NovelToon NovelToon
BATAS 2 TAHUN

BATAS 2 TAHUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:990
Nilai: 5
Nama Author: Ainun masruroh

Aleea nama panggilannya, Putri dari seorang pemilik pesantren yang cukup ramai di kotanya, aleea dikenal ramah dan santun, dia juga mengajar di pesantren milik abahnya namun aleea juga sibuk dengan dunianya sebagai penulis.

Areez seorang ustadz muda yang mengajar di pesantren milik abahnya aleea, tingginya yang semampai dengan badannya yang gagah membuat setiap orang melihat tak berkedip mata. sangat tampan memang tapi areez tidak banyak bicara hanya seperlunya, kecuali abahnya aleea.

Kebanyakan lingkungan pesantren memegang teguh adat dan senioritas, begitupun pesantren milik abahnya aleea. perbedaan umur terkadang seperti jurang yang dalam, rasa sulit untuk mengungkapkan terbatas rasa sopan seringkali menjadi pikiran.yang lebih tua merasa umurnya menghalangi untuk menunjukkan perasaan sedangkan yang lebih muda selalu bersikap sopan, bahkan terasa terlalu sopan hingga sulit di bedakan, entah itu rasa hormat, takdim atau justru menyimpan perasaan lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun masruroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

memilih menetap

Seperti biasa suara riuh santri adalah backsound indah setiap pagi, suara canda tawa suara kesal karna antri lama dan keriwehan santri santri lainnya, pagi ini aku akan menjalani rutinitas Alea, mengecek setiap kantor seperti biasa, hari ini juga aku mau ke sekolah harapan, hari ini anak jahit akan penilaian kostum bertema kebaya, waktu cukup lama satu bulan setengah, karna mereka mengpayet sendiri satu persatu jadi memakan waktu yang lama. setelah itu aku akan ke kantor bucket untuk mengecek laporan dan juga mengambil pesanan buket bunga untuk tamu Abah dan ibu, karena aku bingung mau memberi apa, kalau gamis sudah pasti itu yang akan membawanya, lalu aku? Tidak mungkin jepretan kamera ataupun oli mobil, jadi buket bunga untuk istri tamu Abah. Setelah itu aku akan ke kantor montir, sebenarnya ada hal yang harus di bahas di sana, bulan lalu Yusuf ditawari oleh bengkel yang lebih besar dan ada di jakarta dengan tawaran gaji yang lumayan tinggi dari gajinya sekarang, aku belum membahas ini dengan Yusuf, karena satu sisi, dia yang paling ahli disini, di sisi lain tawarannya gaji yang lebih tinggi, mungkin Yusuf akan pergi dan itu yang aku takutkan mangkanya baru aku akan bahas sekarang.

Matahari mulai menebarkan hangatnya, sinar nya yang terang membuat dinginnya embun mulai menguap. aku menyalami Abah dan ibu sebelum pergi, ibu hari ini libur tidak ke butik, dia sibuk memasak di dapur sejak subuh tadi, bagi kami tamu adalah nikmat dan harus di muliakan apalagi ini tamu jauh sekaligus teman Abah yang sudah lama tidak bertemu katanya.

" mbak aleea nanti kalau ibu telpon langsung angkat ya" ucap ibu

"Iya, Bu. Selalu stand by kok," jawabku sembari mencium punggung tangan Ibu yang masih tercium aroma rempah masakan.

Aku melangkah keluar, menghirup udara pagi yang segar sembari menembus kerumunan santri yang hilir mudik. Langkahku tertuju pada Sekolah Harapan. Begitu memasuki ruang kelas tata busana, mataku langsung dimanjakan oleh deretan manekin yang sudah mengenakan kebaya hasil karya anak-anak.

Suasana mendadak hening, berganti dengan sorot mata penuh harap dari para siswi. Aku berkeliling, menyentuh satu per satu detail payet yang mereka pasang dengan tangan sendiri. Kilauan payet itu bukan sekadar hiasan; itu adalah bukti kesabaran satu setengah bulan yang melelahkan.

"Detailnya rapi, gradasi warnanya juga masuk. Kalian luar biasa," ujarku tulus, yang langsung disambut embusan napas lega dan senyum lebar mereka. Penilaian hari ini bukan soal siapa yang paling cantik, tapi siapa yang paling konsisten menjaga ketelitian di setiap tusukan jarumnya.

"Penilaian hari ini bukan hanya soal estetika," kataku sambil mencatat di papan klip. "Tapi soal ketahanan mental kalian. Menjahit kebaya adalah tentang menghargai waktu. Dan kalian, sudah berhasil menaklukkan waktu itu."

Melihat binar bahagia di mata mereka memberikan sedikit suntikan energi bagiku. Aku bangga pada perkembangan sekolah ini. Sekolah Harapan bukan sekadar proyek sampingan, ini adalah caraku memberi ruang bagi mimpi-mimpi yang hampir padam.

Keluar dari Sekolah Harapan, aku segera memacu kendaraan menuju kantor buket. Matahari kini sudah mulai tinggi, menyinari jalanan kota yang mulai padat. Sesampainya di sana, aku langsung menuju meja administrasi untuk mengecek laporan mingguan. Semuanya tampak stabil, pesanan mengalir lancar seiring dengan musim pernikahan dan wisuda yang sedang naik daun.

