Anindya Wijaya, seorang mahasiswi lanjutan jurusan kebidanan. Anak yatim piatu yang harus bekerja keras demi kebutuhan hidupnya. Semua pekerjaan rela dia lakukan termasuk menjadi pacar ataupun tunangan bayaran. Pekerjaan itulah yang membuatnya bertemu dengan Bagas Ardhitama, seorang tentara pasukan khusus yang dikejar deadline oleh orang tuanya untuk membawa pacarnya ke rumah.
Apakah ini awal yang baik untuk memulai sebuah hubungan?
Akankah kebohongan mereka menjadi petaka? Ataukah akan bahagia?
Akankah pekerjaan Bagas sebagai tentara pasukan khusus membuat hidup Anindya terancam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Nyak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu (2)
Raka masuk ke dalam mobil. Dia berada di samping kursi kemudi. Dia melihat Bagas yang masih memainkan hp nya.
"Nyet, lo beneran cemburu?"
"Kalo iya kenapa emang?!" jawab Bagas penuh emosi
"Hahaha, akhirnya nyet, lo bisa move on dari Nisa. Gue gak suka Anin. Gue tegasin sekali lagi ya, gue gak suka Anin"
"Terserah lo Mbel, capek mata gue lihat kalian akrab. Apalagi Anin, sama sekali gak nganggep gue"
Yang dibicarakan sudah datang. Anin masuk ke mobil. Pakaian yang ia kenakan membentuk lekuk tubuhnya. Meski tak sesempurna model tapi cukup bisa dilihat jika pakaiannya ketat. Anin mengenakan kaos pink dan rok jeans selutut. Rambutnya ia biarkan terurai. Dandanan natural yang ia poleskab di wajahnya sangat menyatu dengan paras cantiknya.
"Udah siap Nin? Pintu rumah udah dikunci?" Raka memastikan Anin sudah siap
"Udah Bang, mari kita kemon"
Bagas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali dia melirik kaca untuk melihat Anin. Yabg dilihat hanya diam. Raka pun memilih untuk diam karena percuma mengajak Bagas mengobrol. Tidak akan ada balasan obrolan. Yah begitulah Bagas. Dia lebih memilih diam daripada harus marah dan mengutarakan kekesalannya.
.
Mobil Bagas sudah memasuki bandara. Bagas menurunkan kecepatan mobilnya untuk mencari parkiran yang kosong. Setelah dapat merek bergegas menuju dalam bandara. Anin dan Bagas mengucapkan salam perpisahan dengan Raka.
"Nyet, lo jangan marah lagi dong. Gue udah mau balik ini. Kalo lo bosen disini susul gue di Kalimantan. Oke brother?" ucap Raka sambil meninju lengan Bagas
"Ati ati lo Mbel, ogah gue nyusul lo. Enakan disini"
"Ati ati ya Bang, jangan lupa kabari Anin"
Ucapan Anin semakin membuat Bagas dibakar api cemburu.
"Ya sudah gue masuk ya. Tolong jaga adik gue ya Nyet. Gue harap kalian gak cuma tunangan kontrak doang" ucap Raka sambil menepuk bahu Bagas. Tapi Bagas hanya diam tak bergeming sampai Raka sudah tidak terlihat lagi.
Bagas dan Anin berjalan menuju parkiran. Anin takut karena daritadi Bagas hanya diam. Mereka masuk ke dalam mobil.
Anin duduk di samping kursi kemudi. Anin hendak memasang seat belt nya tapi kesusahan karena agak berat saat menariknya. Bagas yang melihat itu langsung mengambil dan menarik seat belt Anin. Bagas masih diam. Dalam perjalanan Anin memberanikan diri untuk memulai percakapan.
"Ehem, mas. Kamu kenaoa diem aja? Gak enak tau kalo di diemin kayak gini"
"Gak papa" jawab Bagas ketus
"Gak papa gimana, jawaban kamu aja ketus begitu. Mas, aku takut kalo kamu begini"
"Berisik, bisa diem gak?"
"Berhenti mas, minggir. Aku bilang berhenti, stop!"
Bagas menepikan mobilnya. Anin hendak turun dari mobil dicegah oleh Bagas.
"Mau kemana kamu? Duduk!"
"Kamu pulang sendiri aja deh. aku gak bisa semobil sama orang yang lagi marah. Bahaya"
"Aku bilang duduk Anindya wijaya!!" Bagas berbicara kepada Anin dengan nada meninggi. Anin semakun takut. Dia keluar dari mobil meninggalkan Bagas.
Bagas keluar dari mobil dan mengejar Anin. Dia menggendong Anin seperti sedang memikul beras 1 karung.
"Lepasin!"
"Gak bakalan" Bagas mendudukkan Anin ke posisi semula. Bagas bergegas ke kursi kemudi dan mengunci pintu mobil. Anin meletakkan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya yang sedang menangis.
Bagas melajukan mobil menuju rumah Anin. Sesampainya di rumah Anin, Bagas tidak segera turun. Dia salah sudah membentak Anin. Dia meraih kedua tangan Anin yang masih menutupi wajahnya.
"Maaf, mas gak bermaksud bentak kamu" Bagas mengusap air mata yang lolos begitu saja.
Anin masih menangis tidak menjawab Bagas.
"Udah dong jangan nangis lagi. Maafin mas ya?" Bagas mengelus rambut Anin
"Aku salah apa sampai kamu bentak aku?" Anin mulai membuka suara
"Mas yang salah. Maafin ya Yank"
"Kita ini sebenarnya gimana sih mas? Aku kamu anggap apa? Cuma sebatas tunangan bayaran kamu atau apa? Perlakuanmu membuatku bingung"
"Mas gak suka kamu ganjen genit di depan cowok lain. Meskipun itu sahabat mas sendiri. Mas rasa mas mulai jatuh hati sama kamu" Bagas mencoba jujur dengan perasaannya.
Anin hanya diam memandangi mata Bagas. Dia mencari kebohongan dari netra itu. Tapi sama sekali tidak ada. Anin bingung harus jawab apa.
bibirnya lebih gentle yaa 😂👍
Sedangkan klo tari lagi sedih anin selalu ada di sampingnya 😏
Klo cuma tristan mah gak cukup kan lagi ada misi merebut hati papanya tari tristan nya 😁