Di sebuah desa tersembunyi bernama Desa Batu, hiduplah keluarga Chen, keturunan langsung dari Raja Alkemis legendaris yang menguasai rahasia kehidupan dan kematian. Harta terbesar mereka bukanlah emas atau perak, melainkan resep Ramuan Keabadian—cairan mistis yang dapat memberikan kekuatan tak terbatas dan hidup selamanya bagi yang meminumnya.
Namun, kekuatan besar selalu menarik bayangan gelap. Saat Chen Si, pewaris tunggal keluarga itu, baru berusia lima bulan, desa mereka diserang habis-habisan oleh sekelompok manusia bertopeng yang haus kekuasaan. Seluruh klan Chen dibantai tanpa ampun demi merampas rahasia suci itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: RUANG INTIDAN WARISAN DARAH NAGA
Pintu batu raksasa terbuka lebar dengan suara gemuruh yang menggetarkan hati. Di baliknya, bukan lorong gelap seperti dugaan banyak orang, melainkan sebuah ruangan bundar yang sangat luas dan megah.
Langit-langit ruangan itu setinggi ratusan meter, dihiasi dengan kristal-kristal bercahaya yang menyerupai bintang-bintang di langit malam. Di tengah ruangan, terdapat sebuah panggung batu hitam yang melayang di atas kolam cairan perak yang berkilauan.
Dan di sana, tepat di tengah panggung...
Terletak sebuah singgasana batu yang sangat indah. Di atas singgasana itu, duduk sosok yang sudah tidak bernyawa, namun masih tegak berdiri seperti hidup. Sosok itu mengenakan jubah keemasan yang sudah lapuk dimakan waktu, kepalanya ditutupi mahkota emas, dan kedua tangannya menyilang di dada.
Itu adalah jenazah dari pendiri klan Chen, Raja Alkemis Pertama!
Namun, yang membuat semua orang terdiam bukan hanya sosok jenazah itu, melainkan benda yang melayang tepat di depannya. Sebuah bola cahaya sebesar kepala manusia, berwarna emas merah, berputar perlahan dan memancarkan panas yang luar biasa.
"Itu... Itu Inti Naga Api!" seru seseorang dengan suara gemetar. "Harta legendaris! Sumber energi yang bisa membuat siapa pun menjadi dewa!"
"AMBIL ITU!!"
Terjadi keributan besar. Puluhan orang yang berhasil masuk langsung melompat maju tanpa mempedulikan keselamatan, berniat merebut bola cahaya itu.
"Gila! Jangan sembarangan!" teriak Wu Ye memperingatkan, tapi terlambat.
Saat orang-orang itu baru saja melayang di udara, tiba-tiba dinding ruangan memancarkan cahaya perak. Ribuan sinar laser tipis muncul dari segala arah!
TRRRRRRRRRRRR!!!
Seperti hujan panah mematikan, sinar-sinar itu menembus tubuh para perampas itu. Dalam sekejap mata, tubuh mereka hancur menjadi debu halus tanpa menyisakan apa pun kecuali darah yang menguap seketika.
Bugh...
Hening mencekam menyelimuti ruangan. Semua orang yang masih hidup mundur ketakutan, jantung mereka berdegup kencang melihat betapa mudahnya nyawa melayang di sini.
"Ini adalah Formasi Pembunuh Bintang," bisik Wu Ye pucat. "Hanya orang yang memiliki darah murni yang bisa berjalan di sana tanpa diserang. Yang lain... hanya akan menjadi abu."
Langkah Sang Pewaris
Chen Si menatap ke arah singgasana itu. Matanya berkaca-kaca. Entah kenapa, melihat sosok jenazah leluhur itu, ia merasakan ikatan batin yang sangat kuat, seolah-olah itu adalah ayahnya sendiri.
"Kakek, aku harus ke sana," kata Chen Si tegas.
"Berhati-hatilah, Nak. Ini adalah ujian terakhir. Percayalah pada darah yang mengalir di tubuhmu," jawab Wu Ye menguatkan.
Chen Si mengangguk. Ia melepaskan jubahnya, memperlihatkan tubuh kekar yang dipenuhi otot-otot halus namun padat. Ia mulai melangkah turun ke area tengah.
Langkah pertama... aman.
