NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

‎Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.

Tapi dunia berkata lain.

‎Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.

‎Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.

‎Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.

‎Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: After Event

Di ruang istirahat belakang panggung, suasana lebih tenang meski masih terdengar samar riuh tepuk tangan dan sorakan dari auditorium utama. Aroma parfum mahal bercampur dengan cahaya lampu temaram menciptakan atmosfer elegan, jauh berbeda dengan sorotan kamera di depan tadi.

Para pemenang lain sibuk berpose untuk dokumentasi tambahan, sebagian lagi larut dalam percakapan hangat dengan kolega masing-masing. Dan sisanya duduk di ruang istirahat itu sama seperti Nala dan Davin.

Nala berdiri agak menyendiri, jemarinya masih mencengkeram piala kristal dengan erat. Permukaan dingin benda itu seakan menyalurkan ketegangan yang belum juga mereda dari tubuhnya. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, seolah mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua ini bukan sekadar mimpi.

Davin muncul di sampingnya dengan ekspresi nakal khasnya. Dari tadi ia mengikuti setiap gerak-gerik Nala, menyaksikan betapa sahabat sekaligus penulis yang dibimbingnya itu baru saja membuat sejarah kecil di panggung internasional. Namun, bukannya memberi pujian secara langsung, Davin lebih memilih untuk membuka percakapan dengan nada menggoda.

“Wajahmu merah sekali,” bisiknya seraya mencondongkan tubuh, “benar-benar tampak seperti seseorang yang baru saja dipanggil oleh calon suami di depan umum.”

Senyum geli mengembang di bibirnya, setengah tertahan agar tidak pecah menjadi tawa lepas. Nala sontak menunduk, menutupi sebagian wajahnya dengan tangan.

“Calon suami apa? Jangan sembarangan bicara. Aku hanya… aku hanya masih tidak menyangka bisa berdiri di sana. Rasanya jantungku mau copot,” ucapnya lirih dengan nada gemas penuh protes.

Davin tidak menyerah. Ia menyilangkan tangan di dada, tatapannya menyipit penuh selidik.

“Ayolah, Nala. Aku melihat jelas bagaimana tanganmu bergetar saat menerima penghargaan itu darinya. Idol sekelas Kim Namjunho membaca bukumu, menyebut namamu di hadapan dunia… siapa yang tidak akan kehilangan kendali?” tanya nya sembari mengangkat alis menggoda, pipi Nala kian memanas, seolah api kecil baru saja dinyalakan.

Ia buru-buru mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah, berusaha menghalau rasa malu yang kian menjadi-jadi.

“Itu karena aku gugup, Mas. Ya Tuhan, jangan dibuat berlebihan seperti itu. Aku sudah cukup ingin menghilang tadi,” ujar nya yang membuat Davin makin semangat menggoda.

“Gugup? Kalau itu namanya gugup, aku tidak ingin tahu bagaimana ekspresimu kalau dia mengajak bicara lebih dari sekadar senyum kecil,” balas Davin, kali ini tawa kecil lolos dari bibirnya.

Meski terus digoda, sorot mata Davin diam-diam menyiratkan kebanggaan. Ia menyaksikan pidato singkat Nala dari awal hingga akhir, mendengar dengan jelas saat namanya disebut sebagai editor penerbit.

Ada rasa hangat mengalir di dadanya, sebuah pengakuan tak terucap bahwa kerja keras keduanya akhirnya terbayar. Ia merendahkan suara, nadanya kini lebih lembut.

“Tapi jujur, kau melakukannya dengan sangat baik. Meski terbata di awal, kau berhasil membuat semua orang terdiam, mendengar. Itu hal yang tidak semua penulis bisa lakukan. Aku bangga padamu Nala,” ujar nya sembari mengusap kepala Nala, hal itu membuat Nala terdiam sesaat, lalu tersenyum kecil, malu-malu tapi tulus.

Belum sempat ia membalas, terdengar suara pintu terbuka. Beberapa staf agensi masuk, diikuti sosok jangkung dengan aura yang sulit diabaikan. Kim Junho.

Nala sontak menunduk. Ia tidak ingin terlihat berlebihan, apalagi seperti penggemar yang terobsesi. Namun langkah-langkah itu mendekat.

“Miss Nala?” suara bariton itu terdengar rendah, sedikit serak namun tegas.

Nala mendongak perlahan. Junho berdiri di depannya, menatap dengan sorot mata yang sulit diartikan—campuran rasa ingin tahu dan ketertarikan profesional.

