Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.
Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.
Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.
Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.
Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:
Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?
- Believe in magic -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 — Tempat Aneh Bernama Salon
Langit sore mulai meredup ketika Laura Roberts keluar dari mall bersama Nyonya Quenza dan Martin. Tangannya masih menggenggam beberapa kantong belanja, sementara pikirannya dipenuhi berbagai hal baru yang ia lihat hari ini. Dunia manusia terasa begitu ramai, begitu hidup, dan… melelahkan.
Namun sebelum ia sempat menikmati ketenangan, Nyonya Quenza tersenyum cerah dan berkata, “Laura, setelah ini temani Mommy ke salon, ya. Mommy sudah janji dari kemarin.”
Laura menoleh cepat. “Salon?”
Ia mengerutkan dahi, mencoba memahami kata itu. “Apa itu salon?”
Hening sejenak.
Martin langsung menghela napas panjang, wajahnya berubah kesal. Ia menatap Laura dengan tatapan tidak percaya, seolah kesabarannya mulai habis. “Kamu itu manusia zaman batu atau apa sih?” katanya dengan nada tinggi. “Tidak bisakah kamu tidak membuatku marah?”
Laura langsung mencebik, kesal. Tanpa berpikir panjang, ia bergumam pelan, “Namanya juga mantan penyihir…”
Kalimat itu keluar begitu saja, refleks, seperti kebiasaan lamanya yang sulit hilang.
Martin langsung terdiam.
Keningnya berkerut, matanya menyipit menatap Laura dengan penuh tanda tanya. Ia mendekatkan wajahnya sedikit, lalu tanpa ragu menaruh telapak tangannya di dahi Laura.
Beberapa detik ia diam… lalu tiba-tiba terkekeh pelan, namun nadanya terdengar aneh.
“Fix, kamu sakit, Laura.”
Laura membeku.
Jantungnya berdegup cepat. Ia langsung menyadari kesalahannya. Untung saja Martin tidak memahami maksud ucapannya. Ia hanya menganggap Laura bicara ngawur.
Laura menarik napas panjang, lalu memalingkan wajah. “Aku hanya bercanda,” katanya cepat, mencoba menutupinya. “Aku memang belum terbiasa saja.”
Martin menghela napas lagi, kali ini lebih panjang, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi roda. “Bercanda? Cara bercandamu aneh.”
Nyonya Quenza hanya tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. “Sudahlah, Martin. Jangan terlalu keras pada Laura. Dia memang masih penyesuaian. Wajar kalau banyak yang belum dia tahu.”
Laura menatap Nyonya Quenza sekilas, merasa sedikit lega. Wanita itu benar-benar baik padanya.
Mobil pun melaju menuju salon. Sepanjang perjalanan, Laura hanya diam, menatap keluar jendela. Pikirannya masih dipenuhi kejadian tadi. Ia harus lebih berhati-hati. Dunia ini bukan tempatnya untuk berbicara sembarangan.
Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah bangunan dengan kaca besar dan tulisan elegan di depannya. Cahaya lampu dari dalam terlihat hangat, dan beberapa orang tampak duduk sambil dirapikan rambutnya.
Laura berhenti di depan pintu, matanya membesar.
“Ini… salon?” tanyanya pelan.
Nyonya Quenza tersenyum. “Iya. Tempat untuk merawat diri. Rambut, wajah, kadang kuku juga. Kamu ikut Mommy, ya.”
Laura menelan ludah. Ia melangkah masuk dengan hati-hati.
Begitu masuk, ia langsung disambut aroma harum yang berbeda dari sebelumnya. Tidak seperti makanan di mall, aroma ini lembut dan menenangkan, tapi juga asing. Suara alat-alat berbunyi, percakapan ringan, dan suara air mengalir bercampur menjadi satu.
Matanya bergerak ke sana kemari. Ia melihat seseorang sedang duduk dengan rambut dililit alat panas, ada yang rambutnya dicuci, ada yang wajahnya diolesi krim.
Laura langsung membeku di tempat.
“Apa mereka… baik-baik saja?” bisiknya pelan.
Martin, yang berada di sampingnya, langsung menutup wajahnya dengan tangan, jelas frustrasi. “Ya ampun, Laura… mereka tidak disiksa. Itu perawatan!”
Laura mengerutkan dahi. “Perawatan?”
Nyonya Quenza menggandeng tangannya dengan lembut. “Iya sayang. Supaya terlihat lebih rapi dan segar. Ini hal biasa untuk wanita.”
Laura masih terlihat ragu, tapi ia mengikuti langkah Nyonya Quenza. Ia duduk di kursi yang empuk, matanya masih memperhatikan sekitar dengan waspada.
Seorang pegawai salon datang dengan senyum ramah. “Mau perawatan apa, Nyonya?”
Nyonya Quenza tersenyum anggun. “Seperti biasa. Dan untuk Laura… mungkin perawatan ringan saja.”
Laura langsung menegang. “Perawatan? Apa yang akan mereka lakukan?”
Martin menatapnya tajam. “Tenang saja. Tidak ada yang aneh. Kamu tidak akan berubah jadi monster.”
Laura mencebik pelan. “Aku tidak takut jadi monster.”
Martin mengangkat alis. “Lalu?”
Laura terdiam sejenak. Ia tidak bisa menjawab dengan jujur.
Ia hanya berkata pelan, “Aku hanya tidak terbiasa… disentuh orang asing seperti ini.”
Nyonya Quenza tersenyum lembut. “Tidak apa-apa. Kamu akan terbiasa. Mereka profesional.”
Laura menarik napas panjang. Ia mencoba menenangkan diri.
Saat rambutnya mulai disentuh dan dirapikan, ia sempat kaku. Tangannya mengepal kecil di pangkuannya. Namun perlahan… ia mulai terbiasa. Sentuhan itu tidak menyakitkan, justru terasa menenangkan.
Ia menatap cermin di depannya. Pantulan wajahnya terlihat berbeda—lebih lembut, lebih hidup.
Untuk pertama kalinya, ia melihat dirinya bukan sebagai penyihir… tapi sebagai manusia sepenuhnya.
Martin memperhatikan dari samping, matanya sedikit menyipit. “Nah, begitu. Tidak semua hal di dunia ini menakutkan, kan?”
Laura menoleh sedikit, lalu tersenyum tipis. “Tidak semuanya… tapi tetap membingungkan.”
Martin mendengus pelan, tapi tidak berkata apa-apa lagi.
Waktu berjalan perlahan. Suasana salon yang awalnya terasa asing kini mulai terasa… nyaman.
Laura menyadari sesuatu. Dunia manusia memang penuh hal aneh, rumit, dan membingungkan. Tapi di balik itu semua, ada hal-hal kecil yang tidak bisa ia temukan di dunia sihir—kelembutan, perhatian, dan cara manusia merawat diri mereka dengan sederhana.
Ia menatap pantulan dirinya sekali lagi.
Dan dalam diam, ia berpikir…
Mungkin… menjadi manusia tidak seburuk yang ia bayangkan.