NovelToon NovelToon
Sultan Desa

Sultan Desa

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:49.9k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"

​Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.

​Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.

​Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?

Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Suasana di kediaman keluarga Surya yang tadinya dipenuhi ketegangan akibat telepon misterius dari Pradipta Group, bukannya mereda, justru beralih menjadi ledakan amarah yang salah sasaran.

Pak Surya, yang merasa harga dirinya jatuh di depan para tamu karena kegagalan proyek Arvin, mencari pelampiasan. Dan target termudah ada di depannya, yaitu pada Dewa.

"Ini pasti karena sial yang kalian bawa!" geram Pak Surya, matanya menatap tajam ke arah Aira dan Dewa yang masih berdiri di tepi karpet merah. "Sejak kalian injakkan kaki di sini, semua jadi kacau!"

"Tapi, Yah... kami baru saja sampai," Aira mencoba membela diri, namun suaranya tenggelam oleh isak tangis Siska yang histeris karena membayangkan rencana bulan madunya ke Eropa terancam batal.

"Sudah! Jangan banyak alasan!" bentak Pak Surya. "Kalian tidak pantas berada di area utama ini. Masuk ke belakang! Duduk di meja belakang dekat dapur bersama para staf dan sopir. Di sana tempat yang layak untuk kuli seperti suamimu!"

Aira tersentak. Ia menatap meja-meja di barisan depan yang penuh dengan hidangan buffet mewah, lalu beralih menatap meja kayu panjang di dekat tempat pencucian piring yang hanya berisi sisa-sisa gorengan dan kopi instan.

Dewa tetap tenang. Wajahnya tidak menunjukkan amarah sedikit pun, sebuah ketenangan yang justru membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa terusik.

Ia merangkul bahu Aira yang gemetar. "Ayo, Sayang. Di belakang udaranya lebih segar, tidak pengap oleh kesombongan."

Di meja belakang, suasana terasa sangat kontras. Para sopir tamu undangan menatap Dewa dengan heran. Mereka melihat batik pudar yang dikenakan Dewa, lalu saling berbisik.

"Mas, kuli di mana? Kok berani banget masuk lewat depan tadi?" tanya salah satu sopir sambil tertawa kecil.

Dewa hanya tersenyum tipis. "Saya hanya seorang suami yang mengantar istrinya pulang, Pak."

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Siska, dengan mata yang masih sembap namun penuh kilat kebencian, melangkah menuju meja belakang diikuti oleh beberapa teman sosialitanya. Ia membawa sebuah kotak beludru merah yang terbuka, memamerkan kalung berlian yang berkilau tajam.

"Mbak Aira, lihat ini," Siska menggebrak meja kayu itu, membuat gelas kopi para sopir bergoyang. "Ini mas kawin dari Arvin. Nilainya tiga miliar! Belum lagi seserahan mobil sport yang ada di depan."

Siska kemudian tertawa sinis, menatap Dewa dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Bandingkan dengan suamimu ini. Mahar seratus ribu rupiah? Seratus ribu itu bahkan tidak cukup untuk membayar biaya parkir mobil Arvin sebulan! Apa Mas Dewa nggak malu? Menikahi perempuan cantik tapi cuma modal uang satu lembar merah?"

Teman-teman Siska tertawa terbahak-bahak. "Mungkin Mas Dewa ini kolektor uang kuno, Siska. Makanya seratus ribu itu dianggap sangat berharga," sindir salah satu dari mereka.

Aira berdiri, matanya berkilat marah. "Cukup, Siska! Harta tidak dibawa mati. Mas Dewa memberiku mahar itu dengan keringat yang jujur, bukan dari hasil memuja jabatan atau menjilat orang kaya!"

"Jujur tapi miskin itu namanya bodoh, Mbak!" balas Siska tajam. "Lihat dirimu sekarang. Makan di meja sopir, pakai baju murahan. Gara-gara suamimu ini, martabat keluarga kita hancur di mata kolega Ayah!"

Dewa tetap duduk santai, tangannya memainkan sendok plastik. Ia menatap kalung di tangan Siska. "Berlian yang bagus, Siska. Sayangnya, itu grade J. Warnanya agak kuning jika dilihat di bawah sinar matahari yang benar. Untuk ukuran pria sekaya Arvin, dia cukup pelit membelikanmu berlian dengan kualitas rendah seperti itu."

