Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17 utusan petir dan inti emas sang kaisar bayangan
Musim semi tiba di ibukota Jinling membawa kehangatan yang mengusir sisa-sisa es musim dingin. Bunga-bunga persik bermekaran menghiasi sudut-sudut kota, menyebarkan aroma manis yang memabukkan. Di permukaan, Kekaisaran Yan terlihat lebih makmur dari sebelumnya. Harga kebutuhan pokok stabil, rute perdagangan meluas, dan ancaman dari utara telah padam sepenuhnya.
Rakyat jelata memuji kebangkitan kembali era keemasan. Mereka tidak pernah mengetahui sebuah fakta kelam yang bersembunyi di balik kemakmuran tersebut: Singgasana naga di dalam Istana Naga Langit kini hanyalah kursi kayu mati. Penguasa sejati Benua Timur tidak lagi memakai mahkota kaisar, melainkan mengenakan jubah sutra dan memegang sempoa emas.
Di pusat ibu kota, menjulang sebuah mahakarya arsitektur baru yang menembus awan. Menara Teratai Emas. Bangunan setinggi seratus lantai ini dibangun murni menggunakan batu pualam, kayu gaharu spiritual, dan dilapisi emas murni pada setiap ujung atapnya. Menara ini adalah markas besar Jaring Bayangan sekaligus kediaman pribadi Cang Qixuan.
Di lantai puncak menara yang dibiarkan terbuka menghadap lautan awan, Qixuan berbaring malas di atas dipan sutra es. Matanya terpejam, menikmati hembusan angin sejuk. Pakaiannya hari ini berupa jubah hitam legam dengan sulaman rasi bintang dari benang perak. Kesan pemabuk bodoh yang dulu melekat padanya telah luntur sepenuhnya, digantikan oleh aura dominasi absolut yang membuat udara di sekitarnya terasa berat.
Di samping dipan tersebut, Putri Yan Ling berdiri dengan postur kaku. Gaun sutra putihnya yang dulu melambangkan keangkuhan klan kerajaan kini diganti dengan seragam ringkas berwarna biru tua—warna resmi petinggi Jaring Bayangan. Wanita yang dulunya memandang Qixuan layaknya serangga ini sekarang menundukkan pandangannya, memegang sebuah gulungan laporan keuangan dengan kedua tangannya yang lentik.
"Laporan bulanan dari empat provinsi selatan telah masuk, Tuanku," suara Yan Ling terdengar patuh, rasa hormat yang lahir dari ketakutan murni. "Gudang-gudang Kamar Dagang Katak Emas telah terisi penuh. Pajak kekaisaran bulan ini juga telah disetor ke perbendaharaan istana setelah dipotong delapan puluh persen untuk biaya operasional Pasukan Naga Hitam."
Qixuan membuka sebelah matanya, melirik mantan putri mahkota yang kini menjadi sekretaris pribadinya itu.
"Kaisarmu tidak protes karena hanya menerima dua puluh persen dari pajak negaranya sendiri?" tanya Qixuan santai.
"Ayahanda... Yang Mulia Kaisar mengerti posisinya," Yan Ling menelan ludah, berusaha menjaga intonasi suaranya tetap datar. "Beliau lebih memilih menerima dua puluh persen dalam keadaan hidup daripada kehilangan segalanya."
"Sangat bijaksana," Qixuan kembali memejamkan mata. "Orang tua itu akhirnya belajar cara berhitung."
Suasana hening sejenak. Yan Ling masih berdiri di sana, ragu-ragu untuk menyampaikan laporan berikutnya. Gestur gelisah itu tidak luput dari panca indera Qixuan yang telah menajam hingga melampaui batas manusia biasa.
"Katakan saja, Yan Ling. Menahan kata-kata di hadapanku bisa membuat lidahmu membusuk," ancam Qixuan halus.
Yan Ling menarik napas dalam-dalam. "Tuanku... ada pergerakan anomali dari arah timur. Formasi pendeteksi spiritual yang dipasang oleh Nona Hong Lian di perbatasan laut menangkap fluktuasi energi yang sangat masif. Fluktuasi ini bukan berasal dari monster laut, melainkan dari sebuah kapal terbang tingkat dewa. Benda itu menembus penghalang udara Benua Timur tanpa izin."
