NovelToon NovelToon
One Night Stand

One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.

Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.

Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.

Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 Ultimatum

Udara di lorong itu terasa semakin menekan, seolah ruang yang sebenarnya luas mendadak menyempit tanpa alasan yang bisa dijelaskan. Lampu putih tetap menyala seperti biasa, memantulkan bayangan samar di lantai mengilap, sementara suara langkah orang-orang terdengar jauh dan tidak lagi berarti apa-apa bagi mereka berdua. Di titik itu, dunia terasa menyusut hanya menjadi satu percakapan yang tidak bisa lagi ditunda atau dihindari.

Elvara masih berdiri di tempat yang sama, bahunya sedikit tegang, tangannya mencengkeram tas dengan erat hingga buku-buku jarinya memucat. Napasnya belum sepenuhnya stabil, namun ia berusaha menahannya agar tidak terlihat semakin goyah di hadapan pria di depannya. Sementara itu, Zayden berdiri tanpa berpindah, sikapnya tegak dan tatapannya tidak bergeser sedikit pun, tidak lagi sekadar menekan, tetapi menuntut jawaban yang selama ini ia tahan.

Ia sudah memberi ruang, sudah menunggu lebih lama dari yang ia akui, dan sudah mencoba memahami tanpa memaksa terlalu jauh. Namun semua itu seolah berakhir di titik ini, saat kesabarannya mulai menipis dan keyakinannya tidak lagi bisa ditahan.

"Aku sudah cukup mendengar penyangkalanmu."

Suara Zayden terdengar lebih rendah dari sebelumnya, tidak keras, tetapi ada perubahan yang jelas terasa di dalamnya. Nada itu tidak lagi sekadar datar, melainkan lebih tegas, lebih tajam, dan membawa sesuatu yang tidak memberi ruang untuk terus menghindar.

Elvara menggeleng pelan, gerakan kecil yang terlihat sederhana, namun menyimpan banyak hal yang tidak ia katakan. Ia mencoba menjaga wajahnya tetap tenang, meski di dalam dirinya sendiri semuanya mulai berantakan.

"Kalau kamu tidak percaya, itu bukan urusanku."

Kalimat itu terdengar keras, seolah ia berusaha mempertahankan jarak yang tersisa. Namun ada getaran halus di ujung suaranya yang tidak sepenuhnya bisa disembunyikan, dan Zayden menangkapnya dengan jelas.

Zayden menarik napas dalam, dadanya naik turun perlahan seolah ia sedang menahan sesuatu yang hampir keluar. Ia tidak langsung membalas, memberi jeda sejenak yang justru membuat suasana semakin menekan.

"Baik."

Satu kata itu keluar singkat, tanpa penekanan berlebihan, namun langsung membuat Elvara waspada. Ia mengenali nada itu, nada seseorang yang sudah berhenti berdebat dan mulai mengambil keputusan sendiri.

Zayden menatapnya lurus, tidak lagi mencari, tidak lagi menunggu.

"Kita lakukan tes DNA."

Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa jeda dan tanpa ragu, seolah sudah dipikirkan jauh sebelum diucapkan. Tidak ada emosi berlebihan dalam suaranya, tetapi justru itu yang membuatnya terasa lebih nyata dan tidak bisa dianggap ancaman kosong.

Elvara menatapnya dengan mata melebar, pikirannya seolah berhenti sejenak sebelum akhirnya dipenuhi banyak kemungkinan yang tidak ingin ia hadapi. Ia tidak siap, tidak menginginkan arah ini, dan lebih dari itu, ia tahu apa yang akan terjadi jika langkah itu benar-benar diambil.

"Tidak."

Jawaban itu keluar cepat, hampir refleks, sebelum ia sempat menyaringnya dengan pikiran yang lebih tenang. Kata itu terdengar tegas, namun juga menunjukkan seberapa kuat penolakannya.

Zayden tidak terlihat terkejut, seolah reaksi itu sudah ia perkirakan sejak awal. Namun justru itu yang membuat tatapannya semakin dalam, semakin sulit dihindari.

"Kenapa."

Pertanyaan itu pendek, sederhana, namun membawa tekanan yang tidak bisa diabaikan. Ia tidak meminta penjelasan panjang, hanya satu alasan yang cukup untuk menjelaskan penolakan itu.

Elvara menggeleng lagi, kali ini lebih kuat, seolah ingin menutup kemungkinan itu sepenuhnya.

"Aku tidak akan melakukannya."