“I… yes?” Nala menjawab dalam bahasa Inggris, lalu buru-buru menambahkan. Junho mengangguk, senyum tipis di bibirnya.

“Your story… it was beautiful. Honest. (Ceritamu… indah sekali. Jujur.)" Ucap sembari tersenyum tipis namun langsung memperlihatkan lesung pipinya. Nala terdiam sejenak, lalu menunduk.

“Thank you. I didn’t expect it to be chosen. (Terima kasih. Saya sama sekali tidak menyangka karya saya dipilih.)" jawab Nala dengan nada masih gemetar.

Sementara Davin hanya diam memperhatikan interaksi itu dengan wajah tenang nya, Junho menatap lebih lama, seolah ingin membaca isi kepalanya.

“Sometimes the most unexpected words… are the ones that heal the most. (Kadang kata-kata yang paling tak terduga… justru yang paling menyembuhkan.)" dia berhenti lalu menatap kearah Davin dan para pemenang lain yang tengah sibuk dengan aktivitas nya masing-masing ada jeda hening di antara mereka.

Nala menelan ludah, lalu buru-buru menoleh ke Davin, berharap sahabat sekaligus editornya itu menolongnya keluar dari situasi canggung. Namun, Davin malah tersenyum nakal, sengaja mundur setengah langkah, seolah menikmati pemandangan di depannya. Junho menyadarinya. Ia menoleh sekilas pada Davin, lalu kembali menatap Nala.

“I hope… we can talk more during the dinner. (Saya harap… kita bisa bicara lebih banyak nanti saat jamuan makan malam.)” lanjutnya, sebelum akhirnya melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari Nala, dikelilingi staf dan panitia.

Aura kehadirannya masih tertinggal, seperti jejak hangat yang menolak hilang, membuat jantung Nala berdebar tak karuan.

“Kau terlalu canggung. Dia jadi malu,” ujar Davin berbisik pelan di dekat telinga Nala, membuat gadis itu menoleh cepat.

“Benarkah? Tapi aku hanya gugup. Aku tidak tahu harus bicara apa,” ujar Nala sembari menunduk, jemarinya saling meremas gelisah, seolah merasa bersalah karena sikapnya mungkin menyinggung Junho.

Davin tersenyum samar, senyum jahil yang sulit disembunyikan, lalu mengangguk pelan.

“Iya… sebagai laki-laki, aku mengerti bagaimana reaksi laki-laki lain ketika tersinggung. Ya, seperti itu,” katanya santai, nada suaranya setengah menggoda.

Nala langsung menatapnya serius, wajahnya berubah panik.

“Aku sungguh tidak bermaksud. Ya ampun, aku hanya malu,” ujar Nala lirih.

Bagaimana mungkin ia tidak gugup? Pria yang selama ini ia sebut bias—yang hanya bisa ia pandangi lewat layar tanpa pernah berharap bertemu—kini berdiri nyata di hadapannya. Bahkan, dialah yang menyerahkan penghargaan itu langsung ke tangannya.

“Kau terlalu berlebihan. Dia manusia juga, Nal. Hanya kebetulan manusianya terkenal,” Davin menyeringai.

Nala terkekeh kecil, meski hatinya masih diliputi rasa campur aduk: kaget, kagum, dan sedikit… penasaran. Bukan cinta, bukan pula ketertarikan instan, melainkan benih rasa ingin tahu yang pelan-pelan tumbuh—rasa yang diam-diam menuntut jawaban.

════ ⋆★⋆ ════

Waktu berlalu begitu cepat. Nala yang awalnya enggan kembali akhirnya memutuskan pulang lebih dulu ke hotel tempatnya menginap. Acara jamuan makan malam ternyata baru dimulai nanti malam, dan ia serta Davin kembali bersama.

Dengan senyum yang belum juga pudar, Nala masuk ke kamar tanpa mengganti pakaian atau menghapus riasannya. Gaun yang masih melekat di tubuhnya seolah menjadi pengingat bahwa semua yang terjadi hari ini bukan mimpi. Ia meletakkan trofi itu perlahan di atas meja, menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu segera menghubungi adiknya.

Panggilan berdering cukup lama hingga akhirnya wajah Alya muncul di layar video.

“Mah! Si teteh nelepon!” teriak Alya girang.

Tak lama, wajah kedua orang tuanya ikut terlihat.

