Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 034 : Budak Nafsu
Flashback
Dua puluh tahun lalu sebelum kebakaran melanda desa tempat Ijah tinggal. Rossa yang sudah melakukan perjanjian ghaib dengan sosok iblis berkepala kambing itu memilih untuk melakukan satu ritual yang katanya sebagai pelengkapnya.
Saat itu tengah malam, Rossa berjalan dengan payungnya di antara hujan yang sangat deras. Dia mengendap-endap keluar dari dalam rumah besarnya lewat pintu belakang.
Sedikit jauh dari kediamannya. Terdapat sebuah gubuk. Gubuk kecil tempat bagi Parman untuk menyimpan pupuk-pupuk tanaman. Di gubuk ini, dahulu Ijah tinggal. Sebelum pada akhirnya dia dinikahi oleh Parman.
Krekkkkk
Setibanya tepat di depan pintu gubuk. Rossa mengulurkan tangan kanannya, membuka pintu gubuk itu. Gelap, di sana sangat gelap saat malam. Sunyi, tidak ada siapapun. Hanya ada suara hujan deras yang menemani.
Saat itu, Rossa dengan tatapan sendunya menatap ke depan. Ke arah dinding. Dia diam, tetapi beberapa detik kemudian dia tersenyum.
"Sialan memang kamu Ijah!" umpatnya kini, dia mengepalkan tangan kanannya. Di sana, ada sesuatu yang dia genggam. Itu, adalah kain yang dilipat asal-asalan.
Sambil menggenggam bungkusan kain putih itu erat-erat. Rossa berjalan masuk ke dalam gudang. Dia berbelok ke kanan, ke arah tumpulan kemasan pupuk yang disusun tinggi. Di situ ada satu meja kayu yang cukup kuat menopang beban yang cukup berat.
"Aku akan melakukan apapun, demi mengembalikan Parman pada pihakku!" katanya, dia lalu mengambil sebuah nampan yang sudah dia siapkan sore tadi.
Di atas nampan itu, ada nasi yang dia tutupi dengan daun pisang. Nampan itu dia bawa ke arah meja kayu. Dia Rossa, meletakkan nasi itu di atas sana.
"Jika kamu mau suamimu lebih bertekuk lutut padamu Rossa. Maka, lakukan ritual nasi kangkang."
Itu adalah perkataan dari dukun yang dia temui beberapa waktu lalu. Sekarang, dia sudah bersekutu resmi dengan Iblis berkepala kambing. Di dalam kegelapan gubuk.
Tepat di belakang Rossa kini, kepulan asap hitam mulai muncul. Dia membentuk sesuatu secara perlahan.
Sesuatu itu berbentuk kepala kambing dengan tubuh manusia. Dia berdiri tepat di belakangnya Rossa yang kini sedang membuka kain putih.
Rossa perlahan membukanya perlahan hingga kain putih itu pun terbuka sepenuhnya.
Dan di sana, ada serpihan kecil. Kecil sekali, jika diperhatikan lebih jelas, itu adalah potongan rambut beberapa helai yang memang sengaja diguntingi begitu kecil hingga menyerupai serbuk.
Setelah membukanya, Rossa memiringkan kepalanya. Dia menarik sudut bibirnya kemudian tersenyum.
Yang di mana senyuman itu diikuti pula oleh Bahal tawa dari iblis berkepala kambing yang ada di belakangnya Rossa itu.
"Akan kubuat kamu bertekuk lutut!" kata Rossa lagi sembari menaburkan rambut itu di atas nasi. Dia lalu mencampurnya dengan nasi itu.
Setelah yakin, rambut yang dia bawa tadi tercampur oleh nasi. Rossa, kemudian mulai naik ke atas meja. Bak seekor laba-laba dia memanjat meja kayu itu, lalu berdiri tepat di atas nampan nasi. Malam ini, dia mengenakan kemben saja.
