Zerrin Atalea Felix seorang gadis mafia yang meninggal dunia lalu berpindah jiwa atau biasa di sebut bertransmigrasi ke tubuh Claudia Ramirez seorang gadis kaya tapi begitu di benci oleh saudara kandung nya sendiri, hanya kedua orang tua nya lah yang menyayangi nya.. Claudia yang selalu di anggap sebagai pembully di sekolah nya, padahal kenyataan nya selama ini dia hanya selalu di jadikan kambing hitam oleh seorang yang iri pada nya. Kesalahan pahaman ini lah yang membuat Claudia akhir nya di benci secara berlebihan oleh kedua abang dan lelaki yang sudah dia cintai sejak lama beserta anggota genk nya yang merupakan anggota most wanted di kampus. Kelompok para cowok-cowok kaya, keren dan populer di kawasan sekolah.
Bagaimana kisah jiwa Zerin yang berada di tubuh Claudia selanjutnya, ikuti terus kisahnya ya 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑁𝑜𝑣𝑖𝑒25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Bayang Masa Lalu dan Musuh dari Dalam Keluarga
Setelah kebenaran terungkap dan nama baiknya dibersihkan, Claudia mengira hidupnya akan berjalan lebih tenang. Ia mulai bisa bernapas lega, beradaptasi dengan kasih sayang keluarga yang kini tulus, serta menghadapi lingkungan sekolah dengan kepala tegak tanpa rasa takut lagi. Namun, baginya yang pernah hidup di dunia persaingan dan kekuasaan, ia tahu betul bahwa ketenangan hanyalah jeda singkat sebelum badai berikutnya datang.
Malam itu, saat suasana di kediaman keluarga Ramirez sudah sepi, Claudia duduk di meja kerjanya, bukan lagi membahas urusan sekolah, melainkan memutar kembali ingatan masa lalunya sebagai Zerrin Atalea Felix.
Di dalam benaknya, tergambar jelas wajah pria yang mengkhianatinya — Marco Vareza, orang yang ia percayai sebagai tangan kanan terkuat, seseorang yang ia angkat dari bawah dan berikan segala kemewahan serta kekuasaan. Namun justru dialah yang menusuk dari belakang, bekerja sama dengan klan saingan untuk merebut kekuasaan dan menyingkirkan Zerrin selamanya.
“Marco… kau pikir dengan membunuhku, kau bisa duduk dengan tenang di atas takhta itu?” batin Claudia, matanya menyala tajam memancarkan amarah yang terpendam dalam. “Jiwa ini mungkin sudah berpindah tubuh, tapi rasa sakit dan janji untuk membalas tidak akan pernah hilang. Suatu hari nanti, aku akan kembali ke tempat itu, dan membuatmu merasakan penderitaan seribu kali lipat lebih berat daripada apa yang kau berikan padaku malam itu.”
Ia mulai menyusun rencana panjang. Meskipun kini berada di tubuh yang berbeda, ia memiliki pikiran, keahlian, dan naluri yang sama. Ia mulai mencatat hal-hal dasar tentang keadaan klan Felix saat ini, mencoba mengingat koneksi dan informasi yang mungkin masih bisa ia gunakan suatu saat nanti. Namun ia sadar, ia tidak bisa terburu-buru. Sebelum melangkah ke medan perang yang lebih besar, ia harus benar-benar menguasai posisinya di dunia barunya ini.
Namun takdir seolah tidak memberinya waktu untuk bersantai. Hanya seminggu setelah kasus Sari selesai, sebuah kabar datang yang akan mengubah suasana kembali.
Sore itu, saat Claudia baru saja tiba di rumah dari sekolah, ia mendengar suara bising dan tawa riang dari ruang tengah. Saat melangkah masuk, ia melihat kedua orang tuanya, Adrian, dan Brian sedang duduk mengobrol dengan seorang gadis muda berusia sekitar tujuh belas tahun. Gadis itu mengenakan pakaian yang terlihat bagus namun agak mencolok, dengan senyum yang terlihat manis namun menyembunyikan pandangan yang penuh perhitungan.
“Ah, Claudia, kau sudah pulang,” sapa Bu Elena dengan nada ramah. “Mari kenalkan, ini adalah Dinda Putri. Dia adalah putri dari pamanmu yang tinggal di luar kota, jadi dia adalah sepupu jauhmu. Mulai hari ini dia akan tinggal bersama kita selama satu tahun ke depan, karena dia akan melanjutkan sekolah di sini.”
