Safa adalah gadis cantik nan penurut yang tampaknya selalu dimusuhi takdir. Sejak kecil, ia tak pernah mencecap manisnya kasih sayang keluarga, bahkan dari ibunya sendiri. Kesalahan di masa lalu yang bukan kehendaknya membuat Safa dilabeli sebagai "anak pembawa sial" dan dibenci seumur hidup. Puncaknya, ia dipaksa menikah dengan seorang kakek demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut.
Namun, kenyataan tak seburuk dugaannya. Sang kakek ternyata hanya perantara, ia mencarikan istri untuk cucu laki-lakinya yang bertemperamen kaku, cuek, dan dingin. Di rumah barunya, Safa yang terbiasa disisihkan justru mulai merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sang suami yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sayangnya, benteng es di hati suaminya sendiri tetap tak tergoyahkan.
Mampukah Safa memenangkan hati pria yang menikahinya hanya karena amanah sang kakek? Ataukah pernikahan "titipan" ini akan hancur dan berakhir dengan perceraian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Takdir yang Rumit
Suasana terasa canggung saat mereka bertiga berhadapan. Ada rasa tak nyaman dan pengap yang menyelimuti udara.
Hari yang seharusnya berjalan lancar kini justru semakin runyam. Kenapa? Kenapa takdir harus mempertemukannya dengan mereka di waktu yang bersamaan?
"Iya, Mas. Aku tidak mau dituduh sebagai pelakor lagi oleh Mbak Riana. Jadi, tolong jelaskan padanya kalau kita sama sekali tidak ada hubungan apa-apa," tegas Safa. Napasnya terengah, seolah menahan gejolak emosi yang sedari tadi dipendamnya.
Safa segera melangkah menjauh, ia lebih memilih untuk pergi.
Dimas hendak mengejarnya, namun Riana menghentikannya. "Mau mengejarnya? Tidak tahu malu?"
Dimas mendengus kesal. "Malu? Kenapa aku harus malu? Kita sudah lama putus, Riana."
"Iya, aku tahu. Tapi dia adikku, Dimas! Apa kau tidak punya sedikit pun rasa bersalah karena menyukai adikku sendiri, hah?"
Dimas menyentak kasar tangan Riana yang berusaha meraihnya. "Cukup, Riana. Kita sudah lama berakhir. Sekarang aku mau mengejar siapa pun, itu bukan urusanmu lagi."
Dimas berjalan meninggalkan Riana yang masih tampak berang. Sementara itu, di ruang jurnalis, Safa mulai membagikan lembaran berkas kepada rekan-rekannya.
Sebisa mungkin ia menyembunyikan wajah masamnya. Namun, saat Dimas masuk ke ruangan, Safa tak bisa lagi menahan ekspresi wajahnya. Ia buru-buru menyelesaikan tugasnya dan melenggang pergi. Dimas hanya bisa menatap punggung Safa yang melewatinya begitu saja.
Safa kembali ke meja tugasnya. Namun, baru saja ia tiba, sang kakak sudah berdiri di ambang pintu, menatapnya intens.
"Hei, kau!" panggil Riana dengan wajah datar.
Safa menoleh dan menghampiri. "Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"
"Dengar! Karena sebentar lagi masuk waktu makan siang dan bagian editing harus menyelesaikan tender, kau sekarang belikan kami 20 gelas kopi latte dan roti sandwich. Untukku, isiannya berbeda, jangan pakai lada dan tomat. Lattenya juga jangan kemanisan. Paham?" ungkap Riana mendetail.
Semua pesanan sudah dicatat, namun Safa masih ragu untuk berangkat. "Tapi ... dua puluh gelas kopi itu banyak. Bagaimana cara saya membawanya sendirian, Bu?"
Riana hanya menyunggingkan senyum sinis. "Memangnya kau anak TK yang masih harus bertanya? Kau pasti punya akal, kan? Kecuali kalau kau memang bodoh."
Deg!
Dada Safa terasa sesak seolah ditimpa beban berat. Ia tidak menyangka kakaknya bisa begitu tak berperasaan. Dengan kepala tertunduk, Safa melangkah pergi. Ia belum tahu bagaimana caranya, namun ia akan memikirkannya nanti.
Kejadian itu menarik perhatian beberapa staf. Setelah Riana kembali masuk ke ruangannya, mereka mulai berbisik-bisik.
"Lagi-lagi dia berulah. Padahal Safa cuma anak magang, apa perlu sampai seperti itu?" ucap seorang staf wanita yang tampak tidak suka.
Yang lain mendekat sambil merapatkan kursi. "Aku rasa itu berlebihan. Harusnya pemagang itu dibimbing, bukannya disuruh-suruh seperti OB."
"Sudah, sudah, kembali kerja. Jangan sampai kita kena semprot juga," timpal yang lain.
Saat berjalan menuju lift, Fajrin berlari mengejarnya. "Safa, tunggu!"
Safa menoleh. "Fajrin?"
Fajrin mendekat dengan peluh yang membasahi dahi. "Aku temani, ya?"
