"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
-
-
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
-
-
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 05: Bertemu Di Jalan
Karena pikiran melayang jauh, Reno menancap gas mobilnya dengan sangat cepat.
Byurr!
Ban mobil Reno tidak sengaja melewati lubang jalanan yang cukup besar itu, terisi air hingga menyebabkan air keluar dan mengenai seorang perempuan yang mengendarai motor dengan sangat pelan bak seekor siput itu.
Reno menyadarkan dirinya, ia menghela napasnya berat, "Astaga mobilku." ucapnya lalu turun dari dalam mobil. Mobil seharga milyaran itu sudah tergesek dengan lubang yang cukup dalam. Pasti pulang nanti akan masuk bengkel karena kecerobohannya.
"Kalau mengandarai mobil yang benar dong! lihat nih bajuku jadi basah semua!" pekik seorang perempuan yang hampir menangis. Perempuan itu juga menepikan motornya, ia yang hendak bekerja pun harus kembali lagi ke rumah untuk mengganti pakaiannya.
Reno menurunkan kacamata hitamnya, perempuan itu cukup menarik di matanya untuk di pandangnya.
Pandangan mereka bertemu.
"Kau...." gumam Reno tersenyum getir.
Ya, sosok perempuan itu adalah Deana.
Tubuh Deana bergetar hebat kala melihat sosok laki-laki yang sangat ia benci itu.
Deana mengalihkan pandangannya, hatinya sedikit tercubit melihat Reno berdiri di depannya.
Reno mulai berjalan mendekati Deana.
"Stop! jangan mendekat!" teriak Deana.
Reno menghentikan langkahnya. Seorang perempuan yang dipikirkannya sejak kemarin akhirnya ia menemukannya sendiri.
"Ikut denganku, ada yang ingin saya katakan padamu." ucap Reno dengan nada yang lembut. Deana dapat mendengarnya, namun, hatinya menolak.
Deana menatap tajam pada Reno, "Jangan pernah mengganggu hidupku lagi Tuan! kau sudah menghancurkan hidupku!" tekan Deana murka.
Reno menyorot tajam pada Deana. Baru kali ini ada seseorang yang berani menatapnya seperti itu. Sungguh luar biasa.
"Di mana rumahmu?" tanya Reno.
Deana tidak menjawabnya, ia justru semakin cepat menaiki motornya dengan tubuhnya yang basah itu.
Deana menancapkan gas motornya berlalu dari sana, meninggalkan Reno sendiri ditemani kendaraan-kendaraan yang melintas di jalanan besar itu.
"Dasar bocah!" sungut Reno kesal.
Reno buru-buru menaiki mobilnya dan mengikuti ke arah ke mana perempuan itu pergi.
Karena jalanan pagi hari itu sangat padat merayap, membuat Reno kehilangan jejak motor Deana.
Reno memukul stir mobilnya pelan, "Secepatnya Jordi akan melacaknya." gumam Reno.
***
Reno tiba di perusahaannya, disambut penuh hangat oleh para karyawannya.
Reno menaiki liftnya menuju ruangannya yang berada di lantai paling atas. Ruang CEO perusahaan Bulbeurn beserta staf-staf pentingnya.
Sesampainya di ruangannya, Reno memanggil Jordi untuk segera menemuinya.
Beberapa saat kemudian, Jordi datang dengan membawa beberapa lembar kertas beserta map di tangannya.
Reno tersenyum melihatnya. Sungguh hanya Jordi lah satu-satunya orang yang dipercayainya.
"Tuan, ini data diri seorang perempuan muda itu, dia memiliki nama Deana, Nona Deana bekerja di cafe hotel yang saat itu Tuan tempati." terang Jordi.
Reno mengambil map dengan senang hati, "Jo, katakan pada Jack agar segera survei ke rumahnya. Aku berniat menikahinya." ucap Reno mulus tanpa hambatan.
Jack adalah ketua bodyguard yang Reno miliki. Biasa menjaga dirinya beserta keluarganya. Untuk beberapa tahun ini, Jack selalu memantau kondisi putri kesayangannya kemana pun berada, Lena.
Jordi tersedak angin, ia sampai terbatuk-batuk karena mendengar ucapan Tuannya. Jordi tahu, Tuannya bukanlah seorang laki-laki yang mudah dihasut oleh siapapun, ini murni dari mulutnya, Jordi mendengarnya dengan jelas.
Pasti kalau Tuan Samuel dan Nyonya Ellen mendengarnya sangat bahagia sekali karena putranya ingin kembali menikah setelah sekian purnama menolak untuk menikah dengan siapapun. Pikir Jordi.
"Saya serius Jo." ucap Reno meyakinkan Jordi. Reno tahu pasti ucapannya membuat asistennya itu terkejut.
"Saya ingin bertanggung jawab. Kau tahu? malam itu aku mabuk berat dan seingatku, aku memesan beberapa dessert karena perutku mual dan entah mengapa aku tiba-tiba menyerang perempuan itu. Jangan katakan pada kedua orang tuaku, Jo." tegas Reno menatap Jordi.
Jordi mengangguk, "Tidak masalah Tuan, pasti Tuan besar dan Nyonya besar senang sekali Tuan ingin menikah kembali, begitu pun dengan Nona kecil." ucap Jordi yang mengingat Lena.
Reno mengangguk, "Pergilah, dan katakan pada Jack."
"Tentu saja Tuan, saya tidak melupakan perintah itu." sahut Jordi lalu keluar dari ruangan Reno.
