NovelToon NovelToon
VENA - AIR YANG MATI

VENA - AIR YANG MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Fantasi
Popularitas:147
Nilai: 5
Nama Author: Catnonimous

Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 : Serangan pertama

Suasana di pusat kota benar-benar membuat Rasyid dan rekannya tidak bisa berkata-kata. Pemandangan di depan mereka seperti sebuah mimpi buruk. Lampu-lampu jalanan menerangi kekacauan total; mobil-mobil saling bertabrakan dan ditinggalkan begitu saja di tengah jalan dengan pintu terbuka, sementara ratusan warga kota berlarian tanpa arah, berteriak histeris mencari perlindungan.

Suara rentetan tembakan terdengar bersahut-sahutan dari beberapa sudut kota, disusul oleh teriakan minta tolong yang memecah malam. Kota yang biasanya tenang kini berubah menjadi medan perang dalam sekejap.

Rasyid dan rekannya segera menghentikan mobil di pinggir jalan. Mereka keluar dari kabin sambil bersiap dengan senjata masing-masing. Rasyid menarik slide pistolnya, memastikan peluru sudah mengunci di dalam kamar senapan.

Baru saja melangkah beberapa meter dari mobil, suara geraman rendah yang berat terdengar dari arah belakang mereka. Naluri Rasyid langsung bergejolak. Ia berbalik dengan cepat dan mendapati sesosok tubuh berjalan limbung ke arahnya dengan pakaian yang compang-camping dan berlumuran lumpur kering.

Tanpa ragu, Rasyid melepaskan tembakan beberapa kali. Dor! Dor! Dor!

Peluru menghantam dada makhluk itu, membuatnya terenyak lalu jatuh tersungkur di atas aspal. Rasyid menurunkan pistolnya sedikit, napasnya memburu. Ia menatap jasad yang tak bergerak itu dengan dahi berkerut, lalu menoleh ke arah rekannya. "Makhluk apa ini??"

Namun, makhluk yang seharusnya sudah mati itu kembali bergerak. Sendi-sendinya berbunyi kaku saat ia mulai membalikkan tubuh, lalu perlahan kembali berdiri tegak seolah tembakan Rasyid tadi sama sekali tidak berpengaruh.

Melihat hal itu, rekan Rasyid tidak mau mengambil risiko. Ia langsung mengarahkan senjatanya dan menembak berkali-kali secara brutal ke arah bagian vital makhluk tersebut sampai akhirnya tubuh itu benar-benar tumbang, tidak bergerak lagi, dan terkapar kaku di atas aspal.

"Kita harus bergerak, Rasyid! Ini sudah tidak beres!" seru rekannya di antara suara bising kota.

Rasyid mengangguk cepat. Mereka berdua mulai melangkah membelah kekacauan, menelusuri trotoar dan gang-gang kota untuk menemui pusat komando kepolisian yang telah didirikan secara darurat. Setiap sudut yang mereka lewati hanya menyajikan kepanikan; toko-toko yang jendelanya pecah, barang-barang yang berserakan, dan bayangan-bayangan aneh yang bergerak di kegelapan malam. Kota ini telah lumpuh, dan Rasyid tahu bahwa apa yang keluar dari bawah tanah sore tadi baru saja memulai serangan mereka.

...----------------...

Sementara itu, jauh di kedalaman bawah tanah, Aris dan Liora sedang terlelap karena kelelahan yang luar biasa. Namun, tidur mereka tidak berlangsung lama. Mereka mendadak terbangun ketika mendengar suara teriakan minta tolong dari seorang pria yang menggema di lorong.

Suara itu terdengar sangat panik dan kesakitan, tetapi Aris dan Liora tidak bisa melihat siapa orang tersebut karena ruangan tahanan mereka benar-benar tertutup rapat oleh pintu besi.

Tak lama setelah suara teriakan itu mereda, pintu ruangan mereka terbuka. Axel berdiri di ambang pintu dan langsung mengajak mereka untuk ikut bersamanya. Tanpa banyak tanya, Aris dan Liora berjalan mengikuti Axel dengan dikawal ketat oleh beberapa penjaga.

Mereka kembali dibawa ke ruang perawatan Dr. Stela. Begitu melangkah masuk, Aris dan Liora terkejut melihat beberapa orang asing berada di sana. Ada seorang pria paruh baya mengenakan jas rapi yang ternyata adalah Walikota Yunus, didampingi oleh dua orang pengawal berbadan tegap. Namun, yang lebih mengejutkan adalah sosok pria yang terduduk di lantai dengan wajah lebam dan penuh luka.

"Dokter Fer..." Liora spontan berteriak kecil, namun ia langsung menghentikan ucapannya setelah Aris menyenggol bahunya dengan cepat, memberi isyarat untuk tetap diam. Dokter Ferdi tampak sangat ketakutan dan tidak berdaya di bawah tatapan orang-orang di ruangan itu.

