Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.
Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.
Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Ruangan yang awalnya ramai perdebatan antara Arga dan Kartini mendadak sunyi. Ketika suami istri itu mendengar permintaan kakek untuk bulan madu.
Wajah kakek berseri-seri melihat cucunya sudah menikahi Kartini. Tapi sayangnya ia belum memberi kesempatan mereka untuk bulan madu. Kakek merasa bersalah karena kondisi tubuhnya waktu Kartini dihabiskan untuk merawatnya.
"Maaf ya, Kek. Tidak sekarang," Kartini menjawab tegas.
"Kalian tidak boleh menolak hadiah dari Kakek," Kakek Chandresh menyerahkan sebuah amplop tebal berwarna emas kepada Arga.
Arga menerima amplop itu dengan ragu, lalu membukanya perlahan. Matanya membelalak saat melihat isi di dalamnya. Dua tiket pesawat ke Maladewa, lengkap dengan voucher menginap di hotel mewah selama seminggu.
"Gunakan waktu ini sebaik-baiknya Arga. Ayah dan Ibumu pasti sudah menginginkan cucu," kakek menatap Arga dan Kartini yang hanya diam terpaku.
Mereka saling pandang, wajah masing-masing berubah merah mendengar tentang cucu. Mulut Kartini terbuka tapi tak ada kata yang keluar. Dia bingung. Bagaimana bisa, dirinya dan Arga pergi bulan madu? Padahal pernikahan ini hanya kontrak. Dan yang lebih parah, keluarga Chandresh menginginkan seorang cucu yang sejauh ini tidak terpikirkan oleh Kartini.
Sementara Kenzo yang ikut mendengarkan tersenyum menatap wajah Arga yang tampak kebingungan untuk menjawab permintaan kakeknya. Ia selama ini tidak bodoh, selalu berpikir bahwa Arga menikahi Kartini hanya demi jabatan. Kenzo sudah tahu benar siapa Arga, pria itu setiap memilih wanita bukan karena hatinya melainkan menilai dari fisik dan penampilan. Ada rasa ingin membongkar rahasia besar ini tapi Kenzo tidak tega kepada Kakek.
"Kami belum merencanakan ini, Kek..." Arga akhirnya Angkat bicara, sebisa mungkin untuk tidak gugup di hadapan kakek
"Kenapa Arga, jangan buang kesempatan ini," kakek tidak percaya cucunya itu menolak secara halus.
. "Aku masih menangani beberapa proyek yang belum selesai Kek."
Dalam hal ini Arga tidak berbohong dan ia jadikan alasan untuk menolak permintaan kakeknya.
"Benar, Kek. Saya juga belum bisa meninggalkan Kakek," Kartini menimpali.
"Sudah... terima saja Abang. Kalau masalah proyek, serahkan saja anak buah. Takut amat saya ambil sih?!"
"Diam loe! Jangan ikut campur!" Arga mendelik merah.
"Benar kata Kenzo, Ar. Pekerjaan bisa ditunda. Bulan madu itu momen yang tak boleh kamu lewatkan. Kalian berdua baru saja menikah, harusnya menghabiskan waktu untuk berdua. Lagi pula Kakek sudah bayar semuanya, tidak bisa dibatalkan lagi."
Arga mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa panas. Bulan madu dengan Kartini? Masih tidak masuk akal. Tentu saja ia tidak ingin melewatkan bulan madu tapi kelak bersama Nadine.
"Sudah, jangan banyak alasan," potong Kakek Chandresh. "Kalian berdua harus siap-siap. Kakek ingin melihat kalian pulang dengan wajah bahagia," pungkas kakek.
Kakek melirik Kenzo mengisyaratkan agar mengantarkan ke mobil. Kakek memberi waktu Arga dan Kartini untuk berpikir.
Kenzo mengerti maksud kakek seketika berdiri, bersamaan dengan itu Kartini pun ingin mendorong kursi roda.
"Biar saya saja, Kakak Ipar."
Kartini kembali duduk. Begitu Kakek pergi, ia menoleh ke arah Arga yang masih tampak berpikir. "Bos, tidak mungkin kan kita bulan madu? Bagaimana jika selama seminggu besok aku pulang saja," usul Kartini terpaksa. Ia sebenarnya tidak bermaksud berbohong, waktu bulan madu akan ia gunakan untuk menengok kedua adiknya. Selama satu tahun hanya kirim uang dan kirim kabar lewat telepon, tentu saja ia kangen.
Tuk!
"Duh, sakit Bos," Kartini memegangi dahinya yang Arga sentil.
"Kenapa jadi bodoh, kamu pikir Kakek tidak bisa melacak keberadaan kita," Arga menghela napas panjang.
