NovelToon NovelToon
The Nethermist

The Nethermist

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Istana/Kuno / Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Clevareus

( Versi sekarang adalah Versi remake dari Novel The Nethermist dengan Versi paragraft dan tanda baca yang lebih rapi )

Lima hari sebelum pernikahan politik yang akan menyatukan dua kekuatan besar, dunia Leoric berubah selamanya.
Sebagai putra mahkota yang dipilih di tengah intrik, Leoric bersiap menikahi Clarissa, putri dari keluarga penguasa dataran tinggi. Namun, retakan di langit tiba-tiba muncul, membuka jalan bagi kabut gelap, sihir asing, dan makhluk-makhluk yang menghancurkan segalanya.
Dalam sekejap, kerajaan runtuh dan pernikahan mereka tertunda tanpa kepastian.
Di tengah dunia yang kacau dan kekuatan baru yang belum dipahami, Leoric harus memastikan keselamatan Clarissa—sambil menghadapi kenyataan bahwa kekuasaan, sihir, dan takdir kini berada di luar kendalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clevareus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zaburawa si negeri air (II)

​Keras kepala.

​Sifat ini sering kali membuat interaksi sosial menjadi lebih renggang, memutus benang komunikasi yang semestinya terjalin. Bahkan dalam beberapa kasus ekstrem, manusia bisa saling bermusuhan dan menumpahkan darah, semua hanya diawali oleh ego yang keras kepala.

​12 Februari, Siang Hari.

Kerajaan Zaburawa.

​Saine Praide masih berusaha merilekskan tubuhnya di atas kasur busa sel bawah tanah. Namun, ketenangan itu seketika hancur lebur saat sepasang kelopak mata masif membuka dan mengintip tepat ke arahnya dari balik jendela kaca tebal jendela penjara.

​Dilanda kepanikan yang mendera dada, Saine melompat dari kasur dan mulai memukul-mukul jeruji besi selnya dengan brutal. Ia berteriak, berusaha memanggil sipir yang berada di lantai atas.

​Namun, dari arah tangga, hanya terdengar suara malas bernada meremehkan dari sipir yang berjaga.

​"Kau sudah janji akan diam, Tuan Saine. Memangnya tidak bisa menahan diri sebentar saja di sana?"

​Saine menggedor lebih keras, urat lehernya menegang.

​"Kau tidak mengerti, Bodoh! Di luar sini ada teman besar mengerikan yang siap melahapku hidup-hidup!"

​"Woi, sipir busuk, apa kau mendengarku?!"

​Suasana mendadak hening. Tak ada jawaban lagi dari atas.

​Saine membalikkan tubuhnya secara perlahan. Jantungnya berdegup kencang bak ditabuh genderang perang. Ia memberanikan diri untuk menatap kembali ke arah jendela kaca, ingin memastikan seberapa besar ukuran makhluk yang memiliki tatapan mengerikan tersebut.

​Hilang.

​Tidak ada apa pun di balik kaca. Hanya aliran air laut biru yang bergerak tenang.

​Di saat yang bersamaan, sipir yang tadi mengabaikannya akhirnya berjalan menuruni tangga dan berdiri di depan sel Saine. Pria itu menggeleng-gelengkan kepala.

​"Huh? Anda ini kenapa sih, Tuan Saine? Apa Anda tiba-tiba dilanda rasa bersalah yang teramat sangat karena telah merusak Tembok Suci?"

​Saine tidak dapat mengelak dari fakta yang baru saja terjadi. Hilangnya makhluk raksasa itu dari balik jendela bertepatan dengan munculnya si sipir. Logika manusianya mulai berbisik, mungkinkah apa yang ia lihat tadi hanyalah khayalan belaka akibat stres dikurung?

​Tidak. Saine menggelengkan kepala dalam hati. Semenjak insiden pecahnya langit pada tanggal 7 Februari lalu, ia punya keyakinan penuh bahwa hal-hal buruk yang tak masuk akal pasti akan terjadi. Insting pelautnya tidak pernah berbohong.

