NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit

Legenda Naga Pemakan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.

Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.

Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.

Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paviliun Bulan Sabit

Kota Perdagangan di kaki pegunungan Sekte Awan Suci tidak pernah tidur. Tempat ini adalah urat nadi perdagangan bagi ratusan ribu kultivator pengembara, pendekar bayaran, dan murid sekte yang mencari sumber daya di luar jatah bulanan mereka.

Di pusat kota yang benderang oleh lampion-lampion Qi, berdirilah Paviliun Bulan Sabit. Ini adalah rumah lelang terbesar dan pasar gelap paling bergengsi di wilayah selatan Benua Biru Langit, dijalankan oleh jaringan pedagang misterius yang kabarnya didukung oleh ahli Alam Istana Jiwa.

Chu Chen melangkah melewati gerbang pualam paviliun tersebut, masih mengenakan jubah abu-abu Murid Luar yang sengaja ia buat sedikit kotor oleh debu perjalanan. Meng Fan berjalan satu langkah di belakangnya, terus menoleh ke kiri dan kanan dengan kewaspadaan seorang buronan.

"Kita sudah menyerahkan kepala Hantu Berdarah ke kantor perwakilan Misi Sekte di kota ini," bisik Meng Fan. "Kita mendapat lima puluh Batu Roh. Bukankah sebaiknya kita kembali ke puncak dan menyembunyikan diri? Membawa Batu Roh sebanyak ini di tempat ramai sangat berbahaya."

"Lima puluh Batu Roh hanya cukup untuk mengganjal gigi," jawab Chu Chen tanpa menoleh. "Lagipula, aku tidak di sini untuk menghabiskan hasil misi remeh itu."

Chu Chen meraba bagian dalam jubahnya, tempat Cincin Penyimpanan Xue Ying berada. Di dalamnya tersimpan lima ratus Batu Roh Tingkat Bawah dan puluhan pil berharga. Seorang pemangsa tidak akan membiarkan hartanya menumpuk berdebu; harta adalah bahan bakar untuk memperluas Lautan Qi.

Mereka berdua memasuki aula utama pelelangan yang megah. Atapnya dihiasi kristal bercahaya yang meniru formasi bintang, sementara ratusan kursi melingkar menghadap ke sebuah panggung pualam. Di lantai dua, terdapat deretan bilik-bilik kehormatan yang ditutupi oleh tirai sutra tembus pandang, diperuntukkan bagi para Penatua sekte atau pewaris klan bangsawan.

Chu Chen dan Meng Fan mengambil tempat duduk di barisan belakang yang agak remang-remang.

Lelang malam itu sudah berlangsung separuh jalan. Seorang juru lelang wanita bergaun merah ketat sedang memamerkan berbagai pusaka tingkat menengah, mulai dari pedang berelemen angin hingga baju zirah dari sisik Binatang Buas Tingkat 2. Harga-harga melambung hingga ratusan Batu Roh.

"Barang selanjutnya!" seru juru lelang itu dengan senyum menawan. Dua pelayan membawa sebuah nampan perak yang ditutupi kain beludru.

Saat kain itu dibuka, tidak ada cahaya spiritual yang memancar. Di atas nampan itu, tergeletak sebongkah batu hitam yang sangat jelek, permukaannya kasar dan berlubang-lubang seperti batu karang yang terbakar.

Kekecewaan terdengar dari kursi penonton.

"Benda ini ditemukan oleh tim penggali di dasar Palung Api Neraka, ratusan mil di bawah tanah," jelas juru lelang, berusaha mempertahankan antusiasme. "Bahan asalnya tidak bisa dikenali. Sangat keras, tidak bisa dilebur oleh api biasa, dan menolak aliran Qi manusia. Kami menduga ini adalah bahan pembuat senjata kuno yang telah kehilangan saripatinya. Harga awal... sepuluh Batu Roh Tingkat Bawah."

Ruangan menjadi hening. Tidak ada yang mau membuang sepuluh Batu Roh untuk sebongkah batu mati yang bahkan tidak bisa dialiri Qi.

Namun, di sudut gelap barisan belakang, napas Chu Chen tertahan.

Tepat pada detik batu itu dibuka, Darah Dewa Naga Primordial di jantung Chu Chen berdenyut sangat keras, memukul tulang rusuknya dari dalam. Sebuah getaran selaras purba yang tak kasat mata terjadi antara jantungnya dan batu jelek tersebut.

