Dalam sekejap identitas pribadinya diganti oleh kekasih suaminya. Ia dituduh melakukan berbagai kejahatan.
Kejahatan apa yang dituduhkan oleh kekasih suaminya hingga dirinya harus menebus kejahatan itu dibalik jeruji besi? apakah Kiara mampu melepaskan jeratan permainan orang-orang hebat yang menghancurkan hidupnya dalam sekejap? apakah ada yang bisa membantunya untuk melewati semua ujian hidupnya itu? ikuti cerita gadis cantik nan jenius bernama Kiara...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Pamit
Mendengar ucapan Kiara entah mengapa Billy merasa hatinya sedang berbunga-bunga. Apalagi pikirannya tidak pernah sedikitpun terlewatkan akan sosok Kiara sejak mereka bertemu pertama kali.
"Mengapa kalian sampai bercerai?" tanya Billy penasaran.
"Maaf, alu tidak bisa menjelaskan hubungan kami yang rumit kepada anda tuan. Ini sangat privasi," ucap Kiara yang tidak ingin mengumbar pernikahan kontraknya dengan Evert pada Billy.
"Baiklah. Tidak apa, itu hakmu. Lalu apa rencanamu ke depannya?" tanya Billy merasa akan kehilangan gadis dihadapannya ini.
"Melanjutkan hidupku bersama bundaku. Aku ingin membahagiakannya. Aku ingin kembali bekerja setelah sekian lama merawatnya sakit," tutur Kiara.
"Bagaimana kalau kamu kerja di perusahaanku. Kamu terlihat cerdas dengan bahasa inggrismu yang sangat bagus," puji Billy.
"Terimakasih untuk tawarannya tuan. Tapi aku belum bisa memikirkannya saat ini. Aku ingin menenangkan diriku terlebih dahulu baru perlahan bangkit untuk menata hidupku, " sahut Kiara.
"Baiklah. Aku tidak memaksa. Kalau kamu berubah pikiran, tolong pertimbangkan tawaran ku lagi. Ini kartu namaku. Hubungi aku kalau kamu butuh sesuatu...!" Billy memberikan kartu namanya yang selalu ia siapkan di kantong mantel nya setiap kali bertemu kliennya.
Kiara menerima kartu itu lalu menyimpannya di kantong mantelnya tanpa ingin membacanya terlebih dahulu." Terimakasih tuan. Aku mau pamit pada anda. Mungkin besok atau lusa aku akan kembali ke negaraku," ucapan Kiara makin membuat Billy merasa sedih.
Entah mengapa ada yang hilang dalam dirinya. Ingin rasanya ia menculik Kiara dan mengurung gadis cantik itu di kamarnya. Namun melihat sosok Kiara dengan prilaku Kiara yang selalu menjaga batas membuat nyali Billy ciut. Kiara sepertinya sulit tersentuh. Ada aura misterius yang melindungi gadis itu entah apa namanya.
"Kamu akan kembali sendiri atau dengan suamimu?" tanya Billy.
"Sendiri."
"Bolehkah aku antar?" tawar Billy.
"Maafkan saya tuan. Kami sedang dalam proses cerai. Jika seorang istri yang akan dijatuh talak atau cerai dari suaminya tidak boleh keluar rumah atau bergaul dengan pria sampai menunggu masa iddahnya selesai yaitu 3 bulan lebih. Itu berlaku pada agamaku," jelas Kiara.
Billy mengernyitkan dahinya antara sedikit paham dan bingung. Ia berencana ingin mencaritahu penjelasan Kiara barusan di internet.
"Maafkan aku kalau sudah lancang. Baiklah, sekarang kembalilah ke unit kamarmu. Kamu bisa mati beku disini," Billy menyerahkan Tottebag pada Kiara yang menatapnya sesaat lalu menatap mata Billy.
"Ini mantel yang sama dengan yang kamu kenakan hanya model dan warnanya berbeda. Aku sengaja memesannya untukmu. Anggap ini bagian dari kenang kenangan dariku," ucap Billy dan Kiara paham atas niat baik pria tampan yang ada dihadapannya.
"Tapi, aku tidak punya apapun untuk dikasih pada anda tuan," Kiara tertunduk malu.
"Kalau diijinkan aku boleh meminta nomor ponsel anda dan juga alamat tempat tinggal anda di sana," pinta Billy terlihat sangat memohon pada Kiara.
Kiara tersenyum lalu memberikan ponselnya pada Billy yang langsung memasukkan nomornya lalu miscall ke ponselnya. Billy mengembalikan ponsel Kiara. " Terimakasih Kiara. Jaga dirimu dengan baik. Semoga selalu sehat...!" ucap Billy.
"Kalau begitu aku akan kembali ke kamarku tuan," Kiara bangkit berdiri dan Billy mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan Kiara namun Kiara hanya mengatupkan kedua tangannya di dada sebagai bentuk salam dan Billy memahami salah satu bentuk salam itu. " Selamat jalan Kiara...! jam berapa pesawat anda?" tanya Billy.
