Zea pernah diam-diam mencintai Bara, sang kakak kelas di SMA . Namun sebuah kejadian memaksanya pergi, meninggalkan perasaan itu tanpa sempat terungkap.
Sepuluh tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali dalam posisi yang berbeda yaitu Bara sebagai atasan dan Zea sebagai bawahan.
Perasaan lama yang Zea kira telah hilang, ternyata masih tersimpan rapi. Tanpa ia sadari, Bara pun menyimpan hal yang sama selama ini.
Namun waktu telah mengubah banyak hal. Rahasia masa lalu, jarak yang dulu tercipta, dan keadaan sekarang menjadi penghalang yang tak mudah dilewati.
Kini, keduanya harus memilih bertahan dalam diam, atau akhirnya memperjuangkan cinta yang sempat tertinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba-tiba datang membawa sebuah kotak
Jarak mereka tinggal sehelai rambut saja. Napas Bara sudah menyentuh bibir Zea, tatapan pria itu penuh hasrat yang siap meledak kapan saja.
Saat bibir Bara hampir menyentuh...
Zea dengan cepat menahan dada bidang pria itu dengan kedua tangannya, mendorong pelan namun cukup kuat untuk memberi jarak. Wajahnya memerah tapi tatapannya sangat datar dan serius.
"Jangan Tuan... Berhenti." Seru Zea tegas tanpa ragu.
Bara yang sedang dalam puncak hasrat langsung terhenti. Matanya berkedip bingung, sedikit kecewa tapi tidak memaksa. Ia menahan gerakannya tepat di tempat.
"Kenapa sayang? Aku nggak tahan rasanya... Aku pengen milikin kamu sepenuhnya sekarang." bisikin Bara parau.
Zea menggeleng mantap, ia menatap mata Bara tanpa membuang muka.
"Maaf Tuan... Itu tidak bisa dilakukan. Selama belum ada status resmi yang jelas di antara kita, hubungan kita ini hanya sebatas Atasan dan Bawahan." Ujar Zea pelan namun tegas.
Bara mengernyitkan dahi, tidak menyangka jawabannya sekeras ini.
"Maksud kamu?" tanya Bara.
"Selama statusnya masih kerja, saya menghormati Tuan sebagai Bos. Tapi hal-hal yang berlebihan seperti mau cium atau pelukan erat begini... itu bukan hal yang pantas dilakukan antara atasan dan bawahan biasa. Itu melanggar batas profesionalisme." Lanjut Zea menjelaskan batasannya dengan jelas.
Ia menarik napas lalu menatap Bara tajam.
"Saya wanita yang punya prinsip Tuan. Saya tidak mau melakukan hal-hal yang seolah-olah kita sudah punya hubungan apa-apa, padahal kenyataannya belum. Kalau Tuan benar-benar serius dan menghargai saya, seharusnya Tuan mengerti posisi ini." Seru Zea.
DEG!
Kata-kata itu bagaikan tamparan halus yang menyadarkan Bara seketika. Api hasrat di matanya perlahan meredup total, berganti menjadi tatapan kekaguman dan rasa hormat yang sangat besar.
Bara sadar, cewek di depannya ini bukan cewek yang gampang digoda atau gampang didapatkan. Dia punya harga diri yang tinggi.
Bara menghela napas panjang, lalu perlahan menarik wajahnya mundur sepenuhnya, melepaskan pelukannya dan merapikan bajunya kembali. Wajahnya berubah jadi sangat serius dan tekad yang bulat.
"Kamu benar... Maafkan aku Zea. Aku terbawa perasaan dan lupa diri. Kamu benar, selama belum ada ikatan yang sah, aku tidak berhak memperlakukan kamu seenaknya." Ujar Bara pelan.
Ia menatap mata Zea dalam-dalam.
"Oke. Aku mengerti batasan kamu. Dan aku janji... Mulai detik ini aku akan menahan diri. Aku tidak akan menyentuh kamu atau meminta hal lebih sebelum semuanya resmi dan status kamu jelas di mata aku dan orang lain." Lanjut Bara dengan janji tegas.
