Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.
Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.
Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 — Pria Bermata Tajam
Keesokan paginya SMA Arkana kembali terlihat normal.
Terlalu normal.
Siswa-siswa berjalan di koridor sambil bercanda seperti tidak ada apa pun yang terjadi.
Beberapa guru sibuk membawa tumpukan buku.
Dan suara bel sekolah terdengar biasa saja.
Namun bagi Naresha…
Semuanya terasa berbeda sekarang.
Karena ia tahu sesuatu yang mengerikan bersembunyi di balik sekolah itu.
Dan mungkin…
Seorang pembunuh masih berada di sana.
Naresha berjalan pelan menuju kelas sambil memikirkan ucapan Evelyn semalam.
“Tolong temukan dia.”
Dia siapa?
Pembunuhnya?
Atau seseorang lain?
“Pusing banget,” gumam Naresha pelan.
“Ngomong sendiri pagi-pagi tanda stres.”
Keinan tiba-tiba muncul di sampingnya sambil membawa minuman dingin.
Naresha hampir jantungan.
“Lo bisa ga sih jangan muncul tiba-tiba?”
Keinan malah tertawa.
“Lo yang ngelamun terus.”
Mereka masuk kelas bersama.
Namun sebelum Naresha duduk, wali kelas mereka masuk lebih dulu bersama seorang pria asing.
Suasana kelas langsung hening.
Pria itu tinggi dan memakai kemeja hitam rapi. Wajahnya terlihat muda untuk ukuran guru, mungkin sekitar akhir dua puluhan.
Rambutnya sedikit berantakan.
Tatapannya tajam.
Dan entah kenapa auranya terasa… dingin.
“Anak-anak,” ujar wali kelas, “mulai hari ini Pak Damar bakal menggantikan guru BK sementara.”
Pak Damar melangkah maju sedikit.
Tatapannya menyapu seluruh kelas perlahan.
Dan saat matanya bertemu dengan Naresha…
Cowok— atau lebih tepatnya pria itu— berhenti beberapa detik lebih lama.
Deg.
Entah kenapa Naresha merasa tidak nyaman.
“Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik,” ucap Pak Damar tenang.
Suaranya rendah dan lembut.
Tapi justru itu yang membuat bulu kuduk Naresha meremang.
Keinan langsung berbisik heboh.
“Gila ganteng banget.”
Naresha tetap diam.
Tatapannya masih tertuju pada Pak Damar.
Dan anehnya…
Ia merasa pernah melihat mata setajam itu sebelumnya.
•
Jam istirahat tiba.
Kelas mulai ramai seperti biasa.
Namun Naresha memilih keluar menuju balkon koridor untuk mencari udara segar.
Pikirannya terlalu penuh.
Tentang Evelyn.
Tentang Arven.
Dan tentang pembunuh yang mungkin masih bebas.
Saat sedang melamun, seseorang tiba-tiba berdiri di sampingnya.
Arven.
“Lo suka ngilang sendiri ya.”
Naresha mendengus kecil.
“Lo suka muncul tiba-tiba ya.”
Arven terkekeh pelan.
Beberapa detik mereka diam sambil melihat halaman sekolah di bawah.
Lalu Naresha akhirnya bicara.
“Menurut lo… siapa yang ngebunuh Evelyn?”
“Maksud lo siapa pembunuhnya?”
Naresha mengangguk.
Ekspresi Arven langsung berubah serius.
“Gue ga tahu.”
“Tapi lo ada curiga?”
Sunyi.
Arven tampak berpikir beberapa saat sebelum menjawab pelan,
“Dulu sebelum meninggal, Evelyn sempat berubah.”
“Berubah gimana?”
“Dia takut sama seseorang.”
Deg.
Naresha langsung menoleh.
“Siapa?”
“Dia ga pernah bilang.”
Naresha menggigit bibir bawahnya pelan.
Kalau begitu berarti Evelyn memang dibunuh.
Dan lebih parahnya lagi…
Pembunuh itu mungkin seseorang yang dikenal di sekolah.
Tiba-tiba langkah kaki terdengar mendekat.
Pak Damar muncul di ujung koridor sambil membawa beberapa map.
Tatapannya langsung mengarah ke Arven dan Naresha.
“Arven.”
“Pak.”
“Kepala sekolah nyari kamu.”
Arven mengangguk kecil.
“Oke.”
Namun sebelum pergi, Pak Damar melirik Naresha sebentar.
Tatapan tajam itu kembali membuat Naresha tidak nyaman.
“Kamu anak baru ya?”
“Iya.”
Pak Damar tersenyum tipis.
“Tolong jangan keluyuran terlalu sore di sekolah ini.”
Deg.
Naresha langsung membeku.
Ucapan itu terdengar biasa.
Tapi cara Pak Damar mengatakannya terasa aneh.
Seolah ia tahu sesuatu.
“Baik, Pak,” jawab Naresha pelan.
Pak Damar mengangguk lalu pergi bersama Arven.
Namun sebelum benar-benar menghilang di tikungan koridor…
Arven sempat menoleh ke belakang.
Tatapannya terlihat khawatir.
•
Sore harinya hujan kembali turun.
Naresha sedang merapikan buku di kelas ketika ia sadar sesuatu.
Buku hitamnya hilang.
“Hah?”
Ia langsung membongkar tasnya cepat.
Tidak ada.
Padahal tadi jelas ia simpan di dalam tas.
“Itu nyari ini?”
Suara seseorang terdengar dari depan pintu kelas.
Naresha langsung menoleh.
Pak Damar berdiri di sana sambil memegang buku hitam miliknya.
Deg.
“Itu punya saya,” ujar Naresha cepat.
Pak Damar masuk perlahan ke dalam kelas.
“Aku nemu di koridor.”
Naresha buru-buru mengambil buku itu.
Namun saat tangannya menyentuh buku tersebut…
Pak Damar tiba-tiba berkata pelan,
“Kamu mulai melihat mereka ya?”
Tubuh Naresha langsung membeku.
Jantungnya berdetak keras.
“Apa?”
Pak Damar menatapnya lurus.
Tatapannya tajam.
Menusuk.
“Wajah kamu sama seperti Evelyn dulu.”
Deg.
Darah Naresha langsung terasa dingin.
“Bapak kenal Evelyn?” bisiknya pelan.
Pak Damar tersenyum tipis.
Namun entah kenapa…
Senyum itu justru terasa menyeramkan.
“Sangat kenal.”