NovelToon NovelToon
DOPAMIN

DOPAMIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Key Kastara

DIJUAL SEBAGAI PELUNAS HUTANG.
SEKARANG DIA YANG MENENTUKAN HARGA NYAWA MEREKA.

Lima tahun lalu Zara diinjak harga dirinya oleh keluarga sendiri.
Hari ini, dia kembali sebagai Zevana Ardhani.
Bukan korban lagi. Tapi sang mafia wanita yang ditakuti di dunia korporat.

Misinya satu: BALAS DENDAM.

Sampai Arka muncul.
Putra dari guru Mafianya sendiri.
Polos. Tulus. Satu-satunya yang melihat Zevana sebagai manusia, bukan monster.

Antara nyawa, racun, dan cinta.
Zevana harus memilih: Menenggelamkan mereka semua dalam kebencian,
atau hancur karena satu-satunya pria yang bisa meluluhkan hatinya?

[MAFIA WANITA] [BALAS DENDAM] [DARK ROMANCE]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Api Balas Dendam

“Hah ... Anda kejam, Bu Zevana,” lirih Arka dengan tatapan sendu.

Wajahnya menyiratkan isi hatinya dengan jelas, seolah berkata: bagaimana mungkin wanita secantik ini bisa bersikap sekejam itu?

“Arka, Anda naif sekali.” Zevana bangkit berdiri, lalu menarik ujung dasi pria itu dan mendekatkan wajahnya.

“Pelajari dengan baik dunia bisnis, sebelum mencoba mengajari saya hal remeh semacam ini.” Sebuah seringai halus tersirat di bibir mungil Zevana.

“Bahkan sebelum saya mengakuisisi perusahaan-perusahaan itu, di sana sudah banyak tikus berdasi yang menelan keuntungan dan gaji karyawannya sendiri. Saya hanya membantu para karyawan yang malang itu membuka mata mereka dari jeratan kaum kapitalis hina yang selama ini mereka puja-puja dengan sikap menjilat!” desis Zevana dengan mata yang menyala.

“Lakukan saja tugas Anda tanpa perlu mempertanyakan apa pun, jika masih ingin bekerja di perusahaan ini,” ancam Zevana seraya melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Arka hampir terhuyung.

“Bagaimana hal itu bisa dijadikan alasan? Penderitaan karyawan yang jumlahnya tak terhitung ada di tangan Ibu, lalu apakah Ibu akan menutup mata begitu saja?” kukuh Arka yang masih tidak menerima penjelasan itu.

Zevana mundur beberapa langkah, lalu kembali duduk di kursi kebesarannya.

“Arka, bisnis itu adalah hukum rimba. Antar perusahaan, bahkan antarsesama karyawan, semuanya bagaikan rantai makanan. Siapa yang kuat, dialah yang berkuasa, siapa yang lemah, dialah yang akan dimangsa. Saya hanya berusaha menata aturan itu demi keteraturan usaha dan sedikit rasa kemanusiaan. Jika Anda memandang saya seolah-olah saya hanyalah orang yang gila harta dan kekuasaan, sepertinya Anda terlalu menilai diri sendiri berlebihan soal kemampuan Anda dalam dunia bisnis.” Zevana menutup layar laptopnya, lalu menatap Arka dengan dingin.

“Tidak ada yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya jahat di dunia ini. Lalu soal penderitaan yang Anda sebutkan tadi, itu hanyalah sedikit dorongan agar mereka setidaknya mau bangkit dari sikap patuh buta mereka. Bukankah untuk menjadi kupu-kupu bersayap indah pun, seseorang harus berusaha keras melepaskan diri dari kepompongnya dengan kekuatannya sendiri? Bukankah itu juga sebuah kebaikan, seperti nilai yang selama ini Anda junjung tinggi?” tanya Zevana seraya menyandarkan tubuhnya dengan santai.

Mendengar hal itu, Arka menelan salivanya sendiri lalu menurunkan pandangannya malu.

"Lakukan bagian Anda sesuai perintah saya. Sisanya biar saya yang urus," tekan Zevana sebelum akhirnya ia kembali ke pekerjaannya–membiarkan Arka termenung beberapa saat.

 

Sore harinya, Zevana duduk santai di kursi kebesarannya, segelas kopi tergenggam di tangannya, sementara di atas meja tergeletak majalah bisnis tebal—halamannya terbuka pada sebuah artikel utama berjudul: “Keluarga Besar HARDI ANGGARA: Dinasti Bisnis yang Makin Kokoh dan Sukses”.

Di dalamnya termuat foto besar yang tercetak tajam dan berwarna jelas. Terlihat Hardi yang tampak gagah mengenakan jas hitam, tersenyum bangga di tengah anggota keluarganya. Di sampingnya berdiri Susi, berbusana mewah dengan perhiasan berkilau yang melingkar di leher dan lengannya, tampak anggun seolah wanita itu tak pernah sekalipun bersentuhan dengan sisi gelap dunia. Di sisi lain, Reno, putra mereka—berdiri dengan sikap percaya diri, memegang piala penghargaan bertuliskan “Pengusaha Muda Terbaik Tahun Ini”.