Langkah kedua... kristal-kristal di dinding tidak bersinar.
Sinar perlindungan otomatis menyelimuti tubuh Chen Si. Formasi kuno itu mengenali gennya, ia bukan musuh, ia adalah pemilik!
Semua orang menahan napas melihat pemuda itu berjalan santai melewati zona maut yang baru saja menelan puluhan nyawa.
"Aku tahu itu... Aku tahu wajah itu!" tiba-tiba seorang tetua dari salah satu sekte berteriak. "Dia punya tanda lahir naga di bahu! Dia anak yang hilang! Pewaris klan Chen yang asli!"
"JADI DIA YANG KITA CARI?! SERANG DIA SEBELUM DIA MENDAPATKAN KEKUATANNYA!" teriak seseorang dari Sekte Ular Hitam yang bersembunyi di kerumunan.
Puluhan anak panah beracun dan pisau lempar melesat ke arah Chen Si dari belakang!
"BERANI!!" Wu Ye melompat maju. Tongkat kayunya berputar kencang menciptakan angin puyuh. Ding! Ding! Ding! Semua senjata terpental keluar ruangan.
"Selama aku masih berdiri, tidak ada yang boleh mengganggu cucuku!" gertak Wu Ye galak, aura tua yang menakutkan meledak keluar.
Pertemuan dengan Roh Leluhur
Sementara pertarungan pecah di pinggir ruangan, Chen Si sudah sampai di panggung tengah. Ia berdiri tepat di hadapan jenazah Raja Alkemis.
"Kakek buyut... Aku datang," bisik Chen Si.
Tiba-tiba, bola cahaya Inti Naga Api itu bergerak sendiri. Ia melayang turun, lalu menempel tepat di dada Chen Si!
BRUUUUUUUMMMMM!!!
Sensasi panas yang luar biasa meledak di dalam tubuh Chen Si! Bukan rasa sakit, tapi rasa hangat yang menyelimuti setiap sel tubuhnya.
Gambar-gambar berkelewat cepat di kepalanya. Ia melihat ribuan tahun sejarah klan Chen, ia melihat resep-resep pil surgawi yang rumit, ia melihat teknik-teknik bela diri tingkat dewa, dan yang paling penting... ia melihat wajah orang tuanya!
'Anakku... Chen Si...'
Sebuah suara berat dan bijak terdengar langsung di dalam pikirannya. Bukan dari jenazah, tapi dari roh yang tersimpan di dalam Inti Naga.
'Akhirnya... darah suci kami kembali ke rumah. Maafkan kami yang membiarkanmu tumbuh dalam kesusahan. Tapi kesusahan itulah yang mematangkan karaktermu.'
"Siapa Anda? Dimana orang tuaku?" tanya Chen Si dalam hati.
'Aku adalah warisan, aku adalah ingatan. Orang tuamu masih hidup...'
Jantung Chen Si berhenti berdetak. "Mereka... mereka masih hidup?!"
'Ya. Mereka ditawan di markas utama Sekte Ular Hitam, digunakan sebagai bahan percobaan untuk memaksakan keluarnya Darah Naga. Kamu harus cepat menjadi kuat, selamatkan mereka sebelum terlambat.'
"Aku akan menyelamatkan mereka! Aku janji!" Chen Si berteriak dalam batin.
'Bagus. Sekarang, terimalah warisan ini! Jadilah Raja Alkemis Baru!'
Cahaya di bola itu meledak maksimal!
"TRANSFORMASI: BENTUK NAGA SEDAR!"
Chen Si menjerit keras. Tubuhnya membesar sedikit, otot-ototnya menonjol, kuku tangannya memanjang sedikit dan mengeras, dan di punggungnya, sayap energi naga terbentuk samar-samar.
Matanya berubah menjadi warna emas murni dengan pupil vertikal seperti mata naga. Aura yang dipancarkannya sekarang bukan lagi aura manusia, tapi aura binatang buas tingkat dewa!
Kebangkitan Raja Baru
Di luar panggung, pertarungan semakin sengit. Wu Ye mulai terdesak oleh banyaknya musuh. Darah mengalir dari sudut mulutnya.
"Kakek!!"
Chen Si melompat turun dari panggung. Kali ini, kecepatannya melebihi suara!
WUSH!
