"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 15
Pagi itu, hujan turun cukup deras membasahi kota sejak subuh. Langit terlihat kelabu.
Dinda masih duduk di dekat jendela kamar sambil memandangi tetesan air yang membasahi kaca. Secangkir teh hangat di tangannya bahkan sudah dingin sejak tadi.
Pikirannya kosong, namun dadanya terasa penuh.
Semenjak pertemuan Ervin dan Raka di butik beberapa hari lalu, hidupnya justru terasa semakin berisik. Ervin semakin sering menghubunginya, sedangkan Raka mulai beberapa kali datang ke butik hanya untuk sekadar menyapa.
Dan anehnya—Kehadiran dua pria itu sama-sama membuat Dinda lelah.
Tok. Tok.
“Din, ada tamu,” ujar sang ibu dari balik pintu kamar. Dinda menoleh bingung.
“Siapa, Buk?” tanya Dinda dengan alis berkerut.
“Katanya temen kamu.”
Wanita itu langsung menghela napas pelan. Entah kenapa, firasatnya mengatakan bahwa tamu tersebut bukan Ervin.
Dan benar saja. Begitu dirinya membuka pintu rumah, sosok Raka langsung terlihat berdiri di teras sambil memegang payung hitam.
Pria itu tersenyum kecil. “Ganggu nggak?”
Dinda sedikit terkejut. “Kamu ngapain kesini?”
“Lewat daerah sini.” Raka mengangkat paper bag di tangannya. “Sekalian bawain sarapan.” Seketika Dinda langsung merasa tidak enak hati.
“Ra, nggak usah sering-sering begini.” Namun pria itu justru terkekeh pelan.
“Tenang aja. Gue nggak punya niat aneh-aneh.” Kalimat tersebut sukses membuat Dinda salah tingkah sendiri.
“Masuk dulu,” ucapnya akhirnya. Raka mengangguk pelan sebelum mengikuti langkah wanita itu masuk ke dalam rumah.
Di ruang tamu, suasana terasa cukup canggung pada awalnya. Sang ibu sengaja meninggalkan mereka berdua setelah menyuguhkan minuman hangat.
Sedangkan Dinda duduk di sofa sambil sesekali melirik Raka yang terlihat santai membuka paper bag bawaannya.
“Gue cuma beli bubur ayam sama roti,” jelas pria itu.
“Kamu masih inget aku suka bubur ayam?” tanya Dinda dengan menatapnya sekilas. Hal tersebut membuat Raka tersenyum tipis.
“Banyak hal tentang diri lo yang masih gue inget.”
Deg.
Seketika suasana kembali terasa aneh. Dinda langsung menundukkan kepalanya pelan.
Jujur saja, perhatian kecil seperti itu terasa begitu asing baginya sekarang. Selama beberapa minggu terakhir, hidupnya dipenuhi tangisan, pertengkaran, dan rasa kecewa.
Sedangkan bersama Raka—Semuanya terasa lebih tenang.
“Kamu masih suka hujan?” tanya pria itu tiba-tiba.
“Iya.” Dinda mengangguk kecil.
“Berarti nggak berubah.”
Wanita itu tersenyum samar.
“Mungkin.”
Untuk sesaat, keduanya sama-sama terdiam sambil mendengarkan suara hujan di luar rumah. Sampai akhirnya Raka membuka suara lagi.
“Lo keliatan jauh lebih kurus sekarang.” Kalimat itu membuat Dinda terkekeh kecil.
“Stress.” Jawabnya singkat.
“Karena Ervin?” Pertanyaan tersebut sukses membuat senyum Dinda perlahan memudar.
Meski tak ingin membahasnya, nyatanya nama suaminya masih menjadi bagian paling sensitif dalam hidupnya sekarang.
“Aku nggak tahu rumah tangga bisa sesakit ini,” lirih Dinda pelan.
Raka memperhatikannya diam-diam. Tatapan pria itu terlihat lembut. “Lo masih sayang sama dia?”
Dinda langsung terdiam. Pertanyaan itu terlalu sulit dijawab. Karena jawabannya sangat jelas. Ia masih mencintai Ervin—sangat mencintainya.
Namun luka yang ditinggalkan pria itu juga terlalu besar.
“Aku benci diri sendiri karena masih peduli sama dia,” bisiknya lirih. Dan entah kenapa, jawaban tersebut justru membuat hati Raka terasa nyeri.
Pria itu sempat berpikir, setelah lima tahun berlalu mungkin dirinya sudah benar-benar melupakan Dinda.
Namun ternyata tidak.
Perasaannya masih sama.
Bahkan mungkin lebih besar dari dulu.
