NovelToon NovelToon
Kisah Sang Anak Mafia

Kisah Sang Anak Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Reza Haris

Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.

Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.

Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.

Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.

Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 Rahasia Kematian Ibunya

Malam itu Arda tidak bisa tidur.

Sudah lewat pukul dua dini hari, tetapi matanya masih terbuka menatap langit-langit kamar.

Bayangan demi bayangan terus berputar di dalam kepalanya.

Pelabuhan Timur.

Dua belas korban.

Simbol senyum berdarah.

Dan satu nama yang kini terus menghantui pikirannya.

Silas Veyron.

Setiap kali Arda mencoba memejamkan mata, ia selalu teringat foto-foto yang diperlihatkan oleh Kael.

Mayat.

Darah.

Pembantaian.

Senyuman mengerikan yang selalu muncul di setiap tempat kejadian.

Namun bukan hanya Silas yang membuatnya terjaga.

Ada sesuatu yang lain yg membuat Arda terjaga.

Sesuatu yang telah mengganggu pikirannya sejak beberapa hari terakhir.

Ibunya.

Isabella Valdarez.

Semakin banyak rahasia yang terungkap, semakin Arda sadar bahwa kematian ibunya tidak pernah dijelaskan secara jelas.

Selama bertahun-tahun semua orang hanya mengatakan hal yang sama.

"Isabella sudah tiada."

"Ibumu meninggal karena perang."

"Itu masa lalu."

Tidak pernah ada detail.

Tidak pernah ada cerita.

Tidak pernah ada jawaban.

Dan sekarang Arda mulai bertanya-tanya.

Mungkin bukan karena mereka tidak tahu.

Mungkin karena mereka sengaja menyembunyikannya.

Pikiran itu terus mengganggunya sampai akhirnya matahari terbit.

Keesokan paginya, Arda turun lebih awal dari biasanya.

Rumah persembunyian masih relatif sepi.

Hanya suara peralatan dapur yang terdengar dari arah belakang.

Ketika masuk ke dapur, ia menemukan Elena sedang membuat sarapan.

Gadis itu menoleh.

Lalu langsung mengernyit.

"Kau terlihat mengerikan."

katanya.

"Aku tahu."

jawab Arda.

Elena tertawa kecil.

Namun tawanya berhenti ketika melihat wajah Arda yang serius.

"Ada apa?"

tanyanya.

Arda menarik kursi.

Lalu duduk di hadapannya.

"Ibuku."

ucapnya singkat.

Elena langsung membeku.

Hanya sepersekian detik.

Namun Arda menangkapnya.

Dan itu sudah cukup.

"Kau tahu sesuatu."

kata Arda.

Elena segera menggeleng.

"Tidak."

"Bohong."

"Arda..."

"Setiap kali aku menyebut namanya..."

Arda menatap Elena.

"...semua orang selalu bereaksi seperti itu."

Keheningan memenuhi dapur.

Elena menunduk.

"Aku tidak tahu banyak."

ucapnya pelan.

"Tapi kau tahu sesuatu."

Elena menggigit bibir bawahnya.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berbicara.

"Ibumu orang baik."

katanya.

Arda tersenyum tipis.

"Itu bukan rahasia."

"Aku serius."

lanjut Elena.

"Ia berbeda."

"Dalam dunia seperti ini..."

"...orang seperti Isabella sangat langka."

Arda memperhatikan setiap kata.

"Berbeda bagaimana?"

Elena menatap cangkir kopinya.

"Dia selalu percaya orang bisa berubah."

jawabnya.

"Bahkan ketika semua orang menyerah pada seseorang..."

"...Isabella masih mencoba membantu."

Untuk sesaat Elena tersenyum kecil.

"Waktu aku pertama kali datang ke keluarga Valdarez..."

"Aku ketakutan."

"Aku tidak punya siapa-siapa."

"Tapi ibumu memperlakukanku seperti keluarga."

Arda terdiam.

Ia tidak pernah mendengar cerita itu sebelumnya.

Dan entah kenapa...