Zea mengangguk singkat, puas dengan jawaban itu. Ia kembali mengambil jarak dan bersikap profesional lagi.
"Baik kalau Tuan sudah mengerti. Sekarang sudah sore, saya izin pulang dulu Tuan ." Jawab Zea datar .
"Baiklah, pulang dan istirahat" kata Bara.
Akhirnya Zea bisa melepaskan diri dari Bara, namun langkahnya begitu berat untuk meninggalkan Bara sendiri.
*
*
*
Pagi harinya, suasana di ruangan kembali hening. Tapi bedanya hari ini, Bara terlihat sangat rapi, wangi, dan wajahnya terlihat sangat tegas namun penuh harap.
Zea duduk di kursinya, masih bersikap profesional dan menjaga jarak seperti kemarin. Dia tidak berani menatap Bara terlalu lama, masih malu dan tegang mengingat kejadian semalam.
Tiba-tiba Bara berdiri dari kursinya, berjalan memutar meja, lalu berhenti tepat di depan Zea. Dia membawa sebuah kotak kecil berwarna merah marun yang sangat cantik di tangannya.
Zea mengernyit bingung, jantungnya mulai berdegup kencang.
"T-tuan... Ada apa? Itu kotak apa?" tanya Zea was-was.
Bara tidak menjawab langsung. Dia justru berjongkok rendah di hadapan Zea, membuat mata mereka sejajar. Tatapannya sangat serius, lembut, dan penuh keyakinan.
"Zea... Kemarin kamu bilang, kamu nggak mau melakukan apa-apa selama belum ada status yang jelas. Kamu bilang kita cuma atasan bawahan." Ujar Bara pelan namun lantang.
Zea menelan ludah, mengangguk kaku.
"I... Iya Tuan. Itu kan prinsip saya." Jawab Zea terbata.
Bara tersenyum tipis, lalu perlahan membuka kotak kecil itu. Di dalamnya terlihat cincin berlian yang sangat indah berkilauan.
"Nah... Sekarang saya nggak mau jadi 'Atasan' kamu lagi. Saya mau jadi 'Suami' kamu yang sah. Saya mau kasih kamu status yang kamu minta itu." Lanjut Bara dengan suara yang sangat tegas.
DEG!
Zea membelalakkan mata tak percaya. Tangannya menutup mulutnya spontan.
Bara melanjutkan ucapannya dengan penuh perasaan.
"Zea... Sejak masa MOS dulu, mata saya cuma nyari kamu. Sekarang saya nggak mau nunda-nunda lagi. Saya mau tanggung jawab penuh sama kamu, sama hati kamu, sama hidup kamu." Seru Bara.
Ia menatap mata Zea dalam-dalam.
"Zea... Maukah kamu menerima lamaran saya? Mau kah kamu jadi Istri saya, jadi Nyonya muda di keluarga saya, dan jadi pemilik hati saya selamanya?" Tanya Bara dengan nada memohon yang sangat manis.
Suasana hening seketika. Hanya terdengar napas Zea yang memburu tak karuan.
Pikirannya kacau balau. Di satu sisi, hatinya berteriak TERIMA! TERIMA! karena dia memang sudah mencintai pria ini sejak lama dan bahagia banget akhirnya dipilih.
Tapi di sisi lain, dia teringat kata-katanya sendiri kemarin. Dia wanita yang punya prinsip, tidak mau terlihat gampang. Dan... ini terlalu cepat! Baru beberapa hari mereka dekat, kok langsung lamaran?!
"Gila! Gila banget! Dia beneran serius nih! Aku mau terima? Ya Tuhan tentu mau banget! Tapi... tapi kenapa rasanya terlalu cepat? Apa aku terima aja biar statusnya jelas? Atau aku tolak dulu biar dia usaha lagi? Bingung banget aku!" Gumam Zea dalam hati panik setengah mati.
Zea menatap cincin itu, lalu menatap wajah Bara yang penuh harap. Air matanya hampir keluar tapi dia bingung harus jawab apa.
"T-tuan... Ini... ini beneran?! Kok... kok secepat ini?! Saya... saya bingung Tuan! Saya belum siap jawab sekarang juga!" Seru Zea pelan dan bergetar.