“Nala, ya ampun. Dari semalam kami tunggu kabarmu. Sekarang di mana? Sudah sampai Korea?” tanya sang ibu dengan wajah cemas yang belum sepenuhnya hilang.

“Sudah, Ma. Bahkan aku sudah menghadiri acara penghargaan tadi,” jawab Nala sambil tersenyum lebar. Ia berhenti sejenak, menahan sesuatu yang masih sulit dipercaya. “Kalian tahu apa yang membuat ku terkejut?”

Kedua orang tuanya dan Alya terdiam, menunggu dengan penuh rasa penasaran.

“Orang yang menyerahkan trofi penghargaan itu… Junho,” lanjutnya pelan.

Seisi layar mendadak hening, seolah mencoba mencerna nama itu.

“Junho siapa, Nyi?” tanya ibunya, berusaha mengingat.

“Itu loh, Ma, idolanya si teteh. Sebentar!” Alya tiba-tiba menghilang dari layar. Beberapa detik kemudian, ia kembali sambil membawa sebuah foto berbingkai dari kamar Nala. Ia mengangkatnya mendekat ke kamera. “Yang ini, kan, Teh?”

“Iya, betul. Ya ampun, Ma, Pa… aku sampai gemetar waktu menerima penghargaan itu.” Nala mengangguk cepat, matanya berbinar. Senyum bangga langsung terukir di wajah kedua orang tuanya.

“Sekarang kamu di mana?” tanya sang ayah akhirnya ikut bersuara.

“Di hotel. Kami pulang sebentar buat istirahat. Nanti malam balik lagi ke acara jamuan makan,” jawab Nala.

Ia lalu memutar kamera, mengajak keluarganya berkeliling secara virtual. Nala menunjukkan setiap sudut kamar—ranjang besar, meja kerja, jendela tinggi—hingga akhirnya berhenti di balkon.

Ia mengarahkan kamera ke luar, memperlihatkan pemandangan Seoul di sore hari: gedung-gedung menjulang, langit berwarna jingga pucat, dan lampu kota yang mulai menyala satu per satu.

Mereka masih asyik mengobrol ketika tiba-tiba pintu kamar diketuk beberapa kali. Nala menoleh, lalu berjalan membukanya. Begitu pintu terbuka, Davin berdiri di sana dengan senyum hangat.

“Nala, aku mau pesan makanan. Kamu mau sekalian?” tanyanya santai, Nala mengangguk.

“Boleh. Mas pesan saja. Nala ikut selera Mas,” jawab Nala.

Davin tersenyum, lalu sedikit mendekat ke arah kamera. Ia melambaikan tangan kecil, sekadar menyapa orang tua Nala dengan sopan.

Tak lama setelah itu, Nala dan Davin memutuskan turun ke restoran hotel untuk makan sore. Mereka baru sadar sejak siang belum mengisi perut sama sekali.

Di meja makan, obrolan mereka mengalir ringan namun penuh makna. Mereka membicarakan banyak hal—tentang langkah selanjutnya, tentang peluang yang baru saja terbuka, hingga film yang akan segera digarap.

Nala mendengarkan dengan mata berbinar, sesekali mengangguk pelan. Dalam hati, ia hanya punya satu harapan: semoga semua yang dimulai hari ini berjalan lancar, dan berakhir seindah yang ia bayangkan.

☾ ── ❖ ── ☾

Malam turun lebih cepat dari dugaan. Langit Seoul berpendar dengan lampu kota yang berkelip, jendela kamar hotel Nala memantulkan cahaya neon yang menembus tirai tipis. Sejak sore, setelah makan bersama Davin di restoran hotel, Nala sama sekali tidak bisa diam.

Ia mondar-mandir di dalam kamar, membuka koper, menggantung gaun-gaunnya, lalu mencoba satu per satu dengan ekspresi resah di depan cermin.

Bagi orang lain mungkin semua gaun itu tampak indah, namun bagi Nala, malam ini segalanya terasa salah.

“Semua ini… tidak cocok. Seolah tubuhku menolak,” gumamnya dengan nada frustasi, menatap bayangan dirinya yang tampak berbeda dari biasanya.

Pada akhirnya, setelah hampir kehabisan energi, ia menjatuhkan pilihan pada sebuah gaun panjang berwarna gelap dengan potongan anggun. Bagian atasnya sedikit terbuka, menampilkan garis bahu yang lembut, namun tetap terjaga sopan dengan tali halus yang menyangga. Gaun itu jatuh mengikuti siluet tubuhnya dengan elegan, menciptakan kesan klasik tanpa berlebihan.

