Zayyan Mahendra membawa Lolly ke Swiss untuk merayakan kelulusannya sekaligus melamar wanita itu. Namun di saat Zayyan berharap cinta mereka berakhir bahagia, Lolly justru memilih pria lain.
Dengan hati hancur, Zayyan memutuskan pulang ke Indonesia. Tak disangka, di bandara ia bertemu kembali dengan teman lamanya dan membuat keputusan gila. Dia menikah Alin, teman lamanya itu.
Pernikahan tanpa cinta itu awalnya hanya pelarian. Tapi siapa sangka, takdir justru mempertemukan mereka pada cinta yang sebenarnya. Namun, keberadaan Lolly selalu mengganggu rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Suasana aula utama perusahaan Mahendra siang itu terlihat jauh lebih ramai dari biasanya. Seluruh karyawan dari berbagai divisi berkumpul memenuhi ruangan besar bernuansa mewah tersebut. Beberapa orang duduk dengan rapi di kursi yang telah disusun berbaris, sementara sebagian lainnya berdiri di sisi belakang aula sambil berbisik pelan satu sama lain.
Di bagian depan ruangan, terpampang layar besar dengan logo perusahaan Mahendra Group yang berdiri megah. Lampu-lampu kristal di langit-langit aula memantulkan cahaya hangat yang membuat suasana terasa elegan sekaligus menegangkan.
Hari itu bukan sekadar rapat biasa. Hari itu adalah hari pengumuman besar.
Pintu aula terbuka perlahan. Semua kepala spontan menoleh ke arah pintu masuk ketika Adam Mahendra berjalan masuk dengan langkah tegas dan berwibawa. Tatapannya tenang seperti biasanya, namun aura seorang pemimpin begitu terasa dari setiap langkahnya.
Di samping Adam, berjalan seorang laki-laki muda dengan tinggi menjulang dan wajah tampan yang terlihat dingin. Jas hitam yang melekat di tubuhnya membuat penampilannya semakin berkarisma.
Beberapa karyawan langsung saling bertukar pandang.
"Itu putra tuan Adam ya?"
"Gila...ternyata benar-benar ganteng."
"Kudengar dia baru menikah."
"Oh ya.. Beruntung sekali yang menjadi istrinya. Sudah tampan, kaya raya juga." Bisik-bisik kecil mulai terdengar memenuhi sudut aula.
Sementara itu, Zayyan tetap berjalan tenang seolah tidak peduli dengan tatapan puluhan pasang mata yang kini tertuju padanya. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana sambil mengikuti langkah sang ayah menuju panggung utama.
Adam berhenti tepat di depan podium. Sedangkan Zayyan berdiri di sampingnya dengan posisi tegak dan tenang.
Adam menghela napas pelan sebelum akhirnya mulai berbicara."Selamat siang semuanya."
"Selamat siang tuan" jawab seluruh karyawan hampir bersamaan.
Adam mengangguk kecil.
"Saya mengumpulkan kalian semua hari ini karena ada hal penting yang ingin saya sampaikan."
Suasana aula mendadak hening. Tak ada lagi suara bisikan. Semua fokus menatap ke arah pria paruh baya itu.
Adam melirik sekilas ke arah Zayyan sebelum kembali menatap seluruh karyawannya.
"Selama puluhan tahun saya membangun Mahendra Group dari nol. Saya melewati banyak kegagalan, pengkhianatan, dan masa-masa sulit demi membuat perusahaan ini berdiri sebesar sekarang."
Nada bicara Adam terdengar tegas namun penuh makna."Dan tentu saja... saya tidak bisa memimpin selamanya."
Beberapa orang mulai menatap satu sama lain, seolah sudah bisa menebak arah pembicaraan itu.
Adam melanjutkan ucapannya."Karena itu, mulai hari ini saya akan memperkenalkan seseorang yang nantinya akan mengambil alih posisi saya sebagai CEO Mahendra Group."
Deg...
Suasana aula terasa semakin tegang.
Beberapa direktur senior bahkan mulai memperhatikan Zayyan dengan lebih serius.
Adam tersenyum tipis.
"Dia adalah putra saya sendiri."
Adam menepuk pelan bahu Zayyan.
"Zayyan Mahendra."
Tepuk tangan langsung menggema memenuhi aula.
Namun di tengah riuh tepuk tangan itu, banyak pasang mata yang diam-diam menilai sosok laki-laki muda tersebut. Ada yang kagum, ada yang penasaran. Dan tentu saja... ada juga yang meragukan.Bagaimanapun juga, usia Zayyan masih sangat muda. Sebagian karyawan bertanya-tanya dalam hati, apakah laki-laki itu benar-benar mampu memimpin perusahaan sebesar Mahendra Group?