"Itu bukan batu," suara Long Di mendadak bergema lemah di benak Chu Chen, suaranya dipenuhi keterkejutan dan duka. "Itu adalah serpihan fosil tulang dari ras kita... Fosil Tulang Naga Hitam. Meskipun esensinya sudah lama mati, susunan tulangnya mengandung jejak hukum kehancuran asli dari Ras Naga."

Mata Chu Chen berkilat. Tulang Naga Primordial. Jika ia bisa menelannya dan menyatukan susunannya ke dalam tubuh fisiknya, pertahanan tubuhnya akan melesat menuju tingkat yang tidak bisa ditembus oleh pusaka tingkat menengah sekalipun.

"Sepuluh Batu Roh," suara datar Chu Chen memecah keheningan ruangan. Ia mengangkat plakat penawarannya.

Beberapa orang menoleh ke belakang, mencibir melihat seorang Murid Luar berjubah lusuh berani menawar barang sampah.

Juru lelang wanita itu tersenyum lega karena barangnya tidak jadi menganggur. "Sepuluh Batu Roh dari Tuan di barisan bela—"

"Dua puluh Batu Roh."

Sebuah suara yang angkuh dan dipenuhi kemalasan memotong dari salah satu bilik kehormatan di lantai dua.

Chu Chen mengangkat wajahnya. Niat Spiritualnya yang setajam jarum langsung menembus tirai sutra di bilik tersebut. Di dalam sana, duduk seorang pemuda berpakaian sutra putih bersulam benang emas, sedang disuapi buah anggur oleh dua pelayan wanita. Di dada jubahnya, terukir lambang awan emas yang menandakan statusnya sebagai Murid Dalam Sekte Awan Suci.

Itu adalah Lu Jian. Sang pendekar berbakat istimewa dengan Akar Roh Tingkat Enam yang langsung diterima sebagai Murid Dalam di hari pertama ujian. Hanya dalam beberapa minggu, dengan sumber daya klannya dan bimbingan guru pribadinya, gejolak Qi-nya telah mencapai Puncak Lapis Kedelapan Penempaan Raga.

"Tuan Muda Lu, untuk apa Anda membeli batu rongsokan itu?" tanya seorang anak buah dari klan Lu yang berdiri di belakangnya.

Lu Jian tersenyum merendahkan sambil melirik ke bawah, ke arah Chu Chen yang tertutup bayangan. "Aku tidak membutuhkannya. Aku hanya kebetulan melihat lambang Murid Luar di jubah pengemis itu. Sebagai senior dari Murid Dalam, aku harus mengajari sampah-sampah Puncak Luar bahwa di dunia ini, mereka tidak pantas mendapatkan apapun yang mereka inginkan jika seorang bangsawan juga sedang melihatnya."

Ini adalah penindasan murni demi kesenangan. Keangkuhan mutlak dari seseorang yang terbiasa berada di atas.

Di barisan belakang, Meng Fan mengutuk pelan. "Itu Lu Jian. Jangan layani dia, Chu Chen. Dia punya klan bangsawan di belakangnya. Kita lepaskan saja batu itu."

Bukannya marah, raut wajah Chu Chen justru sedingin permukaan es abadi. Di dalam dadanya, Alam Lautan Qi bergemuruh seperti samudra yang siap menelan daratan. Lu Jian hanyalah semut Lapis Kedelapan fana, berani menginjak kepala seekor naga yang menyamar?

Chu Chen kembali mengangkat plakatnya. Suaranya terdengar jernih, bergema di seluruh ruangan lelang.

"Lima puluh Batu Roh."

Kerumunan seketika berdengung. Melompat langsung ke lima puluh? Untuk sebuah batu rongsokan?

Di bilik kehormatan, senyum Lu Jian memudar. Matanya menyipit marah. Seekor anjing Murid Luar berani melawannya di depan umum? "Seratus Batu Roh! Berani kau menawarnya lagi, kau sedang menyinggung Klan Lu!" ancam Lu Jian secara terbuka, suaranya dilapisi gejolak Qi Lapis Kedelapan yang menekan penonton di bawah.