​"Hei, Sipir, tolong panggilkan Yonda kemari. Hanya itu pintaku, janji deh."

​Sipir itu mendengus remeh, melipat tangan di dada.

​"Tidak bisa. Anda sekarang hanyalah seorang tahanan, Tuan Saine. Anda tidak punya hak lagi untuk memerintah saya seperti di luar sana."

​Saine maju selangkah, mencengkeram jeruji besi dengan tatapan mata yang menyalang tajam.

​"CEPATLAH, BRENGSEK! HAL BURUK AKAN SEGERA TERJADI PADA KERAJAAN INI!"

​Sang sipir tersentak. Pria yang sebenarnya sudah sering berinteraksi dengan Saine itu merasakan jantungnya berdetak kencang secara tiba-tiba. Ada aura keseriusan yang mencekam dari nada bicara Saine, tanda bahwa sang bangsawan kali ini sama sekali tidak sedang bercanda atau menggertak.

​"Baiklah, Tuan Saine. Tapi saya tidak akan menanggung akibatnya. Jika ada teguran atau hal buruk dari atasan, saya tidak ikut terlibat."

​Sipir tersebut berbalik dengan terburu-buru, melangkah cepat menaiki tangga untuk menjemput Yonda sesuai dengan permintaan darurat Saine.

​Sembari menunggu, Saine kembali mendekatkan wajahnya ke jendela sel. Ia menyipitkan mata, berusaha memindai area laut biru luas yang tersorot oleh cahaya matahari siang.

​Setidaknya, untuk beberapa saat, semuanya tampak normal. Tidak ada tanda-tanda pergerakan aneh.

​Hanya saja, ke mana perginya makhluk sebesar tadi? Tidak mungkin entitas berukuran masif bisa lenyap begitu saja tanpa meninggalkan riak atau tanda-tanda yang jelas di air.

​Saine akhirnya duduk kembali di tepi kasur. Ia menopang dagu, berusaha memikirkan segala kemungkinan terburuk sembari menunggu asisten kepercayaannya datang.

​Lima belas menit berlalu dalam keheningan yang menyiksa.

​Drap! Drap! Drap!

​Suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar menggema dari arah tangga batu.

​Saine mengembuskan napas lega, yakin bahwa itu adalah sipir yang kembali bersama Yonda.

​"Huh, akhirnya mereka datang juga."

​Saine bangkit berdiri. Sebelum melangkah ke jeruji, matanya secara tidak sengaja melirik kembali ke arah jendela kaca.

​Ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang ganjil sedang terjadi tepat di depan kaca tersebut.

​Ya, pemandangan di balik jendela raksasa itu tidak lagi sama seperti lima belas menit yang lalu. Air laut di depan jendela tampak berfluktuasi, bergerak bergoyang-goyang janggal seperti sebuah ilusi magis yang tidak stabil.

​Tidak lama kemudian, secara perlahan, sebuah halangan besar mulai terbentuk di depan jendela. Lapisan luar dari sesuatu yang tadinya transparan, kini muncul bertahap, meningkatkan opasitas wujudnya secara konstan.

​Akal sehat Saine terhentak. Ia akhirnya menyadari kengerian yang sesungguhnya.

​Itu adalah mata makhluk yang tadi mengintipnya.

​Ternyata monster itu sedari tadi tidak pernah pergi ke mana-mana. Benda itu tetap diam di tempat yang sama karena memiliki kemampuan magis untuk menghilangkan dan memunculkan wujudnya sesuka hati.

​Kali ini, mata besar itu kembali menatap lurus ke dalam sel.

​Namun, sebagai seorang mantan pelaut yang kenyang akan asam garam lautan, Saine sadar betul bahwa sorot mata monster asing di depannya saat ini berbeda dari yang pertama. Kelopak mata itu menyipit, melengkung membentuk sudut yang mengerikan.