Mendengar hal itu, kelima pusaran energi di dalam Dantian Qixuan merespons secara otomatis. Mata pemuda itu terbuka sepenuhnya, memancarkan kilatan cahaya amber yang tajam.
Benua Surgawi terbagi menjadi beberapa wilayah. Benua Timur hanyalah daratan fana yang dipimpin oleh kaisar manusia. Jauh di seberang Lautan Kabut, terdapat Benua Atas—tempat bernaungnya sekte-sekte raksasa purba yang menganggap manusia biasa sebagai semut. Selama ratusan tahun, Benua Atas tidak pernah mengirim armada kemari, membiarkan sekte kecil seperti Langit Berkabut dan Awan Putih menjadi anjing penjaga mereka di daratan ini.
"Mereka akhirnya mencium bau darah," Qixuan bangkit duduk, senyum miring yang penuh antisipasi menghiasi wajah tampannya. "Jatuhnya Sekte Awan Putih ke dalam jurang kebangkrutan pasti telah menarik perhatian majikan mereka di seberang lautan. Siapa yang datang?"
"Bendera yang tertangkap oleh piringan proyeksi adalah lambang Pedang Petir Menembus Matahari. Itu adalah lambang dari Istana Pedang Guntur Suci, salah satu dari tiga sekte penguasa Benua Atas," jelas Yan Ling, keringat dingin mulai sebesar biji jagung membasahi tengkuknya. "Tuanku, utusan dari sekte penguasa tidak bisa diajak bernegosiasi menggunakan emas. Mereka adalah kultivator ranah Inti Emas tingkat puncak, bahkan mungkin ranah Jiwa Baru. Jika mereka berniat menghukum Jinling..."
"Yan Ling," sela Qixuan, melangkah mendekati tepian menara, menatap hamparan ibukota di bawahnya. "Emas mungkin tidak bisa menyuap mereka, hal itu benar adanya. Keserakahan kultivator tingkat tinggi tidak terletak pada logam mulia, melainkan pada esensi kehidupan dan pusaka alam. Biarkan mereka datang. Kebetulan sekali, kelima pusaranku sedang meronta meminta asupan elemen baru untuk menerobos batas."
Saat ini, Qixuan berada di tahap akhir ranah Pembentukan Fondasi. Fondasinya merupakan yang paling kokoh di seluruh sejarah dunia kultivasi, dibangun dari elemen Bumi, Air Kegelapan (Yin), dan Api Inti Bumi (Yang). Kekuatannya sudah cukup untuk meremukkan ahli Inti Emas tahap menengah. Jalan menuju ranah Inti Emas (Golden Core) menuntut sebuah penyatuan mutlak. Ia membutuhkan katalis elemen destruktif tingkat surga untuk memadatkan kelima pusarannya menjadi satu kristal inti yang abadi.
Petir dari Benua Atas terdengar seperti hidangan pembuka yang sangat lezat baginya.
Tiba-tiba, langit di atas Jinling yang tadinya cerah membiru berubah menjadi gelap gulita. Awan hitam bergulung-gulung berkumpul dengan kecepatan tidak wajar, menutupi sinar matahari. Suara gemuruh guntur yang sangat memekakkan telinga menggetarkan setiap bangunan di ibukota. Rakyat jelata berlarian panik mencari tempat berlindung, mengira kiamat sedang turun.
Dari balik awan badai tersebut, muncullah sebuah kereta perang raksasa yang terbuat dari perunggu hijau. Kereta itu tidak ditarik oleh kuda, melainkan ditarik oleh empat ekor Naga Petir Bersayap—monster spiritual tingkat tinggi yang memancarkan kilatan listrik biru setiap kali mereka mengepakkan sayap.
Aura tekanan dari kereta perang itu menyapu seluruh kota. Gravitasi terasa berlipat ganda. Puluhan prajurit penjaga tembok kota langsung jatuh berlutut, memuntahkan darah karena tidak kuat menahan penekanan spiritual yang sengaja dilepaskan dari atas langit.
Kereta perang perunggu itu melayang perlahan dan berhenti tepat di atas Istana Naga Langit.
Seorang pria muda melangkah keluar dari dalam kereta. Ia mengenakan jubah perak berkilau yang dialiri oleh percikan listrik kecil. Wajahnya sangat tampan, sangat arogan, dengan tanda lahir berbentuk petir di tengah dahinya. Dia adalah Gongsun Ze, Utusan Elit dari Istana Pedang Guntur Suci. Kultivasinya memancarkan fluktuasi ranah Inti Emas tahap puncak yang luar biasa murni, berjarak satu langkah saja dari ranah Jiwa Baru.
