NovelToon NovelToon
Takdir Kaisar Bintang

Takdir Kaisar Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Langit Azure, kekuatan bela diri dan kedalaman Qi menentukan segalanya. Ye Chen, seorang jenius dari keluarga cabang klan Ye, dikhianati dan "Akar Roh" miliknya dicuri oleh saudara sepupunya sendiri demi ambisi klan utama. Menjadi cacat dan dibuang ke pinggiran desa, nasibnya berubah ketika sebuah meteorit hitam jatuh di dekatnya. Meteorit tersebut menyimpan warisan dari "Kaisar Kekosongan" dari era kuno, memberikannya seni kultivasi terlarang yang tidak membutuhkan Akar Roh, melainkan menyerap energi bintang. Ye Chen kini harus merangkak dari bawah, bersembunyi dari musuh-musuh kuat, dan menapaki jalan kultivasi untuk membalas dendam serta mencari kebenaran di balik hancurnya para Dewa Kuno

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Ujian Api Neraka dan Evolusi Ruang Hampa

​Tetua pendaftaran itu menghela napas panjang, menatap Su Yue seolah menatap seorang anak kecil yang keras kepala. Ia lalu bangkit dari kursinya.

​"Baiklah, jika kau bersikeras. Ikuti aku ke Ruang Tungku. Dan kau," Tetua itu menunjuk Lin Chen. "Pelayan tunggu di luar. Ruang ujian sangat sensitif terhadap orang tanpa elemen api."

​Namun, Lin Chen hanya tersenyum tipis dan tetap berjalan mengikuti Su Yue dari belakang, sama sekali mengabaikan larangan Tetua tersebut.

​"Kakak Senior, aku ini asisten setiamu. Mana mungkin aku membiarkanmu membawa tas yang berat sendirian?" alasan Lin Chen dengan wajah tanpa dosa.

​Tetua itu mendengus kesal, tapi tidak melarang lebih jauh karena malas berdebat.

​Mereka memasuki sebuah ruangan melingkar yang terbuat dari batu tahan panas. Di tengah ruangan, terdapat sebuah tungku raksasa berwarna hitam legam yang memancarkan hawa dingin yang menusuk, alih-alih hawa panas. Di permukaan tungku itu, terukir lima buah bintang kristal yang belum menyala.

​"Ini adalah Tungku Api Neraka," jelas Tetua itu. "Logam ini menyerap dan mematikan api biasa. Tugasmu adalah menyalurkan api Qi milikmu ke dalam lubang tungku. Jika kau bisa menyalakan tiga bintang, kau lulus. Empat bintang berarti kau jenius. Lima bintang... ah, lupakan saja. Bahkan ketua Kuil Suci butuh waktu sepuluh tahun untuk mencapai lima bintang."

​Pemuda berambut hijau yang tadi mengejek Su Yue ternyata ikut masuk. Ia menyilangkan lengannya dengan angkuh. "Biar aku yang memberi contoh pada orang udik ini. Minggir."

​Pemuda itu melangkah maju. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menempelkan kedua telapak tangannya ke tungku raksasa tersebut.

​Wusss!

​Api Qi berwarna hijau pekat menyembur dari tangannya. Wajah pemuda itu memerah, urat nadinya menonjol. Perlahan, bintang kristal pertama di tungku itu menyala merah. Disusul bintang kedua. Dan setelah berjuang hingga berkeringat deras selama satu menit penuh, bintang ketiga akhirnya menyala redup.

​Pemuda itu melepaskan tangannya sambil terengah-engah, namun wajahnya penuh kebanggaan. "Heh! Tiga bintang! Lulus kualifikasi! Bagaimana, Nona Udik? Matamu sudah terbuka melihat kekuatan alkemis Ibukota?"

​Su Yue tidak mempedulikan ejekan itu. Ia melangkah maju dengan tenang dan menempelkan tangannya ke tungku yang masih memancarkan hawa penolak itu.

​Su Yue memejamkan mata. Api Bulan Biru, api Qi khas miliknya yang telah dimurnikan sejak kejadian di sekte, mengalir keluar dari telapak tangannya.

​Srrsh...