"Terus bagaimana? Saya yakin, Bos juga keberadaan bukan?" Kartini yakin Arga tidak mungkin meninggalkan Nadine selama seminggu.
"Sebaiknya kita ikuti perintah Kakek, sekaligus kita jalan-jalan. Hanya seminggu, kan? Setelah itu kita kembali seperti biasa. Kita harus bisa menjaga rahasia ini untuk Kakek," kata Arga mencoba menenangkan Kartini, meski hatinya sendiri juga merasa bersalah kepada Nadine.
"Tapi, Bos tidak mengajak Nadine ikut kan?" Kartini khawatir hal seperti ini terjadi. Jika di Indonesia, Kartini tidak akan masalah jalan sendirian. Sedangkan di negeri orang ia belum tahu seluk beluk takut jika Arga mengabaikan dan justru jalan-jalan bersama Nadine.
"Tidak, jangan khawatir."
"Baiklah," Kartini akhirnya setuju.
Suami istri itupun akhirnya memutuskan minggu depan sepakat berangkat ke Maladewa, tentu bukan bulan madu melainkan jalan-jalan.
"Tunggu sebentar, aku mau ambil berkas," Arga meninggalkan Kartini ke salah satu ruangan hendak ambil rincian pengeluaran untuk acara Gala Dinner malam ini.
"Eh, Gak? Kamu belum pulang?" Tanya teman Arga yang kebetulan bekerja sebagai menejer di gedung dua.
"Sudah mau pulang tapi ada yang ketinggalan, Ben" Arga mengajak masuk pria yang bernama Beni itu ke ruangan. Ruangan itu pun milik Arga bila sedang berada di gedung dua.
"Duduk dulu Ben, kalau mau minum ambil sendiri," Arga menunjuk lemari pendingin yang berada di ruang itu.
"Aku sudah kenyang sekali, makan banyak soalnya," Beni pun turut hadir diacara Gala Dinner. "Ruangan kamu luas juga ya Ga," lanjut Beni mengedarkan pandanganya ke seluruh ruangan.
"Ruangan kamu di kantor ini kan juga besar, Ben," jawab Arga sambil mengangkat dokumen dari laci lalu ambil beberapa yang akan ia bawa pulang.
Beni menatap foto wanita yang jatuh dari map ke atas meja. Ia ambil foto tersebut kemudian memperhatikan seksama. "Foto siapa ini Ga, sepertinya aku familiar," Beni mengingat-ingat sepertinya pernah melihat wanita gemuk itu.
"Jelas tidak asing Ben, di acara tadi kamu pasti melihatnya," jawab Arga menatap foto Kartini di tangan Beni sekilas, lalu memasukkan berkas ke dalam tas.
"Oh, iya. Wanita yang kamu kasih potongan tumpeng tadi kan? Wah, sepertinya kamu ada rasa sama dia, rupanya diam-diam kamu menduakan Nadine," gurau Beni.
"Jelas dong. Nadine itu wanita yang bisa aku banggakan di ruang publik. Sedangkan wanita yang di foto itu. Wanita sholehah yang pandai mengurus rumah, memanjakan perutku, dan nenjadi guru untuk anak-anak di masa depan."
"Hah? Gila kamu! Jadi ada keinginan poligami?" Beni terkejut mendengarnya.
"Oh tidak-tidak. Aku bergurau Ben. Hahaha..." Arga tertawa lebar lalu mengajak Beni keluar ruangan dan berpisah di lorong-lorong gedung. Tiba di tempat semula, Kartini masih setia menunggu.
"Lama sekali Bos, Kakek pasti kelamaan menunggu kita."
"Iya, sekarang kita keluar," Arga berjalan terburu-buru. Kartini mengikuti.
"Terima kasih ya, Bos," ucap Kartini tiba-tiba.
"Terima kasih?" Agar menghentikan langkahnya menatap Kartini bingung.
"Terima kasih karena Bos sudah memberi saya hadiah," ujarnya dengan mata berbinar-binar ingat kalung emas yang saat ini ia simpan di dalam tas. Arga ternyata tidak sekaku yang Kartini kira.
"Sudah saya katakan, saya tidak tahu tentang kalung itu karena bukan saya yang meletakkan," jawab Arga sambil berlalu.
"Ya sudah, besok kalung ini akan saya sumbangan ke masjid saja."
"JANGAN!" Arga tersentak.
...~Bersambung~...
lnjut kk👍
siapa.tuh yg datang jangan bilang itu Nadine yah
atau....gundik mu Arga...🤣🤣🤭🤭🤭 entahlah hy emak yg tau
kenzo?
nadine?
siapa sih thorr bikin penasaran aja 🤭
dia bisa...msk mobil kmu aj GK bisa...🤣🤣🤭