"Kaisar Yan dari Benua Timur fana!" suara Gongsun Ze menggelegar, diperkuat oleh qi petirnya hingga terdengar di setiap sudut ibukota. "Beraninya anjing-anjing rendahan di daratan ini menantang tatanan langit?! Sekte Awan Putih yang menjadi perpanjangan tangan kami telah kalian permalukan! Keluar dari lubangmu dan sujud di hadapan rodaku!"
Di dalam Istana Naga Langit, Kaisar Wudi gemetar hebat di atas takhtanya. Kutukan dingin di jantungnya meronta akibat tekanan aura tersebut. Ia sama sekali tidak memiliki pasukan ahli untuk melawan utusan ini. Seluruh kekuatan pertahanan kota telah diambil alih oleh Pasukan Naga Hitam milik Qixuan.
Pintu aula istana terbuka paksa dari luar karena hembusan angin badai. Gongsun Ze melayang turun dari keretanya, mendarat dengan angkuh di tengah karpet merah. Ia tidak berjalan; kakinya mengambang satu inci di atas lantai. Ia melirik Kaisar Wudi dengan tatapan penuh kejijikan.
"Penguasa fana yang lemah," Gongsun Ze mendengus dingin. "Aku tidak punya banyak waktu untuk membuang napas di tempat kotor ini. Serahkan sepuluh juta batu spiritual tingkat atas sebagai kompensasi atas kerugian Sekte Awan Putih. Selain itu, serahkan kepala pemuda bernama Cang Qixuan yang berani menggunakan ilmu hitam di utara. Jika dalam waktu sepuluh tarikan napas syarat ini tidak dipenuhi, aku akan membumihanguskan ibukota ini menjadi padang abu."
Kaisar Wudi menelan ludah. Sepuluh juta batu spiritual tingkat atas? Seluruh perbendaharaan kerajaannya bahkan tidak memiliki sepuluh ribu keping! Benda itu adalah mata uang Benua Atas yang sangat langka. Terlebih lagi, menyerahkan kepala Cang Qixuan adalah kemustahilan absolut. Meminta kaisar untuk membunuh dewa kematian yang sedang menguasai lehernya sama saja dengan meminta domba untuk memakan serigala.
"U-Utusan yang mulia..." Kaisar Wudi memaksakan diri berbicara, suaranya bergetar. "H-Hamba tidak memiliki batu spiritual sebanyak itu. Sosok bernama Cang Qixuan itu... dia telah merebut kekuatan kami. Dia berada di Menara Teratai Emas. Hamba memohon keadilan dari sekte suci untuk menumpasnya!"
Kaisar mencoba meminjam tangan utusan ini untuk menyingkirkan Qixuan. Sayang sekali, Gongsun Ze sama sekali tidak peduli pada politik manusia fana.
"Kau tidak punya batu spiritual?" Gongsun Ze menyipitkan matanya. "Berarti nyawamu tidak memiliki nilai untuk dipertahankan. Aku akan mengambil kepalamu terlebih dahulu, lalu menghancurkan menara badut itu kemudian."
Gongsun Ze mengangkat jari telunjuk kanannya. Percikan petir biru berkumpul di ujung jarinya, membentuk sebuah bola energi destruktif yang memancarkan hawa kematian.
Tepat ketika bola petir itu siap ditembakkan ke dada kaisar, sebuah suara tawa yang sangat merdu dan dipenuhi nada sarkasme bergema di seluruh aula istana.
"Sepuluh juta batu spiritual tingkat atas? Benua Atas ternyata dipenuhi oleh pengemis berseragam mewah."
*SRING!*
Sebuah anak panah berwarna emas pekat melesat dari luar pintu aula dengan kecepatan yang merobek batas suara. Anak panah itu tidak mengarah pada Gongsun Ze, melainkan menghantam bola petir di ujung jari utusan tersebut.
*BLAAARRR!*
Ledakan energi terjadi di tengah aula. Asap mengepul tebal. Saat asap itu perlahan menipis, sosok Cang Qixuan terlihat melangkah masuk dengan santai.
