang nyaman. Itu lebih baik daripada membiarkannya berjuang sendiri di dunia yang kejam."

Reza tidak menjawab. Ia hanya menatap Gita dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

Gita merasakan ketidaknyamanan itu. Ia bergerak, membalikkan tubuh sehingga kini ia berada di atas Reza, kedua tangannya menopang di dada pria itu. Rambutnya yang panjang jatuh membingkai wajahnya yang cantik.

"Reza, sayang," ucapnya dengan suara lembut yang dibuat-buat, "kamu jangan terlalu dipikirin. Alya sudah besar. Dia bisa menjaga dirinya sendiri. Lagipula, bukankah ini yang kita inginkan? Aku bebas, kamu tetap bisa bersamaku, dan Alya hidup nyaman. Semua orang untung."

Reza menatap wanita di atasnya. Di mata Gita, ia melihat sesuatu yang selama ini mungkin ia pilih untuk tidak lihat. Ada perhitungan di balik kecantikan itu. Ada ambisi di balik setiap senyuman. Dan di balik kata "semua orang untung", ada satu nama yang tidak pernah disebut: Alya.

"Iya," jawab Reza akhirnya, suaranya datar. "Semua orang untung."

Gita tersenyum puas. Ia menunduk, mencium bibir Reza dengan lembut. "Aku sayang kamu, Reza. Kamu tahu kan?"

Reza membalas ciuman itu, tapi di matanya ada sesuatu yang jauh. Sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan.

Kalau kau sayang aku, kenapa kau tidak mau menikah denganku? pikirnya. Kenapa kau menjodohkanku dengan adikmu? Kenapa kau membuatku begini?

Tapi ia tidak mengucapkannya. Karena ia takut jawabannya. Karena ia takut kebenaran yang selama ini ia hindari: bahwa Gita tidak pernah mencintainya. Ia hanya mencintai kenyamanan yang Reza berikan. Dan Alya hanyalah tumbal yang memungkinkan semua ini terus berlangsung.

Gita merebahkan tubuhnya lagi di dada Reza, memeluknya erat. "Besok pagi aku harus pulang sebelum jam delapan. Ada rapat jam sembilan."

"Kau tidak mau sarapan dulu?"

"Nggak bisa. Lagian kalau ketahuan orang kita di sini bareng, kan repot." Gita tertawa kecil. "Bayangin kalau Alya tahu. Atau Mama. Ribet."

Reza tidak menjawab. Ia hanya memeluk Gita balik, meskipun di hatinya ada perasaan yang semakin hari semakin menggerogoti. Namun cinta membutakanya.

Di luar jendela, lampu-lampu kota terus berkelap-kelip. Di balik setiap lampu, ada cerita. Ada kehidupan. Ada mimpi dan luka.

---

Pukul satu dini hari, Alya terbangun.

Ia tidak tahu apa yang membangunkannya. Mungkin mimpi. Mungkin suara angin. Tapi begitu matanya terbuka, ia langsung ingat: Reza tidak pulang. Ia sendirian di kamar ini.

Ia membalikkan badan, meraih ponsel di meja samping. Layar menyala, menunjukkan pukul 01:23. Tidak ada pesan baru. Tidak ada panggilan tak terjawab.

Ia membuka aplikasi pesan, membaca lagi chat dari Reza tadi malam.

"Malam ini aku tidak pulang. Ada meeting dengan klien di luar kota. Jangan tunggu."

Alya menatap kata-kata itu lama. Lalu ia membuka peta di ponselnya, mengecek lokasi hotel-hotel berbintang di kota ini. Ada beberapa. Tapi ia tidak akan pernah tahu yang mana.

Dan sebenarnya, ia tidak perlu tahu.

Ia mematikan layar ponsel, meletakkannya kembali di meja. Matanya menatap langit-langit yang gelap.

"Apa yang kakak lakukan sekarang, ya?" bisiknya pada kegelapan. "Apakah kau bahagia, Kak? Apakah kau merasa ini semua benar?"

Tidak ada yang menjawab. Hanya keheningan yang terus menyelimuti.

Alya memejamkan mata. Tapi kali ini, ia tidak berusaha memaksakan tidur. Ia membiarkan pikirannya melayang, membayangkan kakaknya yang sedang dalam pelukan suaminya sendiri.

Anehnya, ia tidak marah.

Tapi ada satu hal yang ia rasakan malam itu. Sesuatu yang baru.

Keputusan.

Aku tidak akan begini selamanya, pikirnya. Aku akan kuliah. Aku akan mandiri. Aku akan punya hidupku sendiri. Dan suatu hari nanti, mereka—Reza, Gita, semua yang menjadikanku tumbal—akan melihat bahwa aku bukan sekadar korban. Aku adalah seseorang yang berhasil bangkit.

Alya membuka matanya. Di kegelapan kamar itu, senyum kecil terbentuk di bibirnya. Bukan senyum bahagia. Bukan senyum pahit seperti biasanya. Tapi senyum yang lahir dari kesadaran bahwa ia tidak akan membiarkan dirinya tenggelam.

Pagi ini Alya bangun dalam keadaan tanpa tekanan. Ia berdiri di depan jendela kamarnya, menatap matahari yang mulai meninggi. Di tangannya, ia memegang brosur universitas yang semalam ia cetak dari internet.

Hari ini ia akan mendaftar. Hari ini ia akan memulai langkah pertamanya menuju kebebasan.

Di belakangnya, ponsel bergetar. Sebuah pesan masuk.

Reza: "Aku baru selesai meeting. Pulang siang nanti."

Alya membaca pesan itu, lalu meletakkan ponselnya tanpa membalas. Ia tidak perlu membalas. Ia tidak perlu menjelaskan. Ia tidak perlu apa pun dari pria itu.

Ia hanya perlu satu hal: masa depannya sendiri.

1
falea sezi
kpn cerai
falea sezi
cpet buat cerai thor najis amat ampe Gita berbagi batangan reza😒
falea sezi
alya goblok🤣mending cerai sekarang lah bloon amat lu di jadiin serep cerai pergi jauh bego
Nihayatuz Zain
🦾
La Rue
ehm mencari celah dari Reza malah ketemu Diana. Tapi ini asumsiku saja, semoga saja tidak seperti apa yang terganbar diotakku 🤔🤭
Halwah 4g
wahhhhh...🤣🤣🤣 kecolongan q
Bp. Juenk: selamat menikmati kk
total 1 replies
M. T🌻
keren banget thor.
jangan lupa mampir yaa🤭
Bp. Juenk: siap. terimakasih
total 1 replies
Key Kastara
😍🔥✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!