Nada suaranya lebih tegas dari sebelumnya, karena ia tahu ini adalah batas yang tidak bisa ia lewati. Ini bukan lagi soal menjaga rahasia, tetapi tentang mempertahankan sesuatu yang jauh lebih besar dari itu.

Zayden melangkah sedikit lebih dekat, tidak terburu-buru, tetapi cukup untuk membuat jarak di antara mereka kembali menyempit. Ia berhenti tepat di depannya, posisinya jelas menutup jalan tanpa perlu menyentuh.

"Bukan permintaan."

Suaranya tetap rendah, namun kali ini lebih dingin.

"Itu satu-satunya cara untuk menyelesaikan ini."

Elvara mengangkat dagu, tatapannya berubah, tidak lagi hanya bertahan, tetapi mulai melawan. Ia tidak bisa mundur lagi, tidak dalam hal ini.

"Tidak ada yang perlu diselesaikan."

"Bagiku ada."

Jawaban Zayden datang tanpa jeda, tetap tenang, tetapi tidak memberi ruang untuk dibantah.

Elvara menahan napas sejenak, mencoba mengendalikan dirinya yang mulai goyah.

"Rheon bukan anakmu."

Ia mengulang lagi, namun kali ini bukan untuk meyakinkan Zayden, melainkan untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia masih memegang kendali atas situasi ini.

Zayden tidak langsung membalas, ia hanya menatap lebih lama, dan itu membuat Elvara semakin tidak nyaman. Keheningan itu bekerja lebih kuat daripada kata-kata, menekan tanpa terlihat.

"Kalau begitu kamu tidak perlu takut."

Kalimat itu kembali, diucapkan lebih pelan, tetapi jauh lebih tajam dari sebelumnya.

Elvara menggenggam tasnya lebih erat, menahan sesuatu yang hampir runtuh.

"Aku bilang tidak."

Kali ini suaranya lebih keras, cukup untuk membuat beberapa orang di ujung lorong melirik sekilas sebelum kembali pada urusan mereka masing-masing.

Zayden tidak peduli pada siapa pun di sekitar mereka, fokusnya tidak bergeser sedikit pun.

"Ini bukan tentang kamu lagi."

Nada suaranya berubah, lebih dingin, lebih keras dari sebelumnya.

"Ini tentang anak itu."

Kalimat itu langsung menghantam, dan Elvara bereaksi tanpa sempat menahan diri.

"Dia anakku."

Ia melangkah maju tanpa sadar, menutup jarak yang tadi ia jaga.

"Dan aku yang memutuskan untuknya."

Matanya mulai basah, tetapi suaranya tetap berdiri, tidak runtuh.

Zayden tidak mundur, tidak menghindar.

"Kalau dia anakku juga, aku punya hak yang sama."

Kalimat itu keluar tanpa ragu, seolah sudah menjadi kesimpulan yang tidak perlu dibuktikan lagi.

Elvara terdiam sesaat, dan di situlah semuanya terlihat dengan jelas. Ketakutan itu tidak lagi bisa disembunyikan, muncul begitu saja di matanya tanpa penutup.

Zayden melihatnya, dan itu hanya semakin menguatkan keyakinannya.

"Kamu tidak bisa terus menutupinya."

Nada suaranya kembali lebih rendah, tetapi tetap tegas.

"Aku akan tahu cepat atau lambat."

Elvara menggeleng, langkahnya mundur sedikit, seolah jarak bisa melindunginya dari kenyataan yang mendekat.

"Dan saat itu terjadi…"

Zayden berhenti sejenak, menatapnya lebih dalam.

"Aku tidak akan membiarkan kamu menjauh lagi."

Kalimat itu terdengar seperti peringatan, atau mungkin janji yang tidak akan ia tarik kembali.

Elvara menarik napas dalam, tubuhnya terasa ringan, bukan karena lega, tetapi karena kehilangan pijakan yang selama ini ia pegang.

"Kalau kamu melakukan itu…"

Suaranya melemah sedikit, tetapi tetap jelas.

"Aku akan kehilangan dia."

Zayden mengernyit sedikit, tidak langsung memahami arah pikirannya.

"Kenapa kamu berpikir seperti itu."

Elvara menatapnya, dan kali ini tidak ada lagi usaha untuk menutupinya sepenuhnya.

"Karena kamu tidak akan membiarkan dia tetap bersamaku sepenuhnya."

Kalimat itu keluar pelan, namun terasa lebih berat dari semua yang sebelumnya.

Zayden terdiam, tidak langsung membantah, karena ia tahu ada kebenaran di dalamnya meski ia tidak ingin mengakuinya.

