Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Makan Malam Pertama
Makan Malam Pertama
Seharian penuh Mona tidak bisa fokus bekerja. Kalimat Wira semalam terus berputar di kepalanya.
"Besok kita makan malam di luar."
"Hanya kita."
Dan yang paling berbahaya— "Aku sudah terlambat untuk takut."
Mona bahkan beberapa kali salah mengetik laporan karena pikirannya kacau sendiri.
“Mbok ya sadar senyum-senyum sendiri,” goda salah satu staf.
Mona langsung panik. “Saya nggak senyum!”
“Bohong banget.”
Mona buru-buru menutupi wajah dengan map. Sejak kapan hidupnya berubah jadi seperti ini? Dulu ia hanya sekretaris biasa yang sibuk mengatur jadwal CEO galak bernama Wira Aditama.
Sekarang? CEO itu malah membuat jantungnya tidak aman setiap hari.
***
Menjelang sore, suasana kantor mulai sepi. Mona masih berpura-pura fokus di depan laptop saat pintu ruang CEO terbuka.
Wira keluar sambil menggulung sedikit lengan kemejanya. “Sudah selesai?”
Mona langsung gugup sendiri. “Sebentar lagi, Pak.”
“Aku tunggu.”
“Hah?”
Wira menatapnya datar. “Kita makan malam.”
“Iya, tapi saya bisa pulang dulu buat ganti baju—”
“Kamu sudah bagus.”
Deg
Wajah Mona langsung memanas. Pria ini benar-benar tidak memberi waktu untuk bernapas dengan tenang.
“Saya serius, Pak.”
“Aku juga serius.” Lalu Wira masuk lagi ke ruangannya seolah baru mengatakan sesuatu yang normal.
Padahal Mona sekarang ingin membenturkan kepala ke meja.
Tiga puluh menit kemudian, mereka akhirnya keluar dari kantor bersama.
Dan seperti biasa— Tatapan para karyawan langsung mengikuti mereka.
“Mbak Mona…”
“Ssst!”
“Fix banget.”
“Diam kalian!”
Mona benar-benar ingin pindah planet sekarang. Sementara Wira terlihat santai seperti tidak mendengar apa-apa.
Begitu masuk ke mobil, Mona langsung menghela napas panjang.
“Saya jadi bahan gosip satu kantor.”
“Mereka bosan.”
“Bapak penyebabnya!”
“Aku?”
Wira menoleh sekilas dengan ekspresi polos yang dibuat-buat.
Mona mendelik.
“Bapak sengaja kasih sarapan di depan semua orang!”
“Kamu memang belum makan.”
“Itu bukan poinnya!”
Wira akhirnya tertawa kecil. Dan lagi-lagi… Suara itu langsung membuat Mona kehilangan fokus.
***
Mobil berhenti di sebuah restoran rooftop mewah di pusat kota. Begitu turun, Mona langsung membeku.
Lampu-lampu kota terlihat indah dari atas. Musik lembut terdengar samar. Dan suasananya terlalu romantis untuk disebut “makan biasa”.
“Pak…”
“Hm?”
“Ini bukan tempat meeting.”
“Memang bukan.”
“Ini juga bukan tempat makan sekretaris dan bos normal.”
Wira membuka pintu untuk Mona dengan santai.
“Aku memang tidak merasa kita normal lagi.”
Deg
Sekali lagi. Selalu seperti itu. Pria ini benar-benar tidak memberi Mona kesempatan menjaga detak jantungnya tetap stabil.
Mereka duduk di dekat pinggir rooftop.
Angin malam berhembus pelan. Dan untuk beberapa saat, suasana terasa nyaman.
Aneh, tapi nyaman. Mona diam-diam memperhatikan Wira yang sedang membaca menu.
Pria itu tetap terlihat dingin seperti biasa. Tapi sekarang Mona mulai sadar— di balik sikap datarnya, Wira selalu memperhatikan hal kecil.
“Kenapa lihat aku begitu?”
Mona langsung tersedak minumannya sendiri.
“S-Siapa yang lihat?”
“Kamu.”
“Saya cuma…”
“Hmm?”
Mona langsung menyerah.
“Bapak sebenarnya beda ya.”
Wira mengangkat sebelah alis.