Di sudut ruangan, sebuah buket bunga besar sudah disiapkan untukku. Perpaduan mawar creamy dan lily putih yang masih segar, dengan aroma lembut yang tidak menusuk hidung. Buket ini terasa sangat pas.

"Ini untuk tamu Abah, Mbak?" tanya stafku.

"Iya, istri teman lama Abah. Karena aku tidak bisa memasak masakan enak, juga memberi gamis buatan ibu, jadi tidak mungkin juga memberi mereka oli mesin atau hasil jepretan kamera, bunga adalah bahasa yang paling sopan untuk menyambut tamu jauh dan aku bisa memberikan itu," jawabku setengah bercanda.

Aku memandangi bunga itu sejenak. Ibu benar, tamu adalah nikmat. Dan menghormati tamu adalah bagian dari marwah keluarga kami. Namun, di balik persiapan penyambutan tamu ini, ada satu urusan lagi yang terasa lebih berat dari sekadar memilih jenis bunga.

Pintu kantor montir terbuka, menampakkan deretan mesin dan aroma oli yang khas. Di sudut ruangan, aku melihat Yusuf sedang fokus dengan kap mobil yang terbuka. Ia menyadari kedatanganku, lalu mengelap tangannya yang berlumuran oli dengan kain kumal sembari melempar senyum tipis.

"Mbak Alea," sapanya singkat.

Aku duduk di kursi kayu panjang, meletakkan buket bunga di sampingku. Kontras sekali; kelembutan bunga di tengah kerasnya mesin dan logam. Aku terdiam sejenak, menimbang kata-kata.

"Yusuf, ada yang ingin saya bicarakan," kataku memulai.

Yusuf menghentikan kegiatannya sepenuhnya. Ia seolah sudah menebak apa yang akan kubahas. Kabar tentang tawaran bengkel besar di Jakarta itu memang sudah menjadi rahasia umum di kalangan montir, tapi belum pernah benar-benar kami bedah di meja ini.

"Tentang tawaran di Jakarta itu, ya Mbak?" tanyanya langsung, membuat jantungku sedikit mencelos.

Aku menatapnya lurus. Ada dilema besar di kepalaku: sebagai pemilik, aku sangat membutuhkannya karena dialah jantung dari bengkel ini. Namun sebagai sesama manusia, aku tidak ingin menjadi penghalang bagi rezekinya yang mungkin lebih luas di sana.

"Gajinya tinggi, Suf. Kesempatannya juga besar," lanjutku pelan. "Mbak cuma mau tanya satu hal... apa kamu sudah punya jawaban?"

Yusuf menarik napas panjang, menunduk menatap lantai semen yang menghitam oleh bekas tumpahan pelumas. Ia menyampirkan kain kumalnya di bahu, lalu berjalan mendekat. Ada jeda yang cukup lama, hanya diisi oleh suara kipas angin tua yang berderit di sudut langit-langit.

"Uangnya memang besar, Mbak. Bisa buat renovasi rumah Ibu di desa," ucapnya pelan, suaranya parau namun tenang. "Tapi Jakarta itu jauh. Bukan cuma soal jarak, tapi soal rasa. Di sana saya mungkin cuma jadi sekrup kecil di mesin raksasa."

Ia menatap buket bunga di sampingku, lalu beralih menatap deretan kunci pas yang tertata rapi di dinding—peralatan yang ia rawat seolah itu adalah bagian dari tubuhnya sendiri.

"Mbak Alea tahu kenapa saya betah di sini?" tanya Yusuf tiba-tiba, senyum tipisnya kembali muncul. "Karena di sini, saya nggak cuma benerin mesin. Saya merasa dihargai sebagai manusia. Mbak percaya sama saya waktu orang lain cuma lihat saya sebagai anak ingusan yang hobi kotor-kotoran."

Aku terpaku. Dilema di dadaku perlahan mencair, berganti dengan rasa haru yang mendesak.

"Jadi, kamu menolaknya?" tanyaku memastikan.

Yusuf menggeleng pelan, lalu duduk di ujung kursi kayu yang sama, menjaga jarak sopan namun cukup dekat untuk aku bisa melihat keteguhan di matanya.

"Saya nggak mau mengejar gedung tinggi kalau harus ninggalin pondasi yang saya bangun bareng Mbak dari nol. Selama Mbak masih butuh saya di sini, Jakarta itu nggak ada harganya dibanding bengkel ini."

Ia terdiam sejenak, lalu melirik buket bunga itu lagi dengan raut jenaka. "Lagipula, siapa yang bakal dengerin curhat Mbak soal kain dan desain kalau saya pergi? Mekanik di Jakarta nggak bakal ngerti bedanya sutra sama katun, Mbak."

Aku tertawa kecil, rasa sesak di paru-paruku akhirnya lepas. Di tengah aroma oli dan logam yang keras ini, sebuah kesetiaan baru saja mekar—lebih harum dan lebih tahan lama dibanding bunga mana pun yang pernah kubawa.

"Terima kasih, Suf," bisikku tulus.

"Sama-sama, Mbak. Sekarang, boleh saya balik kerja? Mobil Pak Haji ini harus selesai sore ini kalau kita nggak mau denger ceramahnya besok subuh."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!