NovelToon NovelToon
PENGANTIN ARWAH

PENGANTIN ARWAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lilack Sunrise

Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

lanjutan

Udara di luar lift terasa berbeda lebih berat, seolah setiap tarikan napas membawa sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa dia kenali. Kirana berdiri di ambang pintu, ragu, sebelum akhirnya melangkah keluar. Lantai di depannya gelap dan retak, seperti semen yang belum pernah benar-benar selesai mengering. Aroma dupa yang tadi hanya samar kini menempel di tenggorokannya, hangat sekaligus getir. “Kamu bisa keluar.” Suara itu muncul lagi, tenang, hampir seperti seseorang yang sudah lama menunggu. Kirana menoleh, dan di pantulan dinding lift, dia melihat lorong lain lebih panjang, lebih dalam dan sosok itu berdiri di sana, sejajar dengannya, tidak lagi sekadar bayangan yang kabur. “Apa ini?” tanyanya pelan. “Tempat yang kamu pilih.” Jawaban itu datang tanpa tekanan, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa sesak. Sebelum Kirana sempat berpikir lebih jauh, pintu lift di belakangnya menutup dengan bunyi pendek. Saat dia menoleh, lift itu sudah tidak ada. Hilang, seolah tidak pernah menjadi bagian dari ruang ini. Di hadapannya, lorong membentang dengan dinding yang tidak rata, dipenuhi fragmen-fragmen kecil seperti layar yang berkedip lemah. Kirana melangkah mendekat ke salah satunya, dan di dalamnya dia melihat dirinya sendiri duduk di meja kerja, menatap layar laptop dengan ekspresi kosong. Gerakan itu terasa sedikit tertunda, seperti rekaman yang tidak sinkron. Kirana mengangkat tangannya secara refleks, tapi bayangan itu tidak langsung mengikuti. Ada jeda yang terlalu lama untuk diabaikan. “Aku… ada di situ?” suaranya nyaris hilang. “Karena itu yang kamu inginkan,” jawab sosok di belakangnya. Kirana berbalik. Kali ini sosok itu lebih jelas. Wajahnya masih seperti tertutup lapisan tipis yang mengaburkan detail, tapi matanya tatapan itu terasa terlalu akrab. “Kamu siapa?” Sosok itu tersenyum tipis, bukan senyum yang menenangkan, tapi juga bukan ancaman. “Aku bagian yang kamu tinggalin.” Dia melangkah mendekat, tanpa suara. “Bagian yang terlalu banyak merasa.” Pergelangan tangan Kirana berdenyut tiba-tiba, lebih kuat dari sebelumnya. Panas menjalar dari bawah kulitnya, dan tanpa peringatan, sesuatu melintas di benaknya sekilas tawa, dekat, hangat, seperti pernah mengisi ruang yang kini kosong. Kirana tersentak dan mencengkeram tangannya sendiri. “Apa itu?” “Awal,” jawab sosok itu pelan. Sunyi menggantung di antara mereka, tapi bukan sunyi yang kosong melainkan penuh sesuatu yang belum sepenuhnya muncul. “Kalau aku ingat semuanya?” Kirana bertanya, suaranya lebih kecil, hampir ragu pada pertanyaannya sendiri. Sosok itu kini berdiri hanya satu langkah darinya. “Kamu nggak bisa pura-pura lagi.” Sebuah fragmen lain di dinding berkedip lebih terang. Kirana menoleh. Kali ini bukan kantor. Sebuah ruangan sempit muncul di dalamnya, dan di sana dia melihat dirinya sendiri, berdiri terlalu dekat dengan seseorang. Tangannya mencengkeram lengan orang itu terlalu erat. Gerak bibirnya cepat, mendesak, seperti takut kehilangan sesuatu yang tidak bisa dia tahan. Wajah itu… bukan wajah yang dia kenal. Ada sesuatu yang lebih tajam di sana. Lebih lapar. Fragmen itu padam. Kirana tetap berdiri, napasnya tidak stabil, tapi kakinya tidak mundur. Untuk pertama kalinya, dorongan untuk lari tidak datang. “Ada lebih banyak,” kata sosok itu, hampir seperti bisikan yang tidak ingin mengganggu keputusan yang sedang terbentuk. Kirana menutup matanya sejenak, merasakan sisa panas di pergelangan tangannya, lalu membukanya kembali. Kali ini, tanpa ragu, dia melangkah lebih dalam ke lorong itu.

1
Dania
semangat tor
byyyycaaaa
keren,lanjutkan thorr
no more dreams
bagusssssss
Na Er
bagus
byyyycaaaa
lanjut dong thor
CIngakuu🦁: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!