​Monster itu sedang tersenyum menatapnya.

​Bulu kuduk Saine berdiri sempurna. Rasa merinding yang hebat menusuk hingga ke tulang belakang. Ia melangkah mundur lambat-lambat hingga punggungnya membentur jeruji besi sel dengan keras.

​"Yonda, cepatlah kemari!"

​Yonda yang baru saja menginjakkan kaki di lantai bawah tanah bersama si sipir seketika membeku. Keduanya bersimbah keringat dingin, wajah mereka memucat hebat menyaksikan entitas raksasa yang berada di belakang tubuh Saine.

​"Yonda, fokuslah! Dengarkan kata-kataku baik-baik!"

​Saine berteriak, memutus kepanikan asistennya.

​"Cepat lari selamatkan dirimu! Beritahu semua orang di atas untuk segera melakukan evakuasi! Persetan mereka mau pergi ke mana, INTINYA JAUHI LAUTAN! Cepat pergi sekarang, Yonda!"

​Yonda tidak membuang waktu. Sadar akan bahaya yang mengancam, ia berbalik dan berlari sekuat tenaga menaiki tangga. Sementara itu, si sipir yang berada di depan sel mulai gemetaran hebat, jemarinya yang basah berusaha mengorek-ngorek gantungan kunci di sabuk kulitnya.

​"Tu-tunggu aku, Tu-tuan Saine! Aku a-akan membuka selnya!"

​Saine menoleh ke arah jendela, di mana retakan mulai muncul pada kaca tebal tersebut karena tekanan dari luar. Ia berteriak sekeras mungkin pada si sipir.

​"PERGI DARI SINI, BODOH! JANGAN PEDULIKAN AKU! PERGI!"

​Belum sempat anak kunci itu masuk ke dalam lubangnya, sebuah suara gemuruh raksasa berdentum dari fondasi bawah tanah tempat mereka berada.

​DOOOMMMMMM! GWOUSHHHHH!

​Suaranya begitu memekakkan telinga, mirip seperti sebuah bangunan kokoh yang dihantam dan dihancurkan oleh alat berat, disusul oleh suara gemuruh air laut skala masif yang mengalir masuk menerobos dinding.

​Di lantai atas, sipir yang berjaga di gerbang luar terlonjak kaget saat melihat Yonda berlari keluar dari area penahanan dengan terburu-buru sambil menangis tersedu-sedu. Belum sempat ia bertanya, suara dentuman keras dari arah bawah tanah ikut menggetarkan lantai yang ia pijak. Suara apa itu?

​Didorong rasa penasaran, sipir atas itu melangkah turun. Namun, alangkah terkejutnya dia begitu mengintip ke arah tangga bawah.

​Perbatasan antara sel bawah dan tangga batu kini sudah dipenuhi oleh air laut yang naik dengan cepat, menenggelamkan seluruh fasilitas penjara mewah tersebut dalam hitungan detik.

​Sipir yang tadinya mengejek Saine itu berdiri mematung, tidak dapat berkata-kata lagi karena syok yang teramat sangat.

​Di sisi lain, Yonda terus berlari kencang menuju area Tembok Suci. Sepanjang jalan, ia berteriak dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.

​"Tolong, jauhi lautan!"

​"Jauhi laut sekarang juga!"

​Yonda berteriak sambil menangis tersedu-sedu, berusaha sebisa mungkin memberi peringatan kepada setiap warga yang berpapasan dengannya.

​Namun, keras kepalanya masyarakat Zaburawa terbukti di sini. Tidak ada satu pun orang yang memedulikan peringatan histeris dari Yonda. Mereka hanya menatapnya bingung, lalu kembali beraktivitas.

​Hingga akhirnya, Yonda tiba di atas pembatas Tembok Suci dan langsung melemparkan pandangannya ke arah lautan bebas.

