Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Gerilya Di Lembah Kabut
Ketenangan di perbatasan Utara hanya bertahan sekejap mata. Baru saja penduduk desa mulai berani tertawa kembali, suara derap ribuan kaki kuda menggetarkan tanah lembah. Di ufuk barat, panji-panji berwarna biru laut dengan lambang elang perak berkibar menantang langit.
Kerajaan Valerius. Pasukan Putri Seraphina tidak datang untuk berkunjung, melainkan untuk melumat sisa-sisa harapan Orizon.
"Gusti Permaisuri! Pasukan Valerius sudah melewati garis sungai!" teriak Mita, salah satu anggota Mata-Mata Mawar yang bertugas mengintai di bukit. Napasnya tersengal, wajahnya belepotan lumpur. "Mereka tidak sendiri. Hamba melihat beberapa ksatria dengan lencana rahasia Ibu Suri memandu mereka!"
Alesia yang sedang membantu warga mengemas obat-obatan langsung berdiri tegak. Ia menoleh ke arah Magnus yang sedang berbincang dengan Jenderal Kael di depan tenda utama.
"Bang! Seraphina beneran kagak ada kapoknya ya? Udah kalah manah, sekarang bawa rombongan sirkus buat ngeroyok!" seru Alesia, tangannya langsung meraih sabuk Golok Seliwa-nya.
Magnus melangkah mendekat, wajahnya mengeras seperti pahatan batu. "Mereka memanfaatkan kondisi kita yang sedang pemulihan pasca wabah. Ini adalah serangan pengecut."
"Yang Mulia Raja," sela Jenderal Kael dengan nada berat. "Pasukan kita di sini hanya sedikit, hanya pengawal pribadi dan satu batalyon kecil. Pasukan utama ada di ibu kota, butuh tiga hari untuk sampai ke sini. Sementara Valerius membawa setidaknya lima ribu pasukan kavaleri."
Magnus mengepalkan tangan di gagang pedangnya. "Kita harus bertahan. Jika lembah ini jatuh, jalan menuju ibu kota terbuka lebar."
Alesia terdiam sejenak, matanya menatap lekukan lembah yang dikelilingi hutan lebat dan tebing curam. Sebuah ide liar—ide yang hanya dimiliki oleh orang yang sering menonton film perang dan tumbuh besar di gang-gang sempit Depok—muncul di kepalanya.
"Bang, dengerin gue," ucap Alesia sambil menarik Magnus ke arah peta darurat yang terbentang di atas meja kayu. "Kalau kita adu badan di lapangan terbuka, kita bakal jadi kerupuk kaleng. Remuk! Tapi liat tebing-tebing ini. Liat kabut yang mulai turun dari gunung."
"Apa rencanamu, Alessia?" tanya Magnus, matanya menatap tajam ke arah peta.
"Kita pake taktik Gerilya," ujar Alesia mantap. "Kita jangan jadi target diem. Kita jadi hantu. Kita pecah pasukan kita jadi kelompok-kelompok kecil. Kita pancing mereka masuk ke celah lembah yang sempit, terus kita hajar dari atas tebing."
Jenderal Kael mengernyit. "Itu taktik yang sangat berisiko, Permaisuri. Pasukan kavaleri Valerius sangat lincah."
"Lincah di tanah datar, Jenderal! Tapi di tanah becek, penuh jebakan lubang, dan dihujani batu dari atas? Mereka bakal kelimpungan!" Alesia menoleh ke arah Lily dan tim Mata-Mata Mawar. "Lily! Ajak cewek-cewek lain. Kita kumpulin semua minyak goreng, tali tambang, sama tawon hutan kalau ada. Kita bikin 'hadiah sambutan' buat mereka."
Magnus menatap Alesia lama, lalu ia tersenyum tipis—sebuah senyum penuh kepercayaan yang mematikan. "Lakukan. Kael, serahkan sebagian pasukan pemanah di bawah komando Permaisuri. Aku akan memimpin sisa pasukan untuk menjadi umpan di mulut lembah."
Dua jam kemudian, kabut tebal menyelimuti lembah seolah alam pun berpihak pada Orizon. Suara gemerincing zirah pasukan Valerius terdengar semakin dekat. Di barisan paling depan, Putri Seraphina tampak gagah di atas kuda putihnya, meski wajahnya penuh dengan kebencian yang mendalam.
"Cari wanita jalang itu! Seret dia ke hadapanku hidup-hidup!" teriak Seraphina pada panglimanya.
Namun, begitu mereka memasuki celah tebing yang sempit, suasana mendadak menjadi sunyi senyap. Hanya ada suara tetesan air dari dinding batu.
"Berhenti!" perintah sang Panglima. "Ada yang tidak beres."
Tiba-tiba, sebuah suara nyablak menggema dari balik kabut di atas tebing.
"Woi, Mbak Sera! Nyariin gue ya? Sini dong, naik ke atas kalau berani!" teriak Alesia.
Seraphina mendongak, matanya menyipit. "Alessia! Turun kau, pengecut!"
"Dih, yang ada mah lu yang bakal sujud di bawah kaki gue! Lily, SEKARANG!"
