Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanah Aneh Yang Tidak Biasa
Langkah ketiga mahasiswa itu memecah keheningan di jalan setapak yang mengarah ke pinggiran Desa Pasir Angin. Ketika mereka semakin dekat dengan lokasi Jarian, tampak perubahan pada vegetasi di sekitar pohon bambu tumbuh sangat rapat, dan daun-daunnya seolah melengkung ke bawah, menutupi sebagian cahaya sinar matahari pagi yang seharusnya lebih cerah.
"Yan, apakah kamu gak memikirkan tentang syarat kedua dari Pak RT tadi? Jangan sekali-kali menyentuh atau mengambil foto benda asing yang tertimbun. Sebenarnya ada apa di bawah tanah Jarian? Apakah itu harta karun?". Bagas berada di paling belakang, matanya waspada memerhatikan sekeliling.
"Kemungkinan besar hanya sisa material lama yang dianggap suci oleh penduduk setempat, Gas. Seperti yang sering Dinda jelaskan, masyarakat pedesaan biasanya mengagungkan objek tertentu setelah mengalami bencana atau kejadian trauma. Tugas kita cuma mengambil sampel tanah sedalam 30 centimeter, mengukur luas lahan, lalu pulang,". Jelas Adrian sambil terus berjalan, memegang papan jalannya.
"Tapi Yan, kalian nggak merasakannya? Ini jam sembilan pagi, tapi rasanya sudah sore, ya? Di sini sepertinya sangat redup.". Dinda mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin.
Akhirnya, mereka tiba di sebuah area yang cukup luas. Tanah di Jarian tampak sangat hitam legam, sangat berbeda dengan tanah merah yang ada di sekelilingnya. Meskipun warga telah membersihkan tumpukan sampah beberapa bulan lalu, anehnya tidak ada rumput atau tanaman liar yang tumbuh di area bekas pembuangan itu. Tanah itu seolah mati dan gundul.
"Oke, mari kita bagi tugas. Gas, kamu bisa bantu aku meletakkan meteran dari ujung timur ke barat. Din, kamu dokumentasikan topografi tanah ini dengan foto. Tapi ingat, fokuslah pada struktur tanah, tidak perlu yang lain." Adrian meletakkan peralatannya, mulai mengeluarkan tabung sampel plastik dan sekop kecil.
"Eh... Yan, coba lihat. Ini sangat aneh.". Dinda mulai mengangkat kamera DSLR-nya, mengambil gambar dari beberapa sudut lahan.
"Aneh bagaimana, Din?" Adrian berlutut, bersiap untuk menusukkan sekopnya ke tanah.
"Setiap kali aku mengarahkan lensa kameraku ke bagian tengah tanah hitam itu, angka shutter speed dan exposure-nya langsung eror. Layarnya jadi buram, seolah ada pengaruh dari magnet. Padahal baterainya penuh," Dinda memeriksa layar preview kameranya dengan wajah berkerut.
"Yan... Din... datang ke sini sebentar. Lihat meteran yang kupegang," kata Bagas sambil memegang ujung meteran, wajahnya mulai terlihat pucat.
Adrian berdiri dan menghampiri Bagas yang berada di tengah area itu.
"Ada apa lagi, Gas? Jangan berlebihan, deh," tanya Adrian.
"Aku sudah menarik meteran ini lurus dari arah pohon bambu di sana. Tapi lihat posisinya sekarang. Pita ini malah melengkung membentuk lingkaran sempurna di sekitar tanah ini, seolah-olah ada magnet yang menariknya dari bawah. Padahal aku sudah menariknya dengan sangat kuat, Yan!" Bagas menunjukkan ke bawah kaki mereka di mana pita besi meteran gulung berada.
Adrian terdiam sejenak. Menurut logika teknik, lengkungan pada pita besi meteran hanya bisa terjadi jika ada medan magnet yang sangat kuat di bawah tanah atau kontur yang tidak terlihat. Dia memutuskan untuk mengabaikan hal itu dan kembali fokus pada sampel tanah.
“Mungkin ada kandungan bijih besi tinggi di lapisan atas tanah ini. Mari kita buktikan dengan sampel,” kata Adrian, menancapkan sekop kecilnya ke permukaan tanah hitam.
Adrian menekan sekopnya dengan keras. Namun, saat ujung sekop itu menyentuh tanah sedalam 10 sentimeter, terdengar suara "Sreeek..." yang aneh, mirip dengan saat memotong kain tebal atau daging, bukan suara yang biasanya keluar dari tanah atau batu.
"Eh? Kenapa ini terasa lembek? Tanah di bawahnya tidak padat." Adrian terkejut, tangannya merasakan getaran aneh dari pegangan sekop.
"Bisa digali lagi, Yan?" Dinda mendekat dengan rasa ingin tahu dan sedikit ketakutan.
Adrian mengangkat sekopnya, mengangkat gumpalan tanah hitam ke atas.
"Astagfirullah.". Adrian secara refleks mundur selangkah, menjatuhkan sekopnya.
"Kenapa, Yan?! kamu liat apa?" Bagas berlari ke arah Adrian.
Dari lubang yang digali sedalam 10 sentimeter itu, tanah hitam tidak kering, melainkan mengeluarkan cairan kental berwarna merah kecokelatan yang pekat. Yang paling mengejutkan bagi mereka bertiga adalah baunya. Dalam hitungan detik, udara pagi yang bersih langsung tercemar dengan bau amis daging mentah yang busuk, persis seperti yang diceritakan dalam catatan tentang penyakit Maman.
"Yan... ini bukan air tanah biasa. Baunya... seperti bau bangkai! Ini sama persis seperti bau yang kita cium samar-samar di gerbang semalam!" Dinda menutup hidung dan mulutnya, matanya mulai berkaca-kaca karena mual.
"Yan! Jam tanganku aneh! Jarumnya berputar sangat cepat! Sekarang jam berapa ini?! Sebaiknya kita pergi, Yan! Syarat Pak RT kita sudah melanggar energi tempat ini!" Bagas melihat jam tangannya yang tiba-tiba berputar cepat tanpa arah yang jelas.
Adrian berusaha menenangkan jantungnya yang mulai berdetak kencang. Logika ilmiahnya bertabrakan dengan kenyataan yang dia lihat. Dia melihat ke dalam lubang galian kecil yang perlahan dipenuhi cairan merah kehitaman. Di dasar cairan itu, sesuatu yang berkilau memantulkan sedikit cahaya matahari yang menembus celah bambu.
Sebuah benda metal berbentuk persegi panjang kecil, terlihat seperti jam tangan rantai tua, terperangkap dalam tanah basah itu. Benda tersebut bergerak perlahan, seolah sengaja tenggelam lebih dalam ke bumi.
"Yan... Gas... lihat ke arah rumpun bambu di ujung sana... Di layar kameraku... ada yang berdiri..." Dinda melihat ke arah kamera DSLR yang di lehernya, tiba-tiba matanya terbelalak.
"Jangan lihat! Jangan difoto! Ingat kata Pak RT! Segera kemasi semua alat sekarang! Kita harus kembali ke rumah!" Adrian langsung meraih papan jalannya dan menarik tangan Dinda.
Tanpa memperhatikan sampel tanah yang tertinggal atau pengukur besi yang masih tergeletak di atas tanah Jarian, ketiganya segera berbalik dan berlari secepat mungkin untuk meninggalkan lokasi tersebut. Di belakang mereka, angin dingin yang sangat kuat tiba-tiba bertiup dari arah Jarian, membawa suara bisikan samar yang terdengar seperti tawa kering yang bergema di antara gesekan pohon bambu.