Hanya ada bayangan merah keemasan yang melintas.
BAM! BAM! BAM!
Setiap kali Chen Si mengayunkan tangan, pasti ada tiga atau empat orang musuh yang terlempar keluar dinding bangunan dengan tulang-tulang hancur. Kekuatannya sekarang berada di level yang berbeda jauh!
"Monster! Ini bukan manusia!" teriak anggota Sekte Ular Hitam ketakutan. Chen Si sekarang bisa membunuh ahli tingkat menengah hanya dengan satu tatapan mata!
Pemimpin mereka, seorang Elder berjubah hitam, marah besar. "Jangan takut! Kita banyak! Serang bersama-sama!"
Elder itu mengeluarkan racun asap hitam pekat yang menutupi seluruh ruangan. "Mati kalian semua di dalam racun Wabah Kematian!"
Chen Si tersenyum dingin. Ia membuka mulutnya dan...
HUAAAAAAHHHH!!!
Ia menghembuskan napas. Bukan udara biasa, tapi api naga berwarna biru muda!
Api biru muda itu menyapu seluruh ruangan dalam sekejap. Asap racun hitam yang tadinya mengerikan langsung menguap dan hilang tanpa bekas! Bahkan lantai batu pun menjadi merah panas karena suhunya yang luar biasa!
"Tidak... Mungkin! Api sebersih itu...!" Elder Racun itu mundur teratur, wajahnya pucat pasi melihat Chen Si yang kini berubah total.
Chen Si melayang di udara, matanya menyala emas. Sayap energi di punggungnya mengepak perlahan, menciptakan angin kencang.
"Kalian yang membakar desaku... Kalian yang menyakiti Kakekku... Dan kalian yang menahan orang tuaku..."
Suara Chen Si bergema, tidak hanya keluar dari mulutnya, tapi dari segala arah seolah dinding ruangan yang berbicara.
"Hari ini... adalah hari kiamat bagi Sekte Ular Hitam!"
Kekuatan Level Dewa
"Serang dia! Jangan biarkan dia stabilkan kekuatannya!" teriak Elder itu panik.
Seluruh pasukan Ular Hitam yang tersisa menerjang maju. Mereka mengeluarkan segala macam jurus mematikan, racun, cakar, pedang, semuanya diarahkan ke tubuh Chen Si.
Namun...
Chen Si tidak bergerak sedikitpun. Ia hanya menatap mereka dengan mata dingin.
"TEKNIK ROH BUMI: BENTENG GUNUNG ABADI!"
BRUMMMMM!!!
Sebuah lapisan pelindung berbentuk gunung muncul melingkar di sekitar Chen Si. Semua serangan musuh—baik pedang, energi, maupun racun—hancur berkeping-keping saat menyentuh benteng itu seolah menabrak tembok baja yang tak tertembus!
"Sekarang... giliranku."
Chen Si mengangkat tangan kanannya perlahan. Di telapak tangannya, api biru dan energi kuning bercampur menjadi satu, membentuk bola energi yang sangat padat.
"Terimalah... Pukulan Matahari Terbit!"
BAAAAAMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMM!!!
Ledakan itu begitu dahsyat hingga seluruh reruntuhan gunung bergetar! Cahayanya lebih terang dari matahari, membutakan semua orang yang melihatnya.
Ketika debu dan asap mereda...
Di area tengah ruangan, tidak ada satu pun anggota Sekte Ular Hitam yang masih berdiri. Mereka semua hancur lebur, lenyap ditelan kekuatan mutlak Chen Si. Hanya tersisa Elder Racun yang terluka parah, merangkak mundur ketakutan.
"Monster... Kamu benar-benar monster..." desisnya.
Chen Si melangkah mendekat perlahan. "Katakan... Dimana markas utama kalian? Dimana orang tuaku?"
Elder itu tertawa sinis meski mulutnya berdarah. "Hahaha... Terlambat! Pemimpin Besar kami sudah pergi membawa tawanannya ke Puncak Racun! Kalian tidak akan pernah sampai di sana! Di sana ada... GURU KITA! Seorang setengah dewa yang akan membunuhmu!!"
"Guru atau Dewa sekalipun... Aku akan menghancurkannya!"
Chen Si siap memberikan pukulan terakhir untuk membunuh Elder itu.