Claudia menatap gadis itu dengan tenang, namun matanya langsung menangkap banyak hal dalam sekejap. Cara Dinda menundukkan kepala dengan lembut, cara ia tersenyum lebar namun matanya tidak ikut tersenyum, serta cara ia meletakkan tangannya seolah ingin terlihat lemah dan manis — semua itu memberi isyarat pada Claudia bahwa gadis ini bukanlah orang yang polos seperti yang ia tampakkan.
“Selamat datang, Dinda,” ujar Claudia sopan namun datar.
Dinda segera berdiri dan mendekat, lalu menggenggam tangan Claudia dengan lembut namun cengkeramannya terasa sedikit kuat, seolah ingin menguji. “Terima kasih, Kak Claudia. Aku sangat senang bisa tinggal di sini dan menjadi bagian dari keluarga ini. Aku berharap Kakak bisa membimbingku selama aku belajar di sini.”
Nada bicaranya terdengar sangat halus dan memelas, cara bicara yang sering digunakan untuk menarik perhatian dan rasa iba orang lain. Namun bagi Claudia, itu hanyalah akting yang sangat jelas terlihat.
Adrian tersenyum menatap Dinda, wajahnya terlihat ramah. “Jangan sungkan, Dinda. Anggap saja ini rumahmu sendiri. Jika ada yang kau butuhkan, katakan saja pada kami.”
Brian juga mengangguk setuju, tampak terpesona oleh sikap lembut dan sopan yang ditunjukkan Dinda. “Benar, kau adalah keluarga kami. Kami akan menjagamu seperti menjaga Claudia.”
Melihat sikap kedua kakaknya itu, Claudia hanya diam dan mengamati. Ia tahu betul tipe orang seperti Dinda ,mereka yang pandai berpura-pura lemah, memanfaatkan rasa kasihan, dan perlahan-lahan menyusup ke dalam kepercayaan orang lain untuk mengambil apa yang mereka inginkan.
“Jadi inilah musuh baru yang muncul dari dalam rumah sendiri,” batin Claudia dingin. “Kau datang dengan senyum manis, tapi matamu sudah memandang segala sesuatu yang menjadi milikku. Mari kita lihat seberapa jauh kemampuanmu, Dinda.”
Keesokan harinya, Dinda didaftarkan ke sekolah yang sama dengan Claudia SMA Harapan Bangsa. Karena usianya yang hampir sama, ia dimasukkan ke kelas sebelah dari kelas Claudia. Sejak hari pertama masuk, Dinda langsung menunjukkan bakatnya dalam memikat hati orang lain.
Ia bersikap sangat sopan kepada guru, selalu menundukkan kepala dan berbicara dengan nada lembut. Kepada teman-teman sekelas, ia selalu membantu, memberikan pujian, dan terlihat sangat rendah hati. Dalam waktu singkat, ia sudah menjadi pusat perhatian dan mendapatkan banyak simpati dari siapa saja. Bahkan Arjuna dan teman-temannya yang selama ini mulai menghormati Claudia, juga mulai merasa kasihan pada gadis baru ini yang terlihat sangat polos dan lemah.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Hanya dalam waktu tiga hari, insiden kecil mulai bermunculan, dan semuanya selalu berujung pada tuduhan kepada Claudia.
Suatu hari, saat jam istirahat, Claudia sedang duduk sendirian membaca buku di sudut taman sekolah. Tiba-tiba terdengar suara tangisan keras. Saat menoleh, ia melihat Dinda terjatuh di atas tanah, seragamnya kotor, dan air matanya mengalir deras. Di depannya berdiri beberapa siswa yang melihat kejadian itu, dan yang pertama kali mereka lihat adalah Claudia yang berdiri tidak jauh dari sana.
“Kak Claudia… kenapa kau mendorongku?” seru Dinda sambil menangis terisak, suaranya terdengar sangat menyedihkan. “Aku hanya ingin menyapa Kakak, aku tidak melakukan apa pun…”
Belum sempat Claudia membuka mulut untuk menjelaskan, orang-orang di sekitar sudah mulai berbisik.
“Lagi-lagi dia? Padahal baru saja namanya dibersihkan.”
“Mungkin dia memang sifatnya asli seperti itu. Sekarang dia membully sepupunya sendiri yang baru datang.”
“Kasihan sekali Dinda, dia terlihat sangat lemah dan tidak berdaya.”
