Menghilang selama lima belas tahun, ia akhirnya kembali karena tuntutan pekerjaan. Luka masa lalu mengajarkannya bahwa apa yang bukan milikmu, tak akan pernah bisa dipaksa menjadi milikmu. Kini ia hadir dengan versi terbaik, bertekad menjalani hidup lebih dewasa.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sosok menyebalkan yang menjadi atasannya. Kesabaran pun terus diasah karena harus bertemu setiap saat.
Lantas, mampukah benih cinta tumbuh di antara pertemuan mereka? Atau justru mereka akan tetap memilih jalan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode-31
Pagi itu, matahari bersinar cerah menyapa pagi yang indah. Seperti biasa, Nara keluar dari rumahnya dengan semangat, siap menjalani hari.
Belum sempat ia membuka pintu mobil, sosok yang sudah ia tunggu sudah muncul dengan wajah ceria melambaikan tangan.
"Selamat pagi Mbak Naraaa!" seru Amira riang dari arah samping rumah.
"Eh pagi Amira! Tumben cepet banget hari ini?" sapa Nara ramah, wajahnya langsung ikut tersenyum melihat semangat teman barunya itu.
"Iya nih Mbak, soalnya takut telat hehehe. Kebetulan pas bangun udah rapi semua," jawab Amira santai sambil membuka pintu mobil belakang dan masuk dengan lincah.
Nara pun masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, dan melajukan kendaraannya menuju kantor.
Sepanjang perjalanan, suasana sangat cair dan menyenangkan. Amira benar-benar tidak berubah, ia tetap cerewet, tertawa lebar, dan bercerita banyak hal mulai dari resep masakan, film yang ditonton, sampai kelucuan kucing peliharaannya.
Nara mendengarkan dengan antusias, sesekali ikut tertawa. Di dalam hatinya, ia merasa sangat bersyukur dan beruntung.
Alhamdulillah... dapet teman baru yang baik banget, asik, ceria, dan tinggalnya deket lagi. Pasti kerjaan bakal makin seru nih, batin Nara penuh rasa syukur. Ia sama sekali tidak melihat hal yang aneh atau mencurigakan sedikitpun. Baginya, Amira hanyalah malaikat kecil yang hadir mewarnai hari-harinya.
"Mbak Nara cantik banget sih pagi ini! Makeup-nya natural banget cocok banget," puji Amira tulus sambil membetulkan letak tasnya.
"Ah apaan sih, biasa aja kok. Kamu juga cantik kok Mir, fresh banget," balas Nara tersipu senang.
"Yaiyalah dong, soalnya berangkatnya bareng Mbak Nara jadi semangat terus!" canda Amira.
Mereka pun tertawa bersama. Tidak ada rasa canggung, tidak ada jarak. Semuanya terlihat begitu tulus dan manis di luar.
Hanya saja... sesekali saat Nara sedang fokus menyetir, senyum di wajah Amira perlahan akan memudar sejenak, matanya menatap punggung kepala Nara dengan tatapan dalam yang sulit diartikan, namun secepat kilat ia akan kembali tersenyum manis saat Nara menoleh ke belakang kaca spion.
Sesampainya di kantor, mereka berjalan berdampingan masuk ke dalam gedung dengan wajah ceria masing-masing.
_________
Sesampainya di lantai kantor, suasana pagi yang ceria masih terasa kental. Nara langsung menuju mejanya, sementara Amira membantu menaruh tas dan menyiapkan beberapa berkas yang tadi pagi sudah ia bawa.
"Mbak Nara, ini berkasnya udah aku rapikan ya. Tinggal tunggu Pak Arkan datang aja," kata Amira ceria sambil menyusun dokumen dengan rapi di atas meja.
"Makasih ya Mir, bantuin banget kamu. Jadi ringan beban aku," jawab Nara tulus sambil meminum kopi hangatnya.
"Sama-sama Mbak! Kan emang tugas aku, lagian seneng banget bisa bantu Mbak," sahut Amira manis.
Tak lama kemudian, pintu lift terbuka dan Arkan muncul di sana. Seperti biasa, pria itu berjalan dengan langkah tegap dan penuh wibawa. Namun begitu matanya menangkap sosok Amira yang sedang tertawa lebar bersama Nara, langkahnya sempat terhenti sejenak.
Ada perasaan aneh lagi yang menyergap dadanya. Wajah wanita itu... semakin dilihat semakin terasa familiar. Tapi Arkan mencoba menepisnya. Ah, mungkin karena dia cantik jadi mirip artis atau model yang pernah dilihat di majalah, pikirnya mencoba berpikir logis.
"Selamat pagi, Pak Arkan!" sapa Amira dengan sigap saat melihat Bosnya datang. Ia menunduk sopan, senyumnya tetap manis dan ramah.
"Pagi," jawab Arkan singkat, tatapannya dingin dan formal. Ia tidak berlama-lama menatap Amira, langsung mengalihkan pandangannya ke arah Nara yang langsung menyambutnya dengan senyum manis.
"Pagi Sayang!" sapanya ceria.
"Pagi cantik," balas Arkan lembut, suaranya langsung meleleh begitu bicara sama Nara. Ia berjalan mendekat, lalu dengan santai mengusap puncak kepala Nara penuh kasih sayang, seolah tidak ada orang lain di sana.
Amira yang melihat pemandangan itu hanya diam mematung di tempatnya. Tangannya yang tadi sedang memegang stapler perlahan mengepal kuat di balik meja.
Manis sekali... sangat manis sampai rasanya ingin aku muntah melihatnya, batin Amira menyindir pedas. Namun di luar, ia tetap memasang wajah polos dan ikut tersenyum melihat keromantisan mereka.
"Eh iya Mir, kamu belum sarapan kan? Ini ada roti tawar sama selai, ambil aja ya buat sarapan," tawar Nara baik hati, menawarkan bekal yang ia bawa.
"Wah boleh dong Mbak! Makasih banyak ya! Mbak Nara emang yang terbaik!" seru Amira antusias, langsung mengambilnya dan memakannya dengan lahap seolah tidak terjadi apa-apa.
Arkan yang melihat interaksi mereka hanya menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.
"Kamu ya... baik banget sama semua orang. Hati-hati nanti malah dimanfaatin lho," bisik Arkan pelan di telinga Nara saat melewatinya mau masuk ruangan.
"Apasih, Amira baik kok. Kamu tuh jangan curigaan terus ah," jawab Nara santai.
Arkan hanya mendengus pelan lalu masuk ke ruangannya. Ia masih merasa ada yang ganjil, tapi melihat Nara yang begitu bahagia dan percaya diri, ia memutuskan untuk tidak merusak suasana.
Terserah kamu sayang... yang penting kamu senang. Tapi kalau dia berani macam-macam, aku yang akan bertindak, batin Arkan waspada.
Sementara itu, di luar ruangan...
Amira menggigit rotinya pelan, matanya menatap pintu ruangan tertutup itu dengan tatapan dalam dan tajam.
Haaahh... romantis sekali ya. Ciieh...
"Mbak Nara... aku ke bawah dulu ya mau ambil air minum," pamit Amira.
"Iya hati-hati Mir."
Saat berjalan menuju lift, senyum ceria di wajahnya perlahan luntur sepenuhnya, digantikan oleh tatapan dingin yang penuh rencana dan dendam.
"Permainan baru saja akan dimulai..." bisiknya lirih penuh penekanan.
BERSAMBUNG...