Elvara menarik napas lagi, mencoba menahan emosinya agar tidak runtuh.

"Aku sudah membesarkannya sendiri selama lima tahun."

Air matanya jatuh, tetapi ia tidak menghapusnya.

"Aku yang ada saat dia sakit."

"Aku yang ada saat dia takut."

"Aku yang mengajarinya segalanya."

Suaranya bergetar, namun tidak hancur.

"Aku tidak akan mempertaruhkan itu hanya karena kamu tiba-tiba ingin memastikan sesuatu."

Zayden menatapnya lebih lama, kali ini tanpa langsung membalas. Ia memahami apa yang ia dengar, tetapi itu tidak cukup untuk membuatnya mundur.

"Aku tidak ingin mengambil dia darimu."

Akhirnya ia berbicara, nadanya lebih rendah, tetapi tetap tegas.

"Aku hanya ingin memastikan."

Elvara menggeleng pelan, senyum tipis muncul di bibirnya, pahit dan lelah.

"Bagiku itu sama saja."

Ia mundur lagi, memberi jarak yang terasa rapuh.

"Begitu kamu tahu… semuanya akan berubah."

Zayden tidak menyangkal, karena ia tahu itu benar, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti.

"Kamu tidak bisa menahanku dengan ketakutanmu."

Kalimat itu keluar pelan, namun pasti.

Elvara menatapnya, lebih tenang sekarang, meski matanya masih basah.

"Aku tidak menahanmu."

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

"Aku hanya melindungi apa yang paling penting bagiku."

Keheningan kembali turun, lebih berat dari sebelumnya, menggantung di antara mereka tanpa arah.

Dua orang berdiri dengan keputusan masing-masing, tidak ada yang mengalah, tidak ada yang mundur, dan tidak ada jalan mudah yang tersisa.

Zayden akhirnya berbicara lagi, nadanya tidak lagi keras, tetapi justru terasa lebih final.

"Aku akan tetap melakukannya."

Elvara menutup mata sejenak, menarik napas dalam sebelum membukanya kembali. Tatapannya kini lebih kuat, lebih jelas, seolah ia akhirnya sampai pada keputusan yang sama beratnya.

"Kalau kamu memaksakan itu…"

Ia berhenti sejenak, menatap langsung ke mata Zayden tanpa menghindar.

"Aku akan pergi lagi."

Kalimat itu sederhana, tetapi jelas, dan tidak terdengar seperti ancaman kosong.

Zayden membeku sesaat, karena ia tahu Elvara mampu melakukannya, dan kali ini ia tidak ragu bahwa ia benar-benar akan pergi jika dipaksa.

Lorong itu kembali sunyi, namun kini keheningan itu membawa sesuatu yang berbeda. Bukan lagi sekadar ketegangan, tetapi pilihan yang akan mengubah segalanya.

Di antara mereka, bukan hanya kebenaran yang dipertaruhkan, tetapi juga siapa yang akan kehilangan lebih dulu jika tidak ada yang mau mundur.

1
Wiewi Maulana
kenapa jadi mutar mutar thor,dari awal cerita nya menarik padahal
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Lisa
Akhirnya Zayden menanyakan hal itu..ayo Elvara jawablah dgn jujur..
Lisa
Koq Elvara kabur sih..mestinya dihadapi toh Zayden mau bertanggungjawab sebagai papanya Rheon...kembali Elvara kasihan Rheon..
Lisa
Cepat sembuh y Rheon..
Lisa
Kapan y Elvara mengakui bahwa Rheon adalah putranya Zayden
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
masih mbulleeedd
Nindy bantar
mampir thor seperti nya seru👍
Nindy bantar
💪💪💪
𝐀⃝🥀Weny
ikatan darah gak bisa dibohongi😊
Lisa
Kapan y Elvara mengatakan yg sebenarnya pada Zayden bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah ini saatnya Elvara mengakui semuanya..kalau Rheon adalah putra dari Zayden.
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
pusing thor, berulang-ulang terus dgn fakta yg itu2 aja😒
Lisa
Akhirnya Zayden tahu bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah udh keliatan sekrg klo Zayden emg mencintai Elvara
Hennyy exo
di bab ini penasaran banget sama masa lalu mereka🤭
Hennyy exo
suka banget alurnya
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
gasskeun lah bang zay.. selidiki rheon anak mu apa bukan.. biar makin jelas posisi mu saat membela n mempertahankan keberadaannya
Lisa
Kapan y Zayden bisa mendekati Rheon lagi..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!