Zayyan melangkah maju mendekati podium. Tatapannya menyapu seluruh isi aula dengan tenang. Justru sorot matanya terlihat tajam dan sulit ditebak. Dia menerima microphone yang diberikan Adam, lalu berdiri tegak di depan semua orang.
"Perkenalkan."
Suara Zayyan terdengar rendah dan dingin namun begitu tegas.
"Saya Zayyan Mahendra."
Hening. Entah kenapa aura laki-laki itu membuat seluruh ruangan langsung diam.
"Saya bukan tipe orang yang suka banyak bicara."
Kalimat itu langsung membuat beberapa orang tersenyum kecil."Tapi saya harap kedepannya kita bisa bekerja sama dengan baik." kata-katanya sangat singkat dan tidak bertele-tele. Benar-benar mencerminkan kepribadian Zayyan.
Salah satu direktur senior yang duduk di barisan depan tampak mengangkat tangan."Pak Zayyan."
Zayyan menoleh. "Saya Bastian, direktur operasional."
Zayyan mengangguk kecil.
Bastian tersenyum tipis namun sorot matanya terlihat mengintimidasi."Terus terang saja, memimpin perusahaan sebesar Mahendra Group bukan hal mudah. Apa Anda yakin bisa memimpin kami semua?"
Beberapa orang langsung menahan napas. Pertanyaan itu terdengar seperti tantangan terbuka.
Adam yang berdiri di samping hanya diam sambil memperhatikan putranya.
Sedangkan Zayyan terlihat santai. Dia menatap Bastian beberapa detik sebelum akhirnya menjawab."Kalau saya tidak yakin, saya tidak akan berdiri di sini." Jawaban singkat itu membuat suasana kembali hening.
Bastian sedikit terdiam.
Namun Zayyan belum selesai. "Saya tidak meminta semua orang langsung percaya pada kemampuan saya."
Tatapan matanya berubah tajam. "Tapi saya akan memastikan kalian melihat sendiri hasil kerja saya."
Deg...
Beberapa karyawan langsung menelan ludah. Aura Zayyan benar-benar mirip Adam ketika muda. Sangat tegas, dingin, dan sulit ditaklukkan.
Adam tersenyum tipis sambil menepuk bahu putranya dengan bangga. pria itu terlihat benar-benar lega. Karena akhirnya... Orang yang selama ini dia persiapkan telah berdiri di tempat yang seharusnya.
Di sisi lain aula, beberapa karyawan perempuan terlihat mulai salah fokus memperhatikan wajah tampan Zayyan.
"Astaga...dingin banget auranya."
"Tapi keren parah."
"Pantes aja jadi penerus Pak Adam."
Sementara itu Zayyan sama sekali tidak mempedulikan bisikan tersebut. Fokusnya hanya satu. Yaitu perusahaan Mahendra Group.
Perusahaan itu kini bukan lagi sekadar milik ayahnya. Tapi juga menjadi tanggung jawabnya.
Dan Zayyan berjanji dalam hati...Dia akan membawa Mahendra Group menjadi jauh lebih besar dari sebelumnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah acara perkenalan selesai, suasana aula perlahan mulai mencair. Para karyawan kembali berbicara satu sama lain, meskipun topik pembicaraan mereka masih tetap sama.
Nama Zayyan mendadak menjadi pusat perhatian di seluruh perusahaan. Beberapa karyawan senior terlihat berdiskusi pelan sambil sesekali melirik ke arah panggung. Sedangkan para staf muda tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran mereka terhadap sosok CEO baru tersebut.
Di sisi lain, Zayyan masih berdiri di dekat Adam sambil mendengarkan beberapa petinggi perusahaan yang mulai memperkenalkan diri satu per satu.
"Selamat bergabung, tuan Zayyan."
"Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik."
"Kalau ada yang perlu dibantu, jangan sungkan."
Zayyan hanya mengangguk singkat sambil sesekali menjawab seperlunya.
"Saya harap begitu."
"Terima kasih."
Sikapnya tetap dingin dan formal. Namun anehnya, justru itu yang membuat auranya semakin kuat di mata banyak orang.
Adam memperhatikan putranya diam-diam. Sebagai seorang ayah, dia tahu Zayyan memang tidak pandai bersikap hangat kepada orang lain. Sejak kecil putranya lebih banyak diam dan memendam semuanya sendiri.
Tetapi Adam juga tahu satu hal. Kalau Zayyan serius terhadap sesuatu, dia akan melakukannya dengan sempurna.
Tak lama kemudian, Adam menepuk pundak Zayyan pelan. "Ikut daddy."
Zayyan menoleh singkat lalu mengangguk. Mereka berjalan keluar aula bersama beberapa direktur yang mengikuti dari belakang. Langkah mereka berhenti di depan lift khusus petinggi perusahaan.
Ting
Pintu lift terbuka.