BYURRR!
Cairan licin—minyak goreng dicampur lemak babi yang sudah dipanaskan—tumpah dari atas tebing, membasahi jalanan batu yang sempit di bawahnya. Kuda-kuda pasukan Valerius mulai meringik panik, kaki mereka tergelincir, saling bertabrakan satu sama lain.
"Panah api! SEKARANG!" perintah Alesia lagi.
Hujan anak panah berapi jatuh dari balik kabut. Minyak di bawah langsung berkobar, menciptakan pagar api yang memutus barisan pasukan Valerius menjadi beberapa bagian. Jeritan prajurit dan ringikan kuda memecah kesunyian lembah.
"Serang dari samping!" perintah Magnus yang tiba-tiba muncul dari balik semak-semak dengan pasukan kecilnya, menghantam bagian tengah musuh yang sedang kacau.
Alesia sendiri tidak tinggal diam. Ia meluncur turun dari tebing menggunakan tali tambang dengan sangat lincah, mendarat tepat di depan beberapa prajurit Valerius yang masih berusaha berdiri di tanah licin.
HUP! CIAAT!
Golok Seliwa di tangannya menari dengan indah. Ia tidak membunuh, melainkan mengincar persendian dan kaki lawan, membuat mereka lumpuh seketika.
"Maju lu semua! Satu-satu apa keroyokan, gue jabanin!" tantang Alesia sambil menghalau sabetan pedang lawan dengan gerakan meliuk yang aneh namun efektif.
Seraphina yang melihat kekacauan itu mencoba memutar kudanya, namun Alesia sudah lebih dulu melompat ke atas sebuah batu besar dan menunjuk ke arahnya.
"Mbak Sera! Katanya mau nyeret gue? Nih, guenya udah di sini! Sini dong, jangan cuma bisa teriak dari atas kuda!"
Seraphina mencabut busur panahnya, mencoba membidik Alesia di tengah kepulan asap. "Mati kau!"
WUSH!
Anak panah melesat, namun Alesia dengan refleks luar biasa melakukan gerakan kayang darurat, membuat panah itu hanya melewati beberapa sentimeter di atas perutnya. Begitu bangun, Alesia langsung melemparkan sebuah benda kecil—kantong berisi bubuk cabai dan merica yang ia siapkan sebelumnya.
Puk!
Kantong itu pecah tepat di wajah kuda Seraphina. Kuda itu meringik histeris, matanya perih, dan langsung mengangkat kaki depannya hingga Seraphina jatuh tersungkur ke tanah yang berlumpur.
Alesia melangkah mendekat, menempelkan ujung Golok Seliwa-nya ke leher Seraphina yang kini gaun birunya sudah kotor kecokelatan.
"Gimana, Mbak? Masih mau lanjut sirkusnya? Apa mau gue kasih 'pedes' yang lebih nendang lagi?" tanya Alesia sambil menyeringai.
"Kau... kau curang! Kau menggunakan cara yang kotor!" teriak Seraphina dengan mata merah menahan pedas.
"Ini namanya strategi, Mbak. Di dunia gue, yang pinter yang menang, bukan yang bajunya paling mahal," sahut Alesia santai.
Magnus datang mendekat, pedangnya sudah berlumuran darah musuh. Ia melihat Seraphina yang tak berdaya di bawah ancaman Alesia.
"Kael! Amankan Putri Seraphina dan sisa pasukannya yang menyerah. Kirim pesan ke Valerius: jika mereka ingin putri mereka kembali, mereka harus memutus semua hubungan dengan Ibu Suri dan membayar ganti rugi atas kerusakan di lembah ini," perintah Magnus dengan wibawa yang tak terbantah.
Magnus kemudian menoleh pada Alesia. Ia menyeka noda hitam di pipi istrinya dengan ibu jarinya. "Gerilya ya? Aku harus mengakui, taktikmu sangat... brutal namun jenius."
Alesia nyengir, ia menyarungkan goloknya. "Itu mah baru pemanasan, Bang. Ntar kalau mereka berani balik lagi, gue ajarin mereka jurus 'perangkap lubang buaya'!"
Magnus tertawa, ia menarik Alesia ke dalam pelukannya di tengah sisa-sisa pertempuran. "Cukup. Aku rasa mereka tidak akan berani kembali dalam waktu dekat."
"Bang," panggil Alesia.
"Ya?"
"Bisa kita balik ke tenda sekarang? Kaki gue pegel bener abis kayang tadi. Mana laper lagi, tadi gue liat ada sisa singkong bakar di dapur umum."
Magnus menggelengkan kepala, mencium puncak kepala permaisurinya yang luar biasa itu. "Tentu, Siti. Ayo kita cari singkong bakarmu."
Lembah kabut itu saksi bisu, bahwa di tangan seorang wanita dari dunia lain, sebuah kerajaan kecil bisa memukul mundur ribuan pasukan elit hanya dengan modal minyak goreng dan keberanian.
gx da lembut2ny ,, tp mantap laa Alessia ,, aq suka gaya muuu 🤟🤟🤟🤟🤟
semangat trus ya kak nulis ny
hai kak ,,
aq mampir ksniii