Mendengar orang lain berbicara tentang ibunya membuat dadanya terasa hangat sekaligus sakit.

"Kalau begitu..."

ucap Arda.

"...kenapa semua orang menyembunyikan kematiannya?"

Senyum Elena perlahan menghilang.

Dan saat itulah Arda tahu.

Ia benar.

Memang ada sesuatu yang disembunyikan.

Namun Elena menggeleng pelan.

"Aku tidak bisa menjawab itu."

"Kenapa?"

"Karena bukan aku yang berhak menjelaskannya."

Jawaban itu justru membuat rasa penasaran Arda semakin besar.

Siang harinya latihan kembali dimulai.

Namun pikiran Arda tidak berada di arena.

Ia terus memikirkan percakapan dengan Elena.

BRAK!

Tubuhnya kembali terjatuh ke tanah.

Darius menghela napas panjang.

"Keempat belas."

gumamnya.

Arda bangkit sambil meringis.

"Apa?"

"Empat belas kali kau jatuh hari ini."

jawab Darius.

"Aku sedang mencoba."

"Dan gagal."

Arda mendengus kesal.

Darius memperhatikannya beberapa saat.

"Kau memikirkan Isabella."

ucapnya tiba-tiba.

Arda langsung diam.

"Itu terlihat jelas."

lanjut Darius.

Untuk beberapa detik tidak ada yang berbicara.

Kemudian Arda bertanya.

"Kau juga menyembunyikan sesuatu?"

Darius menghela napas.

"Ya."

Jawaban jujur itu justru membuat Arda terkejut.

"Kenapa?"

Darius menatap langit.

Karena untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai...

Wajah pria itu terlihat sedih.

"Karena sebagian rahasia bisa menghancurkan seseorang."

ucapnya.

"Aku pernah melihat apa yang terjadi pada Leon setelah malam itu."

Jantung Arda berdegup lebih cepat.

Malam itu.

Berarti malam kematian Isabella.

Namun sebelum Arda sempat bertanya lebih jauh...

Darius sudah mengakhiri pembicaraan.

"Kalau ingin jawaban."

ucapnya.

"Cari Kael."

Malam datang.

Dan Arda memutuskan tidak menunggu lagi.

Saat sebagian besar penghuni rumah mulai tidur...

Ia keluar dari kamar.

Langkahnya pelan.

Jantungnya berdetak cepat.

Tujuannya jelas.

Ruang arsip.

Tempat penyimpanan seluruh dokumen lama keluarga Valdarez.

Beberapa menit kemudian ia sudah berada di depan pintu.

Kuncinya tidak terlalu sulit dibuka.

Klik.

Pintu terbuka.

Aroma kertas tua langsung menyambutnya.

Ruangan itu dipenuhi rak-rak tinggi.

Puluhan kotak tersusun rapi.

Arda mulai mencari.

Satu rak.

Dua rak.

Tiga rak.

Sampai akhirnya ia menemukan sebuah kotak kecil berdebu.

Di bagian samping tertulis satu nama.

ISABELLA.

Jantungnya langsung berdetak lebih cepat.

Tangannya sedikit gemetar saat membuka kotak itu.

Di dalamnya terdapat foto-foto lama.

Foto Isabella tertawa.

Foto Isabella bersama Leon.

Foto Isabella menggendong Arda yang masih bayi.

Arda tersenyum kecil.

Tiba-tiba sebuah kenangan muncul.

Ia berusia lima tahun.

Saat itu hujan deras turun di luar rumah.

Ia takut pada petir.

Dan Isabella duduk di samping tempat tidurnya sepanjang malam.

Membacakan cerita sampai Arda tertidur.

Kenangan lain muncul.

Isabella mengajarinya menulis nama sendiri.

Tangannya memegang tangan Arda yang masih kecil.

Huruf demi huruf.

A-R-D-A.

Air mata mulai menggenang di mata Arda.

Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...

Ia menyadari betapa banyak kenangan yang hampir ia lupakan.

Lalu ia menemukan sebuah map merah.

Berbeda dari yang lain.