Namun, ancaman itu menghantam Chu Chen bagaikan angin sepoi-sepoi yang menyentuh gunung baja.

"Dua ratus Batu Roh," sahut Chu Chen, sedetik setelah Lu Jian selesai bicara. Nada suaranya sama sekali tidak berubah, seolah ia sedang membeli kubis di pasar.

"KAU!" Lu Jian menggebrak meja di depannya hingga retak. Dua pelayan wanita di sampingnya menjerit ketakutan. "Tiga ratus! Aku bertaruh nyawa kau tidak punya Batu Roh sebanyak itu, dasar pengemis!"

Seluruh aula menahan napas. Tiga ratus Batu Roh untuk benda tak berguna? Ini bukan lagi soal barang, ini adalah pertarungan harga diri. Juru lelang di depan panggung menahan senyum gembiranya.

Meng Fan menarik lengan baju Chu Chen, wajahnya pucat pasi. "Chu Chen, hentikan! Dari mana kita punya tiga ratus Batu Roh?!"

Chu Chen menatap lurus ke arah bilik kehormatan di lantai dua. Mata naga vertikalnya berkilat di balik bayangan tudungnya. Ia tidak berteriak, ia tidak memancarkan Qi. Namun suaranya membawa Niat Membunuh purba yang membuat udara di aula mendadak menjadi sangat dingin.

"Lima ratus Batu Roh," ucap Chu Chen mematikan.

Hening. Sunyi senyap.

Lima ratus Batu Roh adalah kekayaan yang hanya dimiliki oleh Penatua tingkat menengah! Dan seorang Murid Luar baru saja melemparkannya ke wajah pewaris klan bangsawan.

Di bilik kehormatan, wajah Lu Jian merah padam karena amarah dan rasa malu yang luar biasa. Ia adalah pewaris klan, tapi ia tidak bodoh; menghabiskan lebih dari tiga ratus Batu Roh untuk sampah hanya akan membuatnya dihukum oleh tetua klannya. Ia telah kalah telak dalam permainan kekayaannya sendiri.

"Lima ratus... lima ratus Batu Roh, adakah penawaran lain?!" seru juru lelang dengan suara bergetar gembira. "Tidak ada? Terjual kepada Tuan di barisan belakang!"

Batu hitam—Fosil Tulang Naga—itu resmi jatuh ke tangan Chu Chen.

Lu Jian bangkit dari kursinya, menatap tajam ke arah Chu Chen melalui tirai. "Anjing yang baik. Nikmatilah batumu untuk saat ini. Begitu kau keluar dari Paviliun ini, aku akan mematahkan kedua kakimu dan merobek mulutmu."

Ia berbalik dan berjalan keluar dari bilik, diikuti oleh para pengawalnya yang berwajah bengis.

"Tamatlah kita," erang Meng Fan, membenamkan wajahnya ke kedua telapak tangannya. "Dia akan menyergap kita di luar. Dia Murid Dalam dengan pengawal Lapis Kesembilan!"

Chu Chen berdiri, melangkah menuju ruang pembayaran untuk mengambil barangnya. Ia mengeluarkan seluruh isi Cincin Penyimpanan Xue Ying, membayar lima ratus Batu Roh itu tanpa berkedip sedikit pun, dan memasukkan batu hitam kuno itu ke balik jubahnya.

Saat ia berjalan keluar dari Paviliun Bulan Sabit menuju jalanan kota yang mulai sepi, Chu Chen mengangkat wajahnya menatap bulan yang bersinar dingin.

"Meng Fan," panggil Chu Chen pelan.

"Y-Ya?"

"Pernahkah kau melihat seekor anjing peliharaan yang mencoba menggigit seekor naga?" Chu Chen tersenyum, sebuah senyuman kejam yang membuat darah Meng Fan membeku.

Chu Chen melangkah menuju lorong gelap yang mengarah ke luar kota, sengaja membiarkan dirinya masuk ke dalam jebakan Lu Jian.

"Malam ini, Lautan Qi di dalam tubuhku masih butuh tumbal untuk mengasah ketajamannya. Biarkan anak bangsawan itu datang. Aku akan menunjukkan padanya apa arti keputusasaan."

1
Gege
garis garis diantara kata menunjukkan kinerja AI mengenerate kalimat.
Letsii
mantapp😍💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!