Untuk menyempurnakan, Nala mengenakan sepasang anting mungil berbentuk tetesan kristal dan kalung tipis dengan liontin kecil. Tidak mencolok, tapi cukup untuk memberi kilau sederhana yang menenangkan hatinya. Rambutnya ia biarkan terurai lembut, hanya disisir rapi dengan sedikit gelombang alami.

Saat akhirnya keluar dari kamar hotel, Davin sudah menunggunya di lobi dengan jas hitam yang pas di tubuh. Begitu melihat Nala melangkah keluar dari lift, ia sempat terdiam sejenak sebelum mengangkat alisnya nakal.

“Wow... Kamu terlihat begitu niat, Nala. Kalau kau terlihat seperti ini, aku mulai mengerti kenapa Junho sempat melirikmu di panggung tadi,” ujarnya sambil menyapukan pandangan dari ujung rambut hingga ujung gaun.

Nala mendengus pelan, pipinya kembali terasa panas.

“Mas, berhenti bicara yang aneh-aneh. Kita hanya menghadiri jamuan makan malam, bukan pesta dansa kerajaan,” ujar nya yang sudah malu karena sedari siang Davin terus menggoda nya.

“Percayalah, dengan penampilanmu malam ini, kau bisa saja membuat pesta itu berubah jadi milikmu sendiri,” balas Davin sambil tersenyum geli.

Ia lalu menawarkan lengannya dengan gaya formal, setengah bercanda, setengah serius. Nala sempat menatapnya ragu, tapi akhirnya tersenyum tipis dan menerima, membiarkan dirinya dibawa keluar menuju mobil yang sudah menunggu.

— ❖❦ ❦ ❦❖ —

Perjalanan singkat dari hotel menuju gedung perjamuan terasa penuh kilau lampu kota. Dari balik kaca jendela mobil, Nala menatap kerlap-kerlip Seoul di malam hari—semuanya terasa begitu surreal. Jemarinya kembali menggenggam erat tangan nya sendiri jelas rasa gugupnya belum benar-benar hilang.

Dan ketika mobil berhenti di depan gedung yang sama, di mana beberapa jam lalu ia menerima penghargaan, jantung Nala kembali berdetak lebih cepat. Kini bukan lagi sorot lampu panggung yang menunggu, melainkan tatapan dan percakapan dalam jamuan malam, di mana jarak antara dirinya dan Junho bisa saja mengecil… atau justru terasa makin jauh.

Mereka turun dari mobil bersamaan lalu masuk dengan tenang, lampu-lampu kristal berkilau di langit-langit ballroom, memantulkan cahaya lembut ke meja-meja panjang berlapis kain putih. Para pemenang duduk bersama juri, perwakilan agensi, dan tamu undangan penting. Musik klasik mengalun pelan, memberi suasana elegan.

Nala duduk agak kaku di kursinya, dengan Davin di samping yang tampak jauh lebih santai. Sesekali melirik ke sekeliling, mata polos nya seolah mengamati seluruh isi ruangan yang penuh dengan orang-orang yang sebenarnya sangat asing kecuali Davin sendiri.

Pria itu tampak sibuk dengan ponselnya hingga tak lama kemudian, kursi di hadapannya ditarik. Nala mendongak—dan mendapati  Kim Namjunho, dengan jas navy sempurna dan tatapan yang kali ini lebih lembut dibandingkan di backstage tadi.

“May I? (Boleh aku duduk?)" tanyanya dalam bahasa Inggris, Nala langsung mengangguk.

“Of course. (Tentu saja.)" Nala menjawab gugup tapi tangan nya terulur mempersilahkan pria itu duduk di sampingnya.

Junho duduk sedikit memberikan jarak supaya tidak terlalu dekat karena tahu banyak kamera yang mengamati dan itu bisa saja jadi rumor, dia  memberi isyarat singkat pada staf untuk membiarkan mereka. Setelah beberapa detik hening, ia mencondongkan tubuh sedikit.

“You’re from Indonesia, right? (Kamu dari Indonesia, kan?) " Ujar nya memulai pembicaraan, dan Nala mengangguk cepat.

“Yes.” Nala tersenyum kecil. “Jakarta now, but I was born in Sukabumi, West Java. (Sekarang tinggal di Jakarta, tapi saya lahir di Sukabumi, Jawa Barat.)" lanjut nya yang membuat mata Junho menyipit tipis, seolah menyimpan detail itu.

