NovelToon NovelToon
Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: MAHAKARYA DALAM JEBAKAN

​POV: DAMIAN XAVIER

​Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit galeri memantulkan cahaya yang menyilaukan, menciptakan atmosfer kemewahan yang nyaris mencekik. Malam ini, Vipera Art Hall bukan sekadar tempat pameran; ini adalah proklamasi. Aku berdiri di balkon lantai dua, menggenggam segelas champagne yang belum kusentuh, mataku terpaku pada sosok wanita di lantai bawah yang sedang dikelilingi oleh para kolektor kelas atas.

​Qinanti. Dia tampak seperti dewi yang turun dari lukisan Renaisans. Gaun merah marun yang dipilihkan Lea membalut tubuhnya dengan keanggunan yang tak terbantahkan, memamerkan bahu indahnya yang selama sembilan tahun ini hanya bisa kunikmati dalam ingatan.

​"Papa, berhentilah menatap Mama seperti predator yang ingin menelan mangsanya. Itu tidak estetis di depan kamera wartawan," suara Leo datar terdengar di telingaku melalui earpiece mikro.

​Aku berdeham, memperbaiki letak kerah tuksedoku yang sebenarnya sudah sempurna. "Aku hanya sedang melakukan pengawasan keamanan, Leo."

​"Pengawasan keamanan atau pemujaan visual?" balas Leo sinis. "Sektor barat aman. Marco sudah menempatkan unit penyamar di antara pelayan. Tapi Papa, Bianca baru saja masuk melalui pintu VIP. Dia mengenakan gaun hijau zamrud—warna yang secara psikologis melambangkan kecemburuan yang akut malam ini."

​Aku menyipitkan mata. Bianca Valerius. Wanita itu benar-benar tidak tahu kapan harus menyerah. Dia melangkah masuk dengan dagu terangkat, diikuti oleh dua orang yang aku kenali sebagai kritikus seni bayaran.

​"Biarkan dia masuk," desisku. "Aku ingin melihat seberapa berani dia bermain api di rumahku sendiri."

​"Dia tidak bermain api, Papa. Dia membawa bahan peledak reputasi," suara Lea menimpali melalui frekuensi yang sama. "Aku melihat gerakan tangannya terus meraba tas tangan kecilnya. Ada sebuah remote atau alat transmisi di sana. Dia berencana meretas layar proyektor utama saat Mama melakukan pidato pembukaan."

​Aku mengepalkan tangan kiri yang tersembunyi di saku celana. "Leo, kau sudah mengamankan servernya?"

​"Papa meragukan Marsekal?" Leo terdengar tersinggung. "Aku tidak hanya mengamankan server. Aku sudah menukar 'bom' Bianca dengan sesuatu yang akan membuat klan Valerius ingin menghapus nama mereka dari sejarah dunia. Papa hanya perlu satu hal: pastikan Mama tetap tenang di atas panggung."

​Aku menarik napas panjang. Sembilan tahun lalu, aku gagal menjadi pelindung bagi wanita itu. Malam ini, dengan dua malaikat maut kecil di sisiku, aku akan memastikan tidak ada satu pun debu yang berani hinggap di mahkota ratuku.

​POV: QINANTI (Mama)

​Telapak tanganku terasa dingin dan lembap. Suara riuh rendah percakapan dalam bahasa Prancis, Inggris, dan Mandarin di sekelilingku terasa seperti dengungan lebah yang mengancam. Aku adalah seorang kurator, aku biasa berada di balik layar. Namun malam ini, namaku terpampang besar di pintu masuk sebagai bintang utama.

​"Mama, bernapaslah. Hitungan satu, dua, tiga. Buang," bisik Lea sambil menggandeng tanganku. Dia tampak menggemaskan dengan gaun putih dan bando bunga, namun genggaman tangannya memberikan kekuatan yang tidak wajar.

​"Mama takut, Lea. Bagaimana jika mereka tidak menyukai karyaku? Bagaimana jika..."

​"Mama, dengarkan Lea," Lea menatap mataku, kedalaman tatapannya seolah-olah dia bisa melihat seluruh ketakutanku dan menghancurkannya berkeping-keping. "Mama adalah kurator terbaik yang pernah dimiliki Papa. Mereka yang di sana bukan sedang menilai seni, mereka sedang mencoba mencari celah. Dan tugas Lea adalah menutup mata mereka, sementara tugas Mama adalah bersinar."

​Aku tersenyum tipis, mengusap pipi Lea. "Terima kasih, Sayang. Di mana Leo?"

​"Kak Leo sedang sibuk di 'pusat komando' daruratnya di ruang kontrol. Dia bilang, dia sedang mengatur pencahayaan agar Mama terlihat seperti malaikat," Lea terkekeh, meski aku tahu ada arti lain di balik kata-katanya.

​Tiba-tiba, kerumunan itu terbelah. Bianca Valerius melangkah maju dengan senyum yang mengingatkanku pada ular kobra yang siap mematuk.