Walikota Yunus kemudian melangkah mendekati Stela. "Nyonya," panggil Yunus dengan sangat sopan. Ia membungkuk, mengambil tangan Stela, lalu menciumnya sambil memuji, "Kecantikan Anda benar-benar tidak pudar sama sekali."

Dr. Stela mengerutkan dahinya, merasa asing. Ia menoleh ke arah Axel. "Siapa dia?"

Axel langsung menjawab, "Dia adalah Walikota Yunus, Bu. Dia orang yang selama ini membantuku menyembunyikan dan membangun fasilitas bunker ini di bawah kota."

Stela tersenyum tipis dan mengangguk. "Benarkah? Terima kasih atas bantuanmu, Pak....?"

Yunus langsung menyahut, "Yunus nyonya.."

"iya Yunus, terimakasih sekali lagi." ujarnya lembut, sebelum pandangannya beralih ke pria yang babak belur di lantai. "Lalu, ini siapa?"

Yunus segera menjawab dengan nada formal, "Dia adalah Dokter Ferdi, Nyonya. Selama ini dia yang membantu saya memantau dan mengirimkan sampel dari setiap korban yang mati akibat air yang Nyonya gunakan. Dari semua data yang kami punya, sebenarnya tinggal satu sampel terakhir lagi yang bisa membuat kondisi fisik Nyonya menjadi jauh lebih sempurna. Hanya saja, dia ini beralasan kalau sampelnya belum selesai diperiksa."

Mendengar penjelasan Yunus, Aris dan Liora saling berpandangan dan berbisik pelan. Mereka akhirnya menyadari bahwa Dokter Ferdi yang selama ini mereka mintai tolong di rumah sakit, ternyata ikut terlibat dalam lingkaran ini.

Dr. Stela melangkah perlahan mendekati Ferdi. "Apakah benar sampel itu belum selesai kamu periksa?" tanyanya meyakinkan.

Ferdi yang tubuhnya gemetar hebat mendongak, mencoba menatap Stela dengan sisa keberaniannya. "I-iya, Nyonya... sampelnya sangat rumit. Saya bersumpah belum selesai mengetesnya," jawab Ferdi berbohong, padahal di dalam hatinya ia tahu betul bahwa sampel itu sudah ia sembunyikan di rumahnya.

Mendengar jawaban itu, ekspresi Dr. Stela langsung berubah dingin. Warna matanya perlahan berubah total menjadi putih pekat. Dari telapak tangan kanannya, kulitnya tampak merobek kecil dan mengeluarkan beberapa helai tentakel berlendir yang ujungnya sangat tajam.

Stela membungkuk, mendekatkan wajahnya ke telinga Ferdi. "Jangan berbohong padaku... karena aku bisa merasakan detak jantungmu yang tidak jujur," bisik Stela dengan suara yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Saya bersumpah, Nyonya! Saya tidak bohong!" jerit Ferdi histeris.

Stela tampak luluh sejenak, ia mengangguk pelan lalu memegang sisi kepala Ferdi dengan tangan kirinya. Namun, gerakan selanjutnya terjadi begitu cepat. Sebelum Ferdi sempat bernapas lega, tentakel tajam dari tangan kanan Stela melesat dan langsung menembus sisi kepala Ferdi hingga tembus ke bagian lain.

Jleb!

Ferdi hanya sempat mengeluarkan erangan pendek yang tertahan sebelum matanya mendelik dan tubuhnya seketika ambruk, tak bernyawa. Darah segar berwarna merah pekat merembes keluar dari luka di kepalanya, menggenas di atas lantai beton.

Melihat kengerian yang terjadi begitu cepat, Walikota Yunus tersentak kaget dan mundur selangkah. Dua pengawalnya langsung kaku mematung. Di sudut ruangan, Liora spontan menutup matanya rapat-rapat dan menyembunyikan wajahnya di balik punggung Aris yang juga tegang menahan napas.

Dr. Stela menarik kembali tangannya dengan santai. Tentakel berlendir itu perlahan masuk kembali ke balik kulit telapak tangannya, dan warna matanya kembali normal seperti semula. Ia mengusap tangannya yang bersih seolah tidak terjadi apa-apa.

"Dia berbohong," kata Stela dengan suara datar yang dingin. "Orang yang berbohong tidak akan pernah bisa dipercaya untuk bicara. Jadi, hanya kematian yang akan membuatnya diam selamanya."

Stela kemudian menoleh ke arah Axel, lalu beralih menatap Walikota Yunus yang wajahnya sudah pucat pasi. "Axel, suruh Walikota ini untuk mencari sampel itu sampai ketemu. Karena jika dia gagal membawakannya untukku, nasibnya akan berakhir sama seperti dokter ini."

