Nama adalah hal yang sakral di dunia Haochun, Nama adalah berkah Dewa, nama adalah kekuatan. Manusia tanpa nama bukanlah siapa-siapa, semua manusia yang tak bernama hanyalah orang-orang buangan dan kriminal.
Karena hak pada Berkah dan Nama mereka dicabut.
Mereka akan dipanggil dengan sebutan apapun yang orang inginkan. Meskipun mereka bisa membuat nama sendiri, tetap saja itu tak memiliki makna apapun.
Nama lahir adalah kehormatan mutlak di dunia ini. Dan inilah kisah tentang anak Klan Bangsawan kelas satu. Dia memiliki Inti Spritual yang sangat buruk. Saking buruknya, bahkan tidak seorang pun sebelum dia di dunia Kultivasi yang memiliki Inti spritual seperti itu.
Sehingga dia dianggap sebagai aib keluarga. Berkah namanya miliknya dicabut layaknya hukuman bagi
penjahat keji.
Dimulailah kisah anak buangan yang membawa nasib baik dan buruk bersamaan.
Berjuang tanpa kekuatan Berkah Nama seperti yang dimiliki orang lain. Huang Kai yang berganti nama menjadi Feng Yan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Gadis Bercaping
Feng Yan turun tidak jauh dari gerbang kota Padang Bulan, kota yang lebih kecil dari Pintu Angin. Kota yang dulu hanyalah sebuah pos penjagaan kota Awan salju. Itu karena jarak kota yang berdekatan dengan Awan Salju yang jadi kota utama.
Kota ini masih masuk dalam pemerintahan kota Awan salju, sehingga tidak memiliki raja kota sebagai pemimpinnya. Hanya di awasi oleh seseorang yang disebut Pelindung Kota.
Feng Yan berdiri di depan gerbang kota, seingatnya hampir dua tahun dia tidak kesini.
"Dalam suratnya kakak bilang dia sekarang sudah menjadi kapten penjaga di kota, tapi apa-apaan dia itu. Merahasiakan jati diri hanya dengan menggunakan nama Yun Zhi. Memang apa bedanya? Kurasa dia juga sudah tidak tinggal di rumah yang lama."
"Haah, dasar kakak," gumam pemuda itu sambil menggaruk kepalanya.
"Maaf bibi, apa kau tahu kediaman kapten penjaga Yun Zhi?" bertanya pemuda itu pada
Seorang wanita pedagang yang sepertinya bukan seorang pendekar.
Wanita itu memandang pemuda yang bertanya cukup lama, "Pendekar muda, apa anda kemari juga ingin melamar nona Yun? Sebaiknya lupakan saja. Bisa-bisa kau malah dihajarnya." jawab wanita itu sekenanya.
Wanita penjual itu kembali sibuk merapikan buah-buahan yang ia jajakan.
"Melamar, Apa maksud Bibi?" balas Feng Yan sambil menggigit buah plum yang ia ambil dari keranjang penjual.
"Memangnya ada yang mau sama wanita galak itu?" ia bicara sekenanya sambil terus mengunyah buah plum tadi.
Wanita itu langsung berbalik dan tatapannya berubah jadi sangat tidak bersahabat.
"Pendekar muda, jangan kira karena kau memiliki kemampuan lantas bisa menghina kapten penjaga Yun." ia langsung merampas dan membuang buah di tangan pemuda yang membuat ia kesal.
"Pergilah dari sini sebelum kau dihajar oleh para penjaga!"
Tercengan Feng Yan mendengar ucapan berani bibi penjual. "Aku kan cuma tanya, lagian memang ada yang mau sama wanita galak seperti kakak?" pemuda itu bersungut-sungut pergi setelah meninggalkan koin perunggu untuk membayar plum yang baru ia makan setengah.
"Sepertinya kakak sangat terkenal dan dihormati di kota ini." Feng Yan berjalan ke sebuah restoran yang cukup besar. Ia memilih duduk di pojokan dan menyandarkan Pedang balok besar di sudut ruangan.
"Pesan apa Tuan Muda?" pelayan yang mengurusi pesanan merasa kesal karena tamu yang terlihat kaya itu hanya memesan secangkir minuman.
"Tunggu dulu pelayan, ada yang ingin kutanyakan." pelayan itu berbalik dan menanyakan keperluan lain tamu mudanya.
"Apa kau tahu di mana kediaman kapten penjaga Yun Zhi?"
Bisik-bisik terdengar dari pengunjung lain saat Feng Yan menyebutkan nama Yun Zhi.
"Oh, Kapten Yun Zhi. Kediamannya ada di samping rumah Pelindung Kota?"
"Tapi siang ini saya dengar Nona Yun
Sedang ke hutan berburu binatang iblis bersama rekan-rekannya."
basi. Pelayan itu pergi setelah sedikit berbasa-
"Tampaknya ada tontonan menarik, kapten cantik Yun pasti akan menghajar bocah bau kencur yang tidak tahu diri ini." Terdengar bisik-bisik di meja lain.