"Aku belum pesan tiket pesawat. Nanti aku akan kabari tuan," ucap Kiara segera membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu utama apartemen. Namun baru beberapa langkah kemudian Kiara membalikkan tubuhnya lalu mengucapkan sesuatu.
"Terimakasih untuk hadiahnya. Semoga tuan selalu sehat. Aku tidak akan melupakan kebaikan tuan," ucap Kiara lalu tersenyum tulus pada Billy yang cukup tercengang. Gadis itu melambaikan tangannya seakan itu adalah perpisahan yang terakhir baginya.
"Aduhh cantik banget senyumnya," Billy mengusap dadanya dengan kedua tangannya dengan gaya memeluk seakan memeluk Kiara. Ia dibuat mabuk dengan pesona Kiara.
"Tuan, apakah kita akan menginap disini?" tanya sang asisten.
"Iya Marco. Pastikan Anabell baik-baik saja di asramanya, " titah Billy yang mengkuatirkan keponakannya yang masuk sekolah asrama daripada pulang ke rumahnya sejak kedua orangtuanya gadis itu tewas dalam kecelakaan.
"Baik tuan." Keduanya masuk ke dalam apartemen disambut oleh satpam penuh hormat.
"Tuan, aku sengaja mengambil foto nona Kiara dan juga kalian berdua saat kalian asyik ngobrol. Apakah tuan mau melihatnya?" Marco menyerahkan ponselnya pada Billy yang langsung melihatnya. Senyum bahagia itu mewarnai wajah nan tampan Billy.
"Kirim ke nomorku dan kamu tidak boleh menyimpan foto gadisku karena dia milikku..!" titah Billy membuat Marco tersenyum.
"Baik tuan."
Setibanya dikamar, Kiara membuka ponselnya untuk melihat pesan masuk dari kakek Hilman.
"Kiara. Kakek sudah menandatangani berkas pelimpahan perusahaan pada Evert tapi ada kejutan lainnya untuk suamimu itu. Kakek tidak bisa mengatakannya padamu karena ini untuk berjaga-jaga, " tulis kakek Hilman.
"Apa maksud kakek? kejutan apa?" lirih Kiara lalu masuk dalam selimut dan melupakan Evert yang sekarang sedang tidur berdua dengan Amanda.
...----------------...
Keesokan paginya, Kiara sudah menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga. Kali ini Kiara tidak ingin lagi jadi pelayan untuk Amanda dengan alasan apapun. Melihat sikap dingin Kiara, Amanda tidak mau banyak tingkah. Ia makan dengan tenang begitu juga dengan Evert.
"Aku sudah mengirim gugat cerai ke pengadilan agama. Apa yang kamu inginkan sudah aku sampaikan kepada kakek. Nanti malam aku akan kembali ke Indonesia," jelas Kiara.
Evert tersenyum senang. Ia hanya memikirkan keuntungan bagi dirinya bukan tentang gugatan cerai yang diajukan oleh Kiara.
"Terserah kamu saja. Aku sudah menjatuhkan talak padamu karena misiku sudah tercapai. Aku tidak perlu mengantarkanmu ke bandara. Aku bisa memesan taksi untukmu," ucap Evert.
"Aku tidak butuh perhatianmu. Setelah ini jangan pernah hubungi aku karena aku tidak ingin lagi berurusan denganmu," Kiara beranjak pergi menuju kamarnya untuk membereskan kopernya dan memastikan dokumen pribadinya lengkap saat masuk ke bandara nanti.
"Apa pentingnya aku menghubungimu? aku sudah punya calon istriku dan calon bayi kami. Selamat jalan Kiara...! terimakasih untuk kerjasamanya," ucap Evert sebelum Kiara masuk ke kamarnya.
Kiara menutup pintu dengan keras meluapkan kekecewaannya pada Evert.
"Dasar suami tidak bertanggungjawab. Untunglah ini hanya pernikahan kontrak. Apa jadinya aku jika pernikahan ini sungguhan. Benar-benar seperti neraka," batin Kiara.
Kiara mengambil kartu nama milik Billy lalu menghafal nama perusahaan dan sederet alamat perusahaan itu. " Apakah aku harus menghubunginya? rupanya namanya Billy," Kiara tersenyum lalu menyimpan lagi kartu itu di dalam kantong mantelnya. Kiara menulis beberapa kalimat untuk Billy.
Billy yang sedang sarapan membaca pesan dari Kiara. Nama Kiara diganti dengan kekasihku.
"Ayo kita bertemu sebelum kamu pulang...! apakah kamu mau Kiara?" tanya Billy yang terlihat sudah akrab dengan Kiara.
"Maaf tuan. Saya sedang proses cera," ucap Kiara membuat Billy kembali ingat penjelasan gadis itu semalam.
sampe punya anak dan cucu dan alat alat canggihnya yg bs menghilang dll.
aq penggemar author dari cerita nenek amina lupa namanya🤭