​Dari kejauhan, terlihat sebuah gelombang aneh berbentuk gulungan fluktuasi air yang masif. Sesuatu yang teramat besar sedang bergerak naik dari laut dalam.

​Dan benar saja, sedetik kemudian, sebuah makhluk luar biasa besar mencuat ke udara. Bentuknya menyerupai ikan koi, namun ukurannya luar biasa raksasa, bahkan menyamai tinggi bangunan istana kenegaraan Zaburawa.

​Makhluk itu melompat tinggi, lalu jatuh menghantam permukaan air dengan kekuatan penuh, menghasilkan percikan gelombang serta ombak raksasa yang langsung bergerak cepat mengarah ke ibu kota kerajaan.

​Di tengah keputusasaan itu, sebuah pemandangan mengejutkan tertangkap oleh mata Yonda.

​Di dekat dermaga depan Tembok Suci, sesosok pria muncul dari dalam air dengan kondisi lemas. Itu Saine. Tampaknya, sang bangsawan telah mati-matian berenang meloloskan diri dari jebakan penjara bawah tanah dan berhasil naik ke permukaan.

​Saine kini terbaring telentang di atas kayu-kayu dermaga, terengah-engah kehabisan napas.

​Yonda berencana untuk segera turun dan menolong tuannya. Namun, seorang prajurit pertahanan dengan cepat menahan pundak Yonda, menariknya mundur. Ombak raksasa di depan mereka sudah terlalu dekat. Secepat apa pun Yonda berlari turun, semuanya sudah terlambat.

​Dari kejauhan, Saine tampaknya melihat sosok Yonda yang tertahan di atas tembok. Dengan sisa-sisa kesadarannya yang kian menipis, Saine menatap asistennya itu, lalu menyunggingkan sebuah senyuman tipis di momen-momen terakhirnya.

​SWUOOOOOSHHH!

​Miliaran kubik air laut berwarna biru indah penuh teror itu menyapu bersih tubuh Saine, menenggelamkan dermaga, dan terus melaju tanpa hambatan menghantam pusat ibu kota kerajaan.

​Yonda hanya bisa berbalik dan berlari sekuat tenaga bersama prajurit-prajurit lain, menjauhi dinding pembatas sembari terus menumpahkan air mata. Di dalam pikirannya, ini adalah akhir yang mutlak bagi Kerajaan Zaburawa.

​Di dalam ruang rapat istana yang berjarak beberapa ratus meter, para bangsawan tua baru saja menyelesaikan pertemuan mereka. Cerutu masih mengepul di mulut mereka masing-masing saat jendela kaca istana bergetar hebat.

​Ketika mereka menoleh ke luar, mata mereka melotot sempurna. Cerutu di mulut mereka jatuh seketika, tak mempercayai apa yang sedang tersaji di depan mata.

​Sebuah dinding air raksasa dari arah laut telah mengubur Tembok Suci dan kini tengah menuju tepat ke arah istana mereka.

​SWUOOOOOSHHH!

​Suara gemuruh ombak itu menggelegar, menyapu bersih, meremukkan, dan menghanyutkan apa pun yang dilewatinya tanpa ampun.

​Saat itu juga, seluruh sisa wilayah Kerajaan Zaburawa yang awalnya hanya tersisa seperempat, kini habis tenggelam disapu oleh amukan air laut. Meski ombak besar itu nantinya akan surut, namun itu sudah lebih dari cukup untuk melenyapkan eksistensi sisa-sisa kejayaan negeri air tersebut dari peta dunia.

