NovelToon NovelToon
Aku Dipaksa Menjadi Pelakor

Aku Dipaksa Menjadi Pelakor

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:644
Nilai: 5
Nama Author: Siti_1234

Raisa anak kedua dari keluarga dengan ibu tunggal bernama Sri, Sri telah lama menjadi tulang punggung keluarga setelah suami nya meninggal saat Raisa masih kecil.
Kakak nya yang lebih tua bernama Ratna menikah dengan Rio dari keluarga yang berada.
masalah muncuk ketika Ratna dan Rio yang sudah lima tahun menikah masih belum juga memiliki keturunan karna kesuburan Ratna kurang,, tekanan yang di berikan keluarga Rio membuat Ratna memiliki niat untuk membuat Raisa hamil anak suami nya ..
Niatan itu di ungkap kan Ratna kepada ibu dan adik nya walau pun tanpa sepengetahuan suami nya sendiri..

Apa yang harus di lakukan Raisa untuk bisa membantu kesulitan Ratna kakak nya,, Apa dia akan menerima nya dan setuju menjadi pelakor apa menolak nya..?

Jangan lewatkan cerita nya untuk mengetahui kelanjutan nya🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti_1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 22: "HILANGNYA HARAPAN"

******

Raisa sudah pindah ke rumah Sri Wahyuni yang terletak di pinggiran kota Semarang. Setiap pagi dia harus berangkat lebih awal untuk sampai ke kampus tepat waktu, namun dia merasa lebih tenang tinggal jauh dari rumah Rio dan Ratna. Meskipun begitu, rasa sakit akibat keputusan Rio masih sering menghantui dirinya setiap malam.

Di rumah lama, Ratna menghabiskan sebagian waktunya dengan menangis diam-diam sambil merawat Bara. Dia tidak bisa menghindari rasa bersalah yang terus menghantui dirinya. "Andai saja aku tidak pernah meminta Rio untuk memperhatikan Raisa dulu," pikirnya sambil menyusui Bara. "Andai saja aku lebih peka terhadap perasaan mereka berdua, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi."

Rio sendiri menghabiskan waktu lebih banyak di kantor atau bersama Bara, mencoba untuk mengalihkan pikirannya dari kehilangan Raisa. Namun setiap kali melihat barang-barang kecil yang pernah dibuat Raisa untuk keluarga, hatinya selalu terasa sesak dan penuh dengan penyesalan.

Satu hari di kampus, Raisa sedang berjalan menuju perpustakaan ketika melihat Dokter Arif berdiri di depan gedung kuliah dengan membawa tas plastik berisi makanan hangat. Wajahnya tampak sedikit kebingungan saat melihat jam di tangan nya.

"Raisa, betapa bersamanya bertemu denganmu!" ucap Dokter Arif dengan senyum yang sedikit dipaksakan. "Aku ingin memberikan makanan ini untuk Reza, tapi baru saja diberitahu kalau dia sudah pulang duluan. Apakah kamu bisa membantuku mengantarkannya? Aku punya janji dengan pasien dan tidak bisa pergi ke kosannya."

Raisa sedikit ragu, namun melihat wajah Dokter Arif yang penuh harapan membuatnya tidak bisa menolak. "Baiklah, Pak Dokter. Aku akan mengantarkannya ke kosannya."

Setelah mendapatkan alamat kos-kosan Reza, Raisa pergi dengan membawa tas makanan. Perjalanan tidak terlalu jauh, namun setiap langkahnya terasa berat karena dia tidak tahu bagaimana akan bertemu dengan Reza setelah kejadian terakhir di rumahnya.

Ketika sampai di depan kos-kosan Reza, suara percakapan dari balkon kedua lantai membuatnya berhenti. Dia mengenali suara Reza dan Maya yang sedang berbincang dengan suara yang penuh dengan kegembiraan.

"Besok aku akan memberitahukan padamu dengan jelas, Maya," ucap Reza dengan suara yang penuh dengan keyakinan. "Aku sudah tidak bisa menyembunyikan perasaanku lagi. Aku ingin kamu tahu bahwa aku mencintaimu—lebih dari sekadar teman atau rekan kerja."

Maya tertawa lembut. "Aku sudah menunggu kata-kata itu sejak lama, Reza. Aku juga mencintaimu."

Hati Raisa seolah-olah hancur berkeping-keping mendengar kata-kata itu. Rasa sakit yang belum sembuh akibat keputusan Rio kini ditambah dengan rasa kehilangan yang baru—bahkan orang yang pernah dia anggap sebagai teman baik pun telah menemukan cinta dengan orang lain. Seolah semua orang di sekitarnya perlahan-lahan menjauh dan pergi darinya.

Dia tidak punya keberanian untuk menghadapi Reza dan Maya. Dengan hati yang berat, dia pergi mendekati pintu kos dan bertemu dengan seorang mahasiswi yang sedang keluar dari dalam.

"Permisi, bisa tolong kamu menyerahkan makanan ini untuk Reza di kamar 203?" tanya Raisa dengan suara lembut, memberikan tas plastik padanya. "Diberikan oleh ayahnya, Dokter Arif."

Mahasiswi itu mengangguk setuju. "Tentu saja. Aku akan memberitahukan padanya."

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Raisa segera berjalan pergi dari situ. Air mata yang sudah menumpuk lama mulai menetes deras di wajahnya. Dia berjalan tanpa arah, hanya ingin mencari tempat sunyi untuk menangis dengan bebas.

Dia berhenti di taman kecil dekat kos-kosan Reza, duduk di bangku yang kosong di bawah pohon beringin. Semua kenangan yang pernah dia alami—baik dengan Rio maupun dengan Reza—terlintas seperti film di benaknya.

"Mengapa semua orang yang aku sayangi akhirnya pergi dariku?" pikirnya sambil menyeka air matanya dengan kasar. "Jika aku tidak pernah mengenal Rio, jika aku tidak pernah berharap pada cinta yang tidak mungkin—mungkin aku tidak akan merasa sepi seperti ini."

Saat matahari mulai terbenam dan langit berubah warna menjadi oranye kemerahan, Raisa berdiri dengan hati yang masih sakit namun penuh dengan tekad. Dia mengambil tasnya dan berjalan menuju jalan raya untuk pulang ke rumah Sri Wahyuni.

"Saya harus kuat," bisiknya sendiri saat naik angkot. "Saya tidak bisa terus meratapi apa yang sudah lalu. Saya harus fokus pada diri saya sendiri dan masa depan saya. Tidak ada orang lain yang bisa membuat saya bahagia selain diri saya sendiri."

Di kos-kosan Reza, setelah menerima makanan dari temannya, dia merasa penasaran mengapa Raisa tidak datang langsung padanya. Ketika dia melihat arah jalan yang ditempuh Raisa dari jendela kamar nya, dia hanya bisa menghela nafas dan berkata perlahan, "Maafkan aku, Raisa. Semoga kamu menemukan kebahagiaan yang kamu cari."

Di rumah Rio dan Ratna, malam itu terasa sangat sunyi. Tanpa kehadiran Raisa yang selalu ramai dan ceria, rumah terasa sepi dan hampa. Ratna melihat ke arah kamar yang dulu ditempati Raisa dan meratap diam-diam, sementara Rio hanya bisa berdiri di teras belakang dengan pandangan kosong, merenungkan semua kesalahan yang telah dia buat dan orang-orang yang telah dia sakiti.

......................

...****************...

...----------------...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!