Di bagian depannya tertulis:

RAHASIA

Arda membukanya.

Dan dunia seolah-olah berhenti.

Dokumen pertama adalah surat ancaman.

Kami tahu ke mana putramu pergi.

Dokumen kedua.

Leon tidak akan bisa melindungimu selamanya.

Dokumen ketiga.

Kematian sedang mendekat.

Arda membalik halaman berikutnya.

Lalu berikutnya lagi.

Puluhan surat.

Puluhan ancaman.

Semuanya ditujukan kepada Isabella.

Dan sebagian bahkan menyebut namanya.

Artinya...

Mereka bukan hanya mengincar ibunya.

Mereka juga mengincar dirinya.

"Seharusnya aku tahu kau akan menemukan itu."

suara Kael terdengar dari belakang.

Arda membeku.

Kael berdiri di ambang pintu.

Tidak marah.

Hanya terlihat lelah.

"Sekarang ceritakan semuanya."

ucap Arda.

Keheningan panjang memenuhi ruangan.

Kemudian Kael duduk di kursi tua dekat rak arsip.

Untuk beberapa detik ia hanya menatap foto Isabella.

"Lima belas tahun lalu."

ucapnya pelan.

"Isabella menjadi target."

Jantung Arda berdegup keras.

"Bukan korban perang?"

Kael menggeleng.

"Bukan."

"Dia diburu."

Arda merasakan darahnya menjadi dingin.

"Siapa?"

Kael memejamkan mata sesaat.

"Lama sekali kami tidak tahu."

"Leon menghabiskan bertahun-tahun mencari jawabannya."

"Dan?"

Kael membuka matanya.

Tatapannya berubah.

Ada sesuatu di sana.

Ketakutan.

Kemarahan.

Dan penyesalan.

"Sekarang aku mulai curiga."

ucapnya.

"Kepada siapa?"

Keheningan kembali memenuhi ruangan.

Kemudian Kael mengucapkan satu nama.

"Silas."

Nama itu kembali muncul.

Nama yang sama.

Nama yang kini seolah terhubung dengan setiap tragedi dalam hidup Arda.

Marcus.

Pelabuhan Timur.

Leon.

Dan sekarang...

Isabella.

Untuk pertama kalinya...

Arda tidak hanya merasa takut.

Ia merasa marah.

Sangat marah.

Karena jika Silas benar-benar terlibat...

Maka pria itu telah menghancurkan keluarganya jauh sebelum Arda memahami arti kehilangan.

Dan malam itu...

Di tempat yang jauh dari rumah persembunyian...

Seorang pria duduk sendirian di balkon gedung tinggi.

Di atas meja terdapat sebuah foto lama.

Foto Isabella Valdarez.

Pria itu mengangkat foto tersebut.

Lalu tersenyum.

Senyuman yang sama.

Senyuman seorang pembunuh.

1
kiya kiya
Bintang 5 buat author nya 😍
kiya kiya
keren ceritanya 👍
farazky: makasih kakak🥰🥰
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author
KZ2
mantap lanjut thor
farazky: siap kak 🥰
total 1 replies
Afan Bagus
mantap cerita nya
Al Faris
bagus ceritanya banyak misteri saya suka cerita begini
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪
Al Faris
agak seru ceritanya 👍
Al Faris
nah gini kan bagus kak
Al Faris
untuk kakak bab ini terlalu banyak kata yg berjarak terlalu jauh sebagai pembaca kurang nyaman tolong diperbaiki lagi yaa kakak author 😍. tetap semangat kakak dalam berkarya 💪💪
farazky: terimakasih kakak atas saran dan kritikannya🥰
total 1 replies
fahmi
ini bagus 👍 gak kayak bab 6 tadi
fahmi
untuk bab ini banyak kali jarang antar kata nya. sudah enak sih bacanya dari 1 sampe 5. semangat terus author nya 💪💪💪
farazky: baik terimakasih kakak atas koreksinya 😍
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author 💪
fahmi
👍
Al Faris
semangat
Al Faris
semangat kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!