*****
Di sisi lain, Ervin sedang berada di kantor dengan wajah kusut sejak pagi. Pekerjaannya mulai berantakan, seolah fokusnya hilang. Bahkan beberapa kali Reno harus menegurnya karena membuat kesalahan kecil saat meeting.
“Lo kalau begini terus bisa hancur sendiri,” keluh sahabatnya sambil melempar map ke meja.
Ervin mengusap wajahnya kasar. “Aku nggak bisa mikir tenang.” Kali ini Reno percaya, bahwa sahabatnya itu berterus terang.
“Karena Dinda?”Pria itu tertawa kecil hambar.
“Karena semuanya.”
Reno langsung duduk di hadapan sahabatnya sambil menghela napas panjang. “Vin, gue mau jujur sama lo.”
“Hm?”
“Lo sekarang mulai ngerasain akibat dari semua kebodohan lo sendiri.” Kalimat itu langsung membuat Ervin terdiam. Dan ia tidak bisa membantahnya.
“Aku tahu.”
“Dinda itu terlalu baik buat disakitin.” Reno menatap tajam sahabatnya. “Makanya sekarang ketika dia mulai menjauh, lo panik.”
Ervin memejamkan matanya perlahan. Panik—tentu saja dirinya panik bukan main.
Karena baru sekarang ia sadar, kehilangan Dinda terasa jauh lebih mengerikan dibanding semua masalah yang pernah ia hadapi.
“Aku takut dia beneran ninggalin aku,” lirihnya pelan.
“Kalau lo terus nyakitin dia, cepat atau lambat itu bakal kejadian.” Dan sialnya—Ucapan Reno terasa sangat masuk akal.
*****
Sore harinya, Dinda memutuskan pergi ke minimarket dekat rumah untuk membeli beberapa kebutuhan.
Hujan sudah reda meski jalanan masih terlihat basah. Wanita itu berjalan pelan sambil membawa payung kecil di tangannya.
Namun langkahnya mendadak terhenti, ketika melihat sebuah mobil hitam yang terasa familiar terparkir di depan rumahnya.
Jantungnya langsung berdegup pelan. Itu pasti Ervin. Dan benar saja. Pria itu berdiri di dekat pagar sambil menatap lurus ke arahnya.
Wajahnya terlihat lelah. Bahkan jauh lebih kacau dibanding terakhir kali mereka bertemu.
“Kamu habis dari mana?” tanya Ervin pelan begitu Dinda mendekat.
“Minimarket.”
Tatapan pria itu turun pada kantong belanja di tangan istrinya sebelum kembali menatap wajah wanita tersebut.
“Aku nungguin kamu dari tadi.”
Dinda menghela napas kecil. “Ada apa lagi, Mas?” Pertanyaan formal itu lagi. Dan lagi-lagi hal tersebut membuat hati Ervin terasa sesak.
“Aku cuma pengen ketemu kamu.”
Hening. Angin sore berhembus pelan di antara keduanya.
“Aku capek kalau kita ketemu cuma buat sedih terus,” ujar Dinda lirih. Saat itu juga, Dinda ingin beranjak menjauh. Namun, ucapan Ervin menghentikannya.
“Aku juga capek jauh dari kamu.”
Kalimat itu terdengar sangat tulus, sangat rapuh. Namun Dinda justru menundukkan kepalanya.
Karena semakin Ervin terlihat menyesal seperti ini, dirinya semakin sulit membenci pria tersebut sepenuhnya.
“Mas pulang aja,” ucapnya berusaha mengusir secara pelan. Namun, Ervin justru melangkah mendekat.
“Din, aku nggak bisa tidur tenang sejak kamu pergi.” ungkapnya dengan nada menyedihkan.
“Aku masuk rumah selalu nyariin kamu.” Suaranya mulai serak. “Aku bangun pagi juga masih refleks nyari kamu di samping aku.”
Air mata mulai menggenang di mata pria itu. Dan lagi-lagi—Hati Dinda terasa runtuh mendengarnya.
“Aku tahu aku jahat.” Ervin tertawa kecil dengan wajah menyedihkan. “Tapi jangan hukum aku sejauh ini.”
Dinda langsung memalingkan wajahnya cepat. Karena jika terus melihat pria itu—Ia takut pertahanannya runtuh lagi.
“Mas...” suaranya bergetar pelan. “Aku belum bisa lupa.”
“Aku nggak minta kamu lupa sekarang.”
“Lalu?” tuntut Dinda merasa sakit.
Ervin menatap istrinya lekat-lekat. “Aku cuma minta jangan buka hati buat orang lain.”
Kalimat itu langsung membuat Dinda terdiam.
Dan entah kenapa—Bayangan Raka tiba-tiba muncul di pikirannya saat itu juga.