Shintia Almahira, mahasiswi cantik semester akhir, selalu berusaha membuat kakaknya, Andreas, kembali bahagia setelah ditinggal wafat tunangannya. Saat Andreas diam-diam menemukan cinta baru, Shintia ikut lega.
Namun semuanya berubah ketika wanita itu ternyata mengincar pria lain, seorang direktur hotel muda, tampan, kaya raya, dan super nekat yang justru tergila-gila pada Shintia. Dengan cara-cara kocak dan memalukan, sang direktur terus mengejar hati gadis itu.
Sementara Andreas harus menelan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Saat hidup terasa runtuh, hadir seorang gadis desa sederhana yang perlahan mengobati lukanya.
Di tengah tawa, air mata, dan kekacauan cinta, mampukah Shintia menerima pria yang selalu membuat hidupnya jungkir balik? Atau justru semua akan berakhir dengan luka baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
masih di lingkaran rahasia.
Andreas, mengernyit. "eh mbak, kita masih normal."
Raffa menahan tawa, namun akhirnya sedikit kelepasan.
“malah ketawa. ketawa lagi... Awas kamu...”
“Lucu.”
“Lucu pala lo.”
Akhirnya setelah cukup lama memilih, Raffa mengambil satu cincin emas sederhana dengan ukiran kecil elegan.
Tidak terlalu mencolok. Namun manis.
“Yang ini aja,” ucap Raffa pelan.
Andreas memperhatikan cincin itu lalu mengangkat alis.
“kamu serius? Adekku baru mau lulus kuliah, dia belum jadi apa-apa Raffa.”
Raffa tersenyum samar.
“Aku gak pernah main-main soal perasaan. Aku gak pandang status dia, soal karir nanti bisa aku usahakan untuknya.”
Kalimat itu membuat Andreas sedikit diam. Karena untuk pertama kalinya ia melihat keseriusan nyata di mata Raffa saat menyebut nama Shintia.
Setelah pembayaran selesai, Raffa menyerahkan kotak kecil itu pada Andreas.
“Tolong, nanti kasih ke dia.”
“Hah? kenapa saya?”
“Bilang aja anda iseng beliin.”
Andreas langsung protes. “Shintia bukan orang bego.”
“Tolong bantu saya."
Andreas pun akhirnya setuju, dan Raffa kembali berkata, “pokoknya Rahasiakan semuanya dulu dari Shintia mas. Nanti saya yang akan menentukan waktu tepatnya.”
Andreas mengangguk mantap. “Tenang, aku bisa jaga rahasia ini. Aku janji gak bakal bilang ke Shintia.”
...
Malam itu pun Andreas segera mengajak Shintia pulang karena sudah mulai larut. Shintia, meski sedikit ragu, menurut saja saat kakaknya menarik lengannya. Dari jauh, Raffa mengawasi langkah gadis itu. Perlahan, tubuhnya terasa lega, tapi juga sedikit kosong. Ia masih ingin berada di dekat Shintia, tapi tugas rahasia membuatnya menahan diri.
Setelah memastikan Shintia dan Andreas pergi, Raffa menoleh ke mamahnya yang masih asyik melihat lukisan bersama Aswin, sang asisten. Ia mendesah pelan.
Raffa berjalan mendekat.
“Hai Fa, kamu kenapa? Masih bosan?” tanya mamahnya sambil menatapnya penuh arti.
“Capek, Mah… tapi aku nggak enak ninggalin Mama sendiri.” Raffa mengeluh sambil menepuk bahu sendiri, wajahnya menunjukkan kebosanan yang jelas.
Mamahnya hanya tersenyum sabar, “Lihat-lihat dulu. Siapa tahu ada yang menarik.”
Raffa menatap lukisan-lukisan besar di sekeliling mereka, tapi hatinya jelas tidak fokus. Ia lebih tertarik memikirkan Shintia, bagaimana gadis itu mungkin tengah tertawa, atau berbicara dengan Andreas, tanpa mengetahui keberadaannya.
Tiba-tiba, dari kejauhan, mata Raffa menangkap sosok yang familiar. Sella.
Sella berjalan dengan anggun, memakai blazer hitam sederhana dan rok pensil krem, wajahnya terlihat cerah, senyum sopan mengembang saat mendekati mamah Raffa. Tanpa ragu, ia menjabat tangan wanita itu.
Mamah Raffa tampak berseri-seri. “Sella, senang sekali melihatmu. bisa kebetulan begini ya?”
“Iya, Tante. gak nyangka. Pameran nya bagus-bagus Tante,” jawab Sella sopan. Senyumnya tidak dipaksakan, dan cara bicaranya penuh percaya diri.
Raffa menatap kedua wanita itu dari samping, hatinya mendesah. Ia tahu, mamahnya memang ingin ia bersama Sella, cantik, cerdas, dan profesional. Manager hotel milik keluarga Raffa, juga wanita yang dikenal sangat baik dan ambisius. Namun, perasaannya belum sehangat untuk Sella.