Reno mendesis pelan, ia memijat pelipisnya yang terasa pusing. Ia tidak ingin menjadi laki-laki penge-cut, ia takut perempuan itu hamil dan membuka aib untuknya ke depannya, hal seperti itu membuat karir dan reputasinya hancur. Reno mewaspadai hal-hal yang memperburuk hidupnya.
***
Sesampainya di area parkir motor, Deana menangis lirih.
"Dia seorang laki-laki yang kaya raya." gumam Deana seraya meremas jemari-jemarinya dengan erat, bibirnya bergetar, pandangannya kosong ke depan.
"Aku takut masa depanku hancur karenanya, orang kaya bisa melakukan apa saja dengan uangnya. Kalau mereka meminta macam-macam, bagaimana nasibku? ya Tuhan tolonglah...." Deana menggigit ujung jarinya mengingat laki-laki itu menanyakan keberadaan rumahnya.
Deana takut laki-laki itu akan berbuat macam-macam dengan menyangkut pautkan keluarganya. Deana tidak ingin itu terjadi.
Tak mau telat bekerja, Deana segera mencari keberadaan toilet untuk membersihkan bajunya yang sudah berlumur air kotor itu, sekarang sudah sedikit mengering mungkin karena terkena angin saat perjalanan tadi, bekas masih ada, tapi tenang saja itu tidak akan terlihat karena saat bekerja, Deana memakai jas yang dikhususkan untuk para pelayan cafe.
***
Sore hari, keluarga Bertram datang ke rumah keluarga Mahesa.
Tuan Samuel Mahesa menjabat tangan Tuan Juna Bertram saat silih bertemu.
"Selamat datang Tuan Juna, senang sekali kita dapat bertemu lagi, segera masuk. Mari...." ajak Daddy Samuel pada Tuan Juna beserta istri dan anaknya itu untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Sore Tante." sapa putri pertama Tuan Juna, Angelina Fiona Bertram.
Tuan Juna memiliki dua anak, anak keduanya juga berjenis kelamin perempuan, sekarang sedang berkuliah di Oxford, London, Inggris. Berbeda dengan Fiona yang justru tidak kuliah dan sedang merajut skillnya di perusahaan sang Papi.
Mommy Ellen tersenyum, "Sore sayang, cantik sekali." pujinya.
"Terima kasih, Tante juga cantik sekali... di mana Kak Reno, Tante?" tanya Fiona tersenyum tipis.
Nyonya Silve langsung menyenggol lengan Fiona, "Jangan cari yang tidak ada. Ayo masuk." bisik Nyonya Silve tak enak hati. Mommy Ellen tersenyum.
Mommy Ellen menggandeng lengan Fiona, "Hahaha, kamu tahu sendiri Reno itu sangat suka bekerja, tapi khusus hari ini dia usahakan pulang cepat, hanya untuk bertemu denganmu." ucap Mommy Ellen membuat lengkungan di bibir Fiona tercetak dengan jelas.
"Hehehe... terima kasih Tante." balas Fiona. Perempuan itu langsung merapihkan rambutnya yang hanya bergelombang di ujungnya itu.
"Tentu saja sayang. Ayo duduk, duduk." ucap Mommy Ellen.
"Oma, Oma." pekik Lena datang dengan Sus Ina dengan membawa boneka barbie di tangannya. Lena langsung duduk di pangkuan Omanya.
Lena masih demam, suhu tubuhnya masih naik turun. Berniat ingin diperiksa ke rumah sakit, bentrok dengan jadwal pertemuan dengan keluarga Bertram.
"Nah ini putri Reno, salim sayang sama Tante Fiona." ucap Mommy Ellen pada Lena.
Lena memandang wajah Fiona yang masam itu, "Kenapa Tante cemberut?" tanyanya polos.
"Ah, em, tidak. Maafkan Tante yang melamun sayang. Lena sedang sakit?" Fiona baru saja ingin meraba kening Lena, namun Lena sendiri mengendurkan tubuhnya ke belakang.
"Iya, sudah tiga hari demamnya masih naik turun." ucap Mommy Ellen.
Fiona mencubit lembut pipi Lena, "Sini duduk dengan Tante. Ayo main barbie." ajak Fiona.
Lena menggeleng, "Len tidak mau bermain, ini sudah sore, Len mau duduk dengan Oma saja, Tante tidak perlu mengaturnya." balasnya.
Fiona mengepalkan tangannya erat mendengar jawaban dari bocah kecil itu, "Astaga, aku tidak menyukai anak ini." batinnya berucap.
"Maafkan Lena ya Fio, Lena memang seperti ini kalau baru satu kali bertemu dengan orang baru, makanya Fio seringlah datang ke rumah... supaya dekat dengan Lena." ujar Mommy Ellen.
Fiona tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, "Iya Tante."
"Enak aja suruh ngasuh yang bukan putri kandungku. Aku cuman mau Kak Reno saja bukan anaknya." batin Fiona.
Fiona mengelus rambut Lena dengan pelan, "Lena mau berteman dengan Tante? nama Tante, Tante Fio."
"Iya Tante Fio, aku Len." balas Len lalu mencium punggung tangan Fiona.
"Lucu sekali... lekas sembuh ya sayang. Nanti kapan-kapan, Tante ajak Len jalan-jalan, kita beli barbie yang banyak." ucap Fiona.
Lena tergiur mendengarnya, ia mengangguk cepat, "Len mau Tante."
Mommy Ellen dan Nyonya Silve tertawa mendengarnya.