Di bawah foto itu, tulisan berita memuat pujian yang melimpah: “Dikenal sebagai keluarga yang sangat harmonis dan dermawan, Keluarga Hardi Anggara berhasil memperluas jangkauan bisnisnya hingga ke luar pulau. Kekayaan mereka dikabarkan meningkat pesat berkat strategi yang tepat dan kerja keras seluruh anggota keluarga.”

Zevana menatap foto itu dalam-dalam, sementara ujung jari telunjuknya perlahan mengusap wajah Hardi yang tercetak di atas kertas.

“Harmonis? Dermawan? Kerja keras?” kekehnya dengan nada sarkas.

Suara tawanya yang kering dan dingin perlahan berubah menjadi senyum yang sarat akan kebencian.

“Kalian seharusnya mendapatkan penghargaan aktor terbaik!” sergah Zevana dengan rasa muak yang meluap.

“Seandainya publik tahu dari mana sebenarnya asal kekayaan itu, dan apa saja yang kalian lakukan demi bisa mencapai posisi setinggi ini.” Zevana menggantung kalimatnya, mulutnya terkatup rapat menahan emosi.

Rasa benci itu kembali menyala, membakar setiap inci pembuluh darahnya. Dulu, merekalah yang membuat hidup Zevana terasa bagaikan neraka. Menginjak-injak harga dirinya, mengambil apa yang bukan hak mereka, lalu membuang Zevana seolah ia hanyalah sampah tak berharga. Namun sekarang? Mereka berjalan tegap, dipuji banyak orang, dan hidup dalam kemewahan seolah merekalah penguasa dunia.

“Lihatlah ini ... betapa indahnya senyum yang kalian tampakkan. Betapa megahnya rumah yang kalian bangun di atas penderitaan orang lain. Tunggu saja, kesempurnaan ini takkan bertahan lama,” desis Zevana dengan tatapan mata yang berkilat tajam, lalu meremas bagian ujung kertas majalah itu hingga terlipat.

“Membayangkan nanti saat wajah-wajah sombong ini berubah menjadi pucat pasi, membayangkan saat nama besar kalian hancur dan dijauhi oleh lingkungan bisnis yang selama ini kalian banggakan ... Ah ... Rasanya sangat mendebarkan.”

“Tunggu saja, kalian harus menikmati puncak kemewahan dunia ini sampai puas, sebelum akhirnya saya merampas kembali semuanya hingga tak tersisa.”

Di tengah lamunan yang penuh ambisi balas dendam itu, tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu ruangan.

Tok! Tok!

“Permisi, Bu,” ucap Arka yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu sambil membawa setumpuk berkas di tangannya.

Namun seolah larut dalam dunianya sendiri, Zevana sama sekali tidak menggubris kehadiran Arka.

Pintu pun terbuka perlahan, lalu Arka melangkah masuk. Langkahnya terhenti seketika saat merasakan suhu ruangan seolah berubah menjadi lebih dingin dan terasa menyesakkan. Ia melihat raut wajah Zevana; tatapannya yang biasanya tajam kini terlihat menyimpan amarah yang meluap. Arka mengira itu karena ia lancang masuk tanpa izin, atau mungkin karena masih terbawa suasana pertengkaran soal pengelolaan anak perusahaan sebelumnya. Namun ternyata pandangan Zevana tertuju pada layar mejanya.

“Bu Zevana? Maaf mengganggu. Saya membawa laporan rekapitulasi aset perusahaan di kota ini; semuanya sudah selesai disusun,” tutur Arka dengan nada sopan.

Deg!

Zevana tersentak kaget.

“Hah ... Kamu membuatku terkejut saja. Sejak kapan kamu berdiri di sana?” tanya Zevana seraya memijat pelipisnya yang terasa sedikit tegang. Ia berbicara dengan nada santai kepada Arka.

“Maaf, Bu. Saya sudah mengetuk beberapa kali, namun tidak mendapat jawaban. Saya jadi khawatir,” jelas Arka dengan nada penuh perhatian.

“Baiklah, silakan taruh berkasnya di sana,” perintah Zevana seraya menunjuk ke sudut meja yang masih kosong.

“I-iya, Bu. Kalau begitu ...” Arka menggantung kalimatnya dengan ragu, lalu melirik ke arah cangkir kopi di hadapan Zevana.

“Ya? Nanti saya periksa sendiri,” jawab Zevana seraya mengangguk, lalu kembali menatap layar komputernya setelah mengenakan kacamata antiradiasi.

“Bukan itu, Bu,” Arka mencoba menarik perhatian Zevana, khawatir ia tidak mendengar dengan jelas.

Zevana pun mendongak, menatap wajah Arka, lalu sedikit mengangkat kacamatanya agar pandangannya lebih jelas.

“Apakah Ibu ada waktu sore ini?” tanya Arka sambil memberanikan diri melanjutkan pembicaraannya.

 

1
jamescortis
semangat thor 🔥🔥
Key Kastara: Trimakasih kakak 🔥✨
total 1 replies
Musea
wihh semangat yaa dari sesama author
Key Kastara: Trimakasih kakak siap 🤗✨
total 1 replies
Wawan
Salam kenal buat Zara ✍️
Key Kastara: Salam kenal kakak 🤗✨
total 1 replies
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Aku mau kopi tubruk sama 76🚬🗿👍🏻
Key Kastara: Otewe, dimana 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!