NovelToon NovelToon
Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Trauma masa lalu
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Gema zikir setelah shalat Subuh masih mengalun di seantero masjid saat Humairah melangkah menuju serambi.

Di sana, puluhan santriwati sudah duduk melingkar, membentuk halaqah besar.

Suasana yang tadinya riuh rendah dengan bisik-bisik seketika senyap saat sosok bercadar hitam itu mendekat.

Humairah merasakan dadanya berdenyut kencang.

Ia mengenali wajah-wajah di depannya—wajah-wajah yang kemarin melempar tawa hinaan, yang menyebutnya "ninja pengincar ustadz", dan yang memfitnahnya dengan tuduhan keji.

Ada rasa takut yang merayap, namun ia teringat tatapan teduh Kyai Umar yang duduk tak jauh dari sana, seolah menjadi benteng pelindungnya.

Dengan bismillah yang paling lirih, Humairah duduk di kursi kayu rendah di depan jamaah.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Humairah. Suaranya lembut, namun memiliki wibawa yang tenang.

Beberapa santriwati menjawab dengan ogah-ogahan, sementara yang lain hanya menunduk, masih menyimpan sisa-sisa kesombongan.

"Mari kita buka halaqah pagi ini dengan membaca Ummul Kitab," lanjutnya.

Humairah mulai melantunkan Al-Fatihah sebagai pembuka.

Begitu ayat pertama keluar dari bibirnya, suasana di serambi masjid seolah membeku.

Suaranya yang bening, jernih, dan penuh penjiwaan merambat masuk ke sela-sela hati para santriwati.

Tidak ada lagi nada kesedihan seperti saat ia menangis di kamar; kini yang terdengar adalah kekuatan dari seseorang yang mencintai Al-Qur'an dengan segenap jiwanya.

Ia mulai masuk ke materi tajwid dan hafalan. Humairah tidak sedikit pun menunjukkan dendam.

Ia mengoreksi bacaan santriwati yang salah dengan sangat lembut, menjelaskan makhraj huruf dengan detail yang sangat mudah dipahami.

"Mbak, coba tekan sedikit di bagian tasyidid-nya, ya. Seperti ini..." Humairah memberikan contoh.

Lantunan ayat-ayat yang keluar dari lisan Humairah begitu magis.

Para santriwati yang tadinya berniat untuk kembali mengejek, kini justru terpaku. Mereka takjub.

Belum pernah mereka mendengar bacaan seindah dan sefasih itu.

Setiap hukum tajwid yang ia jelaskan terasa begitu hidup.

Satu per satu santriwati yang kemarin paling kencang menghujatnya mulai mengangkat wajah.

Mata mereka yang tadinya penuh kebencian, kini berubah menjadi binar kekaguman yang tak bisa disembunyikan.

"Masya Allah, suaranya benar-benar menyejukkan hati," bisik seorang santriwati di barisan belakang kepada temannya.

"Iya, cara dia menjelaskan juga enak sekali. Tidak menggurui, tapi sangat kena di hati," sahut yang lain.

Bahkan santriwati yang menyebutnya "wanita murahan" kemarin, kini tertunduk malu.

Ia menyadari bahwa wanita di depannya ini bukanlah orang sembarangan.

Ilmu dan adab yang ditunjukkan Humairah jauh melampaui apa yang mereka bayangkan.

Di kejauhan, di dekat tiang masjid, Fathan berdiri mematung.

Ia menyaksikan bagaimana istrinya "menaklukkan" aula itu bukan dengan amarah, melainkan dengan keindahan kalam Ilahi.

Ia melihat para santriwati yang biasanya sulit diatur, kini mendengarkan Humairah dengan penuh khidmat, seolah takut melewatkan satu huruf pun yang keluar dari lisannya.

Ada rasa bangga yang menyelinap secara ilegal di hati Fathan, namun ia segera menepisnya.

Ia masih teringat perintah ibunya di dapur tadi pagi.

Halaqah berakhir saat matahari mulai mengintip dari ufuk timur.

Para santriwati tidak langsung bubar. Mereka justru berebut mendekat untuk bersalaman dengan Humairah.

"Ustadzah, maafkan kelakuan kami kemarin," ucap salah satu santriwati sambil mencium punggung tangan Humairah dengan takzim.

Humairah mengusap bahu gadis itu dengan lembut.

"Sudah, jangan diingat lagi. Fokuslah pada hafalanmu, ya."

Humairah tersenyum di balik cadarnya, meski matanya berkaca-kaca.

Ternyata benar, kebaikan tidak perlu diteriakkan, ia akan menemukan jalannya sendiri untuk menyentuh hati.

Namun, saat ia berbalik hendak pulang, ia melihat Fathan sudah menunggunya dengan wajah yang kembali mengeras.

"Sudah selesai pamer suaranya?" tanya Fathan dingin saat Humairah mendekat.

"Cepat pulang. Umi sudah menunggu sarapannya di rumah. Jangan karena dipuji santri, kamu lupa tugas utamamu di dapur."

Luka yang baru saja sedikit terobati itu kembali menganga.

Humairah mengangguk patuh, berjalan mengikuti suaminya kembali ke rumah, menuju piring berisi kepala ayam yang sudah menantinya.

Langkah kaki Humairah terasa berat saat memasuki ambang pintu dapur.

Di luar sana, matahari mulai meninggi, membawa kehangatan yang tak mampu menembus dinginnya suasana di rumah besar itu.

Tanpa menunggu perintah kedua, Humairah langsung menyalakan kompor.

Ia memasak nasi uduk, lengkap dengan semur daging dan sambal goreng hati untuk sarapan keluarga dan tamu ustadz yang menginap.