Safa terdiam sesaat lalu menggeleng. "Tidak usah. Nanti Bu Riana malah marah kalau melihatmu membantuku."
"Tidak apa-apa. Lagipula tugasku sudah selesai, jadi aku senggang."
"Baiklah," sahut Safa akhirnya.
Kafe yang dimaksud Riana tidak terlalu jauh dari area kantor. Karena pesanan cukup banyak dan membutuhkan waktu lama, mereka duduk di sudut kafe sembari menunggu.
"Entah ini hanya perasaanku saja, tapi ... kenapa aku merasa Bu Riana bersikap sangat sentimen padamu?" tanya Fajrin membuka obrolan.
Safa hanya melirik sekilas lalu kembali menyesap minumannya. "Entahlah, aku juga gak tahu."
"Sabarlah, Safa. Ini hanya untuk beberapa bulan. Aku yakin pasti akan ada kebahagiaan setelah ini," tutur Fajrin dengan senyum tulus.
Kedua mata Safa terbuka lebar. Kata-kata itu mengingatkannya pada seseorang yang begitu dekat. Apakah dia orangnya? batin Safa.
"Pesanan atas nama Safa!"
Panggilan kasir membuyarkan lamunannya. Setelah membayar, Safa dan Fajrin membawa pesanan tersebut kembali ke kantor.
Matahari siang itu terasa sangat terik. Safa terlihat kesulitan karena kedua tangannya penuh dengan kantong bawaan. Fajrin berjalan di sampingnya, memastikan Safa tetap aman.
Begitu tiba di ruangan, Safa mulai membagikan pesanan. Saat ia tengah membawa baki berisi beberapa gelas kopi, Riana yang baru keluar dari ruangan sengaja menjulurkan kakinya.
Bruuk!
"Aaakh ... panas!" rintih Safa. Tangan dan roknya basah kuyup tersiram kopi panas.
Semua orang terlonjak kaget. Fajrin segera berlari menghampiri dan berjongkok di depan Safa. "Astagfirullah! Safa, kau tidak apa-apa?"
"Alah, tidak usah lebay! Kau saja yang kerjanya tidak becus!" cecar Riana tanpa rasa bersalah.
Safa mengusap kulitnya yang mulai memerah. Saat Fajrin hendak membantu Safa berdiri, sebuah tangan lain yang lebih kuat mendahuluinya. Tangan itu mencengkeram lengan Fajrin, menghentikannya.
"Hentikan. Ada apa ini?"
Suasana seketika hening. Pemilik perusahaan yang baru saja menjabat telah berdiri di sana.
Suara ini ... Safa perlahan mendongak. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
Arlan. Ya, itu Arlan, suaminya.
Arlan dengan wajah masam menepis tangan Fajrin.
"Ada apa ini? Bisa jelaskan?" tanya Egar, asisten Arlan.
"Maaf, Pak. Tadi teman saya tidak sengaja menumpahkan kopi, jadi saya ingin membantu," jelas Fajrin ragu.
Arlan melirik Egar. Memberi kode yang langsung dipahami sang asisten. Egar segera meminta seorang staf wanita untuk membantu Safa berdiri.
Arlan menatap dingin ke arah staf di ruangan itu. "Apa kalian hanya akan diam menonton saat ada orang kesusahan? Dia seorang wanita, kenapa kalian membiarkannya telantar sampai harus ditolong oleh laki-laki yang bukan muhrimnya?"
Suasana seketika mencekam. Hawa dingin yang dikeluarkan Arlan membuat semua orang menunduk.
"Mereka anak magang, bukan?" tanya Arlan pada Riana.
Riana mengangguk kaku, tak berani menatap mata bosnya.
"Kenapa anak magang harus membeli keperluan pribadi kalian? Bukannya zaman sekarang sudah ada layanan pesan antar? Setiap kafe punya kurir, kenapa harus menyuruh orang yang sedang belajar di sini?"
Arlan melipat tangan di dada dengan penuh wibawa. "Jangan ciptakan lingkungan kerja yang diskriminatif. Mereka di sini untuk dibimbing, bukan dijadikan pembantu."
Ini kali pertama Arlan bicara sepanjang itu di depan umum. Safa sendiri merasa pembelaan itu hampir terasa "berlebihan" untuk ukuran seorang bos kepada pemagang.
Egar hanya bisa mengangga di sampingnya. Bos sekaligus teman yang begitu dingin dan kaku bisa berbicara banyak seperti ini di hari pertama ia menjabat dengan resmi.
"Ini sungguh kemajuan," gumam Egar girang.
Arlan sekali lagi mengedarkan pandangan tajam. "Ini terakhir kali aku melihat hal seperti ini. Jadi jika ada hal seperti ini lagi, silahkan angkat kaki."
Ketegangan sedikit mereda saat Arlan berbalik pergi, namun sebelum itu ia memberi perintah mutlak, "Kau, ikut ke ruangan saya," tunjuknya pada Safa.
Riana hanya bisa mengepalkan tangan dengan geram melihat adiknya dibawa pergi oleh sang atasan.