Pemuda itu tidak datang sendirian. Ia diapit oleh Mo Chen di sebelah kiri dan Hong Lian di sebelah kanan. Leng Yue memimpin seratus pasukan elit Naga Hitam berzirah emas menyegel seluruh pintu keluar istana.
Qixuan menutup kipas gioknya, menatap Gongsun Ze dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mata amber-emas Qixuan memancarkan arogansi yang jauh lebih pekat daripada kesombongan utusan dari langit tersebut.
"Kau berteriak meminta kepalaku, Utusan," Qixuan tersenyum miring. "Kepalaku ada di sini. Masalahnya, apakah kau mampu membayar harga untuk menyentuhnya?"
Gongsun Ze menatap Qixuan dengan pandangan membunuh. Ia merasakan fluktuasi qi dari pemuda di depannya. Hanya ranah Pembentukan Fondasi tahap akhir.
"Seekor cacing tanah yang baru belajar merangkak berani berbicara tentang harga di hadapan naga surga?" Gongsun Ze tertawa mengejek. "Kau menggunakan semacam artefak panah untuk memecahkan seranganku tadi. Sayang sekali, mengandalkan benda mati di hadapan kekuatan mutlak adalah kebodohan."
"Benda mati?" Qixuan tertawa terbahak-bahak. Ia menoleh ke arah Hong Lian. "Nona Pandai Besi, dia menyebut panah emas yang kau tempa dari perpaduan darahku sebagai benda mati."
Hong Lian menyandarkan palu raksasanya ke lantai marmer hingga retak. "Tuan Muda, izinkan aku meremukkan kepalanya. Pria ini terlalu banyak bicara."
"Mundur, Hong Lian. Ini bukan pertarungan untukmu," Qixuan melangkah maju, memerintahkan pasukannya untuk membentuk perimeter pertahanan. "Utusan Petir ini memiliki sesuatu yang sangat kubutuhkan."
Gongsun Ze merasa dihina hingga ke akar jiwanya. Seorang kultivator Fondasi menolak bantuan pengawalnya dan menantang ahli Inti Emas puncak sendirian? Ini adalah penghinaan terhadap hukum kultivasi!
"Mati kau, Cacing Tanah!"
Gongsun Ze tidak menahan diri lagi. Ia mencabut pedang peraknya. *Jurus Dewa Petir Membelah Lautan!*
Gelombang qi petir biru yang sangat masif menyapu aula istana, menghancurkan pilar-pilar penyangga dan mencairkan ornamen emas di sekitarnya. Serangan ini mengandung niat membunuh mutlak yang ditujukan untuk menghanguskan Qixuan menjadi ketiadaan.
Kaisar Wudi berteriak ngeri, mencoba berlindung di balik takhtanya. Para pengawal fana terlempar ke udara.
Qixuan tidak menghindar. Sepasang kakinya tertanam kokoh di atas lantai marmer. Di dalam tubuhnya, kelima pusaran energi menderu dengan kekuatan penuh. Seni Pernapasan Menelan Langit diaktifkan hingga mencapai batas ekstrem.
"Menelan Langit: Tameng Bumi Penyerap Bintang!"
Qixuan mendorong kedua telapak tangannya ke depan. Sebuah dinding energi berwarna hitam-kuning, perpaduan dari elemen Bumi dan Air Kegelapan (Yin), terbentuk di depannya. Dinding ini tidak dirancang untuk memantulkan serangan, melainkan bertindak seperti rawa tanpa dasar.
Saat gelombang petir biru itu menghantam dinding energi Qixuan, suara mendesis yang sangat keras terdengar. Alih-alih meledak, qi petir yang luar biasa buas itu tersedot masuk ke dalam pusaran telapak tangan Qixuan.
Rasa sakit yang maha dahsyat langsung merobek saraf-saraf tangan Qixuan. Petir dari Benua Atas memiliki kemurnian destruktif tingkat surga. Darah segar seketika menyembur dari pori-pori lengan Qixuan. Otot-ototnya mengejang. Pakaian sutra hitamnya robek di bagian lengan, memperlihatkan kulitnya yang hangus tersengat listrik.
"Tuan Muda!" jerit Mo Chen, siap melompat maju.
"Tetap di tempatmu!" raung Qixuan, suaranya bercampur dengan geraman binatang buas yang sedang menahan penderitaan.
Gongsun Ze terbelalak melihat serangannya diserap. "Ilmu hitam macam apa ini?! Tidak ada manusia yang bisa menyerap qi petir murni langsung ke dalam tubuhnya tanpa Dantian mereka meledak!"