"Pak Walikota, kalau bisa secepatnya temukan sampel nya." tegas Axel.

Tubuh Walikota Yunus gemetar hebat mendengar ancaman langsung dari makhluk di depannya. "Ba-baik, Nyonya. Saya akan cari sampai ketemu. Saya berjanji," ujar Yunus dengan suara bergetar.

Tanpa membuang waktu lagi, Yunus segera berbalik dan memberi isyarat kepada dua pengawalnya untuk pergi. Mereka bertiga berjalan terburu-buru meninggalkan ruangan, menyisakan Aris, Liora, Axel, dan Stela bersama jasad Dokter Ferdi yang mulai mendingin di lantai.

Aris dan Liora hanya saling pandang sesekali, lalu Aris bertanya. "Maaf, kami di bawa kesini cuma untuk melihat orang mati saja?"

Axel dengan cepat mendekati Aris, "hey, diam! Kalian kesini karena ibuku ingin bicara dengan kalian."

Dr. Stela melangkah melewati jasad Dokter Ferdi yang tergeletak di lantai, lalu berjalan menghampiri Aris dan Liora. Ia menatap mereka berdua dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Bagaimana keadaan di permukaan kota saat ini?" tanya Stela dengan suara yang sangat tenang namun berwibawa. "Aku bisa merasakan getaran yang aneh. Ada sesuatu yang sedang terjadi di atas sana."

Aris dan Liora saling berpandangan. Mereka tidak tahu harus menjawab apa karena mereka sudah berhari-hari terkurung di dalam bunker tanpa tahu perkembangan di luar.

Belum sempat Aris membuka mulut untuk menjawab, pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan kasar. Seorang penjaga masuk dengan napas terengah-engah dan wajah yang sangat panik. Ia langsung masuk tanpa aturan kesopanan karena situasi yang mendesak.

"Lapor, Tuan Axel! Nyonya Stela!" seru penjaga itu dengan suara bergetar. "Ada pergerakan massal yang tidak terkendali!"

Axel mengernyitkan dahi, langsung mencengkeram kerah baju penjaga itu. "Bicara yang jelas! Apa yang terjadi?"

"Semua makhluk yang ada di Red Room... mereka bergerak semuanya!" jawab penjaga itu dengan mata terbelalak ketakutan. "Tidak hanya di sana, beberapa makhluk di ruang penyimpanan B2 yang berada di lorong dekat ruang arsip juga mulai mendobrak keluar dan bergerak!"

Mendengar laporan itu, Aris langsung teringat pada mendiang bosnya. Di dalam ruang penyimpanan B2 itulah jasad Pak Jaya diletakkan setelah diambil paksa dari rumah sakit. Itu berarti, Pak Jaya yang sudah berubah kondisi tubuhnya kini juga ikut bangkit dan bergerak bersama puluhan makhluk cacat lainnya.

Ruangan itu seketika menjadi tegang. Axel tampak terkejut dan langsung menatap Stela, sementara Dr. Stela justru memejamkan mata perlahan, seolah sedang mendengarkan frekuensi tak bersuara yang dikirimkan oleh makhluk-makhluk di dalamnya.

Axel segera bergerak cepat setelah mendengar laporan itu. Diikuti beberapa penjaga bersenjata, ia berlari ke koridor utama untuk memastikan pintu-pintu penghubung antar-sektor terkunci rapat secara elektronik. Mereka harus mencegah makhluk-makhluk itu menerobos ke area inti bunker.

Sementara itu, di dalam ruangan, Aris melihat celah. Perhatian Dr. Stela masih teralihkan; wanita itu berdiri mematung dengan mata terpejam. Aris menyenggol lengan Liora, lalu bergerak mundur perlahan selangkah demi selangkah menuju pintu keluar yang sedikit terbuka. Begitu posisi mereka aman, Aris menarik tangan Liora dan mereka langsung berlari sekuat tenaga keluar dari ruangan itu.

Sambil terus berlari menyusuri lorong beton yang panjang, telinga mereka menangkap suara gema pukulan, tendangan brutal, serta teriakan melengking dari makhluk-makhluk yang mencoba mendobrak dinding pembatas. Kepanikan di bawah tanah sudah menyebar.

Aris dan Liora akhirnya tiba di sebuah ruangan basement yang remang-remang. Ruangan luas ini dipenuhi oleh instalasi pipa air dan gas, mulai dari ukuran kecil hingga pipa raksasa yang menembus langit-langit beton. Mereka segera mencari tempat bersembunyi dan memutuskan untuk meringkuk di balik salah satu pipa paling besar di sudut ruangan.

Liora terengah-engah, dadanya naik turun karena panik. "Aris, kenapa kita malah ke sini? Ini jalan buntu!" bisiknya dengan suara bergetar.