Tak lama kemudian, Arjuna, Daffa, Raka, dan Leo datang menghampiri setelah mendengar keributan. Melihat Dinda menangis tersedu-sedu dan Claudia berdiri dengan wajah datar tanpa ekspresi, naluri mereka langsung berpihak pada gadis yang terlihat menjadi korban.
“Claudia, apa yang kau lakukan?” bentak Arjuna dengan nada kecewa dan marah. “Kita baru saja percaya padamu, tapi kau malah menyakiti sepupumu sendiri? Apa yang dia lakukan padamu?”
Claudia menatap Dinda yang sesekali meliriknya di sela-sela tangisan, tatapan yang penuh kemenangan yang hanya bisa ditangkap oleh Claudia. Ia menghela napas panjang, lalu menjawab dengan nada tenang namun dingin.
“Aku tidak mendorongnya. Dia jatuh dengan sendirinya.”
Namun jawaban itu terdengar sangat lemah di telinga orang lain. Bagaimana mungkin seseorang bisa jatuh sendiri dan langsung menuduh orang lain? Sikap Claudia yang tidak panik dan tidak berusaha memohon simpati justru membuatnya terlihat semakin sombong dan bersalah.
“Kau masih saja berbohong!” seru Daffa dengan nada kesal. “Kita melihatnya sendiri, kau berdiri tepat di belakangnya sebelum dia terjatuh. Apakah kau ingin membuat masalah lagi?”
Insiden itu tidak berhenti sampai di situ. Kejadian serupa terjadi berulang kali dalam beberapa hari berikutnya. Barang milik Dinda hilang lalu ditemukan di tas Claudia, buku catatannya disobek dan ia menuduh Claudia yang melakukannya, bahkan hingga pertengkaran kecil yang dengan sengaja dipancing hingga berubah menjadi baku hantam.
Suatu kali, di koridor sepi, Dinda sengaja menyenggol bahu Claudia hingga Claudia terhuyung, lalu Dinda menjatuhkan dirinya sendiri ke dinding sambil berteriak keras. Saat siswa lain datang melihat, Dinda sudah terlihat memar sedikit di lengannya dan menangis histeris, mengatakan bahwa Claudia memukulnya karena iri melihat ia berteman dengan banyak orang.
Kata-kata kasar mulai kembali menghantam Claudia. Bahkan Adrian dan Brian yang baru saja mulai mempercayai adiknya, kini mulai ragu lagi. Setiap kali mereka mendengar laporan dari sekolah atau melihat Dinda pulang dengan wajah sedih dan luka-luka kecil, rasa kepercayaan yang baru tumbuh perlahan mulai luntur.
“Claudia, tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi,” tanya Adrian suatu malam dengan nada berat dan kecewa. “Kenapa setiap kali ada masalah, Dinda selalu menjadi korban dan kau selalu menjadi pelakunya? Dia adalah sepupumu, dia tidak punya siapa-siapa di sini selain kita.”
Brian menambahkan dengan nada dingin, “Kami sudah memaafkan masa lalumu, tapi jangan sampai kau membuat kesalahan yang sama lagi. Jika kau benar-benar tidak bersalah, mengapa kau tidak bisa membuktikannya seperti dulu?”
Mendengar pertanyaan itu, Claudia hanya menatap kedua kakaknya dengan pandangan datar tanpa amarah. Ia mengerti mengapa mereka mudah percaya. Dinda pandai memainkan perannya sebagai gadis lemah, polos, dan tidak berdaya. Sedangkan Claudia, dengan sikapnya yang tenang, dingin, dan tidak mau merendahkan diri untuk menangis atau memohon, selalu terlihat seperti pihak yang bersalah.
“Karena dia pandai berpura-pura, dan kalian terlalu mudah terpedaya oleh penampilan luar,” jawab Claudia dengan nada tegas. “Dia tidak selemah dan sepolos yang kalian kira. Setiap luka, setiap kehilangan barang, setiap tuduhan itu semuanya direncanakan dengan sengaja untuk menjatuhkan namaku dan mengambil posisiku di keluarga ini.”
Namun penjelasan itu hanya dianggap sebagai alasan belaka.
“Cukup, Claudia!” bentak Adrian. “Jangan tuduh orang lain tanpa bukti. Kami melihat sendiri bagaimana dia bersikap, dia tidak mungkin sejahat itu. Mulai sekarang, jagalah sikapmu. Jika ada lagi masalah, kami tidak akan segan memberikan hukuman.”
Setelah kedua kakaknya pergi, Dinda yang berdiri di balik pintu sedikit tersenyum puas, lalu berpura-pura keluar sambil menunduk sedih. “Maafkan aku, Kak Claudia… aku tidak bermaksud membuat Kakak marah. Mungkin memang kehadiranku mengganggu Kakak.”