1
AngkaSatu
Epic
AngkaSatu
Wah jadi inspirasiku nanti.
𝐊𝐚𝐞𝐥
cliffhanger yang sangat menarik
𝐊𝐚𝐞𝐥
hm, lagi-lagi terlalu banyak perkenalan karakter. saranku, klo mau dikenalin di satu bab, mending pakai percakapan antar tokoh dan beri ciri khasnya.
DreamXimaginatioN😴
hmm. aku kurang setuju dengan sikap leoric, di suruh mundur eh beneran mundur ternyata, baru udah ada korban berjatuhan balik lagi ke medan perang. jadi kurang epic deh kemunculannya, maaf 😅 ini hanya dalam pikiran ku saja
DreamXimaginatioN😴
wuihh dapat senjata, kayak nya MC bakal OP nih karena si sarioth kalau di lihat mungkin saja termasuk para petinggi monster2 itu 😁
DreamXimaginatioN😴
wah ini ketambahan spasi ya, malah jadi paragraf baru. Segera di perbaiki author 👍😄
ShikiSlurx
parah bangsawan bangsawan disini kayaknya kejam banget deh
WER
semangatnya 💪💪💪
Clevareus: siapp
total 1 replies
𝐊𝐚𝐞𝐥
secara tata bahasa aman sejauh ini. plot-nya juga lumayan. tapi info dump-nya cukup parah. terlalu banyak sejarah yang dijelaskan dalam satu bab. karakternya juga terlalu banyak diperkenalkan.

semangat!
Quinnela Estesa
chapter awal, jangan langsung dikasih adegan tempo tinggi😊 nanti setelahnya bakalan kehabisan bahan bakar deh.

seharusnya fokus dulu ke tokoh utama biar banyak yang kenal.
Clevareus: oke makasih masukannya
total 1 replies
DreamXimaginatioN😴
haha nice lah pokoknya 🔥🔥🔥. Tengkorak 💀 apa itu di belakang nya.../Shame/. Hanya saran sedikit saja, monster-monster yang keluar tidak terlalu di jelaskan ya, jika emang gitu niat author tidak masalah namun setidaknya berikan sedikit jenis garis besar nya aja seperti ada yang bisa terbang/ ada yang berotot atau yang lainnya, gitu aja.
Clevareus: okee siapp
total 1 replies
DreamXimaginatioN😴
uhh... seram nya oii😬
AngkaSatu
Oke sejauh ini masih oke tetapi ada beberapa hal yang bisa diperbaiki. Ini adegan bisa dibuat lebih baik lagi misalnya disaat kedua kekasih itu ingin mengucapkan sumpah setia mereka langit tiba tiba retak dan ada mata yang melihat mereka dari atas tersebut semua orang yang menjadi tamu undangan berlarian kesana kemari. Oke segitu dulu dan maaf jika kritikan ku sedikit nyingung🙏
Clevareus: malahan aku berterimakasih kalau ada yang ngasih saran disini🔥
total 2 replies
DreamXimaginatioN😴
hmm comenter ku seperti kebanyakan pembaca lainnya yaitu terlalu banyak informas tapi bagian tengah sampai akhir mulai menarik kok😁. Aku menyarankan agar kata dan paragraf bagian awal bab pertama pada novel di buat semewah/ sebagus mungkin, buat mancing pembaca. Tapi kembali ke author sendiri sih mau di edit atau tidak. Aku menilai bab ini sudah cukup menarik di tambah tata bahasanya rapi, sudah berkelas ini 👍😁.
AngkaSatu
Pendapatku tentang Clarissa. Menurutku Clarissa itu belum diperkenalkan dengan baik. Orang orang akan bilang "Oh oke dia trauma karena perang" Tetapi bila buat Clarissa nya diperkenalkan dulu kasih dialog dulu maka orang orang akan merasa sedikit perihatin. "Oh kasian sekali Clarissa."
AngkaSatu
Menurutku terlalu banyak informasi yang dilemparkan sekaligus. Orang orang bisa lupa nanti tokoh tokoh pentingnya nanti
Clevareus: oke kak, makasih pendapatnya yaa
total 1 replies
Not Not
Gak tau mau komen apa lagi 😹 udah bagus kok
Clevareus: makasihh 🔥
total 1 replies
Not Not
terlalu banyak info dump diawal/NosePick/ mendingan ditunjukkan lewat adegan
WER
semangatttt authorrrrrr 😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!