"Tunggu, Si!" tiba-tiba Wu Ye berseru. "Jangan bunuh dia dulu! Kita butuh dia untuk menuntun kita masuk ke wilayah mereka tanpa menabrak jebakan!"
Chen Si menahan tinjunya tepat di hidung musuhnya. Elder itu gemetar hebat, kencing dan buang air besar di celananya karena ketakutan.
"Baik. Kau akan jadi tawanan kita. Kalau berani berkhianat, rasanya lebih sakit dari mati," ancam Chen Si dingin.
Hadiah dan Persiapan
Setelah kekacauan berakhir, ruangan itu kembali tenang. Para penyintas dari sekte lain hanya bisa menunduk takut dan hormat, tidak ada yang berani mendekat atau mengganggu Chen Si lagi. Mereka tahu, pemuda di depan mereka sekarang adalah penguasa tempat ini.
Chen Si kembali ke bentuk normalnya, meski matanya masih sedikit berwarna emas. Ia merasa sangat kuat, tapi juga sangat lapar. Energi yang ia gunakan tadi sangat besar.
"Bagus, Nak. Luar biasa," puji Wu Ye sambil memeriksa luka-lukanya sendiri yang kini mulai sembuh cepat karena aura ruangan itu. "Kau sekarang sudah berada di tingkat "Roh Bumi Puncak", bahkan mungkin sudah menyentuh ambang tingkat "Langit"! Kau sekarang setara dengan tetua-tetua besar di dunia persilatan!"
"Tapi aku masih butuh lebih kuat, Kek. Mereka bilang ada Guru setengah dewa di sana," kata Chen Si.
"Ya. Itu sebabnya kita harus mengambil semua yang ada di sini."
Mereka mulai mengumpulkan harta karun. Di ruangan itu, terdapat guci-guci besar berisi pil obat level tertinggi yang sudah ada ribuan tahun, ratusan gulungan teknik bela diri langka, dan yang paling penting... sebuah peta lengkap beserta kunci-kunci lainnya.
"Miracle! Lihat ini!" Wu Ye menemukan sebuah kotak batu di bawah singgasana. "Ini adalah Alat Pembuat Pil Otomatis Kuno! Dan ini... Baju Zirah Naga yang bisa menangkis serangan energi!"
Semua barang-barang itu dimasukkan ke dalam sebuah cincin penyimpanan ruang-dimensi yang juga ditemukan di situ. Sekarang, mereka kaya raya dan kuat!
Perjalanan Menuju Puncak Racun
Tiga hari kemudian.
Di luar lembah, matahari bersinar terik. Chen Si dan Wu Ye keluar dari reruntuhan. Penampilan mereka sekarang berbeda jauh.
Chen Si mengenakan baju zirah dalam berwarna hitam yang diselimuti jubah merah menyala. Di pinggangnya terselip pedang pusaka yang ditempa dari inti besi kuno. Wu Ye juga terlihat lebih segar, memegang tongkat baru yang terbuat dari kayu spiritual.
Di depan mereka, Elder Racun yang ditawan berjalan tertatih-tatih dengan leher diikat rantai energi.
"Jalan! Bawa kami ke Puncak Racun secepatnya!" perintah Chen Si.
Perjalanan menuju markas musuh sesungguhnya dimulai. Jalan yang mereka tempuh semakin ke atas, semakin dingin dan beracun. Tanah berwarna hitam kelam, pohon-pohon mati tanpa daun, dan udaranya penuh bau belerang.
Namun, bagi Chen Si yang memiliki darah Naga, racun-racun ini tidak mempan. Bahkan ia bisa menyerapnya menjadi energi.
"Kakek," tiba-tiba Chen Si bicara. "Aku berjanji. Setelah ini selesai, kita tidak perlu lari lagi. Aku akan membangun kembali klan Chen yang lebih besar dari sebelumnya. Dan semua yang berbuat jahat akan menerima balasannya."
Wu Ye tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Aku tidak menyesal telah menjagamu sampai hari ini, Nak. Ayo... Kita jemput Ayah dan Ibumu."
Mereka terus berjalan maju, menuju sarang naga yang paling berbahaya di dunia, dengan keyakinan bahwa kemenangan pasti ada di pihak mereka!