Di sana, dia mulai melakukan ritualnya. Ritual nasi kangkang, di mana seorang wanita harus pargoy di atas nampan nasi atau makanan beberapa kali sambi mengucapkan beberapa mantera yang sudah diberikan oleh dukun yang menyuruhnya.
Dengan gemulai, tangan Rossa mulai terangkat. Dia melakukan sebuah tarian yang cukup aneh bahkan tak terarah sambil mulutnya komat-kamit tak jelas.
Hingga pada detik ketika manteranya berakhir. Dia Rossa, berhenti bergerak. Dia menatap ke depan, Rossa mengernyitkan keningnya. Keringat dingin mengucur deras dari dahinya sekarang, hingga..
Tessss
Ya, setres cairan bening jatuh tepat di atas nasi itu setelah cukup lama Rossa mengejan. Entah apa cairan putih itu? Tetapi, setelah cairan itu keluar. Rossa mulai menuruni meja. Dia menatap ke arah nasi yang baru saja dia ritualkan. Lalu, dia mulai mengaduk lagi nasi itu sambil tersenyum.
Sebuah senyuman yang cukup maut penuh akan kelicikan. Malam itu, nasi itu dia bawa masuk ke dalam kediamannya lagi. Hingga pagi mulai menjelang.
Di mana ketika matahari mulai menampakkan dirinya. Parman, yang baru saja pulang dari ladang memilih untuk menghampiri kamar Rossa. Di mana kamar itu terletak di lantai dua rumahnya.
Tokkkkk
Tokkkkk
Parman dengan sopan mengetuk pintu kamar istri pertamanya itu. Mukanya nampak lelah, wajar saja dia habis mengurusi pekerjaan di ladang sejak semalaman.
Krekkkk
Tidak butuh waktu yang cukup lama bagi Parman menanti pintu itu terbuka. Rossa membukakan pintu itu untuknya. Saat itu, Parman terperanjat rasanya ketika melihat wajah Rossa yang begitu bersinar di matanya.
Wanita itu nampak sangat cantik dengan kedua lesung Pipit di wajahnya. Kulitnya yang putih bersih. Bibirnya yang merah merona mungil dan tipis itu bak sebuah hipnotis.
"Mas, baru saja pulang, ya?" tanya Rossa basa-basi. Parman tidak menjawab itu. Dia hanya tersenyum menatap Rossa. Tidak ada lagi pusat dunianya rasanya selain Rossa.
"Aku capek, dek! Mau berduaan sama kamu! Boleh, Mas masuk ke dalam?" tanya Parman lembut pada Rossa. Jelas saja, wanita yang sudah menggatal sejak semalam ini mengangguk malu tanpa dosa.
Tanpa membantah apapun, Rossa segera menarik pergelangan tangan Parman untuk masuk ke dalam kamar.
Hingga ketika pintu kamar itu di kunci. Maka terjadilah adegan bercocok tanam di dalam yang tidak bisa kusematkan di sini sebab mengandung sensor.
Cukup lama mereka bermain di dalam. Hingga jam di dinding kamar itu menunjukkan pukul dua belas siang. Di situ, Parman bersandar di kepala ranjang. Dia berbicara kepada Rossa,
"Aku lapar, dek! Apa kamu sudah masak?" tanya Parman padanya. Ah, ini dia hal yang paling ditunggu oleh Rossa.
Rossa yang mendengar itu pun mengangguk. Dia tersenyum lalu berkata,
"Tentu saja, aku sudah masak untukmu! Aku akan mengambilnya, lalu menyuapi kamu di sini, Mas!" kata Rossa lembut, wajahnya nampak licik sekarang. Dia lalu bangkit dari ranjangnya.
Keluar dari dalam kamar menuju ke dapur. Dia menghampiri etalase atas. Di mana di sana dia menyimpan nasi sesat yang sudah dia ritualkan semalam.