Claudia melangkah mendekat, menatap Dinda dengan pandangan yang sedingin es. Suaranya pelan namun penuh tekanan, hanya cukup didengar oleh mereka berdua.
“Permainanmu sudah dimulai, Dinda. Kau pikir dengan berpura-pura menjadi korban, kau bisa mendapatkan segalanya? Ingat, aku pernah menghadapi orang yang jauh lebih licik dan kejam darimu. Kau hanya pemula yang baru belajar bermain sandiwara.”
Wajah Dinda sedikit berubah pucat mendengar nada bicara dan tatapan itu, namun ia segera mengembalikan ekspresi sedihnya. “Aku tidak mengerti apa yang Kakak katakan…”
“Kau akan mengerti nanti,” potong Claudia dingin. “Nikmati kemenangan kecilmu ini selagi masih bisa. Karena saat aku mulai bertindak, kau tidak akan punya kesempatan untuk memohon belas kasihan.”
Malam itu, Claudia kembali duduk di kamarnya, namun pikirannya kini terbagi dua. Di satu sisi, ia harus mempersiapkan diri untuk membalas dendam pada Marco dan merebut kembali kekuasaan klan Felix. Di sisi lain, ia harus menghadapi musuh baru yang lebih dekat dan berbahaya , seseorang yang bersembunyi di balik topeng kerabat, yang ingin mengambil tempatnya di keluarga dan sekolah.
Ia tersenyum miring, matanya bersinar tajam.
“Dua musuh dalam satu waktu… tantangan yang cukup menarik. Tapi ingatlah, baik itu pengkhianat dari masa lalu maupun penipu yang datang dari masa kini, keduanya akan menghadapi nasib yang sama. Mereka akan menyesal telah membuatku terlibat dalam permainan ini.”
Keesokan harinya, suasana di sekolah kembali panas. Sebuah insiden pertengkaran besar terjadi. Saat Claudia sedang berjalan menuju perpustakaan, Dinda sengaja menyenggolnya dengan keras hingga buku-buku di tangan Claudia terjatuh. Saat Claudia menoleh, Dinda langsung berteriak keras dan mendorong tubuhnya sendiri ke tembok, lalu berteriak meminta tolong seolah dipukul.
“Tolong! Kak Claudia memukulku lagi!” teriak Dinda dengan suara keras.
Siswa-siswa yang lewat segera berdatangan, dan Arjuna serta teman-temannya yang kebetulan berada di dekat situ langsung melompat ke depan untuk melindungi Dinda. Wajah Arjuna dipenuhi amarah yang meluap-luap.
“Cukup, Claudia! Aku sudah tidak tahan lagi melihat sikapmu!” bentak Arjuna sambil melindungi Dinda di belakangnya. “Kau memang tidak pernah berubah! Kami sudah memberi kesempatan, tapi kau malah semakin kejam!”
“Kau benar-benar keterlaluan,” tambah Leo dengan nada marah. “Awalnya kami ragu, tapi melihat kejadian ini sendiri, kami tidak bisa lagi membela namamu.”
Claudia berdiri di tengah keributan itu, dikelilingi tatapan benci, cemoohan, dan kecurigaan. Ia tahu, saat ini semua bukti ada di pihak Dinda, dan ia tidak memiliki saksi yang mendukungnya. Namun bukan berarti ia akan menyerah.
" Kalian kira aku perduli dengan apa yang kalian fikirkan ?" tanya Claudia dengan nada datar dan terkesan dingin.
Ia menatap Dinda yang bersembunyi di balik punggung Arjuna dengan senyum kecil yang penuh makna.
“Baiklah, jika kau ingin bermain kotor, maka aku akan mengajarkanmu cara bermain yang sesungguhnya. Sebagai seorang mantan penguasa, aku tidak akan menjatuhkanmu dengan cara kasar seperti yang kau lakukan. Aku akan menjatuhkanmu dengan cara yang membuat semua orang melihat siapa dirimu yang sebenarnya, hingga kau terjatuh lebih dalam daripada yang kau bayangkan.”
Pertarungan baru telah dimulai, lebih rumit dan lebih berbahaya dari sebelumnya. Dan Claudia, atau Zerrin, sudah bersiap untuk melancarkan serangan balasan yang akan membuat semua orang terkejut.
**✿❀ ❀✿** To be continued **✿❀ ❀✿**