​Bintang pertama menyala dengan mudah. Bintang kedua menyala terang. Namun, saat menuju bintang ketiga, perlawanan dari Tungku Api Neraka itu meningkat drastis. Hawa dingin dari tungku menekan api Su Yue hingga hampir padam. Wajah gadis itu mulai memucat.

​"Hahaha! Sudah kubilang! Menyerah sajalah!" ejek si pemuda berambut hijau.

​Di belakang Su Yue, Lin Chen yang berdiri santai menatap tungku hitam itu dengan bosan.

​Tungku sampah ini berani menindas Kakak Senior di depanku? batin Lin Chen.

​Tanpa ada yang menyadari, Lin Chen menjentikkan jarinya dengan sangat pelan di dalam saku jubahnya. Seutas energi tak kasat mata dari Teratai Api Inti Bumi—api kosmis purba yang bersemayam di jantungnya—melesat menembus udara dan masuk lurus ke punggung Su Yue, menyatu dengan aliran Qi gadis itu.

​BUM!

​Dalam sepersekian detik, Api Bulan Biru milik Su Yue yang tadinya kewalahan, mendadak berubah warna menjadi putih kebiruan yang sangat terang dan menyilaukan! Suhu di dalam ruangan itu melonjak tajam hingga udara bergetar karena distorsi panas!

​TRING! TRING! TRING!

​Bintang ketiga, keempat, dan kelima di tungku itu menyala serentak dalam waktu kurang dari satu kedipan mata! Saking terangnya, bintang-bintang kristal itu terlihat seperti akan meledak!

​Bukan hanya itu, seluruh badan Tungku Api Neraka yang legam itu kini menyala merah membara. Sebuah suara retakan halus... Kretak!... terdengar dari dasar tungku.

​"C-Cukup! Hentikan! Tungkunya bisa meleleh!" jerit Tetua pendaftaran dengan panik. Matanya hampir copot.

​Su Yue buru-buru menarik tangannya, ikut terkejut dengan ledakan apinya sendiri. Ia menoleh ke arah Lin Chen, yang hanya memberinya kedipan sebelah mata yang sangat halus. Su Yue langsung mengerti. Monster ini ikut campur lagi!

​Pemuda berambut hijau tadi jatuh terduduk di lantai, mulutnya ternganga lebar. Kakinya lemas melihat lima bintang menyala terang benderang.

​Tetua pendaftaran berlari menghampiri Su Yue dengan tangan gemetar. Sikap arogan dan meremehkannya tadi sudah menguap entah ke mana, digantikan oleh rasa hormat yang mendalam.

​"L-Lima Bintang! Kekuatan api yang nyaris mencapai tingkat Surgawi!" Tetua itu menelan ludah. Ia buru-buru merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah lencana emas berbentuk teratai. "Nona... eh, Master Su! Ini Lencana VIP untuk Turnamen Seratus Api! Anda langsung masuk ke babak utama tanpa perlu ikut penyisihan!"

​Su Yue menerima lencana itu dengan anggun, meskipun di dalam hatinya ia masih merasa ini seperti curang. "Terima kasih, Tetua."

​"Ayo kita pergi, Kakak Senior. Sudah cukup pamer untuk hari ini," ucap Lin Chen santai, lalu berjalan keluar mendahului Su Yue, meninggalkan Tetua dan pemuda berambut hijau yang masih mematung layaknya orang dungu.

​Malam harinya.

​Menggunakan kekayaan dari Cincin Penyimpanan Li Jian, Su Yue menyewa sebuah paviliun mewah di Penginapan Awan Emas, salah satu tempat peristirahatan paling bergengsi di distrik inti Ibukota.

​Paviliun itu memiliki formasi pelindung suara dan pengumpul Qi yang sangat padat. Sempurna untuk berlatih.

​Di dalam kamarnya yang tertutup rapat, Lin Chen duduk bersila di atas ranjang giok. Di telapak tangannya, tergeletak Batu Meteorit Kekosongan yang memancarkan pendaran perak kehitaman.

​Guru Lin Tian melayang keluar, wajahnya penuh antisipasi.