Sambil tersenyum, Rossa membawa nasi itu kembali ke kamarnya dan Parman. Sebelum dia hendak sampai, seorang bocah kecil berlari ke arahnya. Rossa yang berpas-pasan dengan bocah itu, senyumnya langsung pudar.
Bocah itu, tidak lain adalah Rifki kecil. Melihat anak dari darah Ijah berjalan ke arahnya. Sebuah pikiran jahat pun muncul. Berhubung dia tidak melihat keberadaan Ijah yang mengawasi Rifki. Ketika, Rifki hampir mendekatinya.
"Mati kau bocah!" lirih Rossa, dia dengan sengaja menjegalnya.
Brukkkkk
"Awhhhhh.." pekik Rifki kecil ketika terjatuh dengan posisi tengkurap. Anehnya, Rifki tidak menangis.
Dia hanya meringis kesakitan. Sejenak, Rifki menoleh ke belakang. Dan didapatinya Rossa yang tersenyum ke arahnya lalu kembali berpaling dan masuk ke dalam kamar.
"Ada apa di luar?" tanya Parman ketika melihat Rossa yang datang sambil membawa makanan.
"Ah," kata Rossa menaikkan alisnya sambil tersenyum ke arah Parman lalu mendekatinya.
"Tidak ada, Mas! Itu, cuma Rifki tadi bermain. Biasa, dia selalu ramai, bukan?" kata Rossa menutupi.
Sekarang, dia sudah berada di sisi ranjang. Parman menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Rossa. Dia tahu, anak lelaki pertamanya itu sangat aktif. Sepertinya memang itu yang terjadi sehingga dia tidak curiga sedikitpun.
"Ayo buka mulutnya!" kata Rossa pada Parman.
Dia mulai mengarahkan makanan yang kini berada di dalam cakupan tangannya. Melihat menu masakan yang Rossa bawa, jelas saja, Parman yang sudah merasa kelaparan pun segera menyantapnya tanpa basa-basi hingga makanan itu tidak tersisa sedikitpun di atas piring yang tadi penuh.
Sejenak bebeapa menit, setelah Parman menyantapnya. Dia merasa pusing. Pandangannya kini kabur.
Sementara Rossa yang tahu bahwa hasil dari nasi kangkang mulai berekasi pun hanya tersenyum sambil memperhatikan Parman yang kebingungan. Saat itu, ketika mata Parman tertuju kepada Rossa.
Degggggg
Sungguh, jantung Parman seperti berhenti rasanya ketika sesuatu yang gelap berada tepat di belakang punggungnya Rossa. Sesuatu itu masuk ke dalam mulut Parman.
Hingga membuat dia jatuh kebelakang. Parman kejang beberapa saat. Dia membulatkan kedua matanya. Pandangannya betul+betul hilang total ketika melihat sepasang mata berwarna merah.
"Hahahahaha... akhirnya!" kata Rossa, terkekeh, dia menang sekarang.
Tertelannya buliran nasi itu, adalah awal di mana segala perubahan terjadi. Seperti, dulu Parman sangat adil pada kedua istrinya. Tapi, setelah menyantap nasi itu, segala ucapan yang dikatakan oleh Rossa adalah prioritasnya.
Tak jarang, Parman sering sekali menyiksa Ijah. Hingga puncaknya, pada malam itu, ketika Parman memerintahkan Parman untuk membunuh Ijah, atas tuduhan praktek satanisme.
Sebab Parman adalah orang yang berpengaruh di sana. Maka perkataannya menjadi selalu di pandang benar oleh masyarakat.
Tetapi, tuduhan itu justru berakibat fatal pada ilmu Rossa. Sebab dia tidak mengetahui, bahwa Ijah adalah penganut ilmu putih. Mereka yang berhati lembut nan bersih.
Mampu menggunakan ajian putih, ajian yang melibatkan semesta dan penciptanya. Sehingga, ketika Ijah berhasil mati. Dia yang sudah menggunakan ajian itu pun mampu mengalahkan ilmunya Rossa.
________