​"Qinanti, sayang! Luar biasa sekali panggung yang Damian bangun untukmu," Bianca bicara cukup keras agar didengar oleh para kritikus di sekitarnya. "Sembilan tahun menghilang, dan tiba-tiba muncul sebagai 'Ratu' Vipera? Aku penasaran, apakah bakatmu memang di seni, atau di hal lain yang... lebih privat?"

​Darahku terasa membeku. Hinaan itu sangat jelas. Beberapa tamu mulai berbisik. Aku merasakan jemari Lea meremas tanganku sedikit lebih keras.

​"Nona Bianca," Lea menyela dengan suara anak kecil yang paling manis namun memiliki nada dingin yang menusuk. "Mama sedang sibuk menyiapkan mahakarya untuk tamu-tamu terhormat. Jika Nona ingin bicara tentang hal 'privat', mungkin kita bisa bicara tentang kenapa Nona sering mengunjungi kantor pengacara kebangkrutan bulan lalu? Bukankah itu sangat privat?"

​Wajah Bianca memucat seketika. "Kau... bocah kurang ajar!"

​"Lea hanya bertanya, Nona," Lea memiringkan kepala dengan polos. "Ayo Mama, saatnya pidato pembukaan. Jangan biarkan tamu yang 'tidak relevan' membuang waktu kita."

​Aku terpaku melihat keberanian putriku. Aku menarik napas, menegakkan punggung, dan melangkah menuju panggung utama. Di balkon, aku melihat Damian menatapku. Dia mengangguk pelan, sebuah isyarat perlindungan yang membuat seluruh keraguanku menguap.

​POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)

​Aku duduk di ruang kontrol yang gelap, wajahku diterangi oleh sinar biru dari delapan monitor yang menampilkan setiap sudut galeri. Di depanku, Marco berdiri dengan keringat dingin mengucur di pelipisnya.

​"Tuan Muda Leo, Bianca baru saja menekan tombol di tasnya," lapor Marco dengan suara bergetar.

​"Aku tahu. Aku sedang menontonnya di layar tujuh," jawabku datar. Jemariku menari di atas keyboard dengan kecepatan yang melampaui kemampuan manusia normal. "Dia mencoba memutar video skandal palsu tentang Mama yang dia buat dengan teknologi Deepfake. Amatir. Sangat tidak efisien."

​Aku melihat di monitor utama, Mama sudah berdiri di podium. Dia tampak gemetar, tapi dia berusaha tegar. Saat dia mulai berbicara, lampu ruangan meredup dan proyektor raksasa di belakangnya mulai menyala.

​"Sekarang, Kak!" suara Lea terdengar di pikiranku.

​"Diterima. Memulai protokol Mirror Skakmat," bisikku.

​Aku mengalihkan jalur transmisi Bianca. Alih-alih video fitnah tentang Mama, layar raksasa itu mulai menampilkan rekaman suara dan video tersembunyi yang kuambil dari ponsel Bianca semalam.

​Di layar itu, terlihat Bianca sedang berbicara dengan Baron.

"Aku akan menghancurkan pameran itu, Baron. Begitu pameran itu kacau, kau bisa mengirim orang-orangmu untuk menculik anak-anak itu. Damian akan hancur dan klan Valerius akan mengambil alih seluruh aset Vipera."

​Seluruh galeri menjadi sangat sunyi. Begitu sunyi hingga suara napas Bianca yang terengah bisa terdengar jelas.

​"Variabel pengganggu terdeteksi. Target terkunci," gumamku. Aku menekan tombol lain, dan lampu sorot paling terang di galeri itu mendadak mengarah tepat ke wajah Bianca yang sedang berdiri membeku di tengah aula.

​POV: DAMIAN XAVIER

​Aku melangkah turun dari tangga marmer dengan aura yang bisa membekukan air terjun. Tatapanku terkunci pada Bianca yang kini menjadi pusat perhatian seluruh kolektor dan media massa dunia. Video di belakang Qinanti masih terputar, memperlihatkan rincian pengkhianatan klan Valerius yang sedang merencanakan kudeta dan penculikan.

​"Damian... ini... ini palsu! Ini rekayasa!" teriak Bianca panik, suaranya melengking tinggi.

​"Palsu?" Aku berdiri di depannya, menatapnya dengan kebencian yang murni. "Anakku tidak pernah memproduksi data palsu, Bianca. Dia hanya mengungkap kebenaran yang kau coba sembunyikan di balik gaun mahalamu."

​Aku memberi isyarat pada Marco. Dalam hitungan detik, polisi yang sebenarnya sudah disiapkan Leo di luar—lengkap dengan surat perintah penangkapan atas tuduhan konspirasi kriminal—masuk ke dalam galeri.

​"Bawa dia pergi," perintahku dingin. "Dan pastikan klan Valerius tahu, mulai malam ini, mereka tidak lagi memiliki tempat di tanah ini."

​Bianca diseret keluar di tengah jepretan kamera wartawan yang menggila. Reputasinya hancur dalam semalam. Klan Valerius tamat.