"Beberapa hari yang lalu nona Zhi baru saja menghajar murid luar sekte Bintang Abadi yang melamarnya."
Teman semeja lainnya membalas, "itu salah mereka sendiri, tidak punya kemampuan tapi ingin jadi pendamping seorang peri."
Feng Yan yang mendengar percakapan pengunjung lain jadi senyum-senyum sendiri. Ia merasa geli kalau ternyata kakaknya ternyata seorang primadona, bahkan sampai dijuluki peri.
"Nona tunggu aku!" dua orang tamu baru saja meninggalkan restoran dari lantai dua.
Karena teriakan wanita yang terlihat seperti seorang pelayan, Feng Yan mengalihkan pandangannya.
Ia melihat gadis pelayan itu berlari-lari kecil mengejar seorang gadis yang menggunakan caping dengan penutup seperti cadar.
"Seorang gadis dengan pelayan, pasti bukan gadis biasa," pikir Feng Yan. Karena biasanya hanya anak-anak bangsawan yang bepergian dengan pelayan.
"Aah, aku mulai bosan,. Sebaiknya aku berkeliling siapa tahu bisa bertemu dengan orang yang kukenal." Feng Yan beranjak dan pergi dari restoran setelah membayar minumannya.
"Cih, banyak gaya saja. Tapi tidak punya uang beli makanan," Gerutu pelayan menatap Feng Yan yang pergi meninggalkan kedai.
"Nona sebaiknya kita kembali saja ke kediaman, kita sudah setengah tahun pergi dari rumah. Kalau seperti ini terus nona tidak akan ada kemajuan dalam kultivasi."
"Hua Rong, berapa kali harus kukatakan padamu untuk tidak memanggilku nona, usia kita hampir sama"
"Sudahlah Hua Rong, kau jangan mengatakan itu terus, aku sudah bosan mendengarnya," Kesal gadis yang
Menggunakan caping bercadar.
"Kalau kau ingin pulang, ya pulang saja sendiri. Aku tidak pernah memintamu ikut denganku."
"Bagaimana mungkin aku meninggalkan nona sendirian, aku sudah berjanji akan melayani nona. Selama ini hanya nona yang selalu baik padaku. Padahal aku tidak memiliki berkah nama." Gadis pelayan yang bernama Hua Rong berjalan sambil tertunduk lesu.
"Kau jangan ungkit-ungkit hal itu lagi, membuatku kesal saja. Aku sangat benci dengan orang-orang yang membuang keluarganya. Memperlakukan keluarga seperti seorang penjahat hanya karena memiliki inti pecah tiga." Gadis bercaping itu mengepalkan tangan karena marah.
"Nona, tampaknya dia juga tidak ada di kota ini. Kita juga tidak memiliki petunjuk nama tunanganmu saat ini. atau dia memang sudah mati." Takut-takut Hua Rong berbicara hal yang menurutnya sangat tabu untuk dikatakan.
Benar saja, Nona yang ia layani langsung berhenti berjalan dan berpaling badan padanya.
Gadis pelayan itu menjadi sangat takut karena merasakan hawa kemarahan di depannya.
"Sekali lagi kau berbicara seperti itu, aku tidak akan memaafkanmu." Hua Rong kembali berlari kecil karena tuannya sudah meninggalkannya.
"Nona Xiao, maafkan aku!".
Hari sudah mulai mendekati senja saat Feng Yan berdiri di sebuah kios milik seorang pendekar yang menjual rumput roh atau spiritual. Namun tidak ada satupun yang dijual menarik minatnya.
"Adik Feng? Ternyata benar kau adik Feng." Seorang wanita yang berjalan bersama dua orang pria dan satu wanita menyapa.
"Saudari Ya Fei, apa yang kau lakukan disini?" Feng Yan memberi salam pada wanita bernama Ya Fei dan temannya.
"Aku dan temanku diajak oleh kakakmu untuk jadi penjaga kota disini." Karena kami lelah jadi pengembara akhirnya kami terima saja.
"Kau ke sini untuk menemui kakakmu?
Dia sedang di luar saat ini, mungkin nanti malam akan kembali."
Ya Fei menawarkan diri untuk mengantar Feng Yan ke rumah Yun Zhi. Saat melihat rumput roh tiga warna di sebuah kios ia langsung berlari untuk membelinya.
"Adik Feng, apa tidak ada yang kau butuhkan di kios ini? Omong-omong kenapa kau membawa balok kayu? Apa ini semacam pelatihan?" Ya Fei sedari tadi sangat penasaran dengan balok kayu di punggung pemuda itu.
"Bisa dibilang seperti itu," ucap Feng Yan sambil menatap punggung dua orang gadis yang baru melintasi mereka.
Ia sedikit mencuri dengar obrolan keduanya, mereka akan ke kota awan salju karena tidak menemukan orang yang mereka cari di kota Padang Bulan.