Aroma rempah yang sedap menguar, namun perut Humairah yang sejak semalam hanya diisi air putih dan tulang dingin kembali melilit.

Sambil menunggu masakan matang, ia melirik ke arah piring plastik di pojok meja—piring berisi sisa tulang dan kepala ayam yang sengaja ditinggalkan Nyai Latifah.

Dengan gerakan cepat dan sembunyi-sembunyi, seolah ia adalah seorang pencuri di rumahnya sendiri, Humairah duduk di kursi kecil sudut dapur.

Ia mengunyah sisa daging yang menempel di tulang itu dengan terburu-buru.

Air matanya nyaris jatuh saat harus menelan sisa-sisa makanan yang mendingin itu sementara di depannya ada nampan berisi semur daging hangat yang ia masak dengan sepenuh hati.

"Alhamdulillah," bisiknya lirih, menyeka sudut bibirnya saat piring plastik itu sudah bersih.

Ia segera mencuci piring plastiknya dan menyembunyikannya kembali, agar tidak ada yang tahu bahwa ia baru saja "sarapan".

Tak lama kemudian, masakan sudah tertata rapi di ruang makan. Kyai Umar masuk bersama Fathan dan dua tamu ustadz lainnya.

"Humairah, ayo Nak, duduk di sini. Kita sarapan bersama," ajak Kyai Umar dengan nada yang sangat tulus. Beliau menarik satu kursi kosong di sebelah Fathan.

Fathan hanya melirik sekilas, tangannya sibuk menata sendok tanpa ada niat untuk ikut mengajak istrinya bergabung.

Humairah terdiam sejenak. Jantungnya berdebar. Ia melirik Nyai Latifah yang sedang berdiri di dekat lemari es, memberikan tatapan tajam yang seolah berkata, 'Jangan berani-berani kamu menyentuh kursi itu'.

Humairah menunduk, meremas jemarinya di balik gamis.

Ia terpaksa mengeluarkan kebohongan demi menghindari keributan yang lebih besar.

"Maaf, Abah. Terima kasih banyak atas ajakannya," ucap Humairah dengan suara lembut namun stabil.

"Tapi Humairah harus segera kembali ke aula. Para santriwati sudah menunggu untuk setoran hafalan tambahan yang tadi belum sempat selesai. Humairah sudah sarapan tadi di dapur."

"Oh, sudah sarapan? Kenapa buru-buru sekali, Nak?" tanya Kyai Umar merasa heran.

"Iya, Abah. Tadi sambil memasak, Humairah sudah makan sedikit. Takutnya nanti santriwati menunggu terlalu lama," lanjut Humairah berbohong.

Fathan mendengus tipis, hampir tak terdengar. Di pikirannya, Humairah mungkin hanya ingin mencari perhatian Abahnya dengan menunjukkan betapa dedikasinya ia pada tugas mengajar.

"Ya sudah, kalau memang tugas memanggil, Abah tidak bisa melarang. Hati-hati di jalan, Nak," ucap Kyai Umar.

Humairah mencium punggung tangan Kyai Umar dan mengangguk sopan ke arah tamu lainnya.

Saat melewati Fathan, ia berharap suaminya akan menanyakan apakah ia benar-benar sudah kenyang, atau setidaknya menawarkan segelas air. Namun, Fathan justru mulai menyuap nasi uduknya dengan lahap, seolah keberadaan Humairah hanyalah bayangan yang lewat.

Humairah melangkah keluar rumah dengan perut yang masih terasa hampa, hanya berisi tulang dan kepahitan.

Di balik cadarnya, ia tersenyum getir. Ia lebih memilih berjalan jauh ke aula dalam keadaan lapar daripada harus duduk di meja makan mewah namun merasa seperti orang asing yang tak diinginkan.

1
Mundri Astuti
gitu dong kyai tegas jadi laki, jangan diem bae bininya dzolim, lagian y umimu ga tau terimakasih sama Humairah dah ditolongin anaknya
Dede Dedeh
tah kitu atuh abah tegas,, dasar mak lampir rasakn......
Mundri Astuti
lagian udah nikah masih nyampur bae sama ortu Fathan, palagi sama modelan umimu
Fitra Sari
lanjut KK doubel upp 🙏
Mundri Astuti
kyai Umar juga ga bisa ngedidik istrinya ... bukan anak"nya doang yg salah
Fitra Sari
lanjut KK
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
keynara
update lagi thor makin seru 🙏
keynara
update lagi thor🙏
keynara
nah akhirnya Humairah tegas nyesal nggak tu ustadz Fathan..
Yensi Juniarti
nah begitulah harusnya kau bersikap Humairah...
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
Yensi Juniarti
penyesalan mu tak berguna Fatan... udah kalau aku JD Humairah ya mending pisah Ajja...
dari pada dari pada..
Yensi Juniarti
kasih karma instan aja si laki modelan begitu ya...
Yensi Juniarti
tinggal minggat Ajja neng laki modelan begitu mah buang Ajja ke pemambunagn sampah
keynara
aduh nyai sihir udah menyiapkan rencana semoga hati humaira lebih kuat lg💪😭
keynara
nyai sihir sama ustadz Fathan mulutnya pengin tak gosok pake cabe🤣🤣
lanjut thor🙏
Yensi Juniarti
kena azab instan Ajja si laki modelan begitu...
keynara
nyai Latifah seorang istri kyai sukanya menghina Jan tak patut tak patut
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
Yensi Juniarti
ya Allah...
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭
Yensi Juniarti: saya selalu sabar dan selalu standby 🤭🤭🤭
total 2 replies
Arga Putri Kediri
bagus
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Himna Mohamad
sdh mampir baca kk
my name is pho: Terima kasih kak🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!