​Aku berbalik menuju panggung. Qinanti berdiri di sana, tampak syok namun lega. Aku melangkah naik, mengabaikan protokol pameran, dan menggenggam tangannya di depan semua orang.

​"Maafkan interupsi kecil ini, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya," suaraku bergema di seluruh aula. "Pameran malam ini bukan hanya tentang keindahan seni. Ini adalah tentang kebenaran. Dan kebenaran yang paling mutlak malam ini adalah... istriku, Qinanti Xavier, adalah satu-satunya cahaya yang akan menyinari klan ini."

​Aku mencium punggung tangannya dengan khidmat. Gemuruh tepuk tangan meledak. Para kritikus yang tadi ragu kini berebut untuk mendekati lukisan-lukisan Qinanti, menyadari bahwa mereka sedang berdiri di hadapan wanita paling berkuasa di Jakarta.

​POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)

​Aku melihat dari kejauhan bagaimana Papa memeluk Mama di atas panggung. Analisis hormon kebahagiaan di wajah mereka: 98%. Sukses besar.

​“Kak, target sudah dievakuasi ke penjara pusat. Rekening klan Valerius sudah mulai mengalami penurunan nilai saham sebesar 40% di pasar modal. Strategi selesai,” lapor kuku lewat pikiran.

​“Belum, Lea. Lihat ke arah pintu keluar darurat sektor utara. Ada satu variabel yang luput dari pantauan Papa,” suara Leo terdengar tajam.

​Aku menajamkan penglihatanku. Seorang pria dengan topi hitam rendah sedang berjalan cepat keluar, ia membawa sebuah tas yang tampak berat. Profil langkah kakinya: terburu-buru, berat di sisi kanan (senjata), dan tatapan mata yang terus melihat ke arah jam tangan.

​“Itu pembunuh bayaran Baron. Dia tidak peduli dengan Bianca. Dia tetap menjalankan misi terakhir: sabotase fisik pada infrastruktur gedung,” Leo memberi peringatan.

​Aku mendesah pelan. Kenapa orang dewasa selalu membuat segalanya menjadi rumit?

​"Mama, Papa, Lea ke toilet sebentar ya!" seruku riang, memberikan lambaian tangan imut sebelum berlari menuju arah pintu utara.

​Aku tidak menuju toilet. Aku memutar lewat lorong pelayan, menggunakan kecepatan tubuh kecilku untuk menyelinap di antara bayang-bayang. Di ujung koridor dekat panel listrik utama, pria bertopi itu sedang bersiap memasang perangkat peledak mikro.

​"Paman, meletakkan benda itu di sana hanya akan merusak sistem pendingin udara, bukan menghancurkan gedung," ucapku tenang, berdiri tepat di belakangnya.

​Pria itu tersentak, berbalik dan langsung menghunus pisau. Namun, sebelum dia bisa bergerak, Leo muncul dari balik pintu panel, memegang sebuah alat kejut listrik tegangan tinggi yang disamarkan sebagai mainan robot.

​ZAP!

​Pria itu tumbang seketika, tubuhnya kejang-kejang sebelum akhirnya pingsan. Leo menendang tas peledak itu menjauh dengan sangat pragmatis.

​"Kau terlambat tiga detik, Lea," gerutu Leo sambil merapikan jas mininya. "Aku bisa saja terkena serangan jantung jika robotku ini tidak bekerja."

​"Jangan berlebihan, Kak. Jantung Marsekal tidak selemah itu," aku terkekeh, lalu menatap pria yang pingsan itu. "Jadi, apa yang harus kita lakukan dengan 'hadiah' dari Baron ini?"

​"Kirim dia ke markas Vipera. Papa butuh samsak tinju baru setelah pameran ini selesai," jawab Leo datar.

​Kami berdua berdiri di sana, di lorong gelap galeri, sementara di aula utama suara tawa dan musik klasik merayakan kemenangan Mama. Kami adalah dua hantu di balik layar, dua penguasa bayangan yang memastikan bahwa catur keluarga ini selalu berakhir dengan kemenangan.

​"Kak, besok kita harus minta es krim rasa stroberi yang paling mahal sebagai upah," ucapku.

​"Stroberi dan vanila. Dan satu set komputer kuantum baru," tambah Leo.

​Kami berjalan kembali menuju aula, bergandengan tangan, berubah kembali menjadi sepasang kembar berusia delapan tahun yang paling manis di dunia. Saat kami masuk ke aula, Damian dan Qinanti melihat kami. Mereka tersenyum, tidak tahu bahwa anak-anak mereka baru saja menyelamatkan gedung ini dari ledakan.

​"Checkmate, Papa," bisik Leo saat Damian menggendongnya.

​Damian tertawa, mencium kening Leo dan Lea bergantian. "Ya, anak-anak. Checkmate untuk semua orang yang berani mengganggu kita."

​Di bawah cahaya lampu galeri, keluarga Xavier berdiri utuh. Sebuah mahakarya yang jauh lebih indah daripada lukisan mana pun di dinding itu.

1
Xenovia_Putri
.ceritanya bagus tpi sayang.q pov char bukan pov author... sorry skipp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!