​"Jangan ditelan bulat-bulat, Muridku," peringat Lin Tian. "Energi ruang di dalam batu ini sangat ganas. Jika kau gegabah, tubuhmu akan terpotong-potong oleh bilah dimensi dari dalam! Gunakan Seratus Delapan Titik Bintangmu untuk menggerusnya secara perlahan, lalu alirkan serpihan energinya ke seluruh kulit dan ototmu!"

​Lin Chen mengangguk. Ia memejamkan mata.

​Teknik Kekosongan: Pemakan Bintang!

​Lin Chen mengeratkan genggamannya pada meteorit itu. Seketika, Seratus Delapan Titik Bintang di tubuhnya menyala terang menembus bajunya, membentuk rasi bintang yang luar biasa indah namun mematikan.

​KRAAAK!

​Batu Meteorit Kekosongan itu hancur menjadi bubuk bersinar di telapak tangan Lin Chen. Aliran energi perak kehitaman yang sangat dingin langsung merangsek masuk melalui pori-porinya.

​"Ugh!" Lin Chen mengerang tertahan.

​Rasanya seperti ada jutaan pisau bedah tak kasat mata yang mencoba mengiris daging, tulang, dan organ dalamnya secara bersamaan. Energi dimensi itu mencoba menolak dikendalikan oleh tubuh fana.

​Namun, Inti Bintang Petir di pusar Lin Chen merespons. Petir ungu kosmis meledak di dalam pembuluh darahnya, mencambuk dan menundukkan energi ruang yang memberontak itu, memaksanya menyatu dengan sel-sel tubuh Lin Chen!

​Keringat hitam mulai bercucuran dari tubuh pemuda itu. Itu adalah sisa-sisa kotoran fana terakhir yang dipaksa keluar. Otot-ototnya berkedut, tulangnya berderit mengeluarkan suara seperti logam yang sedang ditempa oleh palu dewa.

​Proses ini berlangsung selama berjam-jam, menyiksa namun membawa kekuatan yang sangat absolut.

​Menjelang fajar, cahaya perak kehitaman di tubuh Lin Chen akhirnya meredup dan meresap sepenuhnya ke dalam kulitnya.

​Lin Chen membuka matanya. Tidak ada lagi kilatan petir liar. Kini, matanya sedalam jurang angkasa luar. Kulitnya terlihat normal, putih dan bersih, tanpa ada sedikit pun hawa intimidasi. Ia terlihat seperti manusia fana yang paling biasa.

​Namun, hanya Lin Tian yang tahu betapa mengerikannya wujud Lin Chen saat ini.

​"Hahaha! Evolusi sukses!" Lin Tian tertawa puas. "Tubuh Ruang Hampa telah tercapai! Coba kau rentangkan tanganmu!"

​Lin Chen bangkit berdiri. Ia mengulurkan tangan kanannya ke depan, lalu berkonsentrasi sejenak.

​Wusss.

​Sesuatu yang luar biasa terjadi. Ujung jari telunjuk Lin Chen... tiba-tiba menghilang. Bukan putus, melainkan menembus masuk ke dalam ruang kosong, dan secara ajaib muncul menembus udara di sudut ruangan yang berjarak lima meter darinya!

​Lin Chen membelalakkan matanya kagum. Ia menarik jarinya kembali, dan ruang itu tertutup dengan sempurna.

​"Memanipulasi ruang fisik," gumam Lin Chen. "Ini berarti pedang biasa yang menusuk tubuhku hanya akan menembus udara kosong, kan?"

​"Benar! Otot dan kulitmu sekarang berada di frekuensi dimensi yang sedikit berbeda dengan dunia fana. Selama serangan musuh tidak mengandung pemahaman hukum ruang (Hukum Domain Jiwa Baru Lahir Puncak), serangan itu tidak akan pernah bisa menyentuhmu!" jelas Lin Tian.

​Lin Chen tersenyum iblis. Ia baru saja akan mandi untuk membersihkan keringat hitamnya, ketika telinganya yang kini puluhan kali lebih sensitif menangkap suara gesekan udara yang sangat pelan dari arah atap paviliun.

​Itu adalah teknik kamuflase tingkat tinggi. Ada seseorang yang menyusup menembus formasi pelindung penginapan!

​"Hoo... tikusnya cepat sekali datang," bisik Lin Chen, matanya menyipit penuh hawa membunuh. "Apakah dari Keluarga Wang? Atau Keluarga Liu?"