Qixuan tersenyum buas. Darah mengalir dari sudut bibirnya, menambah kesan mengerikan pada wajahnya. "Meledak? Kau terlalu meremehkan lambungku, Utusan!"
Alih-alih membuang energi petir tersebut, Qixuan mengalirkannya langsung ke titik pusat Dantiannya—tepat di mana kelima pusaran elemen sebelumnya berputar mengelilingi ruang kosong. Elemen Petir (yang mewakili elemen Logam/Udara tingkat tinggi) adalah kepingan terakhir yang ia butuhkan.
Energi petir biru itu mengamuk di dalam perutnya, bertabrakan dengan elemen Api Inti Bumi dan Air Kegelapan. Tubuh Qixuan menjadi medan perang bagi elemen-elemen purba. Matanya memancarkan cahaya biru terang, sementara rambutnya berkibar melawan gravitasi. Tulang belulangnya berderit keras, hancur dan menyatu kembali dalam hitungan detik.
Seni Menelan Langit menuntut pengorbanan penderitaan absolut untuk memalsukan kemajuan alami. Rasa sakit ini setara dengan direbus hidup-hidup di dalam minyak mendidih sambil disambar petir berulang kali.
Qixuan memaksakan kendali mentalnya yang telah ditempa oleh lima tahun penghinaan dan kebiadaban. Ia menekan kelima pusaran itu, memaksa mereka menghancurkan batas masing-masing dan melebur menjadi satu entitas baru di bawah tekanan petir sang utusan.
*DZHUUUMMM!*
Sebuah dentuman suara yang tidak terdengar oleh telinga, melainkan langsung menghantam jiwa setiap makhluk di ibukota, menggema dari tubuh Qixuan.
Aula Istana Naga Langit seketika membeku. Angin berhenti berhembus. Waktu terasa melambat.
Dari dalam Dantian Qixuan, sebuah kristal berbentuk bulat sempurna perlahan terbentuk. Kristal itu tidak berwarna emas cerah seperti Inti Emas para kultivator ortodoks. Kristal ini berwarna hitam pekat dengan retakan-retakan energi berwarna emas dan biru yang terus berdenyut.
Itu adalah *Inti Emas Kegelapan*. Sebuah anomali kultivasi yang melanggar setiap aturan yang tertulis di kitab suci mana pun.
Aura Qixuan meledak menembus atap istana. Tekanan spiritualnya tidak lagi berada di tahap Pembentukan Fondasi. Kekuatannya meroket, melompati tahap awal Inti Emas, dan langsung stabil di ranah Inti Emas tahap Menengah! Kepadatan energinya begitu mengerikan hingga ruang di sekitarnya meliuk-liuk menolak keberadaannya.
Gongsun Ze terhuyung mundur, wajah arogannya kini dipenuhi teror yang luar biasa. "M-Membentuk Inti Emas di tengah pertarungan dengan menyerap seranganku?! Eksistensi iblis macam apa kau ini?!"
Luka-luka hangus di lengan Qixuan beregenerasi dengan kecepatan kilat, disembuhkan oleh vitalitas baru dari Inti Emas Kegelapannya. Ia menurunkan tangannya, menatap Gongsun Ze dengan pandangan merendahkan yang jauh lebih dingin dari sebelumnya.
"Terima kasih atas sumbangan petirmu, Utusan," Qixuan melangkah maju. Kini, kakinya tidak lagi menyentuh lantai. Ia mengambang di udara secara alami, menandakan penguasaan penuh atas ranah Inti Emas. "Tanpa kedermawananmu, aku mungkin butuh waktu setahun penuh untuk menerobos batas. Sebagai bentuk rasa terima kasih, aku akan mengizinkanmu mempertahankan kepalamu."
"Jangan sombong, Iblis! Aku berada di Inti Emas tahap puncak! Kau baru saja menerobos, pondasimu pasti belum stabil!" Gongsun Ze meraung putus asa, melemparkan puluhan jimat petir merah dari cincin penyimpanannya. Jimat-jimat itu membentuk jaring petir pembunuh yang melesat mengurung Qixuan.
Pemuda berjubah hitam itu bahkan tidak berkedip. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, membidik pusaran petir yang mendekat.