“Interesting… I’ve never been there. (Menarik… aku belum pernah ke sana.)" Jelas nya , namun percakapan berhenti sejenak ketika pelayan meletakkan hidangan pembuka. Nala meraih garpu, tapi Junho kembali berbicara, kali ini nadanya lebih serius.

“Your story… it felt… raw. Like you didn’t try to impress anyone. Where did it come from? (Ceritamu… terasa mentah. Seperti kamu tidak berusaha mengesankan siapa pun. Dari mana datangnya inspirasi itu?)" Pertanyaan itu membuat Nala menelan ludah. Ia menatap piringnya sejenak sebelum menjawab, suaranya rendah tapi mantap.

“I just wrote about loneliness. About… feeling like the world doesn’t want you. It’s something I’ve known for a long time. (Aku hanya menulis tentang kesepian. Tentang… perasaan bahwa dunia tidak menginginkanmu. Itu sesuatu yang sudah lama aku kenal.)" jawab Nala pelan meskipun ragu dia menatap manik pria yang ada di depannya itu, Junho terdiam, matanya menatap dalam, seolah kalimat itu mengenai dirinya juga.

Ada jeda yang lebih panjang dari biasanya sebelum ia kembali bicara.

“I see… no wonder it felt real. (Pantas saja terasa nyata.)" Puji nya yang membuat Davin, yang sedari tadi hanya jadi pendengar, tersenyum kecil, lalu pura-pura sibuk dengan makanannya, membiarkan mereka.

Jun-ho bersandar di kursi, namun matanya tetap tidak lepas dari Nala.

“I don’t usually say this but… your words reminded me of my own struggles. Different field, same cage. (Aku jarang mengatakan ini, tapi… kata-katamu mengingatkanku pada perjuanganku sendiri. Bidang berbeda, tapi kurungan yang sama.)" jelas nya yang membuat Nala sedikit lebih tenang tidak segugup tadi, dia terdiam, terkejut.

Ia tak menyangka seorang bintang dunia bisa berbicara dengan jujur seperti itu padanya.

“I… didn’t expect you’d feel that way. (Aku tidak menyangka kamu juga merasa begitu.)" jawab Nala yang membuat Jun-ho tersenyum samar, nyaris pahit.

“Fame doesn’t kill loneliness. Sometimes it makes it worse. (Ketenaran tidak membunuh kesepian. Kadang malah membuatnya lebih buruk.)" ujar Junho menatap lekat Nala seolah tengah menilai wanita itu dari atas hingga bawah, dan tanpa sadar sudut bibirnya terangkat tipis, begitu tipis hingga mungkin taada siapapun yang menyadari nya termasuk Nala sendiri.

Junho mengambil pisau dan garpu nya lalu mulai menyantap dessert itu dengan santai dan berwibawa, percakapan mereka berlanjut. Jun-ho bertanya banyak hal: tentang rutinitas Nala menulis, siapa penulis idolanya, bagaimana ia melihat dunia sastra Indonesia, bahkan sampai hal kecil seperti kebiasaan menulis tengah malam.

Nala menjawab dengan jujur, kadang dengan gugup, tapi tetap menampilkan ketulusan yang membuat lawan bicaranya semakin terikat. Di akhir jamuan, Jun-ho menatapnya sekali lagi.

“I hope this is not the last time we talk. Maybe… there’s something we can create together.  (Aku harap ini bukan kali terakhir kita bicara. Mungkin… ada sesuatu yang bisa kita ciptakan bersama.) " ujar nya sembari tersenyum manis.

Hal itu membuat Nala menatapnya, bingung sekaligus penasaran. Ia tidak tahu maksud kata-kata itu. Namun satu hal pasti—malam itu menanamkan percikan pertama, sesuatu yang akan perlahan-lahan tumbuh jauh lebih besar dari sekadar pertemuan singkat di jamuan penghargaan.

1
Araya
drama banget sih orang' tuanya Junho 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ramapratama
Bau bau romansa nya udah kecium 🤣🤣🤣 tapi salut deh sama arc nya mind-blowing banget, biasanya kalau cerita idol idol gini arc nya paling mentok, ketemu tiba-tiba lalu jatuh cinta atau kalau gak. gak sengaja nabrak terus salah satunya suka, tapi Yan ini ada alasan logis nya. keren banget, semangat ya💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!