Siska tertegun. "Apa kamu bilang? Kamu tahu apa soal berlian, kuli miskin?!"

Dewa hanya mengangkat bahu. "Hanya pengamatan sekilas. Orang yang biasa bekerja di tanah seperti saya, biasanya tahu mana batu yang benar-benar berharga dan mana yang hanya sekadar kaca yang dipoles."

Di saat adu mulut itu memanas, Pak Surya muncul dari dapur dengan wajah gusar. Beberapa tenaga pelayan katering mendadak mogok kerja karena bayaran yang belum dilunasi oleh Arvin yang sedang panik. Sementara itu, tumpukan piring kotor bekas ratusan tamu mulai menggunung di area belakang.

"Aira! Dewa!" teriak Pak Surya.

Aira menoleh. "Iya, Yah?"

Pak Surya menunjuk ke arah bak cuci piring yang dipenuhi sisa-sisa lemak dan makanan basi. Bau tidak sedap mulai menguap dari sana.

"Pelayan katering banyak yang pulang. Stafku kurang. Daripada kalian cuma duduk-duduk tidak berguna di sini dan memalukan keluarga dengan penampilan kalian, lebih baik kalian kerja!" Pak Surya menatap Dewa dengan tatapan merendahkan yang sangat dalam.

"Dewa, kamu kuli, kan? Tenagamu pasti kuat. Cuci semua piring kotor itu sampai bersih! Jangan ada satu pun sisa lemak. Dan kamu Aira, bantu lap piring-piring itu!"

Aira terbelalak. "Yah! Ini acara syukuran keluarga! Mas Dewa ini menantu Ayah, bukan pelayan!"

"Menantu?" Pak Surya tertawa hambar. "Aku tidak pernah menganggap kuli ini sebagai menantuku. Dia hanya beban yang harus membayar kesalahannya karena sudah membawa sial pada bisnis Arvin hari ini. Kalau dia tidak mau cuci piring, silakan pergi dari sini dan jangan pernah anggap aku ayahmu lagi!"

Suasana menjadi hening. Para sopir menunduk, tidak berani ikut campur. Siska dan Arvin tersenyum puas di belakang Pak Surya, seolah-olah ini adalah tontonan paling menghibur tahun ini.

Aira mulai terisak. "Mas, ayo kita pulang saja. Kita tidak perlu diperlakukan seperti ini."

Namun, Dewa perlahan berdiri. Ia menggulung lengan kemeja batiknya yang pudar hingga ke siku. Ia menatap bak cuci piring yang menjijikkan itu, lalu menatap Pak Surya dengan sorot mata yang sulit dibaca, sorot mata yang sangat tenang namun mengandung otoritas yang bisa meruntuhkan sebuah gedung.

"Hanya mencuci piring, Pak?" tanya Dewa datar.

"Iya! Cepat kerjakan!" bentak Pak Surya.

Dewa melangkah menuju bak cuci piring. Ia mengambil sebuah piring kotor, namun bukannya mencucinya, ia memegang piring itu dan menunjukkannya ke arah lampu.

"Piring ini harganya tidak seberapa, Pak. Tapi kehormatan yang Anda buang malam ini... harganya jauh lebih mahal dari seluruh harta yang Anda banggakan."

Dewa menaruh piring itu kembali dengan bunyi klang yang keras.

"Hanya satu menit, Pak Surya," ucap Dewa pelan sambil menatap jam tangannya.

"Satu menit apa?! Jangan banyak bicara, cepat cuci!" Siska menimpali dengan sinis.

Tiba-tiba, dari arah gerbang depan, terdengar suara raungan mesin mobil-mobil besar. Lampu-lampu sorot dari iring-iringan mobil hitam menyapu area tenda syukuran, membuat para tamu di depan berlarian keluar karena penasaran.

Sepuluh mobil SUV hitam antipeluru berhenti tepat di depan rumah, menghalangi jalan keluar. Sekelompok pria berjas hitam dengan alat komunikasi di telinga turun secara serentak. Mereka tidak terlihat seperti tamu undangan, mereka terlihat seperti pasukan keamanan tingkat tinggi.