"Kecepatan, kepadatan, dan dominasi," Qixuan berbisik pelan. "Uang bisa membelinya. Kini, jiwaku memilikinya."
Qixuan menjentikkan jarinya.
*Teknik Inti Kegelapan: Retakan Ruang Hampa!*
Hanya dengan satu jentikan ringan, udara di depan Qixuan terbelah. Jaring petir merah yang mengerikan itu langsung tersedot ke dalam ruang hampa tak kasat mata, lenyap tanpa jejak seolah tidak pernah ada.
Sebelum Gongsun Ze sempat memproses ketiadaan serangannya, bayangan Qixuan berkedip dan menghilang dari pandangan.
Detik berikutnya, Qixuan sudah berdiri tepat di hadapan utusan Benua Atas tersebut, tangannya mencengkeram leher Gongsun Ze dengan kekuatan yang sanggup menghancurkan gunung batu. Gongsun Ze meronta, mencoba mengalirkan qi petirnya, nyatanya setiap energi yang ia keluarkan langsung diserap habis oleh Inti Emas Kegelapan Qixuan melalui kulit lehernya.
"L-Lepaskan..." Gongsun Ze tersedak, kakinya menendang-nendang udara. Kesombongan utusan langit itu runtuh menjadi keputusasaan manusia fana yang sedang dijemput ajal.
"Aku berjanji akan menyisakan kepalamu," suara Qixuan terdengar sedingin dasar neraka. "Hanya saja, aku tidak pernah berjanji tentang sisa tubuhmu."
Qixuan mengalirkan aura elemen Bumi super berat ke dalam tubuh Gongsun Ze. Tekanan gravitasi internal itu menghancurkan setiap titik meridian di tubuh sang utusan. Tulang rusuk, lengan, dan kakinya remuk redam menghasilkan suara retakan yang membuat perut siapa pun yang mendengarnya mual.
Gongsun Ze menjerit parau hingga pita suaranya robek. Kultivasi Inti Emas tahap puncaknya hancur total, mengubahnya menjadi manusia cacat abadi dalam hitungan detik.
Qixuan melepaskan cengkeramannya, membiarkan tumpukan daging dan tulang hancur itu jatuh berdebum ke lantai istana. Gongsun Ze masih hidup, napasnya tersengal-sengal dalam penderitaan yang melampaui kematian.
Qixuan menoleh ke arah Kaisar Wudi yang sudah pingsan karena syok di atas takhtanya. Lalu ia menatap keluar aula, mengarahkan pandangannya menembus awan badai menuju kereta perang perunggu beserta empat ekor Naga Petirnya yang kini gemetar ketakutan di angkasa.
"Mo Chen," panggil Qixuan, suaranya tenang kembali seperti air telaga.
"Hamba, Tuanku!" Mo Chen berlutut dengan penuh pemujaan, menyadari bahwa tuannya kini telah berevolusi menjadi eksistensi yang mampu melawan dewa.
"Kemas sisa sampah daging ini ke dalam peti kayu biasa. Serahkan pada Naga Petir itu dan perintahkan mereka terbang kembali ke Istana Pedang Guntur Suci di Benua Atas."
Qixuan berjalan kembali ke arah pintu keluar, jubahnya berkibar membelah debu pertempuran.
"Sertakan sebuah pesan bersamanya," lanjut Qixuan dengan senyum sinis yang mengiris malam. "Katakan pada mereka: Jinling tidak membayar upeti. Jika Benua Atas masih berani mengirimkan anjing-anjing mereka kemari untuk menagih pajak, maka aku, Cang Qixuan, yang akan datang sendiri ke seberang lautan untuk menagih nyawa patriark mereka beserta bunganya."
Langit Jinling perlahan kembali cerah saat awan petir itu bubar ketakutan. Di bawah sinar bulan purnama, langkah Qixuan tidak lagi dibayangi oleh batasan dunia fana. Inti Emas Kegelapannya berdenyut mantap. Dunia kultivasi yang sesungguhnya baru saja menyadari kelahiran seorang kaisar lalim yang tidak menaklukkan menggunakan pedang, melainkan meremukkan segalanya menggunakan kemewahan, arogansi, dan kekuatan absolut.
Panggung catur yang kecil telah dihancurkan. Kini, sang Tuan Muda Pemboros mengarahkan sempoa emasnya ke arah langit yang lebih tinggi, bersiap menghitung harga setiap nyawa dewa di Benua Atas.