"Aku ingin mencari jalan keluar, Liora," jawab Aris sambil menyeka keringat di dahinya. "Tadi aku memperhatikan saat Walikota Yunus dan Dokter Ferdi dibawa masuk. Mereka datang dengan pakaian bersih, artinya di bawah sini pasti ada akses jalan pintas yang langsung menuju ke permukaan kota tanpa harus lewat jalur utama. Akses itu pasti ada di sekitar ruang instalasi ini."

"Tapi di sebelah mana?" tanya Liora bingung.

"Kamu diam di sini dulu, jangan ke mana-mana," perintah Aris serius. "Aku akan memeriksa sekeliling ruangan ini. Berharap saja keberuntungan ada di pihak kita."

Di sektor lain, Axel berdiri di depan jendela kaca tebal ruang pengawasan Red Room. Jantungnya berdegup kencang saat melihat puluhan makhluk di dalam sana mengamuk bersamaan. Hantaman tubuh mereka yang brutal mulai membuat permukaan kaca tebal itu memunculkan retakan-retakan kecil mirip sarang laba-laba.

"Sial!" umpat Axel panik. Ia segera melangkah keluar dan mengunci pintu besi Red Room secara manual dari luar dengan tuas baja.

Ia kemudian menoleh ke dua penjaga yang berdiri di dekatnya. "Kalian berdua, cepat menuju ruang B2! Kunci rapat ruangan itu dari luar dan jangan biarkan apa pun lolos! Aku harus kembali ke ruangan Ibu!"

Perintahnya tegas.

Axel berlari kembali ke kamar ibunya. Sosok Dr. Stela masih berdiri di posisi yang sama dengan mata yang tertutup rapat.

"Ibu? Apa yang terjadi?" tanya Axel dengan suara panik.

"Diam," jawab Stela singkat tanpa membuka mata.

Melalui kemampuan biologis baru di tubuhnya, Stela sebenarnya sedang berusaha keras memancarkan gelombang otak untuk mengendalikan seluruh makhluk ciptaannya. Namun, koneksi itu belum sepenuhnya tersambung, membuat makhluk-makhluk di berbagai sektor masih mengamuk dan mendobrak dinding ruang isolasi mereka.

Sementara itu, di koridor B2, dua penjaga yang diperintahkan Axel berjalan perlahan memasuki ruangan penyimpanan. Suasana di dalam ruangan itu justru sangat hening. Lampu neon di langit-langit berkedip tidak stabil, menyala dan mati secara bergantian, menciptakan bayangan yang mengerikan.

Mereka melangkah maju dengan senjata siaga. Namun, tanpa diduga, dari balik kegelapan sebuah sudut ruangan, sesosok makhluk menerjang dengan kecepatan luar biasa.

Arghhh!

Satu penjaga langsung roboh dan tercabik.

Rekannya yang selamat seketika didera rasa takut yang teramat sangat. Tanpa memikirkan temannya yang berteriak minta tolong di dalam, penjaga yang selamat itu langsung berbalik arah dan melompat keluar ruangan.

Ia berhasil mencapai pintu utama lorong, tepat ketika beberapa makhluk lain mulai berlari mengejarnya dari dalam kegelapan. Dengan tangan gemetar, ia membanting pintu besi utama itu dan menguncinya dari luar. Brak! Brak! Brak! Suara gebrakan keras langsung terdengar dari balik pintu besi yang baru saja ia kunci. Penjaga itu bernapas lega, lalu berlari kencang menuju ruangan Axel untuk melaporkan situasi.

Sesaat setelah penjaga itu selesai melaporkan kejadian di B2, suasana bunker yang tadinya bising oleh suara gebrakan dan teriakan perlahan-lahan mulai mereda. Keheningan kembali menyelimuti lorong-lorong bawah tanah.

Bersamaan dengan itu, Dr. Stela membuka matanya perlahan. Warna matanya kembali normal. Ia telah berhasil menguasai dan menenangkan seluruh makhluk tersebut dengan pikirannya. Namun, proses itu tampaknya menguras banyak energi. Tubuh Stela nampak lemas dan sedikit sempoyongan.

Axel dengan sigap langsung memegangi pundak ibunya. "Ibu tidak apa-apa? Ada apa, Bu?" tanya Axel cemas.

Stela tidak menjawab, ia hanya mengatur napasnya yang berat. Saat itulah, Axel mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang kini sudah sepi. Matanya menyipit saat menyadari sesuatu yang hilang.

"Aris... Liora..." gumam Axel, sebelum akhirnya berteriak murka kepada penjaga yang ada di depan pintu. "Brengsek! Aris dan Liora kabur! Cepat cari mereka ke seluruh sudut bunker sekarang juga! Jangan sampai mereka lolos!"

...****************...

1
Anak_misterius😑
bagus novel nya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!