Semua masuk ke dalam dengan suasana yang cukup hening. Salah satu direktur wanita bernama Helena diam-diam memperhatikan Zayyan dari samping. Dia termasuk orang yang cukup lama bekerja bersama Adam.
Dan jujur saja...Dia sedikit terkejut. Karena aura Zayyan benar-benar mengingatkannya pada Adam saat muda dulu. Dingin, tenang, dan sulit ditebak. Bedanya, Zayyan terlihat lebih sulit didekati.
Ting...
Pintu lift terbuka di lantai paling atas.
Lantai khusus CEO.
Beberapa sekretaris yang berada di sana langsung berdiri ketika melihat Adam datang.
"Selamat siang tuan Adam."
Adam mengangguk kecil.
Namun perhatian mereka langsung tertuju pada laki-laki muda di sampingnya. Jujur saja, sebelumnya mereka hanya mendengar nama Zayyan tanpa pernah benar-benar melihat sosoknya secara langsung. Dan sekarang setelah melihatnya...Mereka langsung paham kenapa banyak orang membicarakannya.
Adam berjalan menuju sebuah ruangan besar di ujung koridor.
Ceklek...
Pintu ruangan terbuka. Interiornya mewah namun elegan, didominasi warna hitam dan coklat gelap. Jendela besar di belakang meja memperlihatkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian.
Adam masuk lebih dulu lalu berdiri di depan meja kerjanya. Sedangkan Zayyan berdiri memperhatikan seluruh ruangan dengan tenang.
"Duduk."
Zayyan menarik kursi di depan meja kerja Adam lalu duduk santai.
Adam ikut duduk sambil menghela napas panjang. "Apa pendapatmu?"
Zayyan menyandarkan tubuhnya. "Terlalu banyak orang yang bicara."
Adam terkekeh pelan mendengar jawaban putranya."Kamu memang tidak berubah."
Zayyan diam.
Adam menatap putranya beberapa saat sebelum akhirnya berbicara dengan nada lebih serius.
"Mulai minggu depan kamu akan mulai menangani proyek utama perusahaan."
Tatapan Zayyan langsung fokus."Proyek mana?"
"Kerja sama Mahendra Group dengan perusahaan internasional di Singapura."
Zayyan sedikit mengangguk. Dia tahu proyek itu.
Nilainya sangat besar dan menjadi salah satu proyek terpenting perusahaan tahun ini.
Adam melanjutkan."Semua direktur akan melihat bagaimana caramu bekerja lewat proyek itu."
"Termasuk orang-orang yang meragukanmu."
Tatapan Zayyan berubah tajam. Bukannya tertekan, dia justru terlihat tertarik.
"Bagus."
Adam menaikkan sebelah alisnya. "Kamu tidak gugup?"
"Gugup tidak akan menyelesaikan masalah." Jawaban datar itu membuat Adam tersenyum kecil lagi.
Benar-benar khas Zayyan. Tak lama kemudian pintu ruangan diketuk.
Tok tok tok.
"Masuk."
Seorang wanita muda masuk sambil membawa beberapa dokumen di tangannya. Dia mengenakan pakaian formal kantor dengan rambut yang diikat rapi. Wajahnya cukup cantik dan terlihat profesional.
"Maaf mengganggu tuan Adam."
Namun kalimat wanita itu terhenti ketika matanya bertemu dengan Zayyan. Dia terlihat sedikit gugup.
Adam menyadarinya lalu berkata santai. "Kenalkan, ini putra saya, Zayyan Mahendra CEO baru di sini"
Wanita itu langsung menundukkan kepala sopan.
"Saya Nara, sekretaris pribadi tuan Adam."
Zayyan hanya mengangguk kecil.
Nara berusaha tetap profesional meskipun diam-diam jantungnya berdetak lebih cepat karena tatapan dingin laki-laki itu.
Adam menerima dokumen dari Nara lalu membacanya sekilas. "Baik, nanti saya akan pelajari."
Nara mengangguk. Namun sebelum pergi, tanpa sadar dia kembali melirik Zayyan sekilas. Dan itu tidak luput dari pengamatan Adam.
Setelah Nara keluar, Adam tertawa pelan. "Sepertinya kamu langsung menarik perhatian. Tapi ingat, kamu sudah punya Alin di rumah"
Zayyan malah terlihat malas menanggapi.
"Aku tidak sepertimu, dad." ucap Zayyan yang sudah mengetahui cerita masa lalu daddy dan mommy nya.
Adam berdecak kesal.
Di luar ruangan CEO, berita tentang kedatangan Zayyan mulai menyebar cepat ke seluruh gedung Mahendra Group. Semua orang tahu...Kehadiran Zayyan Mahendra akan membawa perubahan besar di perusahaan itu.
lanjut Thor 💪💪💪
lanjut Thor 🔥🔥🔥