“Bedanya?”
“Kalau di kantor serem.”
“Dan sekarang?”
Mona menatapnya beberapa detik.
“Sekarang tetap serem sih.”
Wira menahan senyum kecil.
“Tapi?”
“Tapi lebih manusia.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Wira benar-benar terlihat santai. Tatapan dinginnya sedikit melembut. Dan Mona mulai sadar… ia menyukai sisi ini dari Wira. Sisi yang tidak diperlihatkan pada orang lain.
Makanan datang tidak lama kemudian. Namun di tengah suasana tenang itu—
Ponsel Wira tiba-tiba berbunyi.
Ekspresi pria itu langsung sedikit berubah saat melihat nama di layar.
Mona langsung memperhatikan.
“Kenapa?”
Wira diam sebentar sebelum akhirnya mengangkat telepon.
“Iya.” Nada suaranya langsung kembali formal.
Mona menunduk pelan sambil memainkan sendoknya. Entah kenapa… ia merasa suasana berubah. Beberapa detik kemudian, Wira menutup telepon.
“Ada masalah?”
“Sedikit.”
Mona menatapnya pelan.
“Kalau penting, kita bisa pulang.”
“Bukan begitu.”
Wira menghela napas kecil.
“Besok ada acara perusahaan.”
“Oh.”
“Keluarga besar dan beberapa partner bisnis datang.”
Mona mengangguk kecil. Lalu beberapa detik kemudian baru menyadari sesuatu.
“…Terus?”
“Kamu ikut.”
Mona langsung hampir menjatuhkan garpu.
“LAGI?!”
Wira terlihat santai.
“Kamu sekretarisku.”
“Itu alasan bohong lagi!”
“Aku suka alasan itu.”
“Pak Wira!”
Wira tertawa kecil lagi dan Mona benar-benar mulai yakin pria ini sengaja membuatnya gugup terus-menerus. Namun beberapa saat kemudian, suasana kembali tenang.
Lampu kota terlihat indah dari atas rooftop dan untuk pertama kalinya sejak mengenal Wira… Mona merasa mereka benar-benar sedang berkencan. Bukan bos dan sekretaris. Bukan CEO dan pegawai, hanya dua orang yang saling menyukai.
Perasaan itu membuat dadanya hangat. Sekaligus takut.
“Pak…”
“Hm?”
“Kenapa saya?”
Wira menoleh perlahan.
“Apa?”
“Banyak perempuan yang lebih cocok buat Bapak.”
“Contohnya?”
“Ya… Sandra. Atau perempuan dari lingkungan Bapak.”
Wira menatap Mona lama. Sangat lama, sampai Mona mulai salah tingkah sendiri.
Lalu pria itu berkata pelan, “Karena mereka bukan kamu.”
Deg
Sesederhana itu. Tapi jantung Mona langsung berdebar tidak karuan.
“Bapak tahu nggak sih…” gumam Mona pelan. “Kalau Bapak ngomong begini terus, saya bisa benar-benar jatuh cinta.”
Wira terdiam beberapa detik. Tatapannya berubah. Lebih dalam, lebih serius. Dan sebelum Mona sempat menyadari— pria itu perlahan menggenggam tangan Mona di atas meja.
Hangat, lembut dan membuat seluruh tubuh Mona menegang.
“Aku kira kamu sudah jatuh sejak lama,” ucap Wira lirih.
Mata Mona langsung membesar. Wajahnya panas total sekarang. Dan yang paling parah— ia tidak bisa menyangkalnya lagi.
Angin malam berhembus lembut di sekitar mereka. Lampu kota terlihat seperti bintang-bintang kecil di kejauhan. Namun Mona tidak bisa fokus pada apa pun selain tangan Wira yang masih menggenggam tangannya.
Jantungnya terlalu berisik.
“Pak…”
“Hm?”
“Kalau ada orang lihat gimana?”
“Biarkan.”
“Bapak benar-benar nggak takut ya.”
Wira menatap Mona tanpa melepaskan genggamannya.
“Aku sudah bilang.” Tatapannya melembut sedikit. “Aku terlambat untuk mundur.”
Deg
Dan kali ini… Mona merasa dirinya juga sama. Terlambat untuk mundur dari pria bernama Wira Aditama.