Seorang pria dengan setelan jas abu-abu yang sangat rapi - Bara - melangkah masuk menembus kerumunan tamu yang ketakutan. Ia berjalan cepat menuju arah dapur, melewati Pak Surya yang terpaku, dan berhenti tepat di depan Dewa yang masih berdiri di depan bak cuci piring kotor.

Namun, Nyonya Widya - Ibu Dewa tiba-tiba ikut melangkah masuk dari kerumunan dengan wajah penuh kemenangan yang lain.

"Hebat, Dewa. Kamu berhasil menipu seluruh orang yang ada rumah ini. Tapi apakah kamu sudah memberitahu istrimu bahwa surat nikah kalian... sebenarnya belum pernah aku izinkan untuk terdaftar secara resmi di negara?"

Aira menoleh ke arah Dewa dengan tatapan hancur. "Mas... apa maksudnya belum terdaftar?"

...----------------...

To Be Continue ....

1
Rahmawati Amma
aku suka ceritanya ngak terlalu muter2 bagus thor 👍😍
Rahmawati Amma
iya kayanya 36 37 juga kayanya di ulang🤔😅
Estu Suet
memang g masuk akal seh,terlalu hiperbola kalimatnya
Estu Suet
ceo yang menyamar y, pura-pura miskin dan gembel 👍😍
Edy Kurnia
6 BAB hanya di habiskan oleh obrolan dewa & aira, sekali kali buk Widia.
rumah-kantor rumah-kantor rumah-kantor gtu² aja terus..
APA KABAR DENGAN ORANG² YANG MENGHINA DEWA & AIRA DULU.???
EMANG NYA GAK MAU BALAS DENDAM, KALO GAK MAU BALAS DENDAM YA TAMATIN AJA CERITA INI.
PARA PEMBACA TIDAK MAU TERUS²AN BACA YG ISINYA HANYA OBROLAN ITU² SAJA
Edy Kurnia
nulis ceritanya usahakan buat para pembaca nyaman bacanya Thor.
jangan bikin jengkel dengan alur ceritanya yg muter² di situ² aja.
memang nya per 3 bab hanya di isi oleh obrolan dewa dan Aira terus.
Edy Kurnia
mana balasan buat orang² yg dulu menghina mereka woooii.??
Edy Kurnia
mana pembalasan buat pak Surya dan Siska.??
cuma segitu doang Thor.?
Edy Kurnia
Naaah kalo ini baru top cer.
rahang mengeras, sorot mata tajam mengintimidasi nya di barengi dengan tindakan nyata.
Edy Kurnia
gak usah nyalahin musuh²nya.
dari awal Dewa nya sendiri yg cari penyakit.
CEO goblok ya dia.
Edy Kurnia
ini mah ceo goblok nama nya.
Edy Kurnia
alur ceritanya nii bikin bingung, selain gak nyambung juga muter² gak jelas.
kekonyolan dewa tidak menggambarkan sosok CEO cerdas, tegas, dan bertangan dingin seperti yg di gaung² kan dari awal.
Goblok iya.
Edy Kurnia
ceritanya bagus banget Thor mirip TAIK.
apa maksud nya "tinggal satu menit, kedatangan 10 mobil SUV" klo ujung²nya dewa belum buka identitas aslinya.
menuh²in halaman aja, gak nyambung banget.
Edy Kurnia
ekspresi kemarahan dewa jangan terlalu di ulang² Thor klo ending nya masih mau bersandiwara miskin.
bikin bosen bacanya + muak denger nya.
wajahnya gelap lah, rahangnya keras lah dan bla bla bla.
taik banget.
Rika
bagus
Rahmawati Amma
lah katanya dapat uang 50jeti kenapa ngak baikin kontrakannya 🤔😅
Rahmawati Amma
ceritanya masih baru jadi blm banyak yg baca sepertinya ceritanya bagus gaskun😁✌️
Hatijah Cantik
mungkin Aira bukan anak kandung
Hatijah Cantik
menarik
Hatijah Cantik
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!