​Lin Chen berjalan santai menuju meja dan menuangkan secangkir teh.

​Tepat saat ia mengangkat cangkir teh itu ke bibirnya...

​CRAAAASSH!

​Bayangan hitam melesat turun dari langit-langit dengan kecepatan kilat, menghunuskan pedang tipis berlapis racun berwarna hijau lurus ke arah ubun-ubun Lin Chen! Auranya menunjukkan bahwa pembunuh ini berada di tahap Setengah Langkah Jiwa Baru Lahir! Pembunuh elit!

​"Mati kau, Bocah Udik!" desis pembunuh itu dengan kejam. Perintah Keluarga Wang sangat jelas: Bawa kepala pemuda ini sebelum matahari terbit!

​Pedang tajam itu meluncur membelah kepala Lin Chen...

​Namun, mata sang pembunuh melebar dengan ngeri. Tidak ada suara benturan logam, tidak ada cipratan darah, tidak ada sensasi menusuk daging.

​Pedang spiritualnya menembus kepala dan dada Lin Chen seolah menembus bayangan air! Pemuda itu masih berdiri tenang meminum tehnya, sementara pedang sang pembunuh tertancap konyol di meja kayu.

​"A-Apa?! Ilusi?!" pembunuh itu berteriak tertahan, jantungnya seakan copot.

​Lin Chen meletakkan cangkir tehnya perlahan. Ia menoleh menatap wajah pembunuh berpakaian hitam yang kini pucat pasi dan gemetar karena gagal memahami apa yang baru saja terjadi. Tubuh Ruang Hampa telah memindahkan serangan itu ke dimensi kosong.

​"Sopan santunmu sangat buruk. Aku sedang minum teh," kata Lin Chen datar.

​Tangan kanan Lin Chen bergerak maju dengan kecepatan yang bahkan tidak meninggalkan bayangan.

​BAM!

​Tangan Lin Chen mencengkeram wajah pembunuh itu dengan kekuatan fisik yang kini telah meningkat sepuluh kali lipat setelah evolusi.

​"Kau salah masuk kamar, Tikus," bisik Lin Chen.

​KRAAAK!

​Tengkorak Setengah Langkah Jiwa Baru Lahir itu remuk seketika di dalam cengkeraman Lin Chen, seperti meremas sebiji buah anggur yang rapuh. Tubuh tanpa nyawa itu jatuh berdebum ke lantai.

​Lin Chen menatap mayat di bawah kakinya dengan mata sedingin es abadi.

​"Keluarga Wang... Sepertinya kalian tidak sabar ingin dihapus dari peta Ibukota Benua Tengah."

1
nanonano
kapan gelutnya nih
Arinto Ario Triharyanto
joss gandozzz 💪
Gege
mantabb...💪👍
Gege
hancurkan lawan, sita harta rampasan, pergi...💪🤣
Gege
biar nambah kosakatanya "dan tak lupa cincin ruang penyimpanan segera diamankan" lumayan buat genapin 10k kata Thor...🤣
Arinto Ario Triharyanto
mantaappp... ga usah malu-malu, yg pamer sok kuat sok keras, tenggelam kan saja, ga pake lama 😎
Arinto Ario Triharyanto
Yoi joss gandozzz💪
Arinto Ario Triharyanto
joosss Thor 💪👍
Arinto Ario Triharyanto
bagus 👍👍👍
Arinto Ario Triharyanto
lanjut ya Thor, jangan berhenti di tengah jalan 😎
Arinto Ario Triharyanto
bagus bagus, sekalian biji nya di cabut 🤭
Arinto Ario Triharyanto
cabut aje, ambil lagi
Arinto Ario Triharyanto
bantai... kagak usah basa-basi
Gege
mantap Thor... gass teroos 10k kata tiap update
Nanik S
Keren sekali Tor👍👍👍
Nanik S
Bijih Api Surgawi
Nanik S
Akhirnya naik menjadi penunggu Api
Nanik S
Lin Chen.... menarik sekali dengan kekuatan Fisiknya
Nanik S
Shiiiiiip
Nanik S
Masuk Sekte pedang awan walau sebagai murid Luar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!