“Fa, temani Sella, ya,” kata mamahnya sambil menepuk bahu Raffa ringan. “Mamah masih ingin melihat lukisan lebih lama sama Aswin.”
Raffa menghela napas panjang. “Harus, Mah?”
“Ya, harus. Ini kesempatan bagus buatmu juga. Jangan malas-malasan.”
Dengan setengah terpaksa, Raffa akhirnya mengangguk dan berjalan mendampingi Sella. Mereka mulai bergerak di antara lukisan-lukisan, membicarakan corak warna dan gaya pelukisannya. Raffa tetap kaku pada awalnya, tapi Sella dengan alami membuat suasana sedikit lebih ringan.
Namun, dari kejauhan, mata seorang laki-laki lain memperhatikan mereka. Pria itu tampak diam-diam mengambil beberapa foto, wajahnya jelas menunjukkan perasaan cemburu. Ia adalah pengagum Sella, tapi bukan Andreas. Pandangannya tetap tertuju pada Sella yang berjalan santai di samping Raffa.
Di tengah perjalanan mereka di mall, ponsel Sella tiba-tiba berdering. Lampu notifikasi muncul di layar, menandakan panggilan masuk dari Andreas, kakak Shintia.
Sella tersenyum tipis, kemudian menolak panggilan itu. Ia membuka pesan singkat, menulis, “Maaf sayang, gak bisa angkat, nanti dulu. Aku lagi kumpul sama teman, gak enak kalau telponan sekarang.”
Raffa menatapnya penasaran. “Siapa yang nelpon?”
Sella tersenyum santai. “Sodaraku. Biasa suka iseng aja.”
Raffa hanya mengangguk, meski hatinya sedikit geli dengan sikap Sella yang tampak santai tapi tetap sopan.
***
Sementara itu, di perjalanan...
Andreas mengemudi, di sampingnya Shintia duduk nampak tenang.
Namun' sekilas menoleh melihat kakaknya yang sedikit aneh, Shintia penasaran. “Kenapa kak?”
Andreas tersenyum tipis tapi matanya tetap serius menatap jalan. “Biasa, Shintia. Sella… aku cuma agak kurang suka dia sering nongkrong sama teman-temannya. Tapi ya sudahlah, nggak apa-apa. Aku cuma ingin dia hati-hati.”
Shintia mengangguk pelan, memahami perasaan kakaknya. “Sudah, kak. Mungkin kak Sella memang butuh hiburan. Toh belum menikah sama kakak. Nanti lebih di bimbing lagi,"
Andreas tersenyum lega. Ia menoleh sekilas ke arah Shintia, lalu teringat pada cincin yang dipegangnya. Sesuai permintaan Raffa, ia akan memberikan cincin itu kepada Shintia seolah-olah pemberian dari dirinya sendiri, tanpa menyebut nama Raffa.
Shintia yang duduk di sampingnya tetap tenang, tidak menaruh curiga. Andreas merencanakan agar momen ini terasa alami. Ia menunggu waktu yang tepat, saat Shintia merasa senang atau saat ada momen spesial, supaya cincin itu bisa diterima dengan hati riang.
***
Sementara itu, di mall, Raffa berjalan di samping Sella. Mereka berbicara tentang lukisan, gaya, dan warna, tapi Raffa tetap menjaga hatinya. Ia merasa Sella tak seperti Shintia, gadis yang membuat hatinya berdebar tanpa alasan logis.
“Fa, kamu kenapa diam saja? Biasanya kamu komentar tentang warna dan nuansa, kan?” Sella menoleh sambil tersenyum, mencoba menghidupkan suasana.
Raffa menoleh sebentar, tersenyum tipis. “Aku… bosan. Tapi lukisan-lukisan ini menarik, sih.”
Sella terkekeh kecil. “Kalau begitu, aku senang kamu tetap menemani. Aku suka kalau kamu jujur seperti ini.”
Langkah mereka terus berjalan, tanpa sadar pandangan mereka tertangkap oleh mata sang pengagum diam-diam dari jauh. Kamera ponselnya bergetar setiap kali Sella tersenyum atau menoleh ke Raffa. Pria itu merasa iri tapi belum saatnya mendekat.
***
Di sisi lain, Andreas menoleh sekilas pada adiknya yang duduk tenang mendengarkan musik. Wajahnya tak lagi sesedih beberapa hari lalu, Andreas sedikit merasa kasihan, sebab ia tahu' Shintia mengira mungkin Raffa sudah tiada, Dan Shintia hanya tahu' bahwa Raffa adalah Asisten pribadi direktur utama Hotel Permata.
Namun' pada kenyataannya Raffa adalah sang direktur, dan dia masih hidup.
***
Di mall Raffa dan Sella berkeliling lebih jauh. Sesekali mereka berhenti di etalase perhiasan lain, atau mengomentari lukisan yang tampak unik.
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 💪🥰🤗
seandainya Shintia tahu Raffa masih hidup...
duhhh Shintia jangan khawatir yg kecelakaan itu bukan Raffa 🥲🥲
jadi teringat Raffa dan Sutra yaaa...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🥰🤗
Raffa jahil banget sama Shintia 😄😄